Namora

Namora
Menabrak mobil milik orang


__ADS_3

Dibangunan pusat perjudian yang kacau balau akibat ulah Namora dan Kenza, terlihat Ameng di depan kebingungan dan mengeluh beberapa kali. Hatinya saat ini sangat cemas melihat Mobilnya yang dibawa oleh Namora.


Ameng tidak pernah melihat Namora menyetir. Bagaimana dia bisa dengan ceroboh memberikan kunci mobilnya kepada Namora.


Tepat ketika dia ingin menelepon seseorang untuk menjemput dirinya, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang. Tabrakan ini mengakibatkan handphone yang berada ditangannya terjatuh ke lantai dan entah bagaimana kabarnya.


"Minggir kau! Jangan menghalangi jalan," marah lelaki yang menabraknya tadi. Namun, lelaki itu segera menutup mulutnya dengan telapak tangan begitu dia menyadari siapa lelaki yang dia tabrak barusan.


"Apa tadi?" Ameng mendekatkan telinganya ke arah lelaki itu.


"B.., bang. Bang Ameng!" Lelaki itu gemetar di sekujur tubuhnya.


"Apa yang kau katakan tadi hah?" Bentak Ameng. Tatapannya tampak sangat tajam. Dapat dibayangkan bagaimana kesalnya hati Ameng. Dia sangat merisaukan keselamatan Namora, belum lagi memikirkan untuk menelepon seseorang, eh malah ditabrak. Yang membuat dia semakin marah, bukannya meminta maaf, malah si penabrak memarahinya. Benar-benar mencari penyakit.


"Maaf bang. Aku tidak melihat gunung Sinabung menjulang tinggi di depan ku!"


"Kau yang bernama Willi?"


Lelaki kurus yang menabraknya tadi mengangguk.


"Kau tadi yang bertaruh dan membuat keributan kan? Kau bahkan mengancam orang tadi dengan status mu? Kau berani. Sungguh sangat berani! Aku bukan orang kota Batu. Apakah kau akan mengancam ku?"


"Ampun bang. Aku tidak berani!" Jawab Willi ketakutan.


Klutuk..!


Begitu suara Willi hilang, Ameng segera menjitak ubun-ubun Willi, membuat lelaki kurus itu segera mengusap kepalanya yang sakit.


"Lain kali, kalau tidak mau kalah, jangan bertaruh. Gara-gara kau yang membuat keributan, mobil ku dilarikan orang. Apa kau mau menggendong ku dari kota Batu ini untuk kembali ke kota Kemuning?"


"Bang. Mati aku bang. Tolong jangan lakukan itu!" Perut Willi mendadak mules dan dia segera meratap meminta ampun.


Willi tau siapa Ameng ini. Berani memprovokasi Ameng, berarti meminta kehancuran. Itu baru dia sendiri. Belum lagi delapan orang lainnya yang maju. Tidak terbayangkan berapa ribu orang yang akan menyerbu kota Batu yang kecil ini. Hanya butuh satu panggilan telepon, dapat dipastikan kota Batu ini akan gulung tikar.

__ADS_1


"Aku tidak mau tau. Sebagai bentuk permohonan maaf mu, berhenti mengejar anak-anak itu! Aku ingin minum, dan kau harus melayani aku!"


"Baik bang! Aku menurut!" Willi terbungkuk-bungkuk mengikuti Ameng yang melangkah ke arah sebuah meja, kemudian dia duduk dengan kedua kakinya berada di atas meja.


"Pelayan! Bawakan anggur yang paling mahal di tempat ini. Malam ini Tuan Willi akan mentraktir ku. Cepat!" Teriak Ameng.


Willi melihat beberapa pelayan membawa beberapa botol anggur yang harganya dikisaran puluhan juta rupiah. Dia meneguk ludahnya ketika melihat pelayan itu dengan hormat membukakan tutup botol pada anggur tersebut.


"Mati aku Mak! Udahlah duit dilarikan oleh jagoan Robert, kini aku harus menghadapi salah satu dari Mister Dadakan. Mimpi sial apa aku semalam?" Willi menangis sedih di dalam hatinya.


*********


Jauh di tengah pusat kota, tampak seorang pemuda keluar dari lobby utama bangunan yang diyakini oleh Namora adalah Bank. Pemuda itu adalah Kenza. Dia terlihat menenteng tas hitam yang entah darimana dia dapatkan.


