Namora

Namora
penawar dari Joe


__ADS_3

Toyota hardtop tua itu memperlahankan kecepatannya ketika tiba di depan jalan setapak di sebuah perkampungan yang sangat dekat dengan laut.


Jalan setapak itu terletak di ujung kampung dan di sana terlihat sebuah rumah panggung yang sedikit terpencil dari rumah-rumah penduduk lainnya.


Ketika diperhatikan, rumah itu terbuat dari anyaman bambu, beratap daun Rumbia dan berlantaikan belahan batang Nibung.


Lelaki tua yang masih duduk di kursi sebelah sopir tampak memperhatikan kearah rumah itu. Ada ekspresi yang tak dapat di tebak dari raut wajahnya.


"Rumah itu masih seperti empat puluh tahun yang lalu. Tidak berubah. Di sana aku merasakan diadzab oleh lelaki tua itu selama beberapa hari," gumam lelaki tua yang tidak lain adalah pak Harianto itu. Jika diperhatikan, bulu roma nya saat ini jelas bergidik ngeri.


Rio, yang menjadi teman seperjalanan pak Harianto hanya memperhatikan saja. Dia tidak akan bertanya sebelum pak Harianto sendiri yang memintanya.


"Rio. Ayo kita ke rumah itu. Tapi ingat! Kau harus berada di belakang ku. Jika tidak, sulit bagiku untuk melindungi mu jika orang tua itu menyerang secara mendadak," kata pak Harianto memperingatkan.


Rio mengangguk menuruti kata lelaki tua itu sebelum membuka pintu mobil dan turun.


Kedua lelaki beda usia itu melangkah perlahan menyusuri jalan setapak itu secara berhati-hati. Namun, ketika melihat seorang lelaki tua sedang berdebat hebat dengan seorang pemuda yang sebaya dengan Namora, mereka mendadak menarik nafas lega. Karena, jika mereka melihat lelaki tua itu, maka serangannya akan terbaca. Yang dikhawatirkan adalah, ketika mengucapkan salam, namun tidak melihat wujud lelaki tua itu, maka bersiap-siaplah untuk menerima lesatan kulit kerang sebagai jawaban dari salam.


Di samping rumah panggung tersebut, terlihat seorang lelaki yang sudah sangat sepuh sedang memarahi seorang pemuda yang terlihat sangat compang-camping dengan tangannya berada di daun telinga anak itu.


Bagaimana tidak dikatakan compang-camping? Penampilan anak itu saat ini lebih menyedihkan dari gelandangan.


Dia mengenakan singlet yang sudah kehilangan warna aslinya. Anak itu juga mengenakan celana panjang yang kedodoran. Yang lebih parahnya lagi, pinggang celana itu diikat dengan tali rafia, kaki celana itu digulung sampai batas lutut, sedangkan yang satunya lagi dibiarkan begitu saja sehingga terlihat jelas ketimpangan pada celana yang dikenakan oleh anak itu.


Anak yang saat ini sepertinya sedang dihukum itu terlihat sangat tampan. Hanya saja, wajah tengil anak itu sangat menggeramkan. Sekali pandang saja, orang akan dapat merasakan makan hati ketika melihat anak itu.


Kesan yang didapat oleh pak Harianto adalah, walaupun anak itu sedang di hukum, tapi sedikitpun tidak ada nada ketakutan pada kata-katanya ketika menjawab setiap omelan dari lelaki sepuh tersebut.


"Dasar anak jin. Aku menyuruh mu untuk belajar dengan baik. Tapi mengapa kau melempar sarang tawon itu hah? Apa kau ingin melihatku cepat mati?"


"Kemarin bukankah kakek mengatakan bahwa melempar sarang tawon itu adalah bagian dari pelajaran?" Tanya anak itu sekaligus menjawab kemarahan lelaki tua yang sedang menjewer telinganya.


