Namora

Namora
Kemunculan Black shadow di saat genting


__ADS_3

Melihat gelagat lelaki yang tidak dikenalnya itu, Namora segera meluruskan tubuhnya. Dia yang biasa tanpa ekspresi hanya menatap lurus ke arah Takimura yang saat ini telah menggenggam gagang katana yang berada di pinggangnya.


Wajah Namora yang dingin dan tanpa ekspresi itu setidaknya membuat Takimura mengagumi anak itu di dalam hatinya. Hanya saja, pesanan dari Sensei Dojo kampung baru telah dia terima. Walau sedikit disayangkan, namun dia telah bertekad bahwa dia akan menyelesaikan pekerjaannya membunuh Namora, kemudian kembali ke negara asalnya.


"Bersiap lah nak! Aku akan melakukannya dengan cepat agar kau tidak tersiksa,"


Selesai berucap, Takimura lalu menghunus pedangnya, kemudian menggenggam dengan kedua tangannya.


Wuzzz...!


Zing...!


Dengan gerakan yang sangat cepat, Takimura meluru ke arah Namora, kemudian melakukan tebasan menyamping. Jelas tujuannya adalah menebas bagian leher Namora.


Kilatan bilah katana yang tertimpa sinar matahari membuat Namora terkesiap. Dia secara naluri melakukan gerakan kayang. Gerakan ini bukan saja membuat lehernya terhindar dari tebasan katana, akan tetapi, dia dengan spontan mampu memberikan serangan balasan dengan menjulurkan kaki kanannya ke arah lutut Takimura walaupun posisinya saat ini masih sangat merugikan.


Zing...! Kilatan cahaya katana kembali membuat pandangan Namora memendar sejenak. Dia buru-buru menarik sebelah kakinya, kemudian bergulingan menghindari tebasan katana yang diarahkan oleh Takimura sebagai pertahanan sekaligus serangan.


Firasat Namora benar. Beruntung baginya karena dia secara naluri menarik kakinya tadi. Kalau tidak, mungkin kakinya sudah buntung.


"Bagus. Punya modal juga ternyata," puji Takimura dengan tulus. Dia tetap berdiri seolah-olah menunggu Namora untuk bangkit.


"Bangun! Aku menikmati pertarungan ini. Kau jelas diluar ekspektasi ku," kata Takimura menambahkan.


Namora buru-buru berdiri. Dia mengibaskan pasir yang mengotori pakaian yang dia kenakan. Kemudian dia memasang kuda-kuda dan tinju terkepal membentuk perisai pertahanan.


"Aku tidak berniat untuk tawar menawar dengan mu. Hanya saja, sepertinya perkelahian ini tidak adil. Kau menggunakan senjata, sedangkan aku hanya dengan tangan kosong," ujar Namora dengan sikap meremehkan.


"Aku tau bahwa ini tidak pantas. Tapi aku tidak ingin repot-repot. Kau mati, pekerjaan ku selesai," jawab Takimura seolah-olah dia tidak terpancing dengan ejekan Namora tadi.


Pupus sudah harapan Namora untuk mengulur-ulur waktu. Dalam hati dia hanya bisa berdoa semoga ada orang-orangnya yang mencari dirinya, atau penolong misterius yang menolongnya kemarin muncul disaat-saat genting ini.


Namora, anak muda yang sudah menjalani gemblengan dari pak Harianto jelas tangguh. Akan tetapi orang yang berada dihadapannya saat ini adalah seorang master yang sarat dengan pengalaman bertarung. Sudah pasti jam terbang yang dia miliki cukup tinggi. Apa lagi melihat tampang kejam di wajahnya. Jelas bagi Namora bahwa Takimura ini mampu membunuh tanpa berkedip.


"Hiaaaa....!" Suara raungan Takimura membuyarkan lamunan Namora. Terlebih lagi, kembali kilatan cahaya keperakan di susul dengan suara desir angin kembali mengarah kepadanya.


Namora segera bersalto menghindar. Akan tetapi, Takimura terus merengsek sehingga Namora terpojok ke arah kuburan paling pinggir tempat peristirahatan terakhir Ando.


