
Setelah selesai mengelilingi bangunan sekolah SMA negeri Tunas Bangsa yang tidak akan lama lagi akan menjadi tempat mereka bagi melanjutkan pendidikan, akhirnya kedelapan anak-anak muda yang masih remaja itupun memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Mereka khawatir jika berlama-lama, maka akan kemalaman, dan konsekuensinya adalah, kemungkinan besar mereka pasti akan dimarahi oleh orang tua mereka.
Kini, persis seperti sebelum-sebelumnya, delapan anak remaja itu juga berjalan berbaris seperti itik pulang kandang.
Belum lagi mereka terlalu jauh meninggalkan kawasan SMA negeri Tunas Bangsa tadi, tiba-tiba dari arah persimpangan jalan, terlihat sekitar lima unit sepeda motor dan langsung berhenti tepat di depan mereka.
"Kalian lagi," kata salah seorang penunggang sepeda motor itu sembari menunjuk ke arah Jol.
"Kami ingin lewat. Jangan halangi jalan kami!" Ketus suara Jol yang saat ini tampak lebih bersedia untuk menghadapi segala kemungkinan.
"Memang nasib ku beberapa tahun ini kurang baik. Mengapa aku harus satu sekolah lagi dengan gembel-gembel ini?" Kata pemuda yang berada di belakang pengendara sepeda motor yang pertama tadi.
"Jaga bicaramu, Rendra! Jika kau keberatan, kau boleh mencari sekolah lain. Kami bebas memilih sekolah mana yang ingin kami masuki. Kau tidak punya hak untuk melarang. Sekolah ini bukan punya bapak mu,"
Merah padam wajah Rendra ketika Jericho membalas ucapannya dengan kata-kata yang sangat menohok.
"Jangan bawa-bawa nama bapak. Atau..,"
"Atau apa, Rendra? Apa karena ada Dhani bersama denganmu? Aku tidak pernah takut. Jika harus berkelahi, maju lah!" Jol buru-buru memotong perkataan Rendra sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Mundur, Namora! Kali ini kami akan melawan," kata Jol lagi sembari mendorong tubuh Namora ke samping.
"Tujuh lawan sepuluh. Kalian bisa babak belur di sini," kini Dhani yang sejak tadi hanya diam saja mulai turun dari sepeda motornya.
"Belum coba, belum tau!" Balas Jol yang tidak mau diintimidasi oleh kata-kata meremehkan dari Dhani tadi.
"Kau Rendra. Kau bagian ku!" Jericho mulai berlari menghampiri Rendra. Dan, begitu sudah dekat, dia langsung mengirimkan tendangan langsung ke arah tangki sepeda motor milik Rendra. Akibatnya, sepeda motor itu langsung ambruk bersama dengan penunggangnya.
"Tidak perlu basa-basi lagi. Banyak cerita hanya buang-buang waktu!" Kata Jericho. Dia tidak memberi kesempatan kepada Renda untuk bangun. Tendangan kakinya tidak henti menghajar bagian paha Renda.
"Woy. Apa kalian hanya menjadi penonton saja?" Teriak Renda kesakitan. Teriakannya ini membuat Marcus buru-buru sadar dan langsung membantu.
Perkelahian antara anak-anak J7 melawan Dhani, Rendra dan delapan orang lainnya pun pecah juga.
"Marcus. Aku tidak punya masalah dengan mu. Menyingkir lah!" Kata Jericho memperingatkan.
"Sekarang kau memiliki masalah denganku. Lawan saja atau aku akan memukulmu!"
"Baiklah. Kau yang memaksa!" Kata Jericho.
__ADS_1
Plak!
Lurus tendangan Jericho dengan telak menghantam bagian dada Marcus. Akibatnya, Marcus terhuyung dan jatuh terduduk tepat di atas tubuh Rendra yang belum sepenuhnya bangun.
Kedua pemuda itu persis seperti orang yang meraba dalam kegelapan ketika mereka buru-buru bangun.
Sementara, perkelahian antara Jol dan Dhani juga tidak kalah sengit. Awalnya Jol mampu memberikan balasan dan beberapa tendangannya dapat masuk ke pertahanan Dhani. Namun, ketika Dhani dibantu oleh dua orang lagi, kini Jol jelas tidak mampu mengimbangi. Pada akhirnya, dia hanya bisa bertahan dari serangan yang membabi-buta dari tiga orang lawannya.
Bugh!
Satu pukulan dengan telak menghantam rusuk kanan Jol.
"Ugh..."
Jol terjengkang ke samping kiri sambil memegangi rusuk kanannya yang terkena pukulan.
Namora yang melihat bahwa Jol sudah sangat terdesak, berusaha untuk memberikan bantuan. Namun, tepat ketika dia akan bertindak, tiba-tiba dari arah depan sana sudah berdatangan beberapa penduduk dan langsung membentak ke arah perkelahian itu.
Seketika mereka yang sedang berkelahi tadi menjadi terkejut dan berhenti saling pukul.
"Masih anak-anak yang belum pandai membuang ingusnya sendiri, tapi berlagak seperti jagoan. Bubar kalian semua!" Kata salah satu penduduk tadi.
"Huh. Sambal. Aku selalu siap jika kau menggangu ku," balas Jol seraya menghampiri Namora. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Jol.
