Namora

Namora
Tiket ke babak 16 besar


__ADS_3

Setelah babak pertama selesai dari sekitar 64 siswa peserta yang berpartisipasi dalam turnamen tersebut, kini ajang telah memasuki babak tiga puluh dua di mana, ketiga puluh dua peserta ini akan membentuk enam belas pasang dan siapapun yang keluar sebagai pemenang, maka tiket untuk menuju ke enam belas besar dalam turnamen ini akan menjadi milik mereka.


Ketika Namora memasuki arena dengan lawannya dari sekolah SMA Dolok ginjang, tatapan merendahkan dari orang-orang yang berada di sana masih tetap terlihat walaupun sudah tidak sesinis tadi.


"Ayo Namora, bermainlah sedikit menghibur!" Pesan Jol sebelum Namora memasuki gelanggang. Sedangkan Jol sendiri, berdiri di sisi gelanggang dengan handuk putih tersampir di pundaknya. Lagaknya bak pelatih veteran yang sangat legendaris.


"Bermain secara sportif, jangan memukul bagian terlarang dan, lindungi diri kalian!"


Kedua peserta yang saat ini berhadapan serentak mengangguk begitu mendengar instruksi dari wasit yang memimpin jalannya pertandingan antara Namora dengan Siswa dari SMA Dolok ginjang tersebut.


"Kembali ke sudut masing-masing!"


Kedua orang itu mundur beberapa langkah, sebelum akhirnya bergerak maju setelah wasit memberikan aba-aba tanda pertandingan di mulai.


Ting.., Ting.., Ting.., suara bel berbunyi menandakan pertarungan antara kedua orang itu di mulai.


Wuzzz..., Serangan di mulai dengan siswa dari SMA Dolok ginjang mengirimkan pukulan parap ke depan yang langsung dihindari oleh Namora dengan memiringkan kepalanya ke samping, sehingga pukulan itu meleset begitu saja.


Lolos dari serangan pertama, Namora segera mengitari lawannya dengan bergerak lincah untuk mencari celah.


Sebelumnya, lawan sudah mengetahui cara bermain Namora ketika mengalahkan lawannya yang pertama. Oleh karena itu, dia tidak berani gegabah dengan terlalu cepat mengirim tendangan.


Wuzz..., Namora menggertak dengan mengirimkan tendangan lurus ke arah perut. Tendangan itu hanya gertakan saja. Karena, begitu lawan menghindari dengan langkah mundur ke belakang, Namora segera menarik kakinya dan kembali mengatur jarak.


"Hebat!"


Prok.., prok.., prok..!


Suara teriakan terdengar dari kursi penonton adalah milik Udin yang sengaja menghangatkan pertandingan diiringi dengan tepuk tangan.


Tatapan tajam Namora memperhatikan gerakan lawan. Dia hanya menunggu kapan lawannya itu melonggarkan kewaspadaannya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Namora menemukan celah ketika lawan bergerak menuju dirinya, Namora pun langsung menjatuhkan dirinya dan mengirim tekel keras yang langsung membuat lawannya terjatuh.


Begitu terjatuh, Namora langsung menjepit lawannya tersebut dengan kedua kakinya sehingga wasit harus melerai. Dengan begitu, satu point' penting telah didapatkan oleh Namora.


Kini, keduanya telah sama-sama berdiri dan siap menunggu aba-aba dari wasit untuk meneruskan pertarungan.

__ADS_1


Wasit menjulurkan sebelah tangannya ke depan, kemudian menjatuhkan tangan tersebut dengan cepat bertanda bahwa pertarungan kembali di mulai.


Namora dengan tenang maju ke depan. Niatnya kali ini adalah, menjatuhkan lawannya dengan sekali gerakan.


Benar saja. Lawannya yang tadi sempat terpancing emosi segera meluruk ke depan. Dia ingin membalas perbuatan Namora yang menjatuhkannya dengan mudah sehingga point' penting didapatkan oleh Namora.


Dia menilai bahwa itu hanyalah kecerobohan yang dia lakukan sehingga Namora berhasil mencuri poin dari dirinya. Akan tetapi, dia tidak menduga bahwa inilah yang diinginkan oleh Namora. Karena, begitu lawannya mengejar, maka lawan sudah tidak memiliki pertahanan lagi. Andaikan ada, maka pertahanan tersebut sangat rapuh.


Bugh...!


Kecerobohan ke dua yang benar-benar fatal telah dilakukannya tanpa sadar.


Brugh...!


Suara tendangan dan suara tubuh terhempas terdengar membuat para penonton menutup mulutnya dengan mata terbelalak.


Sebelumnya, Namora yang mengukur jarak lawan dengan dirinya langsung mengirim tendangan ketika jaraknya sudah mencapai sepenjangkauan kaki.


Pertahanan yang rapuh dari lawan membuat keseluruhan telapak kaki Namora mendarat dan menghantam bagian bawah dagu lawan hingga terdongak, dan beberapa detik kemudian langsung ambruk ke kanvas ring. Kejadian itulah yang membuat semua peserta menutup mulutnya dengan mata terbelalak menyaksikan betapa kejamnya serangan balasan dari Namora.


Setelah mengetahui bahwa peserta tersebut berada dalam keadaan pingsan, wasit segera merentangkan tangannya memberi aba-aba dengan gesture darurat.


Begitu melihat gesture dari wasit, setengah lusin petugas medis langsung menghambur memasuki arena dengan membawa tandu.