Wuzzz...!


Prak...!


Baru saja Namora terlepas dari tebasan Takimura. Akan tetapi, kuduknya seketika merinding melihat tebasan katana yang meleset itu menghantam batu nisan milik Ando sehingga putus menjadi dua bagian.


"Celaka kalau begini," gumam Namora dalam hati. Dia pun mulai memutar otak agar bisa memberikan perlawanan. Andai mati pun, dia sudah pasrah. Akan tetapi, dirinya bertekad untuk tidak memberikan kematian mudah kepada Takimura tanpa bisa membuat lelaki gemuk pendek itu merasakan cedera sama sekali.


Kini, Namora kembali bersiap untuk melakukan gerakan menghindar.

__ADS_1


Seperti tau apa yang dipikirkan oleh Namora, Takimura kembali melakukan serangan, dan kali ini serangannya sangat berbahaya dan tidak terduga. Sebentar tebasannya ke arah kiri, namun sekejap saja sudah berubah arah. Bahkan dia seperti tau kemana Namora akan berkelit. Dan dari serangkaian serangan itu, beberapa bagian pada tubuh Namora sudah mulai terluka dan mengeluarkan darah.


"Ugh..!" Namora meringis menahan nyeri akibat luka yang dia derita.


"Nak. Bersiaplah!" Takimura kembali mengirim tebasan.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Namora selain kembali berguling di tanah. Hanya saja, kali ini sambil berguling, dia meraup segenggam pasir. Dan ketika posisinya terlentang, dia segera menyiramkan pasir ditangannya tepat ke arah wajah Takimura.


Seeeer...!


"Aaaa..., Sial!" Takimura terkejut bukan main ketika pasir yang dilemparkan oleh Namora terasa bagaikan puluhan jarum halus menusuk ke wajahnya. Beruntung dia melihat pergerakan Namora sehingga dia cepat-cepat merapatkan kelopak matanya. Jika tidak, mungkin matanya sudah buta sejak tadi. Kalau matanya buta, maka sia-sialah andai bayarannya mahal sekalipun. Karena mana mungkin matanya yang buta bisa diganti dengan mata sapi.


"Kau?! Aku membunuh mu!" Teriak Takimura dengan kalap.


Kali ini, dia mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Karena baginya, Namora terlalu lincah dan gesit untuk ditaklukkan.


Jelas Namora sangat lincah. Karena, ketika dulu dia dilatih oleh Pak Harianto, setiap hari kedua kakinya akan dibebani dengan bandulan terbuat dari besi seberat sepuluh kilo gram.


"Pembelah bulan!" Teriak Takimura dengan lantang. Kemudian bagaikan kilat, dia mengejar Namora yang sejak tadi sudah bersiap.


Wuzzz...


Wuzzzz...!


Brett...!


Darah mengucur deras dari bekas luka sayatan katana tadi. Akan tetapi, Namora tidak memiliki waktu untuk merasakan sakit dari luka tersebut. Karena, kini dia kembali harus berjibaku menghindari cecaran serangan dari katana Takimura.


Brett... Brett... Brett...! Tiga tebasan mengenai punggung Namora.


Darah semakin mengucur deras dari setiap luka yang dialami oleh anak itu.


Mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Namora mulai merasakan bahwa gerakannya mulai melambat dan tatapan matanya mulai berkunang-kunang.


"Oh Tuhan. Apakah di sini akhir dari hidupku?"


Namora terbungkuk sembari menarik nafas.


Baru saja dia menarik nafas panjang, satu tendangan keras dengan telak mengenai perutnya.


Brugh..!


"Uhuk...,"


Tendangan yang sangat keras itu membuat Namora terjengkang kebelakang dan langsung jatuh dengan posisi terlentang.


"Ya Allah. Kalau inilah akhirnya, hamba menerimanya tanpa mengeluh," kata Namora sambil memejamkan matanya. Dia sudah pasrah menerima andai itulah takdirnya.

__ADS_1


Kesrek..! Suara langkah kaki menginjak dedaunan yang kering terdengar jelas. Kemudian, sebuah bayangan melindungi Namora dari sinar matahari.


