
Ekspresi wajah mereka yang sekilas ini tidak luput dari perhatian Namora.
Dia tau bahwa dirinya tidak begitu keras dalam menarik perhatian mereka. Tapi itu tidak buruk. Melakukannya secara perlahan adalah hal yang harus dia lakukan.
"Baiklah. Sudahi dalam menyalahkan. Karena kalian semua tidak akan berkomentar dan hanya menunggu saja, maka disini aku tegaskan, bahwa aku menginginkan ketiga proyek ini, walau apapun yang terjadi," kata Namora yang sudah hilang rasa sopannya.
Namora menatap ke arah sekretaris, kemudian memberi perintah. "Suruh kepala departemen keuangan memasuki ruangan ini!"
Sekretaris mengangguk, kemudian segera melangkah meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat.
Tiga menit kemudian, sekretaris itu kembali memasuki ruangan diikuti seorang lelaki berkepala separuh botak sambil membawa beberapa dokumen ditangannya.
"COE, anda memanggil saya?" Tanya lelaki itu.
"Duduk!" Kata Namora sambil mempersilahkan.
Lelaki itu bingung ketika Namora meminta dirinya untuk duduk, padahal tidak ada kursi yang kosong.
"Apakah bapak yang menjabat sebagai ketua departemen keuangan?" Tanya Namora.
"Benar, CEO," jawab lelaki itu cepat.
__ADS_1
"Menurut anda, apakah ada diantara delapan kursi itu yang harus dikosongkan?"
"Ini..?!" Lelaki itu mendadak berkeringat. Namora ini terlalu blak-blakan. Bukankah delapan kursi ini adalah mereka yang memiliki saham di perusahaan yang saat ini mendudukinya.
"Baik. Jika sekarang anda masih ragu, lain kali akan ada kursi yang kosong untuk anda duduki. Sekarang, aku ingin agar anda membentangkan keuangan perusahaan. Aku ingin menghitung berapa budget yang bisa dikeluarkan oleh perusahaan untuk memenangkan proyek ini!"
"Boss. Jika anda membutuhkan kursi, saya akan membawakannya ke ruangan ini," sekretaris menawarkan untuk mengambilkan kursi agar kepala departemen keuangan itu bisa duduk.
"Tidak dibutuhkan. Aku bahkan ingin mengosongkan beberapa kursi," jawab Namora singkat. Singkat, tapi pesannya cukup jelas.
Kepala departemen keuangan mulai membentangkan kondisi keuangan di perusahaan dengan hati-hati. Dia tidak ingin melewatkan sekecil apapun kepada Namora. Karena dia tau temperamen anak ini dengan jelas. Jika tidak ingin dicekik oleh Namora, maka dia harus jelas dalam pekerjaannya.
Namora mendengarkan dengan seksama. Kini dia tau seberapa besar dana yang akan dia alokasikan untuk memenangkan tender proyek tersebut.
Aku mendengar bahwa Agro finansial Group memasang harga yang sangat tinggi demi untuk memenangkan proyek ini. Martins Group tidak boleh kalah. Aku bahkan ingin melampaui budget yang mereka persiapkan. Keuntungan bagiku tidak terlalu penting. Sebaliknya, aku hanya menginginkan agar mereka semua tau bahwa Martins Group bukan jagoan kandang. Kita mampu melebarkan sayap kita keluar lima kota. Aku tidak perduli walaupun harus menghabiskan anggaran dalam perusahaan," tegas Namora dengan lantang.
Bagaikan petir di siang bolong, ketika mendengar ketegasan dari Namora ini, semua wajah yang tadinya terlihat tidak tertarik dan uring-uringan langsung seperti tersengat dan menatap tegang kearah Namora.
Namora hanya menginginkan agar proyek itu dimenangkan tanpa memikirkan keuntungan. Dia bahkan rela menghabiskan anggaran dalam perusahaan hanya untuk pembuktian bahwa Martins Group bukan jagoan kandang. Ini jelas bertentangan dengan keinginan mereka. Bagaimanapun, mereka adalah pemegang saham di perusahaan ini. Tidak ada diantara mereka yang tidak ingin mendapatkan keuntungan. Mereka tidak cukup bodoh hanya untuk sebuah pengakuan, mereka rela melepaskan keuntungan yang dapat mengisi pundi-pundi uang kedalam kantong mereka.
