
Setelah puas mencari dari timur hingga ke barat, utara dan selatan beserta timur laut dan barat daya, akhirnya Rio berhasil juga mendapatkan apa yang dia cari. Yaitu, ayam hitam dari atas hingga ke bawah, untuk persyaratan bagi Namora yang ingin menerima ilmu yang akan diturunkan kepadanya.
Sepintas lalu, ayam ini sangat mirip dengan burung gagak. Rio saja merinding melihat ayam yang hitam keseluruhan seperti ini.
Setelah semua persyaratan di penuhi, dan ritual-ritualnya telah dilakukan yang tidak mungkin dijelaskan di sini secara rinci, maka, tepat sore Kamis menjelang malam Jum'at, Namora pun resmi menjadi murid tunggal dari pak Harianto Pujakesuma.
Malam itu, dengan penerangan alakadarnya, Namora pun mulai diajarkan latihan-latihan dasar seperti kuda-kuda, serta langkah-langkah dasar dalam pencak silat.
Hanya tiga jam Namora berlatih, itupun rasanya seperti 3 hari, karena beratnya metode latihan yang dia terima dari pak Harianto.
"Kanan!" Kata pak Harianto memberikan aba-aba.
Namora segera memajukan kaki kanannya ke depan.
"Tekuk!" Kata pak Harianto lagi.
Plak!
"Yang itu kurang tekuk!" Teguran yang di susul oleh pukulan pertama sudah diterima oleh Namora, membuat anak itu meringis.
"Lebih di tekuk lagi!"
"Baik kek!" Jawab Namora patuh. Dia pun segera menekuk lututnya hingga lebih rendah dari sebelumnya.
"Tangan kiri di atas pinggang dalam keadaan terkepal, tangan kanan terjulur juga dalam keadaan terkepal! Lakukan seperti kau akan meninju lawan mu!"
"Seperti ini kek?" Tanya Namora.
Plak...!
"Jangan lemah seperti banci. Lakukan dengan sigap dan tegap!" Sekali lagi Namora mendapat pukulan dengan rotan. Dan ini adalah pukulan ke dua yang dia terima dalam jarak waktu kurang dari sepuluh menit. Bayangkan jika tiga jam. Bakalan berapa pukulan yang dia terima.
Namora menangis di dalam hatinya. Namun, untuk menangis sungguhan, jelas dia tidak berani.
"Sekarang kau ikuti pergerakan kakek!" Perintah dari Pak Harianto.
Namora segera menegakkan badannya, lalu berdiri di belakang lelaki tua itu.
"Kaki kanan!"
__ADS_1
Namora segera mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua itu.
"Tekuk lebih rendah!"
Namora segera menirukan apa yang dilakukan oleh pak Harianto.
"Tangan kanan memukul ke depan!"
Kembali Namora melakukan gerakan yang diajarkan oleh pak Harianto.
Pak Harianto berdiri lalu berbalik untuk melihat posisi yang dilakukan oleh Namora.
Plak..!
"Jarak antara kedua kaki mu terlalu rapat. Renggangkan sedikit lagi!"
"Iya kek!"
"Jatuhkan lutut mu ke tanah, lalu buat sapuan menggunakan kaki kiri mu ke belakang!"
"Seperti ini kek?!" Tanya Namora.
"Lakukan sekarang!" Perintah orang tua itu.
Namora segera mempraktekkan apa yang dia lihat tadi. Dia merasa bahwa apa yang dia lakukan sudah benar. Tapi, tetap saja dia menerima pukulan untuk yang ke sekian kalinya.
"Apa kau takut kotor atau kau takut merasa sakit? Bagaimana jika lawan mu menyerang dari belakang dan kau takut kotor. Bisa mati kau jika seperti itu!"
Kembali Namora melakukan gerakan seperti yang dia lakukan tadi. Dan kali ini dia tidak ingin di pukul lagi. Maka, dia pun bersungguh-sungguh melakukan sapuan kaki kirinya. Dan itu cukup berhasil walaupun kakinya memerah akibat tergesek dengan permukaan tanah berpasir.
"Hmmm. Tidak buruk!" Kata orang tua itu. Pelit sekali dia memberikan pujian.
