
Mata Namora kini mulai berair. Tapi dengan segenap kekuatannya, dia menahan agar tidak meledak ketika ini.
Mendengar keributan ini, beberapa orang tampak mendekat dan mulai menggosip.
"Hahaha. Apa lagi yang mau kau katakan? Biarkan semua orang tau bahwa kau adalah..,"
"Diam!"
Belum sempat Rendra menyelesaikan perkataannya, dia segera dibentak oleh Namora.
Kini tampak urat-urat di kening Namora sudah bertonjolan. Auranya benar-benar sangat menakutkan. Bahkan Jol pun sempat terkejut melihat perubahan pada diri Namora ini. Jol tidak pernah menyangka bahwa Namora ini bisa marah dan sangat menakutkan.
"Buk. Berapa harga kecap ini satu botolnya?" Tanya Namora kepada pemilik kantin.
"Dua puluh lima ribu," jawab wanita paruh baya itu tanpa tau apa maksud dari pertanyaan Namora ini.
"Tolong tambahkan harga sebotol kecap ini kedalam tagihan ku!"
Prak!
Baru saja ucapan Namora selesai, kini botol kecap yang berada di meja sudah berpindah tempat ke dalam genggaman tangan Namora, kemudian dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, botol kecap itu sudah dipukulkan tepat di kepala Rendra.
Semua orang menutup mulutnya yang ternganga. Mungkin mereka takut lalat akan memasuki mulut mereka. Tapi bukan itu alasannya. Yang membuat mereka menganga adalah kini tubuh Rendra sudah ambruk di tanah. Tampak cairan merah kehitaman meleleh dari kepalanya. Dan mereka tau bahwa itu adalah darah yang bercampur dengan kecap.
Melihat Rendra sudah tersungkur di tanah, keempat anak lainnya tidak berani menunggu. Mereka semua lari ketakutan ketika Namora mengacungkan botol pecah itu ke arah mereka.
"Kau terlalu berani menyentuh batas yang seharusnya tidak boleh kau lampaui. Selama ini aku sudah sangat bersabar. Apa kau mengira bahwa nyawa mu ini terlalu berarti bagiku?"
Namora mulai menjambak rambut Rendra, yang membuat anak itu menggigil ketakutan.
Jol tau gelagat bahwa Namora akan menikamkan pecahan botol itu ke arah Rendra. Jadi, dia dengan sigap menarik lengan sahabatnya itu.
"Woy. Gila kau ya? Kalau dia mati, kau bisa masuk penjara!" Bentak Jol.
"Penjara? Hahaha. Penjara kata mu?" Namora seperti orang kesurupan. Tapi segera sadar ketika Jol menampar pipinya.
Plak!
"Sadar kau Mora! Ayo pergi!"
__ADS_1
Selesai menampar pipi Namora, Jol segera menariknya untuk segera menjauh.
Sebelum pergi, Namora sempat meletakkan uang di atas meja, lalu menunjuk dengan tepat ke arah wajah Rendra. "Aku menunggu reaksi mu! Ingat itu!"
"Ayo lah. Aku melihat kau seperti kerasukan!" Kata Jol sambil terus menarik tangan Namora.
Di jalan, dia dan Namora segera bertemu dengan Jericho, Jaiz, James dan yang lainnya.
Keenam orang itu heran melihat penampilan Namora. Bajunya kini terlihat becak noda kecap. Sedangkan tangannya berlumuran darah.
Dengan perasaan heran, Jericho segera bertanya. "Kenapa Jol?"
"Namora memukul kepala Rendra dengan botol kecap," jawab Jol.
"Ha? Namora berani?" Jericho mematung seperti tidak percaya.
Sebenarnya Jericho tidak takut mencelakai Rendra. Tapi ini di sekolah. Dan membuat keributan disekolah akan sangat berdampak terhadap pendidikan mereka.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Menjauh dariku agar tidak terkena dampak dari masalah yang aku lakukan!" Kata Namora. Sepertinya sisa-sisa kemarahan masih menyelimuti dirinya.
Tidak menunggu lama, kini dari arah gerbang sekolah, berdatangan puluhan orang yang mengenakan seragam sekolah dan juga ada beberapa orang yang berpakaian preman.
Jol memperhatikan bahwa salah seorang dari mereka adalah Dhani. Kemudian dia melihat ada Diaz, Rudi, Dudul dan Ruben di sana.
"Kalian. Tolong bawa motor ku ke bagian belakang sekolah! Aku akan membawa Namora untuk bersembunyi," pinta Jol kepada yang lainnya.
