Namora

Namora
Diaz, over dosis


__ADS_3

Partai Final


Setelah mengarungi babak penyisihan, kemudian ke babak enam belas besar, delapan besar, dan babak semifinal, kini Namora sampai juga di babak final.


Namora, yang tadinya dianggap sebagai Underdog karena tidak memiliki rekam jejak sebagai pesilat dan sangat disepelekan, siapa sangka bisa melangkah sejauh ini? Dan popularitas Namora langsung meroket seiring dengan pencapaian yang dia capai pada turnamen edisi tahun ini.


Sudah banyak gadis-gadis dari sekolah lain mengidolakannya. Bahkan, mereka tidak sungkan lagi menyerbu Namora untuk sekadar meminta berfoto bersama, atau tanpa malu-malu meminta informasi kontak miliknya.


Keadaan berbanding terbalik dengan Diaz. Walaupun dia juga sudah dipastikan berada di Final untuk menghadapi Namora, akan tetapi dia sama sekali diabaikan oleh mereka. Tidak ada yang tau pasti apa alasannya. Mungkin dia terlihat sombong, atau kalah ganteng dengan Namora.


Diaz hanya bisa mengepalkan tinjunya erat-erat sampai suara tulang jari jemarinya berkeretekan menahan kegeraman yang bagaikan sekam seakan-akan pada kapan saja biasa terbakar.


Jol, yang saat ini melihat Namora sudah kewalahan menghadapi fans gadis yang terkesan bar-bar itu segera menarik Namora untuk kembali ke kursinya dan meminta kepada para gadis itu agar bersabar karena untuk mencapai mahkota pada turnamen ini, masih ada satu pertandingan lagi.


Namora yang kembali ke kursinya setelah dikerumuni oleh para siswi segera menarik nafas dalam-dalam. Dia seperti terbebas dari beban yang menghimpit dadanya. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah, tiga kubu saat ini sedang mengatur rencana. Di kubu pertama, ada Jhonroy yang ingin membinasakan Namora. Di kubu ke dua, ada Ameng yang terus memantau pergerakan lawan dan mengabarkan kepada Tigor dan Rio. Di kubu ke tiga, ada Jerry William yang mengatur rencana lebih besar lagi. Bahkan, rencana yang diatur oleh Jerry William ini sama sekali tidak bisa dicerna oleh Namora. Bisa dikatakan, otak Namora tidak sampai pada level itu untuk mencernanya.


Di Dojo kampung baru sendiri, Jhonroy, Sensei dan Takimura seorang pembunuh bayaran masih setia menunggu kabar dari anak buah yang mereka kirim ke Dolok ginjang. Sedangkan Teja saat ini sedang dalam perjalanan untuk datang ke Dojo kampung baru guna memperhalus rencana yang mereka persiapkan untuk membunuh Namora.


Ting..! Ting..! Ting..! Suara bel terdengar nyaring menandakan bahwa peserta akhir dari turnamen ini harus segera bersiap-siap.


Namora memperhatikan jam pada handphone miliknya yang saat ini tepat pada angka 7 menjelang malam.


Dia kemudian melirik ke arah Diaz dengan sudut matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum jelek, kemudian berkata dalam hati. "Minum lah lebih banyak! Paling lama 15 menit, kau akan meregang nyawa," katanya dalam hati, kemudian bangkit berdiri.


Kedua anak muda itu saling melempar pandangan sengit sebelum sama-sama mengayunkan langkah menapaki anak tangga menuju arena, selangkah demi selangkah.


Ketika kedua orang itu saling berhadapan dan hanya terpisah oleh wasit, entah mengapa kecurigaan Namora semakin bertambah.


Wasit, yang saat ini memimpin jalannya pertandingan, sepertinya tidak memberikan peringatan apa-apa. Kemudian, sembilan orang dewan juri pun sepertinya hanya tertunduk dan tampak mengabaikan orang-orang yang berada di dalam ring.


"Ternyata apa yang dikatakan Oleh Merisda benar. Ardi telah menyuap mereka," kata Namora kembali dalam hatinya.


Kini, tinggal hitungan detik saja bagi kedua anak muda itu untuk saling adu jotos.


Ting! Ting! Ting...! Bel kembali berdenting, dan wasit pun segera mundur ke samping bagi mempersilahkan kepada mereka untuk saling melakukan serangan.


Bugh..! Sebuah tendangan keras hinggap pada bagian perut Namora, membuat tubuhnya seketika terlempar ke sudut ring.

__ADS_1


Rasa mual mulai menguasai perutnya yang terkena tendangan tadi.


"Hmmm. Obatnya sudah bekerja," batin Namora dalam hati. Walaupun dia tidak pernah menyentuh obat yang berhubungan dengan Doping, tapi informasi tentang cara kerja, serta efek sampingnya sudah dia ketahui dari internet. Makanya dia dapat menduga bahwa dosis pada obat yang ditelan oleh Diaz sudah bekerja pada pembuluh darahnya.


"Aku akan membunuhmu, Namora!" Desis Diaz lalu mengejar.


Namora meluruskan tubuhnya, kemudian bersiap untuk menghindari serangan dari Diaz.


Wuzzz...


Werrrr....!