"Memang kau ini anak jin iprit. Kemarin itu aku hanya bercanda. Bodoh mu mau saja menuruti perintah ku. Apa kalau aku menyuruh mu masuk ke dalam mulut ikan paus, kau mau?" Lelaki tua itu semakin mendelik kan matanya sehingga pemuda itu bukannya takut, malah ketawa terpingkal-pingkal.


"Kakek perkasa alam. Ada tamu," kata anak itu tidak mau berdebat lagi. Beruntung ada yang datang. Sehingga dia bisa mengalihkan perhatian orang tua itu dan terbebas dari hukuman.


"Aku tidak perduli siapapun yang datang," bentak lelaki tua itu. Kemudian, dengan sebelah tangannya menjewer telinga anak itu, dan tangan lainnya merogok ke bagian pinggang. Kemudian...,

__ADS_1


Wuuuzzzz....!


"Awas, Rio!"


Suara teguran diikuti dengan suara bergedebug terdengar tidak jauh dari halaman bagian depan rumah panggung tersebut.


Dua sosok tampak jatuh tertelungkup di atas tanah berpasir.


Di depan mereka, terlihat dua butir kulit kerang menancap. Dapat dibayangkan andai tubuh mereka yang terkena lesatan kulit kerang itu, sudah pasti rasanya tidak akan enak. Dan andai dapat memilih, lebih baik makan sate Padang daripada terkena kulit kerang yang melesat bagaikan peluru tersebut.


Rio dan pak Harianto tidak berani langsung bangun. Melainkan, dia tiarap dan sesekali melirik ke arah lelaki tua itu. Ketika tidak ada pergerakan, barulah dia bangkit sambil menutupi kepalanya dengan sebelah tangan, khawatir akan mendapatkan serangan lagi.


Anak lelaki yang tadi dimarahi oleh lelaki tua itu berjingkrak riang melihat pemandangan itu.


Dengan tampang gelandangan yang menyedihkan, dia berlenggak-lenggok bagaikan setrika panas petatang petenteng dengan raut wajah yang membuat orang sangat geram.


"Hajar lagi Kek! Hajar lagi!" Pintanya memanas-manasi lelaki tua itu.


"Hajar dengkul mu?" Lelaki tua itu memelototi bocah tengil itu dengan geram.


"Berhenti kataku! Jika kau teruskan, aku akan menyiksa mu berendam dua hari dua malam di laut," ancam lelaki tua itu.


Mendengar ancaman ini, bocah tengil itu tertawa terpingkal-pingkal sambil menarik celananya yang sedikit melorot sampai ke batas pusat.


"Pantas saja anak itu betah. Ternyata sama gilanya dengan Tengku Mahmud. Andai itu Namora, kemungkinan anak itu akan menangis," gumam pak Harianto dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan hah, Harianto?" Bentak lelaki tua itu mendelik.


"Ampun Tengku. Ampun. Hamba tidak berani," tergagap Pak Harianto menjawab bentakan dari lelaki tua yang tidak lain adalah Tengku Mahmud adanya.


"Bentak lagi kek!" Pinta anak itu mengompori.


"Diam kau anak jin. Ku sumbat mulut mu dengan kulit kerang ini!"


Mendengar ancaman, anak itu segera menutup mulutnya, kemudian beringsut kebelakang Tengku Mahmud.


"Katakan tujuan kedatangan kalian ke sini. Dan anak monyet dibelakang mu itu, dia tidak pernah menganggap aku ini kakeknya. Apakah begitu anak monyet?" Tanya Tengku Mahmud sambil menunjuk ke arah Rio.

__ADS_1


Brugh...!


Rio membanting lututnya ke tanah, kemudian dengan lututnya, dia menghampiri lelaki tua itu, kemudian meraih tangannya lalu mencium. "Ampuni Rio kek. Terlalu banyak pekerjaan yang tidak bisa Rio tinggalkan. Kakek kan tau pekerjaan Rio adalah mengabdi pada masyarakat. Rio mana punya banyak waktu,"


"Oooooooooooh.., jadi, sekarang kau ada waktu?" Tanya Tengku Mahmud mendelik.


