
Teja mengangkat pundaknya. Dia tidak ingin berlama-lama lagi di tempat itu. Misinya telah terlaksana. Baginya saat ini adalah, Teja telah menjuluk sarang tawon.
Dia segera membungkuk hormat dihadapan Jhonroy, kemudian berbalik meninggalkan aula tempat pertemuan itu. Dan tidak lama setelah sosoknya menghilang, suara deru mesin pun terdengar diikuti dengan mobil yang meninggalkan halaman rumah besar tersebut.
Sepeninggal Angga, keadaan yang tadi tegang sedikit demi sedikit berangsur membaik.
Dengan tidak adanya Angga, Teja bis dengan leluasa mengemukakan pendapatnya kepada Jhonroy. Dan setelah ditetapkan, maka malam ini juga Teja akan bergerak bersama ratusan orang-orangnya untuk mencegat kepulangan Namora dari Dolok ginjang ke kota Batu.
"Bejo.., siapkan orang-orang mu! Kita akan mencegat mereka di tikungan Pitu. Aku tidak ingin semuanya terlambat. Lakukan dengan cepat dan senyap!" Perintah Teja kepada Bejo.
Bejo menyeringai mendapatkan perintah ini. Ini adalah kesempatan baginya untuk membalas kematian lebih dari dua puluh orang anak buahnya di perbatasan gang Kumuh.
Sambil menghormat, Bejo langsung menerima perintah tersebut, kemudian meninggalkan ruangan itu bersama dengan orang-orang yang berada disampingnya.
Kini, tinggallah Jhonroy dan Teja di ruangan itu. Kedua anak dan ayah itu sibuk membahas segala sesuatu yang harus mereka lakukan.
"Teja. Apa menurutmu kata-kata Angga tadi ada benarnya?" Tanya Jhonroy kepada putra sulungnya itu.
"Kata-kata yang mana, Ayah? Aku sama sekali tidak tertarik dengan kata-kata yang dia ucapkan tadi. Bangsat itu hanya pandai bicara. Dia merasa pintar, padahal otaknya tidak lebih baik dengan yang dimiliki oleh keledai,"
"Essst! Hati mu sudah diliputi oleh kemarahan. Kau harus mempelajari segala sesuatunya, bahkan dari musuh sekalipun. Karena, ketika kau mengetahui cara pandang musuh-musuh mu, maka modal mu untuk mencari kelemahan mereka akan sangat mudah kau dapatkan. Orang bijak akan mendengarkan setiap yang dikatakan oleh orang lain. Setidaknya, kita bisa mengetahui dan memilah-milah apakah ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa didapatkan, atau sebaliknya,"
Teja merasa malu saat ini. Dia tidak mungkin bisa menang berdebat dengan Jhonroy seperti yang dia lakukan dengan Angga tadi.
__ADS_1
Sambil sedikit memberanikan diri menatap ke arah ayahnya itu, dia kemudian bertanya, "Ayah. Aku memang kurang menyimak. Tolong ayah katakan, bagian yang mana yang ayah anggap benar dari perkataan Angga tadi?!"
"Angga mengatakan, bahwa kita bisa memanfaatkan orang-orang yang tidak menyukai Namora. Jika kita bisa menggunakan tangan orang lain, mengapa tidak menggunakan mereka saja. Kita bisa memfasilitasinya mereka, memberikan imbalan kepada mereka. Kita juga tidak kekurangan uang. Dengan demikian, kita bisa mengurangi kemungkinan resiko yang lebih besar. Angga juga mengatakan bahwa kita bisa lempar batu sembunyi tangan. Apa otak mu sudah mampu untuk mencerna kata-kata ku barusan?"
"Jadi, apa langkah ayah selanjutnya?" Tanya Teja yang pasrah dengan apapun nanti keputusan ayahnya.
"Sepertinya kita harus bergerak cepat. Kau hubungi Panjul dan kawan-kawannya! Katakan bahwa Jhonroy yang agung ingin menjalin kerjasama dengan mereka dalam melawan kekuatan Tigor. Bagaimanapun, mereka seperti anak ayam tanpa induk setelah Jordan dan Birong terbunuh, serta Marven yang masih berada di balik terali besi. Sedangkan aku, aku akan berangkat ke kampung baru untuk menemui guru besar di perguruan karate di kampung itu. Kita lihat apa yang bisa kita dapatkan dari ini. Segera berangkat dan jangan nonaktifkan ponsel mu!"
