Namora

Namora
Suasana rapat yang canggung


__ADS_3

Bruum... Bruuum.... Bruuuuuum...!


Terdengar suara mesin kendaraan memasuki area parkir bawah tanah.


Setelah beberapa detik, terlihat mobil super sport Bentley melintas dihadapan beberapa orang lelaki yang sudah sejak tadi berada di tempat itu, kemudian berhenti sepenuh di tempat parkir khusus.


Beberapa pasang mata memperhatikan ketika pintu mobil tersebut dibuka, kemudian seorang lelaki mengenakan seragam sopir keluar dan setengah berlari mengitari mobil untuk mencapai pintu di bagian penumpang.


Ketika pintu itu dibuka, kini tampak sepatu kulit berkilat terjulur diikuti sosok seorang pemuda mengenakan stelan blazer Armani berwarna hitam, berkacamata hitam, dengan dasi kupu-kupu keluar dari mobil sport tersebut.


Sekilas pemuda yang baru saja keluar dari mobil itu menyapukan pandangannya kearah mereka. Tidak ada ekspresi pada wajahnya. Tidak bisa dikatakan sombong ataupun ramah. Wajah itu datar tanpa emosi.


Seorang wanita berusia sekitar 25 tahun menghampiri pemuda itu, kemudian dengan hormat berkata, "Tuan muda Namora,"


"Siapa keenam orang itu?" Tanya pemuda yang tidak lain adalah Namora.


"Mereka adalah pemegang saham di perusahaan kita," jawab wanita itu masih mempertahankan sikap hormat.


"Hmmm. Bawa aku menuju ruang rapat!"


"Silahkan lewat sini, Tuan muda!" Kata wanita itu mempersilahkan sambil menunjuk jalan menuju pintu lift.


Namora tidak menyapa siapapun. Baginya dia tidak perlu merasa sungkan ataupun memberikan keramahtamahan yang palsu. Karena tujuannya jelas. Yaitu, ingin mengetahui warna asli mereka. Dan tiba waktunya, dia akan menyingkirkan duri dalam perusahaan ini. Karena kalau tidak segera disingkirkan, mereka bisa menjadi virus yang akan membahayakan bagi Martins Group.


Life berhenti dan pintunya terbuka. Dari dalam, Namora melangkah keluar sambil ditemani oleh wanita tadi. Sepertinya wanita ini adalah sekretaris jika dinilai dari cara dan sikapnya terhadap Namora.

__ADS_1


"Apakah mereka sudah lama tiba?" Tanya Namora merujuk kepada para pemegang saham tadi.


"Belum, tuan muda. Baru sekitar lima menit," jawab sang sekretaris.


Namora merenungi sikap dan cara mereka ketika melihat dirinya. Tampak bahwa orang-orang ini menatapnya dengan sebelah mata. Ada tatapan meragukan di mata mereka. Itulah sebabnya mereka masih berdiri di sana dan tidak berinisiatif menunggu kedatangan Namora dan hadir lebih awal di ruang rapat.


Namora menyadari hal ini. Dia tidak bodoh untuk menilai seseorang. Terlebih lagi para pemegang saham ini. Sejak awal mereka memang tidak menunjukkan sikap hormat terhadap dirinya yang memiliki 70% saham serta menjabat sebagai CEO.


"Apakah sudah seburuk ini orang-orang dalam Martins Group?" Gumam Namora seperti untuk dirinya sendiri. Ingin rasanya dia segera melakukan revolusi di dalam perusahaan. Hanya saja, posisinya masih belum stabil. Jadi, jika harus mengalah, dia akan mengalah terlebih dahulu sebelum memberikan kejutan kepada mereka.


Namora melangkah memasuki ruangan rapat ketika sekretaris itu membukakan pintu untuknya.


Di dalam, dia melihat beberapa kertas sudah tertata dengan rapi. Juga ada botol minuman mineral di sana.


Begitu Namora duduk, wanita sekretaris tadi langsung meletakkan laptop di depan Namora sambil memberikan panduan singkat, lalu berdiri tepat disampingnya.


Satu menit, lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit Namora menunggu. Akan tetapi, sepertinya semua orang masih belum memasuki ruangan itu.


Namora mulai sedikit gusar. Akan tetapi, dia mencoba untuk tetap tenang karena sebelumnya dia sudah memperkirakan bahwa dirinya akan mendapatkan penentangan seperti ini.


