
"Nila. Paman baru saja bekerja selama satu bulan. Entah pahala kebaikan apa yang Paman lakukan sehingga dalam satu bulan ini, Paman langsung dipromosikan menjadi supir untuk Tuan muda itu. Tapi sepertinya itu tidak cukup. Paman hanya bisa menyarankan agar kau menganggur dulu setahun lagi ya. Paman janji setelah keadaan keluarga kita membaik, Paman mungkin bisa membiayai kuliah mu," kata pak Karim kepada seorang gadis yang membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di atas meja usang di bagian ruang belakang rumah yang juga sudah sangat usang itu.
"Nila baik-baik saja, Paman. Tidak kuliah pun tidak apa-apa. Nanti Nila akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan Nila agar Paman tidak terlalu lelah bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita," seru gadis bernama Nila itu.
"Apa yang kau katakan, Nak? Bini dan paman mu akan mengusahakan agar kau bisa melanjutkan pendidikan. Supaya kelak kau bisa mengangkat derajat keluarga kita. Kami tidak memiliki anak. Hanya kalian lah yang kami harapkan," sela seorang wanita paruh sambil baya berjalan dari dapur.
"Huh... Andai saja Abang mu tidak meninggal, mungkin tidak akan seperti ini. Selama ini, dia yang giat bekerja untuk keluarga kita. Tapi sepertinya Tuhan lebih menyayanginya dan memanggilnya ke sisi-Nya," keluh pak Karim.
Gadis bernama Nila itu hanya tertunduk. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Sudah tidak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan. Juga air matanya sudah cukup kering dan tak ada lagi yang bisa menetes. Semuanya berawal dari Abangnya yang terbunuh bersama dengan ketiga sahabatnya dalam kecelakaan. setidaknya, begitu lah kabar yang mereka terima.
Awalnya kehidupan mereka walaupun tidak kaya, namun bisa dikatakan tidak perlu khawatir kelaparan. Karena, selama ini abangnya lah yang bekerja. Namun semuanya berakhir ketika mereka mendapat kabar bahwa Abangnya malam itu mengalami kecelakaan bersama dengan ketiga sahabatnya dan kehilangan nyawa mereka. Tidak ada satupun yang selamat dalam kejadian berdarah itu.
Kini, jangankan untuk melanjutkan pendidikannya, bahkan listrik di rumah pun sudah diputus oleh PLN gara-gara tidak mampu bayar sehingga mereka hanya bisa menarik arus dari tetangga yang baik.
"Semuanya akan baik-baik saja. Sudahlah! Ayo kita makan," ajak istrinya kepada pak Karim.
"Ya benar. Pukul 9 nanti aku harus menjemput Tuan muda itu," ujar pak Karim sembari mencuci tangannya dan segera mengambil piring yang sudah diisi nasi oleh Bu Karim.
"Tuan muda mu itu pak. Seperti apa orangnya?" Tanya Bu Karim penasaran.
__ADS_1
"Seperti Robot," jawab Pak Karim tanpa tedeng aling-aling. Lalu kemudian dia menampar mulutnya sendiri karena merasa lancang mengutuk majikannya di belakang.
"Hust..! Jangan sembarangan bicara pak. Bagaimanapun, dia itu majikan mu," Bu Karim memperingatkan.
"Robot..?" Nila mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.
"Kau tau apa? Tuan muda itu sangat aneh. Tidak memiliki emosi. Nada bicaranya datar dan lurus tanpa notasi. Tatapan matanya selalu dingin seolah-olah ada kekejaman di sana. Tapi anehnya, dia orangnya sangat baik. Aku nyaris tidak bisa membedakan kapan dia marah, kapan dia bahagia dan kapan dia tertawa. Pokoknya seperti aspal. Datar pas datar, bergelombang pas bergelombang,"
"Kok ada ya manusia seperti itu?" Gumam Nila.
