
Prak..!
Jhonroy membanting tangannya di atas meja. Terlihat jelas bahwa dia sedang melampiaskan kemarahannya. "Anak itu. Jika tidak mati oleh ku, maka aku bersumpah akan mengganti nama belakang ku menjadi Habonaran," geramnya membuat beberapa orang lelaki paruh baya yang ada di ruangan kerjanya saling melemparkan pandangan. Mereka tau bahwa tadi malam, di tanjung karang, orang-orangnya telah digrebek oleh pihak kepolisian tanjung karang yang bekerjasama dengan pihak kepolisian kota Batu. Tapi, yang tidak mereka mengerti adalah, alih-alih menyalahkan pihak kepolisian, Jhonroy malah menyalahkan Namora. Di sinilah mereka merasa heran dan penuh tanda tanya dalam tatapan masing-masing diantara mereka.
"Tuan Jhonroy. Sebenarnya apa yang membuatmu sangat kesal dengan Namora ini? Bukankah orang-orang mu ditahan oleh pihak kepolisian, lalu, apa hubungannya dengan anak itu?"
"Pak Anto, dan kalian semuanya. Kalian tidak mengetahui bahwa sebenarnya, Namora lah yang membocorkan informasi tentang barang-barang kita yang tiba dari Jepang itu. Bukan itu saja. Dia seolah-olah menaruh cuka di atas luka ku dengan sengaja meneleponku dan mengejekku. Wajah tua ku ini.., entah dimana akan aku taruh!
Baru kemarin dia melakukan konferensi pers yang menyatakan bahwa mereka menarik garis lurus antara Agro finansial Group dan Martins Group bahwa kedua perusahaan ini bermusuhan. Belum selesai kita membahas masalah ini dan memberikan sangsi kepada anak itu, dia sudah membuat ulah lagi. Aku sangat marah! Seumur hidupku, baru kali ini aku merasakan bulu ku diacak-acak oleh anak kecil!" Jhonroy benar-benar sangat kesal. Matanya melotot dan giginya terkancing sehingga urat-urat di sisi pipinya tampak menegang.
Puluhan tahun dia menjadi raja di kota L ini, belum pernah dia diacak-acak sedemikian rupa. Namun, kali ini seorang anak kecil yang bahkan ayahnya pun dulu tidak berani melanggar batasnya kini malah melecehkan harga dirinya. Kemana wajah tuanya akan dia letakkan.
Kembali enam orang mitra bisnis nya tersebut saling melemparkan pandangan. Jauh di dalam hati mereka, mereka tau apa yang diinginkan oleh Jhonroy.
"Baiklah, Tuan Jhonroy. Kami tau apa yang harus kami lakukan. Anda tenang saja dan tunggu hasilnya. Kami akan membuat anak itu jatuh dari posisinya sebagai CEO. Biarkan dia menjadi pemegang mayoritas saham, tapi tanpa jabatan. Kami masih memiliki suara di perusahaan Martins Group," kata pak Anto sembari bangkit berdiri. Kemudian, mereka berenam segera meninggalkan ruangan kerja Jhonroy tanpa sepatah katapun lagi.
Sementara itu, di pusat tahanan kota Batu, Tigor tampak sedang tertawa terbahak-bahak mendengar semua penjelasan dari Ameng tentang apa saja yang telah dilakukan oleh Namora selama di kota Kemuning. Sepertinya, dia sangat puas sekaligus senang dengan apa yang dilakukan oleh Namora.
__ADS_1
"Anak itu. Hahaha.., mengacak-acak bulu Jhonroy. Aku pikir, mungkin saat ini Jhonroy merasakan makan tak enak, tidur tak lena. Sehari yang lalu dia melakukan konferensi pers yang mengatakan bahwa Martins Group secara resmi mengungkapkan bahwa mereka bermusuhan dengan Agro finansial Group, tadi malam, atas informasi yang entah dari mana didapatkan oleh anak itu, pihak kepolisian tanjung karang yang bekerjasama dengan pihak kepolisian kota Batu berhasil menggagalkan masuknya barang-barang haram dari Jepang melalui pelabuhan Tanjung karang. Hebat apa tidak itu bang?" Tanya Ameng dengan begitu bangganya. Seolah-olah, Namora itu adalah anaknya sendiri dan bukan anak Tigor.
"Hebat. Sungguh sangat Hebat. Aku menduga bahwa akan terjadi peperangan sebentar lagi. Ingat Meng! Kali ini, jangan larang dia melakukan apapun. Kau temui pak Burhan, katakan padanya untuk memindahkan seluruh keuntungan yang diperoleh dari perusahaan yang lain ke rekening Namora. Intuisi ku mengatakan, Namora akan segera dipersulit oleh Anto dan pemegang saham yang lainnya,"
"Baik Bang. Kalau begitu, aku permisi dulu!"