Setiap pukulan maupun tendangan dari Diaz mengandung suara angin yang bersiur. Ini menandakan bahwa Diaz telah mengeluarkan seratus persen kekuatan yang dia miliki untuk mencelakai Namora.


Namora menatap tajam ke arah serangan yang dilakukan oleh Diaz, kemudian dia mengegoskan kepalanya ke samping. Hal ini berhasil menghindari tinju Diaz yang lewat beberapa inci saja dari daun telinganya.


Tidak berhenti sampai di situ, Diaz segera memberikan tendangan lurus ke arah pinggang Namora. Hal ini tentu saja membuat Namora harus jungkir balik menghindar.


"Apakah kau hanya menghindar saja, Namora? Lawan aku! Jangan seperti banci!" Geram Diaz yang terus mengejar ke arah Namora.


Sekuat tenaga, Namora berusaha agar tidak terpancing emosi. Kemudian dia menyelinap ke samping dari bawah lengan Diaz yang baru saja mengirim pukulan.


Ada banyak kesempatan untuk menjatuhkan Diaz. Akan tetapi, Namora sama sekali tidak berinisiatif untuk melakukan serangan. Alih-alih menyerang, Namora malah menghindar dengan gerakan-gerakan lincahnya.


"Lawan aku bangsat!" Maki Diaz kembali mengejar.


Namora tersenyum mengejek, kemudian berkata. "Kekuatan dari pil ya? Apa kau tidak malu?" Ejek Namora.


Ejekan dari Namora ini semakin membuat Diaz kalap. Dia segera mengirim pukulan tangan kirinya ke arah dada Namora. Namun, sebum pukulan itu sampai, dia merubah serangannya.


"Sial. Aku tertipu," kata Namora dalam hati, kemudian dia sekuat tenaga menghindar, namun terlambat.


Serangan yang dilancarkan oleh Diaz tadi memang serangan tipu. Karena, ketika dia mengirim pukulan dengan tangan kiri, Namora refleks menghindari serangan itu. Tapi, baru setengah jalan, tangan itu di tarik, kemudian tangan kanan Diaz menampar bagian belakang kepala Namora.


Plak..!


Suara pukulan yang membuat mata Namora menjadi berkunang-kunang itu memenuhi aula besar tersebut.

__ADS_1


Banyak orang yang berteriak ke arah dewan juri yang mengatakan bahwa Diaz curang karena menyerang bagian yang dilarang dalam pertarungan itu. Akan tetapi, sepertinya wasit dan dewan juri tidak perduli walau sedikitpun.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Namora. Dia memberikan kode ke arah belakang kepalanya. Tapi, kekecewaan yang dia dapat karena wasit tidak menggubris sedikitpun protes Namora. Bahkan, satu tendangan lagi membuat Namora terlempar ke sisi ring.


"Lawan Namora!"


"Hancurkan dia!"


"Mengapa orang curang itu begitu tak tahu malu?"


"Jika takut kalah, jangan bertanding. Memang pun tak berguna karena kemenangan yang kau peroleh adalah hasil dari kecurangan!"


Suara ejekan, dan penghinaan pun bergema. Mendadak Diaz saat ini menjadi musuh publik. Akan tetapi, Diaz sepertinya tidak perduli. Dia bahkan lebih agresif lagi.


"Seharusnya sudah waktunya," kata Namora dalam hati. Namun karena terlalu berpikir, satu tendangan keras dari kaki Diaz menghantam pinggulnya membuat Namora jatuh menyamping di kanvas.


Melihat ini, Diaz segera mengejar dan mengangkat sebelah kakinya untuk menginjak kepala Namora.


"Sialan mati aku kalau begini terus," kata Namora yang akan segera mengambil ancang-ancang untuk menahan telapak kaki Diaz yang akan menginjaknya.


"Namora. Woy. Mengapa kau menjadi bodoh?" Teriak Jol dari bawah panggung.


Mana ada waktu lagi bagi Namora untuk mendengarkan perkataan dari Jol. Dia segera mempersiapkan tangannya untuk menangkis kaki Diaz. Akan tetapi, semua mata kini terbelalak menatap ke arah Diaz yang mendadak mengejang sambil memegangi bagian dadanya.


"Uhuk..!" Kata Diaz seolah-olah sedang terbatuk-batuk.


Diaz saat ini mundur beberapa langkah menuju tali ring, kemudian bersandar di sana untuk menstabilkan posisinya berdiri. Semua orang mendelik melihat bahwa kini mulut Diaz telah berbusa.


Tidak lebih dari sepuluh detik kemudian, suara bergedebug terdengar karena Diaz sudah ambruk di lantai ring dengan sekujur tubuh menegang.


Keadaan menjadi gempar seketika. Namora, yang sudah memprediksi hal ini juga tak kalah terkejutnya. Dia segera melangkah menghampiri tubuh Diaz yang saat ini sedang diperiksa oleh wasit.


Sepasukan orang-orang berbaju seragam putih kini berlari menuju ring dengan tandu di tangan mereka.


Mereka melakukan tindakan penyelamatan sebelum membawa Diaz keluar dari Ring. Hanya saja, Diaz sudah tidak bernyawa lagi ketika mereka baru saja turun dari panggung.


"Selesai. Semuanya sudah selesai," kata Namora dengan lemas keluar dari ring menghampiri Jol yang terbengong di samping ring.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2