Jika Joe William dan Tengku Mahmud masih bisa sering becanda dan saling mengerjai antara satu sama lain, dengan Pak Harianto jangan harap bisa seperti itu. Wajahnya saja sudah seperti patung es dengan mata tajam seperti elang. Namora cukup ketakutan ketika bertentang mata dengan lelaki tua itu.
"Kau boleh pulang sekarang. Besok sore jangan sampai tidak datang! Jangan sampai kakek yang menjemput mu ke rumah. Patah tulang mu kakek bantai!" Ancam orang tua itu dengan wajah tetap serius dan dingin.
Bergidik bulu tengkuk Namora mendengar ancaman itu.
Namora segera berdiri tegak, lalu membungkuk di hadapan lelaki tua tadi.
__ADS_1
Awalnya pak Harianto ingin mengusap kepala anak itu dengan lembut. Jiwa tuanya sebenarnya sangat penyayang. Namun, entah mengapa itu tidak jadi dia lakukan. Sebagai gantinya, dia segera berkata dengan tegas. "ingat besok jangan sampai kakek yang menjemput mu ke rumah. Jangan minta di antar. Kau lelaki bukan perempuan. Maka, mulai dari sekarang, berprilaku lah seperti seorang anak jantan!"
"Namora patuh kek!" Jawab Namora masih tetap terbungkuk.
"Pulang sekarang!"
"Iya kek!
Assalamualaikum!" Kata Namora. Dia segera meraih tangan lelaki tua itu kemudian menciumnya.
"Hmmm...!" Hanya itu saja yang di ucapkan oleh lelaki tua itu. Namun dalam hatinya dia membalas salam dari anak itu.
"Waalaikumsalam...!" Katanya dalam hati.
Setelah Namora pergi, dia pun segera memasuki rumahnya kembali melalui pintu dapur, karena tempat latihan itu tepat di belakang rumahnya.
Sementara bagi Namora sendiri, keluar dari pekarangan bagian belakang rumah Pak Harianto tadi bagaikan terbebas dari penjara. Nama dia tidak diizinkan makan dulu sebelum latihan.
Dia ingin segera tiba di rumah. Dia ingin makan walaupun hanya berlauk ikan asin, pokoknya dia saat ini kelaparan.
"Huh. Perih perut ku," gerutu Namora. Dia terus melangkah menuju ke jalan raya dan berjalan menyusuri teras-teras toko. Dengan begitu, dia merasa lebih aman.
"Besok latihan lagi. Semoga saja tulang ku tidak benaran patah," gumam anak itu lagi dalam hati.
Setelah puas berjalan kaki, Namora pun berhenti di sebuah kedai. Dia segera mengeluarkan uang dan mengambil sebotol air mineral kecil. Tenggorokannya terasa kering pas latihan tadi.
Setelah itu, dia kembali berjalan agar segera sampai di rumah.
Hampir juga 20 menit anak itu berjalan kaki, kini dia sudah memasuki area perumahan kepolisian.
Beruntung rumah Rio tidak di bagian tengah. Maka, hanya melewati pos penjagaan saja, dia sudah sampai di depan rumah dan segera merapikan pakaiannya sebelum memasuki rumah. Dia khawatir jika dia kembali dalam keadaan kusut, ibunya akan menanyakan ini dan itu. Dia paling takut berbohong kepada ibunya. Sedangkan Rio melarangnya untuk menceritakan kepada siapapun bahwa dia saat ini sedang berlatih ilmu beladiri kepada pak Harianto Pujakesuma.
"Darimana saja kau Namora?" Tanya sang ibu ketika Namora sudah berada di dalam rumah.
"Namora tadi sedang latihan Bu," jawab anak itu.
"Latihan kenapa sampai selarut ini baru pulang," tanya sang ibu lagi.
"Kak. Dia mungkin sedang berlatih kelompok. Ini urusan siswa. Biarkan saja lah. Asalkan yang dia lakukan itu positif!" Rio segera memotong sebelum Namora menjawab. Dia khawatir jika Namora akan mengatakan bahwa dia belajar silat. Yang lebih dia khawatirkan lagi adalah, pak Harianto akan memarahinya jika sampai ketahuan bahwa Namora belajar ilmu beladiri darinya. Entah apa maksudnya merahasiakan hal ini, entahlah!
__ADS_1
Bersambung...