"Mungkin ada alasan dirinya seperti itu. Aku menilai, seperti ada trauma berat yang pernah dia lalui. Atau sejenisnya lah. Aku memperhatikan bahwa orang-orang sangat menjaga jarak dengannya. Entah karena hormat, atau entah karena sedang berkolusi untuk menentangnya. Tapi sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Bagaimanapun aku ini hanya sopir. Tingkah orang kaya terkadang suka aneh," kata pak Karim. Dia tidak ingin membahas tentang itu lagi. Sebaliknya, dia fokus memakan makanan yang ada di piring miliknya.
Setelah selesai makan, diapun segera berpamitan dengan istri dan keponakannya, kemudian pergi meninggalkan perkampungan permai untuk menunggu Namora di kantor besar Martins Group.
Setelah mendapat penolakan dari semua pemegang saham, kali ini Namora semakin bertekad untuk mendapatkan dua proyek yang berada diluar dari lima kota.
"CEO. Pelelangan proyek itu akan dimulai sebulan lagi. Hanya saja, beberapa perusahaan sudah melakukan pendekatan terhadap orang-orang penting dalam memuluskan langkah mereka untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan PTTN Rantau. Sedangkan kita, kita masih tanpa pergerakan. Saya khawatir jika terjadi nepotisme diantara petinggi di perusahaan PTTN untuk memenangkan salah satu dari mereka dengan imbalan yang bisa membuat kantong mereka membengkak. Sudah bukan rahasia lagi bahwa setiap petinggi akan mendahulukan kepentingan mereka dibandingkan dengan kualitas yang janjikan oleh perusahaan-perusahaan yang lain," kata salah satu dari petinggi yang berada di ruang kerja Namora.
"Semuanya. Tidak perlu terlalu pesimis. Mereka memiliki caranya, kita juga punya cara. Yang perlu kita lakukan adalah, mempersiapkan proposal pengajuan bahwa Martins Group akan ikut andil dalam perburuan proyek itu. Jika masalah kepentingan, kita juga bisa menawarkan kepentingan kepada mereka. Bagaimana menurut Miss Aline?" Namora menatap kearah wanita paruh baya yang saat ini hanya menjadi pendengar saja sejak berlangsungnya rapat.
__ADS_1
Miss Aline menatap langsung ke arah Namora yang sepertinya sangat bersemangat. Kemudian dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Sebenarnya, kehadirannya di Martins Group ini adalah atas instruksi dari Jerry William agar bisa membantu Namora dalam menjalankan segala ide yang dia miliki. Skema ini adalah yang diatur oleh Jerry. Bagaimanapun, Martins Group harus bisa menarik perhatian dengan beberapa kontroversi yang mereka buat. Jelas untuk memancing ikan besar, maka harus menggunakan umpan. Dan saat ini, proses pemancingan ikan tersebut sedang berjalan selangkah demi selangkah.
"Baiklah. Sekarang semuanya sudah jelas. Lakukan sesuai dengan yang telah kita rencanakan. Ingat! Kalian hanya perlu fokus pada memenangkan proyek. Sedangkan untuk para penentang itu, serahkan semuanya kepada ku. Aku punya sejuta cara untuk mengendalikan mereka," kata Namora sambil bangkit berdiri.
"Rapat kita tutup sampai di sini. Aku harus segera kembali ke kota Batu," Namora segera berdiri, kemudian melangkah meninggalkan ruangan rapat dengan ditemani oleh Miss Aline dan Pak Burhan.
Disepanjang perjalanan, banyak hal yang mereka bahas. Termasuk cara menangani para pemegang saham yang menentangnya.
"Terimakasih Miss Aline. Saya harus segera kembali. Karena saya masih seorang siswa, saya tidak mau lagi dihukum gara-gara tidak masuk sekolah,"
Namora menjabat tangan Miss Aline dan Pak Burhan sebelum menuju area parkir.
Tiba di dekat mobil, pak Karim langsung membukakan pintu untuk Namora, kemudian bertanya. "Kemana Tuan muda akan pergi?"
"Pak. Kirim aku malam ini kembali ke kota Batu. Besok aku masih harus sekolah,"
"Baik Tuan muda. Silahkan pasang sabuk pengaman anda!"
__ADS_1
Namora tidak membantah. Dia kemudian mengencangkan sabuk pengamannya dan meminta pak Karim agar segera berangkat.
Bersambung...