
Di bagian atap kantor besar Martins Group yang memiliki tujuh lantai itu, Namora berdiri mematung menatapi lalu lalang segala jenis kendaraan di bawahnya.
Dari raut wajahnya, ada kekesalan, kemarahan, dan terbebani. Dia tidak tau entah apa nanti hasil dari pertemuan yang akan berlangsung sebentar lagi.
Saat tadi dia datang ke kantor, dia hanya menemukan para staf saja. Sedangkan orang-orang yang menginginkan adanya pertemuan dengan dewan direksi, masih belum kelihatan batang hidungnya.
Namora berdiri dengan tegak. Sedangkan kedua tangannya dia letakkan di belakang punggungnya.
Tidak tau entah sudah berapa lama Namora bersikap seperti itu, sampai pada akhirnya suara langkah kaki berjalan menghampirinya.
"Apa mereka sudah tiba?" Tanya Namora tanpa menolehkan kepalanya ke belakang.
"CEO. Mereka sudah tiba. Hanya saja, saat ini beberapa staf sedang menyelesaikan beberapa materi untuk rapat kali ini," terdengar suara wanita menjawab dengan sopan.
"Thea. Tunggu aku di ruang rapat! Sepertinya, aku akan sangat merepotkan mu nanti,"
"Itu sudah tugas saya, Tuan!" Jawab wanita yang dipanggil oleh Namora dengan nama Thea itu.
Namora memberi isyarat agar wanita itu segera pergi. Lalu dia pun merapikan pakaiannya, rambutnya juga dia rapikan, setelah itu barulah dia berjalan dengan tenang menuju lift.
__ADS_1
Setelah tiba di ruang bawah, beberapa staf dengan hormat menyapa Namora. Hanya saja, sepertinya Namora mengabaikan mereka, dan terus berjalan melewati beberapa ruangan hingga dia tiba di pintu berukuran besar, kemudian mendorongnya hingga terbuka.
Namora memasuki ruangan yang luas dengan meja memanjang layaknya seperti ruangan sidang parlemen. Dia membolak-balik beberapa kertas dokumen yang terletak di atas meja tepat di bagian kursi ketua, kemudian membiarkan kertas tersebut begitu saja. Baginya, tujuan mereka kali ini adalah untuk menekan dirinya agar mundur dari jabatannya sebagai CEO, dan bukan untuk membahas kerangka kerja. Jadi, kertas-kertas ini sama sekali tidak berguna.
Namora memperhatikan Jas yang terletak di bagian sandaran kursi. Itu adalah jas milik ayahnya. Sambil mengenakan jas tersebut, Namora berjanji walau apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah membiarkan orang-orang ini mencapai tujuannya.
Beberapa menit telah berlalu, hingga pada akhirnya terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk!" Perintah Namora.
Seorang wanita memasuki ruangan sambil membawa laptop yang dia kempit di lipatan ketiaknya. Kemudian dia memberi hormat kepada Namora, lalu berdiri di samping pemuda itu.
"Hmmm. Mereka sepertinya memandang kecil kepadaku. Sama sekali tidak menghormati pemegang mayoritas saham, dan juga CEO. Apakah sudah begini bobroknya Martins Group?" Pikir Namora dalam hati. Dia lalu mengangguk di depan Thea tanpa berkata apa-apa lagi.
Lima menit berselang, beberapa orang berbadan gemuk dan berperut buncit memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Mereka langsung menuju ke arah meja, meletakkan koper bawaan mereka di atas, kemudian tanpa menoleh langsung duduk di kursi mereka masing-masing. Sedangkan saat ini, Namora hanya melihat tindakan mereka ini dengan wajah dingin.
Namora melirik ke arah mereka satu persatu, kemudian menghela nafas berat. Dalam hatinya dia menetapkan bahwa hari ini adalah hari di mana dia akan melakukan pemutihan dalam perusahaan. Mereka ini baginya adalah duri yang siap membusuk kan setiap sendi-sendi dalam menjalankan roda perusahaan.
"Ehem..," salah seorang dari lelaki yang masuk tadi berdehem. Dia adalah pak Anto. Salah satu pemegang saham di Martins Group.