Beberapa wajah mulai tidak senang. Sepertinya protes besar-besaran akan segera terjadi.
__ADS_1
Namora tersenyum didalam hatinya begitu melihat ekspresi mereka.
"Umpan telah dimakan," katanya dalam hati.
"COE, apakah saya boleh mengajukan beberapa pertanyaan atau memberikan saran?" Tanya salah satu pemegang saham kepada Namora.
"Dipersilahkan!" Jawab Namora ringan.
"CEO. Apakah ide yang anda kemukakan itu tidak berdampak buruk pada perusahaan? Kita semua tau bahwa perusahaan saat ini tidak dalam keadaan prima untuk bersaing dengan nama-nama besar lainnya. Terlebih lagi, anda rela mengalokasikan seluruh dana dalam perusahaan hanya untuk memenangkan proyek tersebut. Jika tanpa keuntungan, bagaimana perusahaan tetap beroperasi? Bagaimana perusahaan akan merotasi keluar masuknya keuangan yang tentunya tidak sedikit. Belum lagi perusahaan juga harus membayar gaji para pekerja, kemudian perusahaan juga harus menyewa armada, alat berat, bahan bakar serta bahan material. Ok, katakanlah bahwa perusahaan mampu melakukan itu. Lalu.., jika perusahaan tidak mendapatkan keuntungan, lalu apa lagi yang tersisa untuk kita? Apakah saham yang kami miliki didalam perusahaan ini hanya seperti cangkang kosong tanpa keuntungan?"
"Benar, CEO. Kami juga memiliki pemikiran seperti itu," kata seorang lagi menguatkan pendapat rekannya.
"Tolong dipikirkan lagi, CEO!" Kata yang lainnya pula.
"Pantas saja Martins Group seperti katak dibawah tempurung. Ternyata seperti inilah mental-mental para elite di perusahaan ini. Aku heran dengan cara berpikir kalian. Apakah cara pemikiran kalian yang sudah mentok, atau cara berpikir ku yang terlalu maju. Apa kalian tau seberapa pentingnya peran nama dalam perusahaan? Aku menganggap bahwa ketika aku mengambil alih perusahaan ini dari ayah ku, hanya satu yang terlintas di benak ku. Yaitu, memulai dari awal. Kalian tau betapa sulitnya untuk mendapatkan kepercayaan serta mempertahankan kepercayaan tersebut. Maka dari itulah kita harus mengukir nama terlebih dahulu. Penting untuk untung, akan tetapi, aku memikirkan keuntungan dalam jangka panjang," jawab Namora.
"Tolong CEO untuk memikirkannya lagi. Kita tidak bisa bersaing dengan Agro finansial Group. Mereka sangat kuat,"
"Siapa bilang kita tidak bisa bersaing dengan mereka? Aku kesini justru ingin mengatakan kepada kalian bahwa aku menginginkan peperangan terbuka dengan mereka," kata Namora tegas. Walaupun wajahnya tanpa ekspresi, tapi nada suara itu menggelegar seperti petir di siang bolong.
"Kami, para pemegang saham jelas memveto keputusan yang anda ambil. Kami tidak setuju dengan ide anda untuk bersaing dengan Agro finansial Group. Mereka jelas akan mempersulit kita. Sebaiknya tolong dipikirkan lagi!" Kata mereka yang mulai jelas menentang keputusan yang diambil oleh Namora. Mereka bahkan dengan jelas memveto keputusan tersebut. Bagi mereka, walaupun Namora mengendalikan 70% saham di perusahaan, akan tetapi Namora ini masih anak-anak dibandingkan dengan mereka yang sudah kenyang makan asam garam dalam kancah bisnis. Mereka memang tidak memiliki jumlah saham yang besar. Akan tetapi mereka tidak sendiri. Setidaknya ada delapan orang diantara mereka. Dan dari delapan orang pemegang saham itu, tujuh diantaranya pasti akan menentang keputusan yang diambil oleh Namora. Namora pasti tidak akan berkutik jika dirinya ditekan oleh mereka. Dan mereka percaya diri bahwa mereka memang memiliki kartu truf untuk menekan Namora.
__ADS_1
Bersambung...