Begitu tiba di mobil, dia segera membuka pintu bagian belakang, kemudian melemparkan tas itu ke arah tempat duduk.


"Sudah?" Tanya Namora singkat.


"Sudah!" Jawab Kenza yang juga singkat.


"Kembali ke jalan WR Supratman. Aku ingin mengganti pakaian dan segera berangkat ke rumah sakit. Nenek ku sedang di rawat di sana!" Jawab Kenza. Dia memperhatikan pakaiannya saat ini adalah pakaian petarung. Jelas dia tidak nyaman dengan pakaian ini.


"Sekarang biar aku yang bawa mobilnya," kata Namora yang langsung keluar dari mobil.


Melihat ini, perasaan Kenza sudah tidak enak. Tapi dia juga membuka pintu, dan keluar dari mobil untuk bertukar posisi dengan Namora.


Namora menyalakan mesin mobilnya, lalu berkata. "Pegang kuat-kuat bang!"


Bam..!


Belum hilang suara Namora, tiba-tiba mobil itu sudah menabrak mobil milik orang lain yang sedang terparkir.


Karena tadi Kenza hanya sebentar dan hanya menarik uang, dia tidak memarkirkan mobil yang mereka kendarai tadi. Sehingga Namora tidak perlu memundurkan mobil. Tapi siapa sangka Namora malah nyosor dan menabrak bagian belakang mobil milik orang lain.

__ADS_1


Kenza tertegun memelototi Namora yang tampak ketakutan.


"Namora!" Hanya itu suara yang keluar dari mulut Kenza.


Dia melihat bahwa di depan itu adalah mobil BMW. Pasti sangat mahal.


Kedua pemuda itu sama-sama keluar dari mobil tanpa dikomandoi. Ketika dia melihat bahwa kedua mobil itu mengalami kerusakan parah, Namora mendadak pucat.


"Kabur bang!" Kata Namora dengan panik.


"Kabur gigimu itu! Kau lihat itu!" Tunjuk Kenza ke arah sepasang suami istri baru saja keluar dari bank.


Suami istri itu tampak panik melihat bumper belakang mobil BMW miliknya telah penyok dan tanggal.


"Oh Tuhan ku. Apa ini?" Lelaki tadi panik dan menatap ke arah Namora serta Kenza.


"Maaf pak. Kami tadi tidak sengaja!" Kenza segera meminta maaf kepada lelaki tadi.


"Maaf? Kau tau ini adalah mobil BMW. Aku membelinya dengan harga mahal. Kerusakan pada mobil ku ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf!" Marah lelaki tadi.


"Aku tidak mau tau. Kalian harus mengganti rugi. Aku ingin kalian memperbaiki mobil ku ini seperti sediakala!" Kini giliran wanita di samping lelaki itu membentak.


Kenza berpikir sejenak. Entah karena terlalu ketakutan sampai-sampai dia lupa bahwa dia baru saja mengeluarkan banyak uang dari bank.


"Begini saja pak. Andai mengganti rugi, berapakah kami harus membayar?" Tanya Kenza. Kesadarannya sudah pulih. Dia mengingat bahwa dia memiliki uang sekarang.


Lelaki itu berpikir sejenak. Kemudian dia mengatakan sejumlah uang yang harus dibayar, dan karena tidak mau urusan menjadi ribet, Kenza pun menyetujui dan segera memberikan kompensasi kepada pemilik mobil. Dengan begitu, urusan itu selesai begitu saja.


"Mora. Aku sudah menyelesaikan urusan. Sekarang, kerusakan pada mobil yang kita bawa ini, kau yang menanggung!" Kata Kenza pula. Dia sebenarnya ingin menanggung semuanya. Tapi dia tau bahwa saat ini neneknya sedang berada di rumah sakit. Dia tidak tau seberapa besar uang yang dibutuhkan untuk membayar biaya perobatan neneknya.


"Tidak apa. Yang ini biar menjadi urusanku!" Jawab Namora singkat.


"Kau duduk tenang. Biar aku yang membawa. Lain kali bilang saja kalau tidak tau. Aku bisa mengajarkan mu membawa mobil!"

__ADS_1


Namora diam saja. Dia tidak menjawab. Jantungnya nyaris copot tadi. Dia tidak pernah berurusan dengan orang seperti itu, karena memang dia tidak pernah menimbulkan kerugian bagi orang lain. Ini adalah kali pertama baginya.


Bersambung...


__ADS_2