
Brugh!
Bam...!
Suara bergedebug terdengar dari sosok yang baru melayang terhempas dari atas ring.
Suara teriakan tertahan terdengar. Diam sesaat, lalu kembali terdengar suara erangan kesakitan.
Tampak seorang lelaki berlenggak-lenggok di atas ring sambil mengangkat kedua tangan terkepal dengan lagak sombong.
Keringat membasahi seluruh tubuh lelaki itu.
Ya. Dia baru saja menjatuhkan lawannya, dan menjadi pemenang dalam duel sengit tanpa ada kata istirahat.
Pertarungan ini adalah pertarungan bebas. Tidak ada aturan. Tidak ada istilah draw. Yang ada hanyalah kata pemenang, dan pecundang.
Suara orang-orang di ruangan itu seperti dengungan tawon. Ada suara-suara keceriaan, dan ada pula keluhan putus asa. Dan biasanya yang putus asa ini adalah mereka yang mengalami kekalahan.
Rasanya tidak tega melihat uang melayang sebanyak ratusan juta rupiah tanpa ada sesuatu yang dipertukarkan. Itulah kejamnya pertaruhan. Jangan dicontoh!
Di sisi lain, tampak seorang pemuda membuka kemeja yang dia kenakan. Raut wajahnya sedikit menegang. Setelah itu, dia juga membuka celana jeans yang dia kenakan, dan diganti dengan celana ala murid karate. Dialah Kenza, yang sebentar lagi akan melakukan pertarungan dengan seorang lelaki mantan petarung MMA yang sudah pensiun.
Kegugupan jelas nyata terlihat pada wajahnya. Tapi, dia tidak terlalu memikirkan dan berusaha mengabaikan.
Takut? Sudah jelas. Tapi rasa takutnya juga tidak lebih besar dari keberanian yang dia miliki. Jelas rasa takut dan keberanian itu harus seimbang. Rasa takut akan membuat orang berpikir bagaimana caranya untuk selamat dalam sebuah situasi, dan seseorang akan dipaksa untuk memikirkan untung ruginya agar tidak celaka. Sedangkan keberanian akan meningkatkan rasa percaya diri dalam menentukan tindakan dan siap menerima apapun resikonya. Ketakutan dan keberanian secara ekstrim juga tidak baik bagi seseorang. Setidaknya, itu adalah salah satu dari sekian banyaknya perumpamaan yang dapat digambarkan.
Di sudut lain, Namora dan Ameng memperhatikan dengan seksama ketika Kenza menaiki ring.
Ketika orang-orang sibuk bertaruh, Namora dengan mata tajamnya tidak luput dari memperhatikan tindak tanduk dari lelaki kurus yang mengenakan pakaian men clothing. Sepertinya lelaki itu memberikan instruksi kepada salah satu pengawalnya. Dan benar saja. Setelah membisikkan sesuatu, pengawal tadi langsung menuju ke tangga, dan naik ke lantai atas.
__ADS_1
Namora tampak tersenyum dingin, lalu bersiap dengan cara mengencangkan tali sepatunya, lalu dia melonggarkan ikat pinggang berkepala besi yang sewaktu-waktu bisa dia tarik dan dijadikan sebagai senjata.
Sementara Ameng, lelaki paruh baya itu hanya tersenyum memperhatikan Namora. Dia tidak sabar apa yang bisa dilakukan oleh keponakannya itu. Ketika itu terjadi, dia akan memiliki bahan untuk dia laporkan kepada Tigor.
"Cek cek cek!"
Sang pembawa acara tampak berdiri sambil memegang microphone di atas ring.
"Perhatian! Saat ini kita telah memasuki akhir dari pertarungan ini. Dan ini adalah babak ketiga dari enam orang jagoan yang ikut berpartisipasi dalam pertarungan bebas kali ini. Bagi kalian para petaruh yang menjagokan jagoannya masing-masing, semuanya dipersembahkan untuk melakukan pertaruhan! Dan dengan ini, pertaruhan kami buka!"
Lelaki pembawa acara itu diam sejenak, memperhatikan mereka yang bertaruh.
