
Namora berjongkok sambil mencabut pena yang tertancap di tangan kiri Tanta. Dia memperhatikan darah yang melumuri pena tersebut, kemudian menjilatnya.
Melihat pemandangan itu, Tanta tanpa sadar mengeluarkan cairan berbau pesing.
Tanta bukanlah orang baru di dunia bisnis. Dia telah banyak mengalami berbagai tindak kekerasan. Tapi untuk anak muda seusai Namora, dia terpaksa bergidik juga. Dapat dibayangkan betapa tak berperasaannya anak ini ketika menikam tangannya, kemudian menjilati darah yang terdapat pada pena tersebut.
"Aku selalu berpegang pada kata-kataku. Jika kau tidak memberikan apa yang aku inginkan, maka aku akan membunuhmu secara perlahan. Kau pasti akan memohon kematian itu dengan sendirinya," Namora kembali melemparkan pena ditangannya ke atas dokumen yang berada dihadapan Tanta.
"Namora. Mengingat kau adalah teman satu sekolah dengan adikku, aku berharap agar kau mau memberi wajah kepada kami. Tolong ampuni kami. Kami berjanji tidak akan berbuat sesuatu yang bisa merugikan dirimu di masa depan," Arda merangkak ke arah Namora dengan permohonan yang sangat tulus. Tikus karena terjepit.
Namora menatap Arda dengan tajam. Janji apa tadi? Berjanji tidak akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan ku? Apakah kau menganggap bahwa dirimu terlalu besar?"
"Tidak berani. Tidak berani," Arda buru-buru menyesali karena tadi salah dalam bicara. Dia kini berada di posisi yang tidak menguntungkan. Bagaimana dia bisa mengatakan bahwa dia tidak akan merugikan Namora. Padahal, saat ini, justru dia lah yang harus memohon belas kasih.
"Adik mu telah membuang peluang yang datang kepadanya. Aku tidak memiliki hal yang mengesankan untuk itu," Namora terlalu malas membahas masa lalunya yang suram. Dia lalu menatap ke arah Tanta.
"Waktu mu telah habis,"
Tanta terlihat sangat ketakutan. Dia segera merayap dan memeluk kaki Namora. Tapi sepertinya Namora tidak tergugah. Sedikit saja dia menggerakkan kakinya, Tanta segera terseret menjauh.
"Zack. Bersihkan tempat ini dengan segera!"
"Baik!" Zack segera memerintahkan kepada bawahannya untuk melakukan pembersihan.
Lebih dari dua ratus orang bergegas melakukan kerja cepat menggotong tubuh-tubuh anggota dari Pilar Mandiri, kemudian memasukkannya ke dalam mobil.
Melihat ini, Tanta merasa bahwa nafasnya hanya tinggal nafas terakhir. Maka dengan cepat dia berkata. "Namora. Jangan bunuh aku. Aku akan menandatangani peralihan saham. Aku harap kau memegang janjimu untuk melepaskan ku setelah itu!"
Namora menggeser kertas dokumen dan pena dengan ujung sepatunya ke arah Tanta.
__ADS_1
Tanta dengan tangan gemetar mengambil dokumen, membukanya, kemudian membubuhkan tandatangan.
Namora segera mengambil, kemudian memelototi. "Apa kau mengira aku bodoh? Mana cap stempel perusahaan?"
Tanta terbatuk. Dia tadinya mencoba menipu Namora hanya dengan tandatangan saja. Karena dengan begitu, dia nantinya bisa berkoar-koar bahwa tandatangan tersebut telah dipalsukan. Akan tetapi, Namora terlalu jeli untuk hal seperti ini. Dan Tanta tidak memiliki alasan lagi. Dia dapat membayangkan bahwa Agro chemical sedang melambai siap untuk berpisah kearahnya.
Dengan tangan gemetar, Tanta melepaskan cincin yang dia kenakan, kemudian membuka bagian atasnya, lalu menekannya di atas kertas yang tadi telah dia tandatangani.
Namora tersenyum. Dia segera meminta cincin tersebut dari Tanta, kemudian berkata. "Zack. Rekam pernyataan dari Tanta ini. Tidak perlu konferensi pers. Kau cukup mengunggah video pengakuan dari Tanta ke berbagai media. Selesai urusan!"
Zack melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia mendandani wajah Tanta dan Arda, kemudian menenangkan kedua orang tersebut.
Benar saja. Setelah video tersebut selesai di buat, wajah Tanta terlihat sangat alami seolah-olah tiada yang menekannya.
