Namora

Namora
Hari pertama sekolah


__ADS_3

Menjadi siswa baru


Hari yang dinantikan oleh Namora dan mungkin bagi kebanyakan anak-anak remaja akhirnya tiba juga.


Hari ini, mereka telah resmi menjadi murid di SMA negeri Tunas Bangsa. Sesuatu yang selama ini mereka impi-impikan.


Saat ini, baik Namora, Jol dan yang lainnya mulai merasakan sesuatu yang baru, bertemu dengan orang-orang yang baru, lingkungan baru, dan serba baru. Bahkan, tas, buku pelajaran serta seragam pun sudah baru. Bukan lagi memakai putih biru, malah kini telah berubah menjadi putih abu-abu. Sungguh sangat menyenangkan.


Tadi, sebelum berangkat ke sekolah, Namora sempat memperhatikan dirinya di cermin kaca.


Dia berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan persis seperti peraga busana second hand.


"Ckckck...!" Katanya berdecak kagum mengagumi penampilan dirinya sendiri.


"Betapa gantengnya putra Habonaran ini," katanya lagi.


"Anak lajang mu kak! Jangan sampai kaca itu pecah!" Canda Rio kepada Mirna.


"Sudah Namoraaaaaa! Cepat berangkat sekarang!" Menggelegar suara Mirna bagaikan petir di pagi buta, sontak membuyarkan kekaguman Namora terhadap dirinya sendiri.


Bagai tersadar dari mimpi indah, dia segera berbalik badan dan mulai cengengesan.


"Hehehe."


"Segera berangkat sekarang! Paman Rio mu sudah siap!" Perintah Mirna. Dia tidak ingin anaknya terlambat gara-gara terlalu bergaya di depan cermin.


Mengingat kejadian tadi, Namora senyum-senyum sendiri. Hal ini membuat ketujuh sahabatnya yang lain mulai berbisik.


"Namora sudah mulai ganjen!"


"Bukan ganjen. Mungkin dia sedeng!"


"Heh. Tidak baik mengumpat begitu!"


"Kau lihat saja, Jol! Dia tertawa sendiri,"


"Namora. Mengapa kau seperti itu? Tertawa sendiri. Apa ada yang salah dengan dirimu?" Tanya Jol.


Seketika Namora tergagap tanpa tau harus berkata apa.


"Sudahlah. Suka-suka dia saja lah. Toh tidak menggangu siapapun," kata Jol pula yang tidak ingin mengusik ketenangan sahabatnya itu.

__ADS_1


Mereka terus duduk di teras depan lokal kelas satu sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dihadapan mereka.


Kini, dari arah gerbang, tampak mobil Toyota Avanza berwarna silver memasuki area pekarangan sekolah. Dari dalam, terlihat tiga orang gadis cantik keluar dari dalam mobil tadi.


Begitu ketiga gadis tadi keluar, mobil itu kemudian berlalu meninggalkan pekarangan sekolah. Hal itu tidak luput dari perhatian Jol, Jericho dan yang lainnya. Bahkan, jakun Namora tampak turun naik memperhatikan ketiga gadis itu.


"Perfectly!" Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari bibir Namora.


"Memang sungguh menggoda," timpal Jol pula. Matanya tidak henti-hentinya menatap betis ramping ketiga gadis itu.


"Andai aku dapat salah satu dari mereka, makan nasi kerak pun aku rela. Syukur-syukur bisa memborong ketiganya," kata Jufran pula.


"Sialan. Itu namanya serakah!" Maki Jericho. Dia juga terlihat sangat jelalatan.


"Mimpi itu gratis masbro!"


"Mimpimu ketinggian. Nabrak pesawat!"


"Hahaha. Parah kita ini. Sudah lah. Kita ada delapan, sedangkan gadis itu hanya bertiga. Mana tahan mereka,"


"Otak mu mulai maraton kan?!" Kata Jol sambil menyikut rusuk Jaiz


"Eh. Dia menuju ke sini!"


Delapan anak-anak remaja itu pun langsung menjaga image masing-masing. Membuat riak saja serius, dan kalau bisa, harus cool se-cool-coolnya.


"Ayo cepat. Kita ke kelas dulu. Simpan tas kita. Jangan sampai terlambat. Aku ingin melihat Abang Kenza. Jangan sampai dia marah karena kita terlambat,"


"Cie... Abang Kenza itu seleranya tinggi. Mana dia mau sama kita,"


"Huh. Belum tentu. Apa kau mau bertaruh denganku?"


