
Mobil Mercedes Benz S-class yang penyok di bagian depannya itu berhenti tepat di depan rumah sakit swasta di kota Batu.
Dari dalam, Kenza yang ditemani oleh Namora bergegas memasuki rumah sakit tersebut.
Di dalam, dia melihat seorang dokter seperti sedang menunggu dirinya. Ketika melihat ini, perasaan Kenza langsung tidak karuan.
"Selamat malam Pak dokter!" Sapa Kenza kepada sang Dokter. Dia tau bahwa dokter ini lah yang memeriksa penyakit neneknya tadi sore.
"Kenza?" Tanya sang dokter menatap lurus ke arah pemuda itu.
"Benar pak. Saya Kenza. Dan ini adalah sahabat saya!" Kata Kenza menunjuk ke arah Namora. "Pak. Bagaimana dengan nenek saya?"
Mendengar pertanyaan dari Kenza, sang Dokter menarik nafas berat, lalu berkata. "Kenza. Kami sudah berusaha. Namun, penyakit nenek anda sudah terlalu parah. Hal ini diperburuk lagi karena usia. Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi...,"
"Tapi apa pak dokter?" Kenza mulai panik. Dia mendesak doker tersebut untuk menjelaskan.
"Maafkan kami. Sebagai manusia biasa, kami hanya berusaha. Sesungguhnya, hidup dan mati sudah ada yang menentukan. Dia adalah Tuhan yang maha kuasa. Saya harap, adik Kenza ini bisa tabah menghadapinya!"
Kata-kata dokter ini bagaimana palu Godam yang tepat menghantam di ulu hati Kenza.
Brugh..! Tanpa terasa, kantong plastik buah-buahan yang dia bawa tadi terjatuh dan berserakan di lantai. Air mata juga mengalir tanpa bisa dibendung lagi.
"Nenek...!" Kenza langsung berlari melewati koridor rumah sakit dan langsung mendorong pintu salah satu kamar.
Namora benar-benar mati rasa untuk saat ini.
"Ini mimpi. Ini mimpi..!" Kenza menepuk pipinya sendiri. Jelas terasa sakit. Dia lalu menggigit lengannya, dan rasa sakit juga dia rasakan.
"Bang!" Namora menegur Kenza.
__ADS_1
"Namora. Katakan kalau ini adalah mimpi!"
"Tidak. Aku harap kau bisa tabah!" Jawab Namora. Walaupun wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya jelas berkaca-kaca.
"Neneeeeek...!" Kenza meraung dengan keras. Dia merangkak mendekati pembaringan dan menggapai-gapai. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.
"Nenek. Kenza membawa uang. Kenza punya uang nek. Nenek bisa berobat. Mengapa tidak menunggu Kenza?"
Namora tidak tahan mendengar ratapan itu. Dia juga terduduk di lantai. Padahal, di sana ada kursi. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah, membiarkan Kenza melepaskan seluruh kesedihannya.
"Aku sudah selesai. Aku selesai!" Kata Kenza dengan putus asa. Selama ini, kekuatan dan motivasi hidupnya adalah karena sang nenek. Semenjak ayahnya meninggal ketika dia masih kecil, sang ibu menikah lagi. Sejak saat itu, dia dirawat oleh sang nenek. Namun, belum sempat dia membuat sang nenek bangga, neneknya malah berpulang. Bagaimana dia tidak merasa terpukul.
Melihat Kenza sudah sedikit mereda, Namora bangkit berdiri, lalu membantu kakak kelasnya itu untuk berdiri.
Kini Kenza dengan perlahan menarik kain putih yang menutupi sekujur tubuh neneknya.
Ketika dia melihat wajah orang yang telah membesarkannya, tangisnya kembali meledak. Keadaan itu berlangsung hampir setengah jam. Walaupun suaranya sudah serak, namun tangisnya masih ada. Hal ini membuat mata Kenza sudah membengkak.
"Mora. Aku harus mengurus jenazah nenek ku. Kalau kau mau pulang, kau boleh pulang sekarang. Aku tidak apa-apa!" Kenza menatap ke arah Namora. Dia sudah menumpahkan semua tangisannya. Kini tampaknya dia sudah rela dan mulai berdamai dengan kenyataan.
"Aku akan menelepon Paman ku. Aku akan menemanimu! Itu tidak akan menjadi masalah!" Jawab Namora. Dia segera keluar dari kamar, lalu melakukan panggilan telepon untuk mengatakan bahwa dia tidak pulang dan menemani sahabatnya do rumah sakit.
Awalnya Mirna terkejut. Dia menyangka bahwa Namora kenapa-napa. Tapi setelah dijelaskan, akhirnya Mirna merasa lega dan mengizinkan Namora untuk menemani sahabatnya itu.
*********
Keesokan harinya, tepat setelah selesai acara pemakaman bagi sang Nenek, Kenza tampak duduk di depan pintu rumahnya. Wajahnya kuyu dan tidak ada sinar kehidupan di mata pemuda itu.
