Namora

Namora
Ternyata Rendra masih belum kapok juga


__ADS_3

Bruum! Bruuuuum!


Suara kenalpot motor sangat memekakkan telinga, membuat Namora yang sedang belajar sangat terganggu. Dia menyumpah di dalam hatinya. Mengapa ada orang yang berani menggeber motornya di sini. Namun Namora tidak memperdulikan. Dia terus saja membaca beberapa lembaran kertas yang terdapat di map.


"Namora!"


Terdengar suara yang sangat dia kenal memanggil namanya dari luar.


Tau kalau itu adalah Jol, Namora pun langsung berlari ke arah pintu, lalu membukanya.


Di luar pagar, tampak Jol tertawa nyengir sembari melambaikan tangannya.


Namora pun tanpa menunggu lama langsung menghampiri sahabatnya itu, lalu membuka pintu pagar.


"Kau sudah pulang Jol?" Sapa Namora. Tapi tidak seperti biasa. Namora kini tidak tersenyum lagi.


Jol tidak memperdulikan. Dia segera menepuk pundak Namora, lalu memberikan bingkisan yang dia bawa kepada sahabatnya itu.


"Ini oleh-oleh dari puncak. Untuk mu!"


"Wah. Makasih Jol. Ayo masuk dulu!" Namora mengajak Jol untuk masuk ke dalam rumah.


"Mora. Ada apa dengan mu? Aku lihat kau berubah sekarang. Apakah setelah aku pergi, kau mendapatkan perlakuan yang buruk?" Tanya Jol sembari berjalan di samping Namora.


"Nanti saja aku ceritakan. Kita masuk dulu,"


Entah karena terlalu senang bertemu dengan Namora, atau karena tidak memperhatikan, akhirnya Jol mendadak kaget ketika dia melihat satu unit sepeda motor terparkir di teras bagian samping di rumah tersebut.


"Wah. Paman Rio beli motor sport ya? Ya ampun. Ini kan Yamaha YZF-R1 1000cc?!" Jol menghampiri sepeda motor itu. Dia hanya memandang saja, tanpa berani menyentuh. Dia takut kalau sampai tergores, mana dia punya uang untuk memperbaiki.


Namora hanya tersenyum saja, kemudian berkata. "ini motor milik ayah ku. Sekarang, diberikan kepadaku!" Jawab Namora.


Jol menatap wajah Namora dengan tidak percaya. "Wah. Tidak ku sangka. Sekarang kau tidak perlu lagi aku jemput kan? Motor mu bahkan sepuluh kali lipat dari motor ku,"


"Aku juga baru tau kalau ayahku punya motor mana dua lagi punya dia. Kalau aku tau, udah lama motor ini aku sita. Mau nyoba gak?" Tanya Namora. Dia ingin memberikan kesempatan kepada Jol untuk mencoba sepeda motor miliknya.


"Aku ga berani. Sumpah ga berani," Jol mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sedang menyerah.


"Jol. Kalau kamu mau, ayo. Aku juga bosan di rumah. Keluar yuk!" Ajak Namora.


"Ayo lah. Motor ku tinggal di sini aja ya. Kita pake motor mu aja!"


"Boleh!"


Namora segera bergegas memasuki rumahnya, lalu membereskan kertas-kertas yang tadi dia baca, kemudian menemui ibunya untuk berpamitan.


"Bu. Mora mau keluar dulu ya sebentar sama Jol. Boleh?"


Mirna mengangguk menyetujui permintaan Namora. Dia hanya berpesan agar Namora tidak pulang terlalu larut malam.


"Ayo Jol!"


Jol sangat antusias kali ini. Dia segera menangkap kunci yang dilemparkan oleh Namora kepadanya, lalu setengah berlari menghampiri sepeda motor milik Namora.


Brum!


Setelah menyalakan mesin, dia segera mengeluarkan handphone miliknya, lalu merekam. "Yamaha YZF-R1 ni Boss. Senggol dong!" Kata Jol sambil tertawa.


"Naik!" Kata Jol kepada Namora.


Setelah Namora naik di boncengan, mereka pun segera berangkat.

__ADS_1


*********


Plak!


"Sialan mereka itu. Jika aku ada di sana, sudah ku kremus muka mereka satu persatu," Jol terlihat sangat marah sampai-sampai dia tidak sadar telah membanting tangannya di atas meja.


Baru saja Namora selesai menceritakan apa yang dia alami ketika berada di rumah Merisda.


"Sudahlah Jol. Marah pun tidak berguna. Semuanya sudah terjadi," Namora berusaha meredakan kemarahan sahabatnya itu.


"Jericho dan yang lainnya juga sialan. Sahabat sedang di hina, dia malah ikut-ikutan mengusir mu. Setidaknya, walaupun tidak membela, tapi ya janganlah seperti itu,"


"Aku tidak menyalahkan mereka. Hanya saja, andai aku tidak ngumpul lagi bareng kalian, kau jangan tersinggung ya. Aku sudah tidak ada hati lagi untuk bersahabat dengan siapapun selain denganmu!" Tegas Namora. Baginya, untuk apa dia bersahabat akrab lagi dengan Jericho dan yang lainnya. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mentang-mentang dapat berkenalan dengan teman baru, langsung lupa daratan dan mengabadikan teman lama.


