
...Pasar Sabtu....
"Ayo ayo ayo. Di pilih di pilih di pilih...!"
"Sayang anak.., sayang anak. Mainan serba lima belas ribu rupiah! Ayo ayo ayo. Jangan pelit sama anak!"
"Ikan asin, ikan laut, ikan sungai, segala ikan ada. Ikan piranha pun ada. Masih segar mas, mbak, pak, Bu!"
Dari kejauhan lagi sudah terdengar suara para pedagang menjajakan jualannya.
Beraneka ragam jualan ada di sini.
"Ayo ayo ayo. Yang jauh mendekat, yang dekat merapat! Ini obat bukan sembarang obat, besok diminum, sekarang sembuh!" Terdengar suara lelaki paruh baya menjajakan obat yang dia jual dengan sangat bersemangat.
Sepanjang jalan, hampir tidak ada yang tidak berteriak menjajakan jualannya. Menyebutkan satu-persatu dagangan mereka dan juga kelebihannya untuk menarik perhatian pengunjung agar membeli.
"Mas. Berapa harga mainan ini?" Tanya seorang ibu-ibu kepada bapak-bapak penjual.
"Ini bu. Lima belas ribu satu, empat puluh lima ribu dapat dua," jawab si bapak membuat pelanggan mengernyitkan dahinya.
"Bukannya kalau beli dua harganya tiga puluh ribu rupiah? Bukannya dapat diskon, malah harganya makin naik,"
"Maaf Bu. Ini limited edition. Tidak boleh membeli lebih dari satu unit. Jika melebihi, nanti orang lain tidak kebagian. Ini mainan tidak lebih dari tiga puluh unit produksi nya per Minggu. Jadi, hanya bisa satu saja di jual untuk setiap seorang pembeli,"
"Huh. Dasar tukang kibul," kata si Ibu sambil berlalu meninggalkan si bapak penjual.
"Bu. Jadi gak nih?"
"Batal," jawab si ibu.
__ADS_1
Si penjual hanya melongo. Niatnya mau ngibulin pelanggan berakhir dengan kegagalan barangnya terjual.
Di satu sisi, tampak seorang ibu-ibu berusia sekitar 45 tahun sedang mengipasi barang dagangannya yang dirubungi lalat.
Ibu-ibu itu meletakkan barang dagangannya yang berupa sayur-sayuran dan cabai merah di atas tikar lusuh.
"Sayur Bu. Serba lima ribu," katanya dengan suara parau. Namun orang-orang hanya melirik sekilas tanpa berhenti untuk sekedar menawar.
Sang ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak menyerah dan terus menjajakan barang dagangannya.
Di ujung sana, tampak sekitar enam orang lelaki yang sepertinya adalah preman pasar, berjalan dengan lagak sok gagah sambil mengutip uang keamanan dari para pedagang.
Mereka itu adalah preman pasar Sabtu yang memungut biaya keamanan dari setiap pedagang. Tidak ada yang berani menentang mereka. Karena persatuan mereka sangat kuat. Dimulai dari terminal, sampai pasar, mereka selalu meminta uang perlindungan. Jika tidak, maka bersiaplah menerima amukan mereka. Sudah lama seperti itu terus-terusan.
Ketika tiba di pasar tersebut, mereka lalu berpencar membuat tiga kelompok, kemudian mulai meminta-minta kepada pedagang. Dan tidak jarang mereka menghancurkan barang dagangan ketika pedagang tidak dapat memberikan uang kepada mereka.
Kini, dua orang dari mereka tampak berhenti di depan ibu-ibu tadi, lalu menginjak beberapa tumpukan cabai dengan sepatu mereka sambil berteriak, "Bu Zainab. Mana uang keamanan mu?!"
"Aku tidak perduli. Jangan seperti Sabtu lalu. Kau tidak memberikan kami uang perlindungan. Jika Sabtu ini tidak ada setoran, maka jangan lagi berjualan di pasar Sabtu ini!" Kata lelaki itu memperingatkan.
"Tolong lah bang. Dagangannya masih belum laku. Bagaimana saya memberi uang keamanan sedangkan dagangan belum ada yang terjual. Jangankan buat ngasih Abang, buat beli makan saja saya tidak punya uang. Tolonglah bang. Nanti kalau ada yang laku, akan saya beri," sang ibu hampir menangis menjelaskan kepada lelaki itu. Dia berharap agar lelaki itu berbelas kasihan terhadap dirinya.
"Aku tidak mau tau. Pokoknya, ketika aku meminta, tau ada. Jika tidak, akan aku hancurkan barang dagangan mu. Sekarang sudah tidak ada lagi kata nanti atau besok. Berikan sekarang, atau jangan membuka lapak di sini!"