Tidak ramai yang mau bertaruh untuk Kenza. Mereka semua lebih memilih untuk bertaruh dibawah Willi, karena jagoan yang dia bawa adalah mantan petarung MMA. Walaupun tidak pernah juara, setidaknya untuk ukuran pertarungan bebas, itu sudah cukup elit. Apa lagi kali ini lawannya adalah anak remaja belasan tahun. Itu sungguh tidak sepadan. Oleh karena itu, ramai yang enggan menjagokan Kenza.
"Perhatian semuanya! Pertaruhan akan ditutup dalam waktu lima menit! Tuan-tuan diharapkan untuk menyelesaikan transaksi taruhan di meja. Jangan takut kalah. Siapa tahu keberuntungan berada di pihak anda!" Kata sang pembawa acara lagi. Dia sengaja menyemangati mereka yang bertaruh. Karena, semakin banyak yang bertaruh, maka cukai untuk pemenang akan semakin banyak.
Dengan ini, transaksi taruhan kami tutup, dan para petarung dipersilahkan untuk menaiki ring!"
Kini, baik Kenza dan mantan petarung MMA sama-sama menaiki ring dari sudut yang berbeda, lalu mereka berdua saling berhadap-hadapan dan hanya dipisahkan oleh pembawa acara.
"Peraturannya sama. Jaga keselamatan kalian! Pukulan tidak akan berhenti sebelum mencapai sasaran. Tangan yang terkepal dan dilepaskan tidak mempunyai rem. Semoga beruntung!"
Ting..! Ting..! Ting...!!!
Bel telah berbunyi, dan baik Kenza maupun petarung MMA itu sama-sama mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
Robert di bawah tampak gemetar. Dia merasa nafasnya sesak. Bagaimana tidak sesak. Dia merasa terlalu berani bertaruh satu miliar untuk Kenza. Walaupun dia tidak terlalu percaya bahwa Kenza akan dapat memenangkan pertarungan, tapi dia tidak ingin melihat Willi terlalu sombong menganggap bahwa tidak ada yang berani melawan jagoannya.
Sementara itu di atas ring, Kenza tampak dengan lincah mengitari lawannya, dan menghindari jab-jab yang diarahkan kepadanya.
__ADS_1
Kenza juga tampak memberikan serangan. Tampaknya dia sangat cerdik. Dia mengirim Jab, hook dan tendangan dengan cepat. Setelah menyerang, dia segera mundur dengan lincah. Hal ini tentu membuat lawannya sangat kesulitan untuk memberikan serangan balasan.
Wuz...
Angin bersiur kencang dari pukulan lawan. Namun Kenza segera merunduk dan mengirim hook ke arah rusuk lawan.
Bugh..!
Setelah memukul, Kenza kembali mundur.
Mantan petarung MMA itu merasa emosinya tersulut melihat gaya bertarung Kenza.
Dia berusaha terus menekan Kenza. Dan pada satu momentum, dia dapat memojokkan Kenza ke sudut ring. Dan begitu Kenza terpojok, hujan pukulan kini bagaikan curahan air mengarah ke berbagai bagian sensitif ditubuhnya.
Kenza mati-matian bertahan dengan membentengi wajahnya dengan kedua lengannya.
Dia berusaha melepaskan diri dari kepungan lawan. Dan begitu dia bisa membebaskan diri dari tekanan, dia segera mengatur serangan balasan.
Ketika tepat sang lawan berbalik, Kenza langsung melakukan Foot work, lalu segera mengirimkan pukulan Cross. Setelah dia cepat menarik kembali tangannya untuk mengatur pertahanan dari serangan balik lawan, dia kembali mengirim hook keras yang dengan telak menghantam bagian samping kepala lawan, tepatnya di bagian bawah telinga.
Mantan petarung tadi kaget begitu menerima serangan balasan. Dia tidak menyangka bahwa Kenza hanya mengukur waktu dan memanfaatkan staminanya untuk menguras stamina lawan.
Setelah pertarungan alot itu memakan waktu lebih kurang tiga puluh menit, sang mantan petarung telah kehabisan tenaga. Dan dia sama sekali tidak dapat bertahan ketika sebuah uppercut hinggap dengan sangat telak di bawah dagu nya.
Mantan petarung MMA itu terdongak ke atas. Tampak beberapa giginya jatuh ke atas kanvas diikuti dengan sosok tubuhnya yang ambruk.
Petarung yang sangat dibanggakan oleh Willi itu langsung knock-out dan tidak mampu lagi untuk melanjutkan pertarungan.
Bersambung...
__ADS_1