"Meng! Jangan tunda. Waktunya sangat sedikit. Jika kau tunda, aku khawatir Namora tidak akan bisa memenangkan keadaan. Segera setelah kau meninggalkan kota Batu, temui pak Burhan. Setelah itu, barulah katakan kepada Namora bahwa dia jangan memikirkan hal yang lain. Katakan juga bahwa kita punya banyak uang. Mengerti?"
"Mengerti bang. Kau jangan risau. Besok kau akan bebas. Kami akan melakukan persiapan. Jangan mencari gara-gara lagi bang. Jangan patahkan tulang orang! Atau kau akan mendekam selama setahun lagi," kata Ameng sambil tertawa. Kemudian dia segera meninggalkan ruangan besuk tersebut.
"Enak punya adik seorang kepala polisi. Enak juga punya nama dan pengaruh. Penjara dia anggap seperti rumahnya sendiri," kata Ameng dalam hati sambil terus melangkah menuju dimana mobilnya di parkir. Sementara itu, Tigor pun dipanggil oleh kepala lapas untuk melakukan proses pembebasan. Jika tidak ada halangan, besok pagi dia sudah akan dibebaskan selama 17 tahun mendekam dalam tahanan kota Batu ini.
Diwaktu yang sama, saat ini Namora bersama dengan sopir setianya yang tidak lain adalah pak Karim tampak sedang keluar dari kantor besar Martins Group. Saat ini, posisinya sedang berada di jalan tepat bagian depan Martins hotel.
Terlihat hotel itu saat ini sedang didekorasi. Ada ribuan orang tampak sedang berjibaku menyulap bagian depan Hotel menjadi istana. Berbagai lampu pernak pernik juga telah sepenuhnya terpasang. Begitu juga dengan karangan bunga dan lain sebagainya. Semuanya bertuliskan tentang penyambutan kebebasan Tigor dari dalam penjara.
Namora saat ini juga sangat bersemangat. Apa lagi ibunya juga sudah kembali ke kota Kemuning bersama dengan istri pamannya, Rio.
__ADS_1
Kali ini, Namora pasti akan mengikuti iring-iringan untuk menjemput kepulangan Ayahnya. Diperkirakan akan ada puluhan bahkan ratusan mobil-mobil mewah yang akan menjemput Tigor. Namora juga tidak terkecuali. Dia sudah meminta kepada Lalah, kakek angkatnya untuk meminjamkannya mobil Bugatti Veyron. Dia merasa mobil itu sangat keren. Walaupun mobilnya juga bisa dikatakan Supercar, dan itu adalah Bentley, tapi dia tidak menyukai bentuknya. Maka dari itu, semalam dia merengek agar Lalah meminjamkannya mobil Bugatti Veyron dan Lalah tanpa banyak basa-basi langsung mengiyakan permintaan Namora.
Ini benar-benar hari yang sangat melelahkan tentunya bagi orang-orang yang terlibat dalam organisasi Dragon Empire. Namun, walaupun melelahkan, tapi mereka bahagia. Bagaimana tidak bahagia, untuk angkatan pertama anggota Dragon Empire, mereka merasakan seperti anak ayam tanpa induk ketika Tigor ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara oleh Rio. Kini, induk mereka akan kembali tak lama lagi. Dan, seharusnya mereka akan melakukan gebrakan yang sempat tertunda.
Ketika melihat Namora beranjak dewasa, mereka mulai menaruh harapan terhadap anak itu. Tapi, yang namanya anak tetaplah anak. Walaupun banyak kesamaan, dan Namora juga diakui sangat hebat dan mewarisi sifat-sifat ayahnya, tapi Tigor tetaplah legenda.
Ramai orang membandingkan antara Tigor dengan Namora. Ada yang mengatakan bahwa Namora jauh lebih pemberani daripada Tigor. Tapi, Tigor lebih berotak daripada Namora yang suka main sradak-sruduk sesuka jidatnya. Di sinilah poin penting. Andai saja Namora mampu sedikit menggunakan otaknya untuk berpikir, maka sudah jelas untuk melampaui prestasi Tigor hanya masalah waktu saja. Dan inilah yang sedang mereka tunggu dari sosok Namora. Mereka berdoa semoga saja Namora bisa menggunakan otaknya dengan benar.
"Kemana kita akan pergi, Tuan muda?" Tanya Pak Karim yang sudah lelah mutar-mutar tujuh keliling di kawasan jalan depan hotel itu.
"Oh. Kita akan ke butik," jawab Namora singkat.
"Untuk apa kita ke butik? Apakah anda ingin berbelanja?"
"Ya!" Jawab Namora lebih singkat lagi.
Pak Karim hanya senyum-senyum malu. Dia sudah terbiasa dengan sikap kaku Namora ini. Dia tau apa tujuan Namora ke butik. Dia pasti ingin membeli pakaian dan ingin terlihat gagah ketika bertemu dengan ayahnya. Mengetahui hal ini, Pak Karim langsung tancap gas menuju ke Tower Mall.
__ADS_1
Bersambung...