"Tidak. Aku tidak mau bertaruh,"


Ketiga gadis itu berlalu tepat dihadapan Namora cs. Sedikitpun mereka tidak melirik. Padahal, Jol sejak tadi sudah berdehem untuk menarik perhatian mereka.


"Sialan. Mereka sama sekali tidak menganggap kita ada,"


"Enak sekali jadi Bang Kenza itu ya kan?"


"Apa dia yang dikatakan oleh bapak kepala sekolah tadi ya? Kan katanya nama ketua ospek kita adalah Kenza. Dia juga ketua OSIS kan?"

__ADS_1


"Benar. Aku jadi penasaran. Seperti apa wajah Bang Kenza ini,"


Mereka terus berbincang-bincang sambil duduk depan lokal kelas satu tadi. Dan perbincangan itu berhenti ketika dari arah depan tampak satu unit sepeda motor sport memasuki area parkir.


Kedatangan penunggang sepeda motor itu sontak membuat beberapa siswa yang lainnya yang berada di sekitar area parkir menjadi antusias.


Pemuda itu hanya tersenyum, menganggukkan sedikit kepalanya, lalu segera melangkah menuju kantor kepala sekolah.


Lima menit berselang, tiba-tiba bel sekolah berbunyi dan seluruh siswa baru mulai berkumpul di tanah lapang untuk menunggu ketua dari panitia ospek yang akan menunjukkan kepada mereka seluk-beluk sekolah ini, struktur, sejarah dan banyak lagi.


Suasana di tanah lapang itu menjadi riuh ketika beberapa orang siswa senior menghampiri mereka dan mulai memperkenalkan diri. Dan yang paling menjadi sorotan para gadis adalah kakak kelas mereka yang memperkenalkan diri dengan nama Kenza.


"Itu bang Kenza,"


"Ya ampun. Ganteng sekali,"


"Bang Kenza! Aku mendadak padamu!"


Gadis-gadis remaja itu mulai berteriak, mengatakan hal-hal yang membuat wajah Kenza tampak sangat tertekan.


Beberapa orang gadis malah datang dan nekat untuk mengajak ber-selfie. Namun, dengan tegas Kenza menolak. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa dia tidak suka dengan kegenitan seperti itu.


"Dengar semuanya! Aku di sini untuk memperkenalkan sekolah ini kepada kalian. Jaga sikap kalian, dan dengarkan setiap penjelasan dari ku! Jika tidak, toilet di sekolah ini sudah lama tidak di cuci. Kalian tau maksud dari perkataan ku ini. Jangan sampai ada diantara kalian yang akan mendapatkan hukuman dari ku!" Lantang suara Kenza kepada adik-adik junior nya itu.


Mendengar ancaman tegas dari Kenza, semuanya mulai membisu. Mereka hanya mendengarkan saja semua yang dijelaskan oleh Kenza. Sesekali ada yang bertanya karena tidak faham. Namun, hal ini masih termasuk dalam hal yang wajar. Karena, jika tidak faham atau kurang dalam mencerna penjelasan, bertanya adalah solusinya.


"Pantas saja dia disegani di sekolah ini. Lihat saja caranya. Sungguh sangat berwibawa," bisik Jol ke telinga Namora.


"Benar. Ada aura yang sangat nyaman dari bang Kenza ini," balas Namora pula.


"Siapa di sini bernama Namora?" Tiba-tiba Kenza bertanya. Hal ini tentu membuat Namora kaget setengah mati. Bagaimana mungkin Kenza bisa mengenal namanya.


"Sa..,saya bang!" Jawab Namora tergagap.


"Kalian buat beberapa kelompok! Setiap kelompok memiliki tugas. Kita gotong royong kali ini. Kau Namora.., bergabung dengan mereka!" Kata Kenza menunjuk ke arah tiga wanita yang tadi turun dari mobil Toyota Avanza.


"Hah?" Mendadak tenggorokan Namora menjadi kesat.


"Cepat dan jangan banyak tanya. Kalian harus saling mengenal satu dengan yang lainnya. Dengan begitu, baru ada chemistry. Kelak, jika ada kegiatan OSIS, kalian tidak akan canggung lagi,"


"Baik bang!" Kata Namora yang langsung berjalan mendekati ketiga gadis itu.

__ADS_1


Tampak wajah ketiga gadis itu sangat tertekan. Ada tatapan jijik dari mereka kepada Namora. Namun, Namora tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mengikuti perintah dari seniornya tanpa mau membantah. Baginya, dia ingin menimbulkan kesan yang baik dihari pertamanya sekolah.


Bersambung...


__ADS_2