Rio merasakan sebongkah bara api tersangkut di tenggorokannya. Dia tidak bisa menjawab lagi selain menundukkan kepalanya.


"Harianto. Katakan apa tujuan kedatangan kalian!" Pinta Tengku Mahmud dengan tegas.


"Begini, Tengku. Cicit mu anak Tigor bernama Namora..," lalu Pak Harianto menceritakan semua kejadian yang menimpa Namora, sekaligus meminta bantuan untuk memikirkan bagaimana cara menangani racun yang berada pada tubuh anak itu.


"Kalian ini. Jika ada perlunya saja baru ingat sama orang tua ini. Jika tidak, aku ini hanya seonggok daging lapuk di mata kalian," dengus Tengku Mahmud tidak senang.


Seolah-olah tau jawaban yang akan didapat dari ocehan Tengku Mahmud, Pak Harianto segera memberikan sehelai sapu tangan kepada lelaki tua ini sembari berkata, "coba Tengku lihat ini. Ini hamba ambil dari bekas luka pada tubuh Namora,"


Tengku Mahmud mengambil sehelai sapu tangan yang terdapat noda nanah, kemudian menyerahkannya kepada pemuda yang berada dibelakangnya. "Joe. Coba kau lihat, apakah kita bisa membuat penawarnya?" Pinta Tengku Mahmud kepada pemuda bernama Joe tadi.


Anak tengil bernama Joe itu memperhatikan sapu tangan itu, kemudian menelitinya.


"Racun jahat," desisnya. Wajahnya yang tengil berubah menjadi serius. Tapi itu hanya sesaat. Kemudian dia kembali cengengesan dan menoel hidungnya, "ini hanya masalah tai burung," katanya kemudian.


Baik pak Harianto, maupun Rio tercengang melihat tingkah Joe. Mereka tidak menduga bahwa Tengku Mahmud malah meminta pendapat dari anak bau itu. "Apa kemampuan anak ini?" Pikirnya dalam hati.


"Kakek. Aku akan ke dalam untuk mengambil obatnya," kata Joe yang langsung naik tangga memasuki rumah. Tak lama kemudian, dia keluar dengan dua butir pil, dan sebilah parang.


Setelah menyerahkan pil itu kepada Tengku Mahmud, Joe segera pergi ke semak-semak tak jauh dari rumah, kemudian mulai merambah semak tadi dengan suara tebasan.


Lebih dari dua puluh menit, Joe keluar dari semak sambil membawa beberapa daun, akar dan beberapa batang tumbuhan yang mirip dengan lengkuas.


"Racun itu sangat ganas. Sebaiknya, orang yang menderita itu dibawa pulang saja. Karena, rumah sakit tidak akan dapat mengidentifikasi jenis racun itu. Berikan sebutir pil kepada yang sakit, kemudian rebus tanaman ini, biarkan yang sakit berendam di dalam air suam-suam kuku sampai air tersebut berubah warna menjadi kehitaman. Setelah itu, berikan satu butir lagi pil ini. Setelah ini selesai, barulah bawa kembali ke rumah sakit untuk menjalani pemulihan," kata Joe sembari memasukkan beberapa jenis tanaman yang berada di tangannya ke dalam plastik sampah, kemudian menyerahkannya kepada pak Harianto.


Pak Harianto menerima pemberian Joe dengan kening berkerut. Dia secara takut-takut melirik ke arah Tengku Mahmud. Namun, anggukan dari Tengku Mahmud membuatnya percaya bahwa apa yang dikatakan oleh anak bernama Joe itu pasti benar.


Setelah mengobrol beberapa lama, dan waktu pun sudah sore, akhirnya Pak Harianto dan Rio memutuskan untuk pulang dan segera memberikan perawatan kepada Namora sesuai petunjuk dan saran dari Joe.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2