
Apartemen bukit Batu
Empat orang lelaki berusia antara 20-25 tahun tampak sedang serius mencuci sepeda motor Yamaha R1 berwarna biru. Seorang pemuda belia tampak sedang memandori pekerjaan mereka sambil berkacak pinggang.
Keempat orang lelaki ini baru saja tiba dari kota Kemuning atas permintaan Namora kepada Ameng. Begitu Ameng meminta mereka untuk membantu Namora, seketika itu juga mereka langsung melakukan persiapan, kemudian malamnya langsung berangkat ke kota Batu.
"Sudah selesai, Tuan muda," kata salah seorang dari keempat lelaki itu dengan kain lap tersampir di bahunya.
Namora menghampiri kendaraannya tersebut, kemudian mengacungkan jempol kepada lelaki tadi. "Aku akan segera berangkat. Tolong ambilkan beberapa foto untuk ku!" Pinta Namora sembari menyerahkan handphone miliknya kepada lelaki tadi.
Namora segera berpose serius sambil menunggangi sepeda motornya.
Setelah semuanya selesai, dia kemudian mengunggah foto tersebut di beberapa platform sosial media dengan caption, 'BERANGKAT!'
Namora sengaja mengunggah beberapa foto tersebut keberbagai platform sosial media dengan tujuan untuk memancing lawan-lawannya agar mencegat dirinya ditengah jalan. Dia merasa itu perlu dilakukan agar mereka yang menargetkan dirinya segera berpikir apakah dirinya benar-benar pergi sendirian, ataupun itu hanyalah jebakan.
"Kalian sudah tau kan, apa-apa saja yang harus dikerjakan?"
"Kami sudah tau, Tuan muda. Ketika anda berangkat nanti, kami akan langsung menuju titik yang anda sebutkan," jawab mereka.
Namora mengangguk, kemudian menyalakan mesin kendaraannya.
__ADS_1
Bruum...!
Suara deru mesin segera terdengar diikuti lesatan sepeda motor SuperSports bertenaga besar tersebut membelah jalan perbukitan sebelum mencapai jalan raya menuju kota Kemuning.
Sensasi yang dia rasakan saat ini persis seperti seorang pangeran menunggang kuda. Seketika perasaan ganteng menyelinap di lubuk hati yang terdalam.
"Andai dari dulu seperti ini, betapa gagahnya," gumam Namora dalam hati. Dia membayangkan, andai dulu dia langsung seperti ini, tentu tidak akan ada yang berani membully dirinya. Dan tentu saja Merisda tidak akan mencampakkannya. Tapi itu dulu. Namora harus belajar dari pengalaman, kemudian memanfaatkan apa yang dia miliki.
"Punya ilmu silat, menjadi juara turnamen, tapi malah dijadikan target pembunuhan. Anak orang kaya, punya Villa, rumah besar, apartemen, perusahaan yang bisa dibilang lumayan besar, tapi kok malah di-bully terus-terusan. Bodohnya aku ini. Mengapa tidak aku saja yang mendahului mereka sebelum mereka mengatur rencana. Aku ingin lihat bagaimana mereka menghadapi anak bandel ini," Namora terus saja mengoceh didalam hatinya. Kemudian dia mulai bersenandung di dalam hatinya. Lagu yang dia nyanyikan sama sekali tidak tau entah berasal dari mana. Dan hanya ini yang bisa dia lakukan. Karena, untuk bernyanyi secara terbuka, dia tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya. Dia tau bahwa suaranya dalam bernyanyi berada pada level bencana.
"Hmmm. Mulus sekali perjalanan ini. Apakah taktik murahan ku ini mampu mengelabui mereka? Atau sumber daya mereka yang telah habis karena sering menargetkan ku?"
Namora kembali memfokuskan perhatiannya pada jalan yang dia lalui. Dia tidak ingin terlepas dari bahaya yang ditimbulkan oleh Jhonroy, malah masuk dalam bahaya kecelakaan lalulintas. Itu namanya, lepas dari mulut naga, masuk ke mulut Dino saurus.
Jika Takimura masih belum sembuh dari cedera yang dia alami ketika bertarung dengan Black shadow dan tidak mampu menjalankan misi untuk membunuh Namora, cerita berbeda ada pada Jhonroy dan Teja.
Mereka malah berpikir bahwa Namora sengaja mewartakan keberangkatannya secara terang-terangan pasti bertujuan untuk menarik perhatian mereka.