"Kau menyuruhku mundur. Ya aku mundur. Aku tidak apa-apa," jawab Namora yang memang tidak terlibat perkelahian.
"Syukur lah. Ayo kita pulang!" Ajak Jol kepada sahabat-sahabatnya.
Delapan anak-anak remaja itupun langsung bergegas berjalan menuju ke persimpangan jalan untuk menunggu bus yang akan mereka tumpangi untuk kembali ke rumah James. Tapi sebelum itu, mereka masih sempat memberikan hormat kepada beberapa penduduk kampung yang tadi membentak ke arah mereka.
"Sepertinya Dhani dan Rendra ini tidak akan berhenti mengganggu kita," kata Jericho kepada Jol.
"Apa yang harus kita lakukan Jol?" Tanya Juned.
"Memperkuat diri. Rendra sudah keterlaluan. Aku akan membuat SMA negeri Tunas Bangsa ini seperti neraka baginya. Kita lihat saja apa yang akan aku lakukan,"
"Jika Dhani ikut campur lagi bagaimana?" Kali ini James mengutarakan kekhawatirannya.
"Mengapa kita tidak merekrut anggota saja? Kita juga bisa seperti Dhani. Mereka punya geng. Mengapa kita tidak? Jika hanya kita bertujuh saja, kita tidak akan mampu melawan," Jericho memberikan pendapatnya. Karena, menurut yang sudah-sudah, mereka tidak pernah menang ketika berhadapan dengan Dhani yang memiliki anggota terlalu ramai. Baru sepuluh orang yang dia bawa, anak-anak J7 sudah babak belur. Apa lagi jika dia membawa 20 orang. Bisa jadi empek-empek mereka.
__ADS_1
"Mereka punya motor. Kita juga harus punya motor. Kita bentuk geng kita dengan nama Geng motor J7. Bagaimana?"
"Apa kalian mampu meyakinkan orang tua kalian supaya membelikan kalian sepeda motor? Harus yang sport. Jangan pula sepeda motor bebek. Itu tidak lucu," kata Jol pula.
Mendengar perbincangan diantara mereka, Namora hanya tertunduk saja. Dia tau bahwa jangankan membeli sepeda motor, membeli kaca spionnya saja dia tidak mampu.
"Aku harus bisa. Aku tidak pernah meminta hadiah ketika naik SMP. Kini, aku sudah di SMA. Sudah saatnya meminta sesuatu sebagai hadiah dari orang tuaku," kata Julio dengan sangat optimis bahwa permintaannya akan dikabulkan oleh orang tuanya.
Jericho juga sama. Dia pasti dengan mudah akan mendapatkan sepeda motor dari orangtuanya. Karena, diantara mereka, Jericho ini lah yang paling mewah dan sering menjadi ujung tombak jika ada sesuatu yang mereka butuhkan. Jericho akan mendahului uang nya untuk keperluan mereka. Tapi ya harus di bayar ketika mereka sudah memiliki uang.
"Syarat untuk menjadi anggota J7 adalah, mereka harus memiliki sepeda motor sport. Yang ke dua, pandai berkelahi. Jika nama depan mereka dimulai dengan huruf J, itu malah lebih bagus," tegas Jol yang menyetujui gagasan mereka.
"Baiklah. Kita sepakat. Kami akan mengangkat mu sebagai ketua dari kumpulan kita. Bagaimana?"
"Kau saja, Jericho. Aku tidak bisa," tolak Jol yang merasa bahwa dari segi apapun, Jericho lebih pantas dari dirinya.
"Tidak. Semua orang tau bahwa kau adalah andalan kami. Jika kau katakan lawan, maka kami akan lawan. Jika kau suruh untuk mundur, kami akan mundur!"
"Bukan waktunya untuk berdebat. Jol sudah ditetapkan sebagai ketua J7. Jika tidak bersedia, maka Jol otomatis akan dikeluarkan dari geng ini!" Jaiz tidak lagi berbasa-basi. Hal ini mambuat Jol mau tidak mau harus menerima keputusan dari mereka.
"Bagaimana, Namora?" Tanya Jol yang tau bahwa temannya itu tidak memiliki sepeda motor, tidak jago berkelahi, dan namanya juga tidak diawali dari huruf J.
"Namora adalah keluarga kita. Itu tidak akan berubah. Biarkan dia menjadi apa yang dia mau. Namun, jika dia diganggu, kewajiban kita untuk membela,"
"Aku setuju!"
Jol merasa lega, bahwa Namora tidak diabaikan oleh keenam orang yang lainnya.
"Kita adalah J7!" Kata Jericho sambil mengulurkan tangannya.
"J7!" Balas James meletakkan tangannya di atas tangan Jericho.
Mereka kini saling meletakkan tangannya masing-masing di atas tangan satu dan yang lainnya sambil berteriak...,
"J7!"
Dengan ini, maka resmilah sudah mereka mendirikan geng motor yang mereka namai dengan geng motor J7 walaupun motornya belum ada. Setidaknya, gagasan untuk membentuk geng tersebut sudah tercetus di Halte bus depan sekolah SMA negeri Tunas Bangsa. Dan Namora diangkat sebagai keluarga serta menjadi bendahara di dalam organisasi tersebut.
Bersambung...
__ADS_1