"Tidak. Aku ini hanya orang tengah. Aku tidak bisa berpihak. Sama kau, aku bersahabat. Sama mereka juga bersahabat. Jadi, kalian yang seperti ini, aku yang pusing!" Jol sangat menyesalkan sikap Jericho, Juned dan yang lainnya. Baru sekali saja dia tidak bersama dengan mereka, sudah begini ceritanya.


"Mora! Sekarang kau sudah cukup mampu. Dengan sepeda motor mu itu, kau sudah mampu membungkam mulut mereka. Aku juga merasa tidak enak ketika kau terus-menerus di hina. Aku ingin terus membela. Tapi kau tau kan. Kenyataannya ketika itu kau memang payah. Jadi, apapun alasanku untuk membela, akhirnya kita sama-sama malu. Tapi sekarang, kau sudah mampu. Aku tidak akan membela mu lagi. Bahkan, kelak mungkin aku lah yang membutuhkan pembelaan darimu!" Kata Jol apa adanya.


Sebagai sahabat yang paling akrab dengan Jol, memang Namora telah memberitahukan identitas dirinya. Dia tidak menutupi bahwa dia adalah Tuan muda dari keluarga Habonaran yang sangat berkuasa di kota Kemuning. Dia juga mengatakan kepada Jol bahwa ayahnya bahkan memiliki hotel dan masih banyak gurita bisnis yang lain. Bahkan, yayasan Martins yang terkenal pun adalah milik ayahnya.


Jol tidak bisa tidak mempercayai Namora. Dia belum pernah mendapati Namora ini berbohong. Bahkan, dengan adanya sepeda motor miliknya, itu menandakan bahwa Namora ini sebenarnya cukup mampu.


"Bicara apa kau Jol. Kita bersahabat sudah empat tahun. Bahkan aku juga ingin kelak kita kuliah pun di universitas yang sama. Aku merasa bangga bisa menjadi salah satu sahabat mu. Mulai saat ini, mengusik mu adalah mengusik diriku!" Kata Namora berjanji. Tapi dia tidak tau bahwa kata-katanya barusan telah memancing perhatian seseorang.


"Hahaha. Tikus buntung berlagak super Hero,"


Suara sumbang bernada hinaan itu benar-benar membuat Jol dan Namora segera memalingkan wajahnya.


Kini, kedua orang itu melihat di belakang mereka telah berdiri empat orang. Dan salah satu dari keempat orang itu sangat dikenal oleh mereka berdua.


"Rendra. Kau ini masih belum kapok juga," dingin suara teguran dari Namora membuat Jol sedikit ngeri untuk menatap wajahnya.


"Oh tidak. Aku sangat takut. Hahahaha. Heh Namora. Selama aku belum bisa membalaskan sakit hatiku, selama itu lah aku tidak akan pernah merasa puas. Bahkan aku akan membuat kau tidak betah, lalu pindah sekolah. Bila perlu, pindah kampung sekalian," ejek Rendra. Dia merasa kuat sekarang. Apa lagi kali ini dia bersama dengan tiga orang anak buah Dhani yang memang memiliki kemampuan bertarung.


"Wow... Sangat berani. Heh Namora. Aku menunggu mu di taman sana. Ingat! Berani kabur, aku akan terus mengejar mu!" Selesai berbicara, Rendra dan ketiga orang lainnya segera menuju ke arah tempat parkir, kemudian menaiki sepeda motor masing-masing menuju ke area taman, lalu berhenti di bawah sebatang pohon rindang yang sedikit remang. Tujuannya adalah, agar tidak terlalu mengekspos diri.


"Sialan mereka ini. Jika tidak dibantai, besok-besok mereka akan datang lagi!"


Namora segera berdiri, memanggil pelayan lalu membayar biaya tagihan makan mereka.


Dengan diikuti oleh Jol, kini kedua orang itu langsung menyusul Rendra yang telah sampai terlebih dahulu.


"Kau yakin Mora?" Tanya Jol.


"Kau bagaimana?" Namora balik bertanya.


"Menghadapi culian seng itu, aku sama sekali tidak takut. Walaupun mereka berempat. Paling benjol," jawab Jol. Anak ini memang tidak pernah mengenal kata-kata takut. Baginya, kalah menang itu urusan belakangan. Yang penting, lawan dulu.


Namora memarkir sepeda motornya di sisi yang berlawanan dari kedua motor lawannya. Dan dengan tenang dia menghampiri keempat orang tadi. "Sekarang?" Tanya nya mencibir.


"Jangkrik! Ayo bang! Hajar kedua orang ini!"


Melihat kedua orang itu telah melangkah, Jol dan Namora pun segera memasang kuda-kuda. Dan begitu jarak antara mereka sudah sampai sepenjangkauan, Namora langsung menyerang.


Perkelahian empat lawan dua pun meletus.