"Baik, Ayah!" Kata Teja menurut. Kemudian, masing-masing dari ayah dan anak itu meninggalkan ruangan tersebut dan bergerak menuju tempat yang berlawanan.
*********
Dolok ginjang
Seperti yang diberitahukan oleh Bejo kepada Jhonroy tadi, bahwa Namora benar-benar telah memasuki semifinal di kejuaraan pencak silat edisi kali ini.
Kini, dari enam puluh empat peserta, mengerucut menjadi tiga puluh dua. Kemudian berkurang lagi menjadi enam belas, lalu kembali berkurang menjadi delapan, dan kini peserta hanya tersisa empat orang lagi. Dan sepertinya babak semifinal akan segera dilangsungkan setelah mereka diberikan waktu istirahat selama satu jam.
Namora saat ini tampak sedang duduk sambil dikipasi oleh Jol.
Jol yang lagaknya seperti pelatih yang mengantongi lisensi pro tampak sangat menikmati moments tersebut. Dia tidak henti-hentinya memberikan instruksi kepada Namora dari pinggir ring ketika babak delapan besar tadi berlangsung.
Belum pernah terjadi sebelumnya dimana ajang turnamen tahunan yang diadakan oleh sekolah-sekolah se-provinsi itu menimbulkan aura layaknya pertarungan kelas MMA. Dan Jol berhasil membangkitkan atmosfer pertandingan gara-gara ulahnya sehingga tensi antara peserta meningkat pada suhu maksimum.
__ADS_1
Ting.., ting.., ting..!
"Waktu istirahat telah habis. Kepada empat finalis, diharapkan untuk bersiap-siap menaiki gelanggang untuk sama-sama menyaksikan hasil Drawing yang akan dilakukan oleh dewan juri!"
Begitu suara bel berbunyi dengan diikuti oleh suara panitia pelaksana, Baik itu Diaz, Namora serta dua peserta lainnya yang tersisa, langsung berdiri kemudian berjalan ke arah tengah-tengah panggung.
Setelah melakukan undian dimana nama Namora dan Diaz diacak secara terpisah, kini masing-masing diantara mereka telah menemukan lawannya masing-masing.
Dewan juri yang tadinya berjumlah sembilan orang kini membentuk dua regu dan mulai memfokuskan penilaian mereka pada dua arena yang akan digunakan bagi para peserta yang akan saling sikut untuk memperebutkan tiket ke final.
Kini, baik Diaz dan Namora sudah memasuki arena dan menghadapi lawannya masing-masing.
Tatapan Diaz tertuju ke arah Namora. Dia sedikitpun tidak mendengarkan perkataan dari wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Hal ini tentu membuat lawannya merasa tidak dihargai.
Namora menyadari tatapan sengit dari Diaz. Tapi dia tidak perduli. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Diaz dalam pertarungan yang akan berlangsung sebentar lagi. Baginya, dia sudah mengukur kemampuan lawan. Akan tetapi dia tetap mendengarkan kata-kata dari Jol untuk mempermainkan lawannya. Karena, bagi Jol, itu adalah kesenangan tersendiri dan bisa menghibur hatinya.
Namora sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Jol ini. Baginya, kata-kata Jol ada benarnya juga. Selain menang, tentunya para penonton juga menginginkan hiburan. Untuk apa menang singkat jika penonton tidak terhibur.
"Ingat, Namora! Kau bukan Mike Tyson yang bisa memenangkan pertandingan dalam hitungan detik. Kau adalah Namora. Aku lebih suka kau bermain kucing-kucingan dan sedikit adegan lucu!" Pesan Jol tadi sebelum Namora naik ke atas panggung.
Jol mengatakan hal seperti itu juga bukan tanpa alasan. Dia ingin menyampaikan pesan tersirat kepada Diaz bahwa dirinya adalah yang selanjutnya.
Dia ingin menyampaikan bahwa Namora bisa mempermainkan dirinya sesuai keinginannya. Dan ini bisa merusak psikologi Diaz yang sejak awal memang ingin mencelakai Namora.
__ADS_1
Namora bukannya tidak mengerti. Dia tau jelas bahwa semakin Diaz terganggu, semakin anak itu akan nekat dengan niatnya untuk menggunakan doping. Oleh karena itu mengapa Namora mengikuti instruksi dari Jol. Bukan karena Jol sangat pro, akan tetapi, tujuan dari tindakan itu akan mengantar dirinya memenangkan pertandingan ini, bahkan membunuh Diaz tanpa menyentuh.
Bersambung...