
Tower mall
Namora berdiri dengan raut wajah pasrah sembari memperhatikan seorang staf di dalam mall tersebut mendorong troli di mana seorang pemuda yang sebaya dengannya seperti monyet kebakaran ekor mencak-mencak didalam bak troli tersebut.
Sesekali pemuda itu akan berteriak mengatakan bahwa siapa saja yang berbelanja di Tower mall di atas dua puluh juta, akan diberikan diskon khusus sebesar 20% dan akan berlaku sampai pukul delapan malam ini.
Namora bingung apakah dia ingin menangis atau tertawa melihat tingkah laku pemuda yang tidak lain adalah Joe William itu. Sedangkan di belakangnya, puluhan staf serta manager mengikutinya dengan wajah berkeringat. Bahkan, Miss Aline yang terkenal sangat berkuasa pun berkeringat dingin menghadapi pemuda yang bertingkah laku aneh itu.
Tepat ketika Namora akan berjalan mendekat ke arah Joe, tiba-tiba dia dihentikan oleh seorang pemuda, lalu membisikkan sesuatu kepadanya.
Begitu mendengar apa yang dibisikkan oleh pemuda tadi, Namora pun segera berhenti, kemudian menatap dengan tatapan meminta kepastian.
"Benar, Tuan muda. Pak Anto dan konco-konconya telah mati. Orang-orang kita telah memastikannya," kata si pembawa kabar bersungguh-sungguh.
"Hmmm. Itu harga mahal yang harus mereka bayar," kata Namora. Walaupun dia sudah memprediksi bahwa Jhonroy tidak akan melepaskan Anto dan kawan-kawannya, akan tetapi tetap saja dia tidak berfikir sampai pada titik pembunuhan.
"Apa lagi berita yang kau dapatkan?" Tanya Namora kemudian.
"Tidak banyak berita yang kami dapat. Hanya saja, anda harus berhati-hati! Teja ingin menargetkan anda, Tuan muda. Sempat terjadi perdebatan antara Teja dan Angga. Angga sendiri berinisiatif untuk menemui anda. Mungkin sekarang dia sedang dalam perjalanan,"
"Ingin bertemu dengan ku? Hmmm. Menarik. Aku ingin tau trik apa yang ingin dia mainkan di depanku," ujar Namora. Kemudian dia segera memerintahkan agar pemuda yang membawa kabar itu segera pergi, sedangkan dia segera bergegas menuju kemana Joe tadi pergi.
Benar saja seperti yang dikatakan oleh si pembawa kabar, sekitar satu jam kemudian, beberapa unit mobil berhenti tepat di depan bangunan pusat perbelanjaan Tower Mall. Dari dalam, keluar sekitar sepuluh orang pria mengapit seorang pemuda yang langsung memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Dari plat nomor kendaraan yang terlihat, jelas bahwa rombongan itu berasal dari kota L.
Tepat ketika rombongan itu tiba di dalam tower mall, Namora, Joe dan Miss Aline saat ini sedang berada di roof top bangunan tujuh tingkat tersebut. Mereka bertiga sedang menikmati teh racikan Miss Aline.
Namora, baru saja mengangkat cangkirnya ketika pak Karim menghampirinya dengan sikap takut-takut, kemudian berbisik ke telinga Namora.
__ADS_1
"Apakah orangnya sudah tiba?"
"Benar, Tuan muda. Dia menginginkan bertemu dengan anda, dan berbicara empat mata," jawab Pak Karim.
Melihat kedua orang itu saling berbisik, Miss Aline yang merasa penasaran langsung bertanya. "Namora, ada apa?" Tanya nya.
"Ada seorang pecundang yang ingin bertemu dengan ku. Aku telah lama menyelidiki kelicikan orang ini. Tapi, baru kali ini berkesempatan untuk menguji langsung seperti apa kelicikannya,"
"Apakah orang itu ada hubungannya dengan Jhonroy?"
Namora mengangguk dengan mantap, kemudian mengatakan apa yang terjadi pada Pak Anto sesuai yang dia dapatkan dari bawahannya yang membawa kabar.
Miss Aline dan Joe saling pandang. Bahkan, Joe sendiri sempat kaget dengan kekejaman Jhonroy. Maklumlah, dia baru saja diijinkan untuk turun gunung. Masih belum terlalu mengerti betapa kejamnya persaingan di dunia bisnis.