__ADS_1
Selesai berdehem, dia menyapukan pandangannya ke semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Seakan-akan seperti berpikir sejenak, barulah dia membuka suara. "Apakah semuanya sudah hadir?"
Namora tidak menjawab. Sebaliknya, Thea yang berdiri di sana langsung menjawab pertanyaan dari Pak Anto barusan. "Pak Anto. Saya baru diberitahukan bahwa Pak Burhan, selaku moderator dari pertemuan kita ini sedang dalam perjalanan. Mungkin akan tiba dalam beberapa menit lagi,"
"Hmmm. Baiklah. Tapi, bagaimana Pak Burhan bisa terlambat seperti ini. Jika tidak menghormati dirinya sebagai orang tengah, sekaligus pemegang kuasa hukum di perusahaan ini, sudah lama aku tidak akan menggunakan jasa orang ini. Ada ratusan firma hukum di negara ini. Apa yang kurang?"
"Anda berani?" Tanya Namora sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Pak Anto tadi. Baginya, Pak Burhan adalah pengacara yang langsung ditunjuk oleh mendiang kakek angkatnya yaitu Martin. Jangankan Pak Anto yang hanya memiliki 5% saham. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak berani terlalu lancang dihadapan pak Burhan. Ini karena, sejak masih sangat belia, pak Burhan sudah menjadi anggota dalam organisasi kucing hitam. Bahkan, Martin lah yang membiayai sekolahnya hingga dia bisa mendirikan firma hukumnya sendiri.
Mendengar teguran dari Namora, bukannya meralat ucapannya tadi, justru pak Anto malah mencibir. "CEO. Daripada mempersoalkan ucapan ku, sebaliknya kau persoalkan sendiri dirimu. Apakah kau sudah cukup mampu untuk menyandang jabatan CEO itu atau belum. Karena menurutku, kau sama sekali tidak kompeten,"
"Benar. Belum lagi setengah tahun menjabat sebagai pemangku CEO, anda telah menciptakan ketidak harmonisan diantara staf, pegang saham, mitra bisnis dan banyak lagi. Hari pertama saja anda sudah memecat banyak pegawai. Hari ke dua, anda mempekerjakan para preman di kawasan konstruksi. Kemudian, anda mengumumkan menginginkan beberapa proyek baru dan memaksa kami untuk memenangkan tender tersebut walaupun tidak mendapatkan keuntungan. Lalu, dua hari yang lalu anda melakukan konferensi pers yang menyatakan permusuhan anda terhadap Agro finansial Group. Anda tau, kami ini adalah pemegang saham. Kami ini investor. Jika tidak menghasilkan dividen, untuk apa kami menginvestasikan uang ke dalam proyek?" Kata yang lainnya pula.
Wajah Namora berubah warna beberapa kali mendengar perkataan mereka yang sangat meremehkan.
Walaupun wajah itu masih kaku, akan tetapi sesekali perubahan tetap kentara. Karena beberapa waktu yang lalu wajahnya yang memang memiliki kulit putih menjadi merah seperti udang yang terbakar. Sesekali memucat seperti mayat. Sulit menggambarkan apa arti dari perubahan warna wajah Namora ini. Apakah dia menahan marah atau memang dia ketakutan. Tapi yang jelas, perubahan pada wajah Namora ini ditafsirkan oleh mereka sebagai bentuk dari ekspresi ketakutan. Makka dari itu, mereka semakin bersemangat menekan dan memojokkan pemuda itu. Ini mereka lakukan agar ketika pak Burhan tiba di ruangan rapat, maka mereka telah selesai menekan Namora. Hasilnya adalah, kemungkinan Namora akan tersingkir dari jabatannya sebagai CEO, kemudian mereka akan membuat kesepakatan bersama untuk mengangkat CEO yang baru dan akan mereka jadikan sebagai boneka. Biarkan Namora hanya sebagai pemegang saham mayoritas dengan keuntungan besar, tapi kemudi perusahaan mereka yang mengarahkan. Ketika Namora kelak membantah keputusan yang mereka ambil, maka mereka bersama-sama akan memveto keputusan Namora tersebut secara keroyok. Licik bukan?
Semua orang bisa berencana, akan tetapi, hasil akhir lah yang berbicara
Bersambung...
__ADS_1