"Waktunya untuk mati!" Pelan suara Takimura. Akan tetapi, suara pelan itu sangat jelas di telinga Namora.


Saat ini keadaan Namora sudah sangat payah. Dadanya turun naik dengan nafas memburu.


"Ucapkan selamat tinggal kepada dunia!"


Selesai berkata, Takimura mengangkat katana panjang ditangannya, siap untuk mengakhiri hidup Namora. Akan tetapi, sebelum ajal, berpantang mati.


Tepat ketika katana itu setengah jalan, tiba-tiba...,


Dooor...,


Tinggg...!


"Heh? Apa-apaan ini?"


Sedikit lagi katana itu akan memenggal kepala Namora, tiba-tiba dari arah kejauhan melesat sebutir peluru yang langsung membentur bilah katana panjang milik Takimura sehingga benturan keras itu membuat katana itu terbuang ke samping dan terlepas dari genggaman tangan Takimura.


Takimura berusaha keras untuk mengendalikan detak jantungnya yang tadi terkejut.


Dia kini segera memperhatikan ke arah katana miliknya yang tergeletak tak jauh dari tempat itu.


"Penembak jitu," pikirnya dalam hati.


Takimura hendak memungut katana miliknya yang tergeletak. Akan tetapi dia segera memalingkan wajahnya ketika dia merasakan bahwa ada seseorang yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


Takimura secara naluriah langsung berpaling. Dan benar saja, kini dia melihat satu sosok tubuh kekar dan tinggi mengenakan pakaian loreng hitam berdiri dengan kokoh sambil menatap ke arahnya dengan tatapan dingin.


"Tiger Syam," gumamnya pelan. Baginya yang telah lama berkecimpung dalam dunia bawah, tentu tidak asing dengan organisasi tentara bayaran yang paling ditakuti yaitu Tiger Syam.


"Orang tua tidak tau diri. Melawan anak kecil. Begini kah seorang assassin melakukan pekerjaan? Benar-benar mencoreng reputasi,"


Takimura tidak langsung menjawab cibiran itu. Melainkan, dia memperhatikan ke arah lelaki yang berdiri. Setelah dia memperhatikan, dia langsung bergumam dalam hatinya. "Orang ini tidak menggunakan senjata api. Jelas katana ku di tembak dari jarak yang sangat jauh. Secepat angin pun orang ini, tidak mungkin secepat ini bisa sampai. Berarti dia tidak sendirian,"


Kini jelas bagi Takimura bahwa lelaki yang dia ketahui dari organisasi Tiger Syam ini tidak sendiri. Dari sini dia bisa mengambil kesimpulan bahwa keadaannya saat ini jelas tidak menguntungkan.


"Mengapa diam? Apakah kau hanya bersuara ketika menghadapi anak-anak? Aku, Black shadow ingin mencicipi seperti apa rasa katana mu," setelah berkata, sosok berpakaian loreng hitam yang mengaku bernama Black shadow itu segera menjangkau tangannya ke bagian punggung. Setelah itu, kini terlihat di tangannya tergenggam sebilah pedang dengan bilahnya sepanjang tiga jengkal orang dewasa. Pedang itu putih mengkilap. Bahkan, pamornya mengalahkan katana milik Takimura.


"Kau terlalu sombong. Ketika di medan perang, kalian bisa menjadi menakutkan. Itu karena kalian berkelompok dan bersenjata lengkap. Di sini, kau dan aku adalah sama. Sama-sama bermodalkan keahlian dan sebilah pedang. Aku pasti akan melawan mu. Hanya saja, apakah kau akan jujur dan tidak membiarkan orang dibelakang mu untuk ikut campur?"


"Hahaha. Kalau begitu cobalah! Aku pastikan bahwa teman ku tidak akan ikut campur!" Jawab Black shadow sambil tertawa mengejek.


Kini, kedua orang itu sudah saling berhadapan dengan pedang tergenggam di tangan masing-masing. Kapan saja pertarungan itu akan pecah. Dan sepertinya memang tidak akan terelakkan lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2