"Namora, jika kau menunggu anak lawan mu itu, maka kami akan pergi dulu," kata Miss Aline sembari bangkit berdiri, lalu mengajak Joe untuk meninggalkan tempat itu.
"Orangnya sudah sampai," bisik pak Karim tanpa menoleh.
"Hmmm...," Namora tampak acuh tak acuh. Dia bahkan mengangkat cangkir teh nya, kemudian menyesap air yang masih tinggal setengah lagi.
Tak berapa lama, Angga dan rombongannya pun tiba di depan Namora. Akan tetapi, Namora masih tetap acuh tak acuh, seolah-olah dia menganggap kedatangan orang-orang itu seperti angin lalu.
Begitu Angga dan rombongannya tiba di depan Namora, dia langsung memasang wajah ramah dan tersenyum sembari bertanya, "maaf. Apakah orang yang duduk dihadapan saya ini adalah Namora?" Tanya nya masih mempertahankan raut wajah yang seramah mungkin.
Namora melirik sejenak dengan ekor matanya. Kemudian dia kembali memfokuskan dirinya dengan cangkir teh yang ada dihadapannya.
Melihat ekspresi acuh tak acuh dari Namora, Angga berdehem beberapa kali, kemudian kembali bertanya. "Apakah kedatangan saya menemui anda ini tidak tepat?"
__ADS_1
Namora meletakkan cangkir tehnya, kemudian bertanya. "Seperti apa pandangan anda tentang saya?"
"Maksudnya anda?" Tanya Angga tidak mengerti.
Tidak menjawab, Namora malah kembali melemparkan pertanyaan. "Seperti apa orang-orang Martins Group di mata anda?"
Semakin berkerut dahi Angga mendengar pertanyaan ini. Dia memang tau bahwa Namora ini adalah pemuda dingin yang tidak pernah tersenyum apa lagi ramah kepada orang lain tanpa alasan. Namun, semuanya jauh dari yang dia perkirakan. Namora ini bahkan lebih dingin dari gunung es itu sendiri.
"Harap untuk tidak berbelit-belit, Tuan!" Pinta Angga yang mulai merasa tidak enak. Semenjak dia sampai, jangankan dipersembahkan untuk duduk, bahkan sepertinya kehadirannya pun tidak diinginkan.
"Anda bertanya apakah aku Namora, jawabannya ya. Aku adalah Namora. Aku Namora, bukan penjahat yang tidak masuk akal. Tujuan kedatangan mu ke sini dengan membawa ramai pengawal terasa seperti penghinaan bagiku. Apa menurut mu, aku dan orang-orang Martins Group adalah penjahat?" Tanya Namora dengan menyipitkan matanya seolah-olah dia sangat tersinggung oleh Angga yang membawa ramai pengawal untuk menemuinya.
Jika di pikir-pikir kembali, memang benar bahwa orang-orang dari kota Kemuning tidak pernah mencari masalah dengan orang dari kota L. Sebaliknya, justru orang-orang dari kota L lah yang sering mempersulit Namora. Bahkan, bukan sekali dua kali Namora menjadi target pembunuhan yang dikirim oleh Jhonroy dari Kota L.
Menyadari akan hal ini, Angga segera melambaikan tangannya untuk menyuruh bawahannya agar segera meninggalkan tempat itu.
Setelah bawahannya pergi, barulah Angga kembali berkata. "Apakah sudah tidak apa-apa sekarang?"
Namora melirik ke arah pak Karim. Pak Karim yang mengerti arti lirikan itu, segera mengangguk, kemudian meninggalkan mereka dan berdiri sendirian di sudut lain sembari memperhatikan apa yang akan mereka bahas.
"Duduk!" Pinta Namora mempersilahkan kepada tamu yang tidak diundangnya itu.
Angga mengangguk pelan, kemudian menarik kursi untuk duduk.
Sesaat tatapan mata kedua pemuda itu bertemu. Tapi, Angga tidak berani lama-lama bertatap mata dengan Namora. Dia merasa aura dingin merembes melalui kuduknya.
"Sekarang, kita sudah boleh berbicara baik-baik?" Tanya Angga setelah sekian lama terdiam.
__ADS_1
Bersambung.