Namora

Namora
Pembunuh bayaran


__ADS_3

Perkataan dari Sensei itu mau tak mau membuat Jhonroy tersenyum mengejek. Baginya, dia sudah tau kemampuan Namora.


"Sepertinya orang tua ini tidak bercermin dari pengalaman," katanya dalam hati. Dia beranggapan, jika memang murid terbaiknya mampu mengalahkan Namora, mengapa tidak dari kemarin saja Namora dihancurkan? Mengapa harus menunggu sampai hari pertandingan? Kesabaran apa yang dimiliki oleh murid terbaiknya ketika melihat murid-murid yang lain dicelakai oleh Namora, dia malah bersabar menunggu hari esok. Benar-benar tidak masuk akal. Belum lagi kegilaan Namora yang membantai anak buahnya di dekat Gang Kumuh, itu saja sudah membuktikan betapa bajingannya Namora ini.


Jhonroy mengangkat cawan teh yang terbuat dari giok putih, menyesap teh di dalamnya, kemudian tersenyum lalu bertanya. "Kepercayaan diri apa yang Sensei miliki? Bagaimana jika hal itu tidak terlaksana?"


Sensei tertegun sejenak, tidak disangka pertanyaan ini akan dilontarkan oleh Jhonroy.


Melihat guru besar itu terdiam, Jhonroy pun semakin berani mencecar Guru besar tersebut dengan kata-katanya yang penuh dengan provokasi.


"Sensei. Sepertinya kau tidak bercermin dari kejadian kemarin. Ada banyak murid mu yang cedera. Kemudian, murid mu yang tertua bahkan terbaring tidak berdaya. Bukankah itu adalah ulah dari anak yang ada dalam foto itu? Aku salah menilai mu. Tadinya aku berpikir bisa mengajak mu untuk bekerjasama menyingkirkan anak itu. Tapi sudahlah. Sepertinya aku harus mencari jalan lain,"


Selesai berkata seperti itu, Jhonroy pun berniat bangkit lalu meninggalkan ruangan khusus tersebut. Namun, langkahnya terhenti ketika Sensei memintanya untuk menunggu sejenak.


"Tuan Jhonroy yang agung. Aku tidak mengerti maksud mu. Bisakah anda menceritakan mengapa anda sangat menginginkan agar anak ini celaka?"


Jhonroy kembali duduk di hadapan guru besar tadi, kemudian menceritakan semua yang terjadi, dan kerugian yang dia alami oleh tindakan dari Namora.


Mendengar penuturan dari Jhonroy, Sensei tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan bahwa dia sudah memahami duduk persoalannya.


"Memang. Aku memiliki cara kedua untuk membalas kebiadaban Namora ini. Jika murid terbaikku gagal, maka aku akan melanjutkan dengan cara kedua. Karena tidak mungkin aku yang langsung turun tangan mengingat identitas ku, maka aku meminta kepada kenalan ku dari Jepang untuk memasuki negara ini dan menyelesaikan anak itu. Jika tuan Jhonroy berminat, anda bisa membantu ku untuk meringankan biaya ketika aku mendatangkan pembunuh bayaran ini. Dia sudah berada di sini sejak tadi pagi. Bagaimana?" Tanya Sensei yang ingin mengetahui respon dari Jhonroy.

__ADS_1


"Sensai.., Sensei. Uang bukan masalah bagiku. Baiklah. Aku akan menyanggupi semua biaya serta bayaran, berapapun itu. Bahkan, jika berhasil, aku akan memberikan bonus. Sekarang, kau boleh mempertemukan aku dengan pembunuh bayaran itu!"


"Baiklah Tuan Jhonroy yang agung!" Kata Sensei tersebut. Kemudian, dia bertepuk tangan tiga kali, lalu mengambil cawannya, dan mulai meminum tehnya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dinding di ruangan itu berderak, kemudian bergeser ke samping sehingga memperlihatkan satu ruangan yang lain.


Jhonroy sedikit terkejut. Dia tidak menyangka bahwa ada ruangan rahasia di ruangan khusus tersebut.


Di ambang pintu yang tergeser tadi, seorang lelaki bertubuh pendek, mengenakan pakaian Kendo sedang melangkah menghampiri mereka. Di pinggangnya terlihat sebilah katana panjang, kemudian sebilah pisau berukuran pendek dengan gagang maupun sarungnya berwarna hitam.