Beberapa kali mereka ingin mencelakai Namora namun gagal, dan ini cukup untuk membuat mereka merasa waspada bahwa Namora ini bukanlah makanan empuk yang bisa dilahap sesukanya. Pasti Namora sengaja untuk memasang jebakan.
Ketika ini, Namora sudah melakukan perjalanan selama dua jam. Dia baru saja memasuki gerbang selamat datang di area perbatasan antara kota Batu dan kota Kemuning. Masih butuh sekitar satu jam lagi perjalanan menuju ke pusat kota Kemuning. Kota dimana dia dilahirkan.
__ADS_1
Sementara itu di kantor, beberapa orang lelaki paruh baya dengan berbagai ukuran tubuh dan penampilan baru saja tiba di area parkir bawah tanah di kantor besar Martins Group.
Terlihat juga seorang lelaki paruh baya mengenakan stelan jas putih dengan koper mengkilap ditangan. Disebelahnya, terlihat seorang wanita cantik namun tak juga tak lagi muda. Wanita itu juga mengenakan stelan kantoran berwarna sedikit krim. Rambut pirang, mata sedikit biru dan kulit putihnya menambah pesona wanita yang jelas bukan berasal dari negara ini.
Walaupun wajahnya tampak ramah dan bibirnya selalu menyunggingkan senyuman, tapi sorot tajam pada tatapannya memperjelas bahwa wanita ini sangat jeli, tegas dan berwawasan.
Jika lelaki tadi dikenal sebagai pengacara perusahaan Martins Group bernama Pak Burhan, maka wanita paruh baya itu bernama Miss Aline. Dia adalah jenderal manager di perusahaan Tower sole propier yang kelak akan diwariskan kepada Joe William.
Karena saat ini Joe William masih tunggang langgang digembleng oleh Tengku Mahmud di Kuala Nipah, maka perusahaan pribadi tanpa investor itu dinakhodai oleh Miss Aline yang sengaja dipindahkan dari Starhill, tepatnya Jewel Star oleh Tuan besar Jerry William.
Di belakang kedua orang ini, terlihat Andra, Ameng, Acong, Timbul, Monang, Ucok, Sugeng, Jabat, Bejo dan Thomas beserta dua orang pemuda yang sebaya dengan Namora. Mereka berdua adalah Hendro dan Udin.
Sepuluh orang yang tidak lain adalah bawahan Tigor ini tampak memasang wajah tegang.
Karena Namora memberitahu kepada mereka bahwa dia ingin mengadakan pertemuan dengan para pemegang saham, maka sudah jelas bahwa pertemuan ini akan sangat menegangkan mengingat betapa sembrono nya Namora dalam membuat keputusan.
Namora, ketika berada di dalam perusahaan mendadak berubah dari anak remaja, menjadi otoriter bertangan besi. Dia tidak pernah mau mengalah dan keputusan yang dia ambil seolah-olah itu adalah dekrit kekaisaran yang harus dijunjung tinggi oleh setiap bawahannya.
Tigor, yang tadinya mendapatkan warisan 51% saham dari mendiang Martin telah meningkatkan kepemilikan sahamnya dalam perusahaan sebanyak 70% dalam dua tahun dia memimpin.
Martins Group kota Kemuning sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Martins Group kota Tasik Putri. Dimana setelah Martin meninggal dibunuh oleh Marven, Tigor sepenuhnya melepaskan diri dari Martins Group kota Tasik Putri dan membentuk perusahaan Martins Group sendiri dengan nama Martins Group kota Kemuning dan terdaftar di notaris dan kementerian hukum.
__ADS_1
Setelah Tigor berada dalam tahanan selama tujuh belas tahun, barulah dia mewariskan Martins Group kepada putranya satu-satunya yaitu Namora. Dan sekarang, Namora lah yang menjalankan perusahaan dengan seluruh otoritas yang dia miliki. Hanya saja, di masa-masa awalnya ini, Namora kerap dihadang oleh badai. Makanya aktifitasnya di dalam perusahaan sering terkendala. Dan kini, sang otoriter ini kembali datang untuk mengaduk-aduk air kolam yang tenang di Martins Group. Tidak tau entah siapa lagi yang akan menjadi korbannya kali ini setelah pemecatan massal yang dia lakukan beberapa bulan yang lalu.
Bersambung...