Saat ini, beberapa teman SMA masih tinggal di sana untuk memberikan dukungan moral dan menghiburnya. Bagaimanapun, Kenza adalah pangeran kecil di SMA negeri Tunas Bangsa. Banyak gadis-gadis yang menaruh perhatian kepadanya. Ditambah lagi dengan musibah yang dia alami, maka mereka berusaha untuk menghibur dirinya.
__ADS_1
Namora, yang tidak tahan karena berulang kali menjadi korban hinaan akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia meminta kepada tukang ojek untuk mengantar dirinya ke rumah sakit mengambil mobil Ameng. Sekalian tukang ojek itu juga mengantarkan Namora kembali bersama dengan mobil dan diikuti oleh temannya dengan mengendarai sepeda motor dari belakang. Dengan ini, Namora terpaksa harus membayar dua tukang ojek sekaligus.
Sementara itu, ketika Kenza sedang duduk sendirian, dia tiba-tiba didatangi oleh seorang wanita paruh baya yang dia ketahui adalah tetangga yang sering membantu ketika neneknya sedang sakit. Di tangan wanita itu, terdapat kotak kayu kecil berukir.
Setelah berdiri di depan Namora, wanita paruh baya itu mengucapkan sepatah dua kata untuk menyemangati Kenza, kemudian menyerahkan kotak kayu tadi.
"Kenza. Mendiang nenek mu menitipkan ini kepada ibu untuk diberikan kepadamu. Ibu tidak tau apa isinya. Kau boleh melihatnya sendiri!" Kata wanita tetangganya itu sembari menyerahkan kotak kayu kecil yang ada ditangannya.
Kenza menatap wanita itu sebentar, sebelum dia menerima kotak kayu tersebut.
Setelah wanita itu pergi, dengan tangan bergetar, Kenza membuka kotak kayu yang ada ditangannya, lalu mengeluarkan secarik kertas. Sepertinya itu adalah surat wasiat.
"Kenza. Nenek mungkin tidak akan lama lagi di dunia ini. Penyakit nenek tidak bisa disembuhkan. Jadi, sebelum nenek meninggal, nenek meminta kepada orang yang nenek percaya untuk menuliskan surat ini kepadamu. Ini menyangkut tentang dirimu.
Kenza. Sebenarnya kau bukan anak dari ibu dan ayah mu. Dan nenek bukanlah nenek kandung mu. Nenek ingin mengatakan ini. Tapi nenek tidak tega.
Kenza, kau harus mencari siapa orang tua mu. Karena, sebenarnya kau hanya dititipkan oleh seseorang yang siapapun tidak mengetahui siapa dirinya. Ayah mu meninggal bukan karena sakit, tapi dibunuh oleh seseorang yang ingin merebut dirimu. Ibu mu berhasil melarikan diri dan memberikanmu kepada ku. Nenek tidak tau saat ini apakah ibu angkat mu masih hidup atau telah mati. Sebenarnya, menyekolahkanmu di Jakarta hanya kedok untuk menghilangkan jejak. Setelah semuanya mereda, kau nenek pinta untuk kembali dan melanjutkan pendidikan di kota Batu. Dan itu juga untuk menghilangkan jejak. Ketahuilah bahwa keberadaan mu terus diburu. Hingga pada akhirnya dalam sepuluh tahun terakhir, semuanya mereda begitu saja. Tapi kau harus mencari jati dirimu. Nenek tidak memiliki petunjuk selain sebuah cincin yang diberikan oleh lelaki yang memberikan dirimu kepada ayah mu. Nenek berharap semoga saja cincin ini dapat menjadi petunjuk bagimu untuk menemukan siapa kedua orang tua mu.
Akhir kata dari Nenek, jaga dirimu. Jangan terlalu menyesali kepergian nenek. Hidup, mati sudah ditentukan. Ingatlah untuk hidup dengan baik!"
Kenza perlahan melipat surat itu. Kemudian dia menatap lagi ke arah peti, dan dia melihat sebentuk cincin terbuat dari giok hitam berkepala serigala. Beberapa aksara huruf Sansekerta tergurat di sekeliling cincin tersebut.
Kenza bersusah payah menerjemahkan isi maksud dari tulisan Sansekerta itu melalui berbagai aplikasi penerjemah dan dapat dipastikan bahwa makna dari tulisan pada cincin tersebut adalah, 'Penguasa!'
(Untuk lebih jelasnya, Akan ada kisah tersendiri tentang Kenza ini)
Begitu selesai membaca surat tadi, Kenza langsung mengenakan cincin tersebut, dan kebetulan sangat pas pada jari jempolnya.
Dia bangkit berdiri, kemudian segera mengemasi barang-barang miliknya. Karena rumah ini adalah rumah sewaan dan harta mereka sudah habis dijual untuk membiayai pengobatan neneknya, maka setelah neneknya meninggal, Kenza sudah tidak punya apa-apa lagi untuk tetap menempati rumah ini. Apa lagi kenangannya bersama dengan sang nenek akan sangat sulit untuk dilupakan kalau dia tetap tinggal.
__ADS_1
Kini, Kenza akan pergi meninggalkan kota Batu ini dan entah kemana, dia sendiri juga tidak mengetahui. Yang jelas, dia akan melanglang buana mencari jati dirinya.
Bersambung...