"Ok. Kau cepatlah. Kami akan mengaturnya untukmu!" Jawab Julio yang segera mengajak James menuju ke area parkir.
"Untuk apa lari? Mereka terlalu kecil bagiku!" Namora menolak untuk lari. Tapi Jol tetap membujuk Namora agar menurut.
"Ayo Namora. Kita hanya delapan orang. Kita tidak akan mampu melawan Dhani dan geng nya. Mereka terlalu ramai. Ayo cepat!"
Namora terpaksa menurut, walaupun baginya gerombolan itu hanya sampah, tapi tidak apa. Toh juga cepat atau lambat dirinya akan segera berurusan dengan orang-orang itu.
Sementara itu, kini terlihat beberapa orang sedang memapah tubuh Rendra yang sudah berlumuran darah menuju kearah Dhani dan yang lainnya.
Begitu melihat keadaan Rendra, Dhani tampak tertegun sejenak. Tadinya dia mengira bahwa Rendra hanya bertengkar biasa. Ternyata itu jauh diluar dugaannya.
Sambil melompat, Dhani segera menghampiri Rendra dan segera bertanya apa yang terjadi.
__ADS_1
Setelah Dhani mengetahui bahwa Rendra dipukul oleh Namora dengan botol kecap, Dhani segera meraung marah. "Cari anak itu sampai ketemu!" Perintah Dhani kepada anak-anak buahnya.
Puluhan orang bergegas menyebar mencari keberadaan Namora, tidak terkecuali Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi. Mereka mulai menelusuri area sekolah berharap bahwa mereka akan menemukan keberadaan Namora.
"Cari terus! Aku tidak mau tau. Anak itu harus ditemukan!" Bentak Dhani memerintahkan.
Beberapa guru tidak berani menghalangi mereka. Bahkan guru kepala pun tidak berani keluar dari kantor. Dia tau Dhani adalah anak Panjul. Siapa yang berani berurusan dengan Panjul. Berurusan dengan Panjul berarti sengsara buat mereka. Oleh karena itulah mengapa para guru bungkam dan hanya bisa membiarkan saja.
Hampir satu jam mereka mencari dimana Namora berada. Namum sekilas pun mereka tidak melihat bayangannya. Hal ini membuat Dhani sangat geram.
"Bagaimana?" Tanya Diaz kepada yang lainnya.
"Menghilang seperti ditelan bumi," jawab Dudul dengan terengah-engah.
"Sialan. Jika tidak ketemu, maka akan sangat sulit. Kita tidak mungkin menyusul ke rumahnya. Bagaimanapun, AKBP Rio pasti akan mempersulit kita,"
"Jadi bagaimana ini?" Tanya Ruben dengan putus asa.
"Sebaiknya kita kirim dulu Rendra ke rumah sakit. Sebagian harus menunggu di sini. Jika bertemu dengan anak itu, segera menghubungiku!" Pinta Dhani. Dia tidak ingin melepaskan Namora begitu saja. Dalam hatinya saat ini dia merasa pasti Namora sedang bersembunyi. Padahal mereka tidak tau bahwa saat ini Namora sudah diantar pulang oleh Jol.
Sampai di rumah, Jol segera menasehati Namora agar tidak keluar dulu. Ini semua demi meredam kemarahan Dhani.
Walaupun Namora tidak takut, tapi dia mengangguk dan tidak membantah. Dia tau bahwa Jol sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Aku pulang dulu. Aku akan segera memberi kabar kepada mu!"
Jol akan menyalakan mesin sepeda motornya sebelum Namora menghampiri dirinya, lalu mengulurkan tangannya. "Terimakasih Jol!"
Jol menjabat tangan Namora dengan erat.
"Tidak perlu berterima kasih. Kita adalah sahabat. Aku tidak akan diam saja. Apa lagi aku tau kau tidak salah. Rendra lah yang terlalu berlebihan,"
Namora mengangguk lalu melambaikan tangannya.
Setelah Jol pergi, Namora segera memberitahukan kepada Ameng tentang masalah yang dia hadapi. Dan Ameng sungguh sangat bersemangat mendengar bahwa Namora telah melukai seseorang.
Kini, Ameng berjanji kepada Namora bahwa dia akan mengurus semuanya. Dan Namora tidak perlu khawatir tentang semut seperti Rendra dan keluarganya.
Namora merasa lega dan segera memasuki rumahnya.
__ADS_1
Setelah menjawab pertanyaan mengintrogasi dari Mirna, Namora segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Bersambung...