"Kali ini kalian selamat. Tapi lain kali, jika berani menargetkan aku lagi, terima sendiri akibatnya!" Ancam Namora dengan wajah dingin.
Namora tiba di luar gudang ketika ini. Dia melihat seorang lelaki berpakaian jas putih berdiri bersandar di mobil BMW hitam sambil melipat tangannya didepan dada.
Namora tau bahwa lelaki yang terlihat sangat tenang itu adalah Ameng, maka dia segera menghampiri.
"Paman terlambat!" Ejek Namora kepada Ameng. Tapi yang tidak dia ketahui, Ameng berdiri, kemudian mengirim tamparan ke arah wajahnya.
"Paman. Kenapa?"
"Diam kau!" Bentak Ameng.
Namora segera tertunduk. Dan Ameng pun segera mengambil surat dokumen yang berada di tangan Namora.
"Kau terlalu berani, anakku. Perlu kau ketahui. Tanta dan Agro chemical hanyalah kedok. Dibelakangnya, ada kekuatan lain yang cukup besar. Kita orang-orang Dragon Empire tidak pernah bersentuhan dengan mereka. Tapi kali ini kau mengundang badai. Mungkin kau tidak akan cukup untuk menyelesaikannya,"
__ADS_1
"Maksud Paman?" Namora tidak berani mengangkat kepalanya. Dia bertanya sambil menatap ujung sepatunya.
"Di kota dekat ibukota provinsi, ada orang kuat bernama Jhonroy. Sejak dulu, tidak ada yang berani menyentuh orang ini. Bahkan, ayah mu pun tidak berniat untuk menyentuhnya. Tapi kau yang masih anak-anak seperti ini justru mengusik Tanta. Aku khawatir sebelum ayah mu terbebas, kau justru akan berurusan dengan mereka. Kami tidak takut dengan siapapun. Tapi semenjak ayahmu berada di penjara, kami ini minus pemimpin. Siapa yang bisa mengambil keputusan. Terkecuali Tuan besar Jerry William mengirimkan seseorang ke sini untuk mewakilinya sebagai pengambil keputusan,"
"Apakah orang ini begitu kuat, Paman?"
"Bisa dikatakan cukup kuat. Mereka tinggal berdekatan dengan ibukota provinsi. Kota Batu ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tapi masalahnya sudah sejauh ini. Kita hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan oleh mereka,"
Ameng tampak sangat gusar. Baginya, jika Tigor ada di sini, semuanya hanyalah kacang goreng baginya. Tapi masalahnya Tigor berada di penjara. Diluar kepemimpinan Tigor, Dragon Empire, walaupun disegani, tapi tidak ada perkembangan yang signifikan. Jika bukan karena Dragon Empire di Starhill tidak kuat, sudah lama mereka digusur dari kota Kemuning.
"Aku hanya bisa menelepon Tuan Arslan untuk meminta petunjuk. Selain itu, kalian bertiga aku tugaskan untuk memata-matai gerak gerik Tanta, Arda dan Ardi. Kabarkan setiap pergerakan mereka, walau sekecil apapun!"
"Siap Bang!" Jawab ketiga orang yang mendapat perintah tadi.
Ketiga orang ini adalah Rinto, Simson dan Roland. Mereka tadinya berempat dengan Zack. Tapi setelah Zack ditarik oleh Namora, kini mereka hanya tinggal bertiga.
"Sebarkan juga mata-mata kita di dekat ibukota provinsi. Awasi setiap gerak-gerik dari anak buah Jhonroy. Mereka tau bahwa bang Tigor masih belum bebas Aku khawatir mereka akan memanfaatkan keadaan, kemudian menyerang kita. Dan kau Namora. Kau harus diam. Karena, setiap kau melakukan sesuatu, dunia pasti gempar. Terkadang aku harus menelan pil anti mencret untuk menghindari tekanan atas ulah mu ini,"
Selesai membagikan tugas kepada orang-orang pilihan, Ameng segera memasuki mobil, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
Namora yang sejak tadi tertunduk baru berani mengangkat kepalanya. Dia tau bahwa kali ini Ameng sangat serius. Jika tidak, mana mungkin dia menerima tamparan.
"Zack. Pilih sepuluh orang yang paling kau percaya, lalu segera sebarkan mereka untuk mengintai pergerakan Tanta. Aku juga butuh informasi untuk diriku sendiri,"
"Baik, Tuan muda!"
Namora segera menghampiri sepeda motornya, kemudian berangkat meninggalkan area basecamp Pilar Mandiri tersebut.
Bersambung...
__ADS_1