Gerak cepat pun dilakukan dan mereka segera membawa siswa peserta turnamen tersebut turun dari gelanggang sebelum melakukan tindakan penyelamatan seterusnya.


Wajah Namora tetap tanpa ekspresi ketika wasit mengangkat sebelah tangannya menandakan bahwa dirinya keluar sebagai pemenang.


Jol segera menyeringai menyambut Namora yang telah turun meninggalkan arena sambil berkata. "Woy beruang kutub! Begitu dong. Aku sangat terhibur," katanya sambil menepuk dan merangkul pundak Namora.


Hening! Tidak ada yang bersuara. Mereka seperti tidak percaya bahwa Namora, yang mereka anggap sebagai anak bawang dalam turnamen kali ini ternyata mampu menjadi kuda hitam. Hal ini tidak terkecuali dengan para guru dari SMA negeri Tunas Bangsa yang tidak menaruh harapan sedikitpun kepada Namora.


Dari semua orang yang ada di ruangan tersebut, hanya ada dua orang saja yang tidak merasa heran dengan kemampuan Namora. Yang pertama adalah Jol, dan yang kedua adalah Diaz. Ini karena, sehari sebelumnya, Namora dan Jol telah mendatangi Dojo kampung baru, dan membuat kekacauan di sana.


Mata Diaz saat ini mengandung hawa pembunuh yang sangat mengerikan terhadap Namora. Dia segera meraba ke arah sabuk hitam yang dia kenakan, kemudian tersenyum sinis ketika dia memastikan bahwa sesuatu yang dia persiapkan masih berada di balik ikat pinggangnya tersebut.


Sementara itu, Bu Maudi yang dari kemarin tidak berharap banyak kepada Namora segera merapatkan kursinya ke arah Pak Bakri, sambil berbisik. "Pak. Sepertinya kita harus menjilat kembali ludah yang telah kita semburkan!"

__ADS_1


Pak Bakri menatap ke arah Bu Maudi, kemudian tersenyum. Terlihat jelas diwajahnya, bahwa dirinya juga sangat malu ketika ini.


Belum ada beberapa jam yang lalu meragukan kemampuan Namora. Dia juga bahkan dihina oleh guru dari sekolah yang lain. Dia merasa sangat malu, dan berniat untuk menghukum Namora setelah acara ini.


Tadinya dia berencana, setelah turnamen ini selesai diselenggarakan dan SMA negeri Tunas Bangsa mendapatkan hasil yang memalukan, maka dia sendiri yang akan meminta agar Namora segera dikeluarkan dari sekolah. Akan tetapi, dari dua pertandingan tadi, dia terpaksa harus mundur satu langkah dan harus mengakui bahwa Namora memang memiliki kemampuan. Namora jelas diluar ekspektasinya.


Tadinya, dia mungkin menyangka bahwa mereka akan pulang lebih awal ke kota Batu, dan akan menjadi bahan tertawaan.


"Ya. Aku harus memberikan apresiasi kepada anak itu. Aku tidak lagi mengharapkan kemenangan yang lain, atau mempertahankan kejuaraan. Bisa memasuki babak enam belas besar pun sudah bagus. Dengan begini, kita bisa pulang dengan kepala terangkat,"


"Sepertinya tidak begitu pak. Anda adalah guru olahraga. Pasti bisa menilai sendiri kemampuan Namora," balas Bu Maudi dengan raut wajah meminta supaya pak Bakri dapat memahami maksudnya.


"Maksud, Bu Maudi?"


Pak Bakri termenung sesaat sebelum mengangkat kembali kepalanya, lalu menatap lurus ke arah Bu Maudi. Ada senyum di bibirnya.


"Aku mengerti sekarang apa yang ibu Maudi maksudkan. Namora sama sekali tidak maksimal. Dia hanya menggunakan 25-30% tenaga yang dia miliki," Pak Bakri menatap Bu Maudi dengan raut wajah tegang.


Bu Maudi mengangguk. Dia sebenarnya tau bahwa Namora tidak bersungguh-sungguh. Walaupun seorang wanita, akan tetapi dulunya dia adalah master taekwondo. Dia tentu tidak buta dengan hal seperti ini.


Pak Bakri mengepalkan tangannya, kemudian menghempaskan tepat pada pahanya.


"Berarti anak itu sudah Pro. Bertindak seperti seekor ayam sayur yang ingin memangsa seekor musang. Aku tertipu. Bagaimana aku tidak menyadari bahwa di sekolah kita ada petarung yang handal selain Kenza?"


"Itulah sebenarnya mengapa aku bilang, kita sepertinya harus menjilat kembali ludah yang terjatuh?!" Tegas Bu Maudi.


Setelah berpikir sesaat, Pak Bakri segera berdiri, kemudian dia melangkah menghampiri kursi para peserta turnamen. Tujuannya adalah untuk menghampiri Namora dan Jol yang saat ini seperti sedang berdiskusi.


"Mora. Selamat atas kemenangan yang ke dua ini. Saya, sebagai seorang guru olahraga, sangat mengapresiasi usaha mu. Jangan pikirkan menang atau kalah! Yang terpenting adalah, lakukan sebaik mungkin!"


Namora bangkit berdiri, menyalami tangan pak Bakri, kemudian menciumnya.


"Saya menurut!" Jawab Namora singkat.


Pak Bakri mengangguk pelan. Dia kemudian mengusap kepala Namora, tersenyum lalu segera kembali ke kursinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2