Begitu lelaki itu sampai di hadapan Sensei, dia membungkuk hormat, kemudian berbicara menggunakan bahasa Jepang.


"Takimura. Ini adalah Tuan Jhonroy. Beliau lah yang akan membayar mu. Sekarang, kau hanya perlu mengikutinya. Lakukan tugas mu sampai selesai, kemudian pergi tinggalkan negara ini dan kembali ke Jepang!"


"Tuan Jhonroy, Takimura ini sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Mungkin ini akan merepotkan Anda untuk mencari penerjemah," kata Sensei kepada Jhonroy.


"Hahaha. Kau tenang saja. Aku memiliki seorang anak laki-laki yang bisa berbicara dalam beberapa bahasa. Sebagai pebisnis, kami juga sering berhadapan dengan orang asing. Akan sangat merepotkan jika kami tidak bertutur dalam beberapa bahasa saja," jawab Jhonroy dengan senyum main-main. Setelah itu, Jhonroy mengambil ponselnya, kemudian menelepon Teja untuk mempersiapkan acara penyerapan bagi rombongan Namora yang akan kembali ke kota Batu.


*********


Villa Bukit teratai.

__ADS_1


Seorang lelaki berbadan tegap, berkulit sedikit gelap baru saja mengantar dua orang temannya yang akan berangkat.


Setelah dirinya memastikan bahwa kedua orang tersebut sudah melewati pos pemeriksaan, barulah dia memasuki mobil Volkswagen miliknya, lalu segera meninggalkan bandara internasional tersebut.


Beberapa menit kemudian, mobil Volkswagen yang dikendarai oleh lelaki berkulit hitam tadi telah tiba di Villa yang sangat besar, yang berdiri di atas puncak bukit.


Tiba di bagian belakang Villa tersebut, lelaki tadi kemudian memarkir mobilnya, kemudian berjalan menuju ke arah bagian sayap kiri bangunan tersebut. Sepertinya dia sangat tergesa-gesa sekali.


"Tuan besar. Perintah anda sudah saya laksanakan. Saat ini, Black shadow dan Black Eagle sudah melewati pemeriksaan. Kemungkinan, tidak lebih dari 30 menit lagi, kedua orang itu akan segera berangkat, dan diperhitungkan, mereka akan sampai setidaknya pukul 10 waktu negara setempat," lapor lelaki berkulit hitam itu sambil membungkuk hormat.


Seorang lelaki paruh baya yang duduk dengan didampingi oleh beberapa orang tua dan yang sebaya dengannya mengangguk samar, kemudian mengibaskan tangannya kepada lelaki yang baru tiba tadi, sambil berkata. "Bagus Black. Sekarang selesaikan tugas mu dan tunggu panggilan dariku!"


"Menerima perintah," jawab lelaki yang ternyata Black itu sambil memutar tubuhnya, kemudian berjalan meninggalkan ruangan sayap kiri di bangunan Villa mewah tersebut.


"Jerry. Apa rencana mu? Apakah kau telah mengirim orang-orang kita? Kemana, lalu kenapa?" Tanya seorang lelaki tua kepada lelaki yang ternyata adalah Jerry William. Sedangkan seorang lagi lelaki yang juga sudah tua berusia sekitar 60 tahun lebih, hanya mendengarkan saja.


Mendapat pertanyaan dari lelaki tua tadi, Jerry William hanya tersenyum. Kemudian memulai perkataannya untuk menjelaskan rencana yang selama ini sudah dia susun.


"Tuan Syam, dan juga Ayah mertua. Kita kan sudah sama-sama tau bahwa Tigor saat ini berada di dalam penjara. Dia telah menghubungi ku untuk meminta bantuan untuk melindungi putranya dari gangguan musuh. Aku menyetujuinya karena walau bagaimanapun, Tigor juga adalah sahabat ku. Posisinya aku anggap sama dengan Daniel, Riko, Ryan, Arslan maupun Herey. Jadi, ketika dia tidak berada di tempat, aku juga harus melindungi keluarganya," jawab Jerry apa adanya.


Kedua orang tua itu mengerutkan keningnya. Dia tidak meminta jawaban ini, karena terasa sangat tidak masuk akal. Baginya, tidak mungkin Jerry akan mengutus orang-orang dari Tiger Syam jika sasarannya bukanlah sasaran yang besar. Jika hanya untuk memburu kelinci, untuk apa menggunakan boom?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2