
SMA negeri Tunas Bangsa.
Sekitar pukul 10 pagi dihari yang sama dimana Namora memukul Rendra, tampak seorang lelaki separuh baya keluar dari kantor kepala sekolah.
Lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Jeremiah itu baru saja mendapat kabar dari Ameng bahwa Namora telah membuat keributan di sekolah.
Dengan pengaruh yang dia miliki di kota batu, Jeremiah dipercayakan oleh Ameng untuk mengurus semuanya. Dan benar saja. Hanya satu kata dari Jeremiah, maka Namora bebas dari hukuman. Apa lagi ada beberapa saksi yang mengatakan bahwa Namora sebenarnya hanya membela diri.
Tim sekolah memang melakukan investigasi. Tapi itu hanya kedok, agar tidak terlalu berat sebelah. Dan hasil dari investigasi yang mereka lakukan adalah, bahwa Rendra lah yang mendatangi Namora. Bukan Namora yang mencari masalah. Dengan begitu, sekolah memutuskan untuk tidak menghukum Namora. Dan Namora bisa datang ke sekolah seperti biasa.
Keputusan dari sekolah ini membuat Rendra tidak berdaya untuk memperpanjang masalah. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menunggu kesempatan untuk membalas dendam. Dan itupun tidak di dalam kawasan sekolah.
"Kau sudah mengetahui keputusan yang dirilis oleh sekolah kan?" Tanya Marcus kepada Rendra yang saat ini masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kepalanya kini dililit dengan kain kasa. Persis seperti kepala mumi.
Dengan kemarahan yang meledak-ledak, Rendra meremas kertas keputusan sekolah itu. Wajahnya merah padam menahan kemarahan. Dia ingin menuntut sekolah lebih jauh. Tapi apa daya, dia bukan dari keluarga yang cukup berpengaruh, walaupun orang tuanya memiliki perusahaan kontraktor, tapi kejayaan keluarnya telah lama berlalu. Beruntung tidak bangkrut.
"Aku ingin membalas Namora ini. Aku akan menunggu kapan dia keluar malam. Aku pasti akan menghajarnya," Rendra sangat dendam kepada Namora.
"Kapan Namora pernah keluar malam? Dia tidak pernah keluyuran. Ketika pulang sekolah, mereka selalu bersama-sama dengan Jol dan Jericho. Sepertinya akan sulit mencari celah untuk membalasnya," Marcus mengatakan seperti itu karena memang dia tidak pernah melihat Namora suka keluyuran. Memang benar bahwa Namora bukan seperti mereka. Satu-satunya Namora pernah keluar malam adalah ketika Ameng mengajaknya untuk melihat pertarungan di aula Fighter Club' beberapa hari yang lalu.
"Bagaimana dengan Dhani?" Tanya Rendra kemudian.
"Dhani memang marah ketika mengetahui bahwa kau terluka. Tapi itu hanya sesaat. Kau tidak bisa terus-terusan mengharapkan bantuan Dhani. Kau bukan adik, bukan saudara. Jadi, kau harus memikirkannya sendiri,"
Semakin sakit kepala Rendra memikirkan kata-kata Marcus barusan. Memang benar bahwa dia tidak bisa berharap lebih kepada Dhani untuk bertindak. Karena, dirinya bukan siapa-siapa bagi Dhani. Beruntung dia bisa menjilat anak Panjul itu. Jika tidak, sudah lama dia menjadi bulan-bulanan Jol dan yang lainnya.
__ADS_1
"Namora.., tunggulah! Aku pasti akan membalas mu!" Geram Rendra berapi-api.
*********
Keesokan harinya, seperti tidak ada kejadian apa-apa, Namora tetap berangkat ke sekolah.
Baru saja dia turun dari sepeda motor milik Jol, dia segera menghentikan langkahnya.
Saat ini, Namora melihat Merisda, Ernita dan Dosma sedang berjalan sambil bercengkrama. Dia ingin menghampiri ketiga gadis itu. Akan tetapi dia ragu dan tidak tau harus memulai darimana andai dia memiliki keberanian.
Tepukan pelan hinggap di bahu Namora disertai teguran. "Ikhlaskan lah! Apa kau tidak lelah dipermainkan?"
Namora berpaling dan melihat kalau itu adalah Jol.