Kali ini, Jol kebagian Rendra dan salah satu dari ketiga anak buah Dhani. Sementara Namora kebagian sisanya.


Pertarungan itu berjalan alot bagi Jol. Karena dia dikeroyok oleh dua orang. Walaupun Rendra hanyalah makan empuk, tapi yang satunya adalah petarung. Sedangkan Namora, dia sama sekali tidak kesulitan. Baginya, dilatih oleh pak Harianto, jauh lebih menyakitkan daripada hanya bertarung dengan dua orang yang dinamakan cuilan seng oleh Jol tadi.


Bam!

__ADS_1


"Aaaaa....!" Suara teriakan nyaring terdengar disusul oleh ambruknya tubuh lawan.


Jol sedikit melirik dan melihat bahwa Namora berhasil menyarangkan tinjunya ke dada lawan.


Seteguk darah menyembur dari mulut lelaki tadi. Dia jatuh pingsan dengan segera.


Kini, pertarungan terasa lebih mudah bagi Namora. Sementara di sisi lain, Rendra yang kepalanya masih belum sembuh benar harus nyungsep dan tersandar di batang pohon akibat terkena tinju dari Jol.


Kini, Baik Namora maupun Jol sama-sama menggiring lawannya untuk mendekat. Dengan demikian, mereka berdua akan menyerang kedua lawannya ini dengan beruntun.


Taktik Jol berhasil. Rengsekan tadi berhasil menggiring lawan mendekat ke arah Namora.


Namora yang memperhatikan langsung mengabaikan lawannya, kemudian mendadak memukul bagian belakang kepala lawan.


Plak!


Lawan yang tidak tau bakalan diserang oleh Namora mendadak pusing. Pandangannya menghitam, lalu ambruk di atas rerumputan.


"Tinggal satu lagi. Hahaha!" Jol menyeringai sambil mendekati lawan yang tinggal sendirian.


Mengetahui bahwa hanya tinggal dirinya sendiri, semangat bertarungnya langsung hilang. Dia dengan spontan langsung membalikkan badannya, berniat hendak melarikan diri.


"Mau lari?"


Namora langsung mengejar dari samping, kemudian menekel kaki lawan.


Sleding dari Namora ini berhasil membuat lawannya tersungkur mencium tanah. Terlihat bahwa rumput pun sudah memasuki mulutnya.


"Mau kita apakan orang ini?" Tanya Jol sambil menghampiri.


"Patahkan kakinya!" Jawab Namora singkat. Perkataan Namora ini benar-benar membuat Jol kaget. "apakah ini Namora yang aku kenal?" Tanya Jol dalam hatinya. Tapi Namora seperti tidak perduli. Dengan mengangkat sebelah kakinya, dia langsung menghentakkan kakinya di atas lutut lawan. Akibatnya, suara patahan tulang pun terdengar dan Jol sangat merasa ngilu dihatinya. Dia memang suka bertarung. Tapi menurutnya, Namora ini sungguh sangat kejam.


Selsai dengan itu, Namora langsung berjalan menuju Rendra yang bersandar di pohon. Dia lalu mencengkeram kerah baju Rendra dan memaksanya untuk berdiri.


"Ampun Namora. Ampun!" Rendra tampak ketakutan dan memohon agar Namora tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya.


"Aku sudah memberi. Tapi tidak kau manfaatkan dengan baik,"


Bugh!


Begitu Rendra berdiri, dia segera meninju bagian dadanya yang membuat Rendra merasakan sesuatu yang asin naik dari tenggorokan dan menyembur keluar.


"Sial. Darah mu mengotori bajuku!" Maki Namora. Dia melepaskan pegangannya tangannya di kerah baju Rendra dengan maksud untuk membersihkan bajunya dari noda darah. Tapi akibatnya, Rendra ambruk dan kembali tersandar di batang pohon tadi.


"Sudah Mora! Jika kau terus memukul, dia bisa mati!"


"Jika tidak dibikin jera, anak ini tidak akan berhenti. Aku tidak akan melepaskan begitu saja orang yang selalu mencari gara-gara dengan ku. Bagiku, empat tahun sudah cukup membiarkan dia terus mengganggu. Kali ini..,"


Bugh!


Sekali lagi Namora memukul Rendra. Namun, kali ini sepertinya itu sangat parah. Karena, Namora menyepak bagian dada Rendra.


Rendra sudah sejak tadi pingsan. Sakit di kepalanya saja sudah membuatnya hilang kesadaran. Ditambah lagi tinju dari Namora. Andai Jol tidak menarik tangan Namora, sudah pasti Rendra akan tamat.


"Lepas Jol. Rendra ini harus diselesaikan,"


"Gila kau. Ayo pulang!" Jol terus menarik tangan Namora ke arah sepeda motor, lalu memaksa Namora untuk duduk.


Namora hanya bisa mengikuti saja ketika Jol menyalakan mesin sepeda motor, kemudian tancap gas meninggalkan kawasan taman tempatnya berkelahi tersebut.


Jangan lupa berikan Vote dan like setelah selesai baca!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2