Si ibu semakin sedih ketika mendengar ancaman ini. Bagaimana dia bisa memberikan uang kepada mereka jika barang dagangannya masih belum ada yang laku.
Si ibu menjadi sangat sedih. Dulu, ketika anak laki-laki nya masih hidup, dia tidak pernah mengalami nasib seperti ini. Walaupun tidak kaya, tapi kebutuhan mereka sehari-hari tercukupi. Tapi sekarang, setelah anak lelakinya meninggal, kepahitan hidup mulai dia rasakan. Bahkan dia harus berjualan untuk menyambung hidup.
"Heh. Air matamu tidak berlaku di sini. Aku akan hitung sampai tiga. Jika kau tidak bayar, barang-barang mu ini akan aku hancurkan!" Kata lelaki itu yang mulai menyepak beberapa tumpukan sayuran hingga terbang berserakan.
__ADS_1
"Jangan bang. Tolong jangan!" Pinta si ibu sambil merangkak memegangi kaki lelaki itu.
"Jangan buang waktuku! Aku harus meminta kepada pedagang yang lain. Bayar atau pergi dari tempat ini. Jika tidak, kau akan aku pukul!"
"Tolong bang jangan!"
"Persetan!"
Bugh...!
Lelaki itu mendorong kakinya ke depan sehingga membuat si ibu jatuh terduduk.
Sementara itu, barang-barang dagangan si ibu sudah hancur berantakan. Beberapa buah tomat menggelinding di tanah. Terong, cabai, kangkung dan beberapa jenis sayuran yang lainnya sudah berserakan dan tidak mungkin lagi bisa dijual.
Ada ramai yang menyaksikan si ibu dianiaya. Namun, tidak satupun dari mereka yang memberikan pertolongan. Bagi mereka, itu bukan urusan mereka. Lebih baik tidak ikut campur, daripada nanti mereka susah sendiri. Bagaimanapun, orang-orang itu adalah preman pasar yang memiliki geng tersendiri. Berani ikut campur, maka yang lainnya akan datang dan turut membantu.
Pernah beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang berinisiatif untuk membela pedagang yang dianiaya. Tapi, apa yang didapatkan oleh pembela itu hanyalah tamparan, pukulan dan tendangan sehingga membuat lelaki yang ikut campur itu koma di rumah sakit. Karena itulah mengapa tidak ada lagi yang berani membela. Walaupun mereka melihat, mereka seolah-olah membutakan matanya demi menghindari masalah yang akan menimpa mereka.
"Itulah konsekwensinya jika tidak membayar uang keamanan. Kau bisa menjadi contoh yang baik bagi pedagang yang lain. Inilah contohnya jika berani tidak memberikan kami uang perlindungan," kata laki itu. Dia sengaja mengatakan itu dengan keras agar para pedagang yang lain mendengar. Dan benar saja. Begitu matanya menatap ke arah pedagang yang lain, para pedagang itu langsung mengalihkan perhatiannya. Bahkan ada yang pura-pura menundukkan kepala mereka.
"Biadab kalian ini. Apa kalian tidak punya ibu? Kalian lahir dari seorang perempuan. Tapi menganiaya aku yang mungkin seusia dengan ibu kalian. Benar-benar biadab. Bukan aku yang sampah. Kalian lah yang sampah. Sampah masyarakat!" Maki si ibu yang sudah kehilangan kesabaran. Siapa yang tidak marah jika barang dagangannya dihancurkan sedemikian rupa. Jangankan mencari untung, buat balik modal saja pun sudah tidak mungkin karena keadaannya yang sudah tidak layak lagi untuk di jual.
"Aku biadab katamu? Baik. Akan aku tunjukkan contoh seperti apa biadab itu!" Kata laki-laki itu sambil menjambak kerudung di ibu.
Si ibu memekik kesakitan karena cengkraman tangan lelaki itu bukan hanya menjambak kerudung si ibu. Tapi, rambut si ibu yang berada di dalam kerudung itupun ikut tertarik.
"Ini lah yang dikatakan biadab!" Kata lelaki itu sambil mengangkat tangannya untuk menampar wajah si ibu.
Si ibu ketakutan. Dia segera memejamkan matanya dan pasrah menerima tamparan itu. Namun, beberapa detik berlalu, tapi tamparan itu tak kunjung sampai. Akhirnya si ibu memberanikan membuka matanya. Dan kini si ibu melihat seorang pemuda dengan ditemani seorang lelaki yang dia kenal sedang mencengkeram erat tangan lelaki yang hendak menamparnya tadi hingga tangan lelaki itu mengambang tertahan di udara.
__ADS_1
Bersambung...