Dengan tersenyum canggung, Namora mengangguk.
Jol yang ada dibelakang hanya bisa menghela nafas berat. Dia mengangkat bahunya, lalu meninggalkan Namora yang tidak tau diri itu.
"Mer. Apakah kau sudah sarapan? Aku ingin mentraktirmu pagi ini,"
Merisda mendengus kemudian berkata, "apakah kau berencana untuk memukul kepalaku dengan botol kecap?"
Namora mematung mendengar pertanyaan dari Merisda. Dia tidak menyangka kalau perbuatannya semalam akan membuatnya mati kutu. Tapi Namora tetap tidak akan menyerah. Dia akan terus mengejar Merisda. Dia sekarang merasa mampu untuk memberikan apapun yang diinginkan oleh gadis itu.
Baru saja Namora akan pergi menuju ke kelas, tiba-tiba Jol sudah melangkah menghampiri dirinya. Kemudian Jol berkata, "Namora. Katamu mau ikut turnamen kejuaraan pencak silat. Kemarin aku lupa memberitahu kepadamu bahwa pendaftaran sudah dibuka dua hari yang lalu. Kalau kau mau mendaftar, masih belum terlambat. Tapi apa iya kau serius mau ikut? Jika kau ikut, aku dan Jericho akan mundur. Biar kami membentuk team buatmu!" Kata Jol dengan senyum bercanda. Dia tidak yakin sepenuhnya kalau Namora benar-benar punya nyali untuk mengikuti turnamen itu. Tapi diluar perkiraannya, Namora justru sangat antusias dan segera menarik tangan Jol untuk segera pergi ke kantor kepala sekolah bagi mendaftarkan diri.
__ADS_1
"Hah?" Jol melongo. Dia tidak menyangka kalau Namora akan seantusias ini. Dia hanya bisa mengikuti sambil terseret karena Namora menarik tangannya setengah berlari.
Sebentar saja, berita tentang Namora yang akan mengikuti turnamen ini menjadi berita yang paling hangat.
Semua orang kini menertawakan Namora. Bahkan, tidak sedikit yang mencela kepala sekolah karena mengumpankan Namora menjadi lumbung pukulan bagi kontestan lain.
Berita yang merebak dengan cepat ini akhirnya tiba juga ke telinga Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi. Mereka juga tidak percaya bahwa Namora memiliki kenekatan seperti itu.
"Namora ini. Apakah dia sudah gila?" Tanya Dudul disela-sela latihan mereka.
"Hahaha. Bukankah lebih baik begitu. Aku akan membalaskan dendam Rendra,"
"Aku justru berdoa supaya bisa satu group dengan Namora ini. Dengan begitu, aku bisa menghajarnya dalam satu ronde," Diaz mengepalkan tinjunya hingga keluar bunyi berkretek.
"Yang membuat aku tidak habis pikir, apakah SMA negeri Tunas Bangsa kehabisan bakat, sampai-sampai melepaskan Namora sebagai kontigen mewakili sekolah mereka. Benar-benar gila,"
"Hahaha. Ini sungguh sangat lucu!"
Keempat sahabat itu terus tertawa terbahak-bahak mengingat betapa lucunya ketika mereka menggebuk Namora ini.
Selama ini mereka sering bentrok dengan anak-anak J7, dan Namora akan dilindungi oleh Jol dan tempatnya berada paling belakang. Tapi kini malah Namora ini menjadi tidak tau diri dengan mengikuti turnamen. Bukankah ini adalah sesuatu yang lucu.
Singkat cerita, tidak ada yang tidak mencemooh Namora. Bahkan, kini SMA negeri Tunas Bangsa menjadi lelucon.
Memang kepala sekolah tidak mengizinkan Namora untuk mengikuti turnamen ini. Ini karena, tidak ada rekam jejak Namora yang pernah berpartisipasi dalam acara tahunan tersebut. Tapi, karena mengingat seperti apa tadi Jeremiah memperingatkan kepala sekolah untuk tidak membuat masalah dengan Namora, mau tak mau kepala sekolah terpaksa harus menyetujui dan pasrah bahwa tahun ini sepertinya sekolahnya tidak akan berprestasi lagi dalam turnamen kejuaraan pencak silat edisi tahun ini.
__ADS_1
Bersambung...