Namora mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.


Tepat ketika ketukan ke tiga, pintu ruangan mulai diketuk disusul beberapa orang lelaki paruh baya memasuki ruangan.


Begitu tiba di dalam, tanpa basa-basi lagi mereka langsung saja duduk, kemudian menatap dengan wajah serius kepada Namora.

__ADS_1


"Apakah Miss Aline dan Pak Burhan tidak ikut serta dalam rapat ini?" Tanya Namora kepada sekretaris.


"Miss Aline tidak ada sangkut pautnya dengan Martins Group. Dia di sini hanya ingin melihat seperti apa anda, Tuan muda. Sedangkan pak Burhan, beliau adalah pemegang kuasa hukum di dalam perusahaan. Kelak jika kata sepakat diambil, barulah dia akan menghadiri rapat untuk mengesahkan kesepakatan dan berurusan dengan pihak notaris bagi pengurusan akta," jawab sekretaris itu.


"Baiklah," Namora mengangguk pelan.


"Apakah semuanya sudah berada di sini?" Tanya Namora sambil memperhatikan bahwa tidak ada lagi kursi yang kosong. Dia memperhatikan bahwa Hendro dan Udin juga ada di sana selaku pemegang 5% saham untuk mewakili paman-pamannya.


Semuanya mengangguk, kemudian menunggu dengan tenang apa yang akan disampaikan oleh Namora.


"Baik. Perkenalkan, nama saya Adalah Namora Habonaran. Putra dari Tigor Habonaran, Chairman di perusahaan ini. Di sini, saya selaku CEO sekaligus pemegang mayoritas saham berinisiatif untuk mengadakan rapat ini guna membahas mengenai kerja-kerja di perusahaan, serta langkah selanjutnya yang akan kita ambil kedepannya,"


Selesai berkata, Namora memperhatikan kearah mereka. Tapi tetap tidak ada tanggapan. Hal ini membuat Namora merasa ingin membalikkan meja agar rapat ini segera berantakan.


"Apakah sebagai pemegang saham, tidak ada diantara kalian yang ingin bertanya langkah apa yang akan saya ambil kedepannya untuk perusahaan? Atau kalian terlalu nyaman hanya mengambil manfaat dari saham kalian setelah perusahaan mendapatkan keuntungan?" Namora memperhatikan ada sedikit perubahan pada wajah mereka. Hanya saja, itu cuma sekilas.


"Boss. Kami mempercayakan kepada anda untuk membawa perusahaan ini kearah yang anda inginkan. Kami percaya bahwa anda bisa melakukannya," kata seseorang. Namun, orang ini bukanlah pemegang saham, melainkan kepala bagian hubungan masyarakat.


"Mora. Apakah kau mempunyai gagasan sehingga kau mengadakan rapat ini?" Udin, yang duduknya tidak jauh dari kursi kepala mulai mengajukan pertanyaan.


"Pertanyaan yang bagus. Aku suka. Ternyata sebagian orang sudah terlalu nyaman dan itu membuat cara berpikir mereka menjadi tumpul. Aku tidak bisa membedakan apakah itu ketumpulan dalam berpikir, atau terlalu nyaman mengecap hasil dari jerih payah orang lain," Namora berdiri kembali, kemudian melanjutkan. "Aku mendapat bocoran dari beberapa perusahaan milik pemerintah yang akan membuka tender proyek. Sejauh ini, ada tiga proyek yang akan di lelang. Pertama, ada proyek pembangunan dermaga di tanjung karang. Yang kedua, pembangunan high way yang akan menghubungkan dari kota Dolok ginjang, ke kota L. Dan yang terakhir, pembangunan pabrik kelapa sawit di kota Rantau.


Ketiga-tiga proyek ini cukup penting bagi perusahaan kita mengingat bahwa akhir-akhir ini kita selalu gagal dalam mendapatkan proyek apapun yang diperebutkan. Aku tidak tau dimana kurangnya kita dalam meyakinkan pemilik proyek sehingga proyek ini terus-menerus dimenangkan oleh perusahaan lain. Dan sebagian besar selalu dimenangkan oleh Agro finansial Group. Apakah ada yang bisa menjelaskan kepadaku?" Tanya Namora.


Mendengar pertanyaan ini, beberapa diantara mereka saling menatap. Tapi tetap tidak ada komentar yang keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


__ADS_2