
Setelah Namora pergi meninggalkan tempat acara yang diadakan oleh Merisda berlangsung, beberapa orang mulai bernapas lega. Ada rasa kepuasan tersendiri bagi Dhani, Rendra dan yang lainnya. Tapi itu hanya sebentar saja. Kini, perhatian mereka terpusat pada sebuah kotak yang ditinggalkan oleh Namora tadi.
"Mer. Kado itu! Apakah kau tidak penasaran hadiah apa yang diberikan oleh Namora?" Tanya Ernita sembari menunjuk kotak kado yang di sampul rapi. Bahkan, ada pita cantik yang diikat di sana serta amplop kecil yang turut terselip dengan beberapa kata yang ditulis diatasnya.
"Hahaha. Hadiah apa yang bisa diberikan oleh seorang anak narapidana?" Tanya Diaz dengan tawa mengejek.
Mendengar ini, Jericho yang dari tadi merasa sangat bersalah terhadap Namora segera menyela. "Jangan lihat apa hadiahnya. Tapi lihatlah keikhlasan. Dia bahkan mengemas kado ini dengan rapi. Ada pita berwarna pink. Karena dia tau kalau Merisda sangat menyukai warna pink!"
"Alah. Kau kan temannya. Sudah pasti kau akan membela. Siapa tau kalau itu hanyalah kain perca," giliran Rendra pula yang menghina.
"Tidak ada salahnya kan? Buka aja! Kami mau melihat hadiah apa yang diberikan oleh Namora ini?!"
Karena terus-menerus didesak, akhirnya Merisda pun terpaksa menuruti rasa penasaran di hati teman-temannya.
Dengan acuh, Merisda menarik sampul kado itu dengan paksa, kemudian menyingkirkan kertas yang ada amplopnya. Bahkan amplop kecil itu jatuh ke tanah.
Semua mata kini memperhatikan dengan cibiran. Mereka sudah mengira bahwa itu pasti bukan sesuatu yang istimewa.
Merisda kini pelan-pelan membuka kotak yang dibawa oleh Namora tadi. Begitu kotak tadi di buka, kini matanya terbelalak melihat bahwa isi yang terdapat di dalam kotak tadi adalah sebuah boneka dolphin.
Merisda sungguh sangat terkejut. Bahkan, dia sempat menutupi mulutnya dengan tangan.
Perlahan, Merisda mengeluarkan boneka dolphin tersebut dari kotaknya. Setelah itu, di bagian bawahnya terlampir buku kuitansi pembayaran beserta surat-surat yang menandakan bahwa boneka dolphin itu adalah boneka dolphin yang asli. Di sana juga ada tandatangan dan stempel Suzuya Mall kota Batu.
Hati Merisda kini benar-benar acakadul. Dia tidak menyangka bahwa Namora terlalu memiliki niat untuk memberikan boneka dolphin yang selama ini dia impi-impikan.
"Ini?" Merisda kembali menutup mulutnya. Bahkan, Arda dan Ardi yang berada disampingnya juga sangat penasaran. Mereka lalu bergantian mengambil beberapa lembar surat yang terdapat di kotak kado tersebut, lalu membacanya.
"Boneka ini seharga dua ratus lima puluh juta rupiah?"
__ADS_1
"Hah?" Semua mata terbelalak ketika ini.
Seolah-olah tersadar dari pingsan, Merisda segera menunduk mencari-cari sesuatu. Setelah agak lama, kini dia menemukan amplop kecil tadi yang sudah kotor terinjak-injak kaki.
Dengan tangan bergetar, Merisda membuka amplop kecil itu, lalu mengeluarkan secarik kertas bunga dengan aroma yang sangat menenangkan.
"Dear Merisda.
Selamat ulang tahun. Semoga dengan bertambahnya usia, maka kamu akan semakin matang dalam berpikir.
Maaf karena selama ini telah membuatmu merasa terganggu dengan kehadiran ku. Aku tau kau tidak menyukainya. Itu bukanlah salah mu. Kamu tidak salah. Aku lah yang tidak tau diri. Seharusnya aku bercermin. Manalah mungkin seekor Gagak mengharapkan kasih sayang dari Phoenix.
Oh ya.., sebagai permohonan maaf dariku karena tidak bisa langsung membelikan boneka dolphin kesukaan mu ketika itu, maka aku ingin menebus kesalahanku. Mungkin inilah waktunya. Di hari ulangtahun mu ini, semoga hadiah dariku ini bisa mengobati kekecewaan mu.
Aku tidak mengharapkan kau mau menerimaku seperti dulu. Tidak ada yang perlu disalahkan.
Sekali lagi, selamat ulang tahun untuk mu.
Entah karena merasa menyesal, Merisda tiba-tiba berlari ke arah gerbang pagar rumahnya, dan berlari ke tengah jalan. Dia berharap dapat menemukan Namora, lalu menghentikan langkahnya agar tidak pergi. Dia ingin meminta maaf, atau sekedar berterimakasih. Tapi, tepat ketika dia tiba di sana, dia melihat Namora baru saja masuk ke dalam mobil hitam. Terlihat bahwa dia sangat dihormati. Karena, ketika itu Merisda melihat seorang lelaki terburu-buru membukakan pintu mobil untuk Namora. Cara laki-laki tadi menunjukkan bahwa Namora ini bukan biasa-biasa.
Merisda berteriak sekuat tenaganya memanggil nama Namora.
Namora hanya bisa menurunkan kaca mobil, menatap kearahnya dengan tatapan kosong, kemudian menaikkan kembali kaca mobil tersebut.
Merisda masih menatap mobil yang lewat didepannya sampai mobil tersebut menghilang di balik tikungan dengan perasaan campur-aduk. Dia merasakan perasaan bersalah yang teramat sangat.
Setelah mobil yang menjemput Namora benar-benar tidak kelihatan lagi, Merisda memutar tubuhnya, kemudian berjalan menuju ke tempat dimana tadi teman-temannya menunggu dengan raut wajah sudah tidak bersemangat lagi.
"Kau melihat Namora, Mer?" Tanya Jericho.
__ADS_1
"Kau lihat mobil BMW hitam tadi? Namora ada di dalam mobil itu," jawab Merisda.
Jericho seperti tidak percaya. Kapan Namora punya mobil dan sopir pribadi.
Sementara itu, di dalam mobil, Ameng yang duduk di samping Namora mengerutkan keningnya ketika melihat bahwa wajah Namora sangat kacau.
Dia, yang juga pernah muda tau apa yang dialami oleh Namora. Tapi dia segera marah ketika Namora menceritakan bahwa baru saja dia dihina oleh orang-orang yang berada di acara pesta tadi.
Ameng kini tersulut emosi. Nyaris saja dia menyuruh sopir untuk memutar kembali mobil menuju rumah Merisda. Tapi Namora segera melarang. Andai benar Ameng dibiarkan ke tempat dimana pesta berlangsung, sudah pasti acara pesta ulang tahun Merisda itu akan menjadi ajang pemukulan.
"Sekarang aku akan mengantarmu pulang,"
Karena Ameng tidak diizinkan oleh Namora untuk menghancurkan pesta tadi, maka Ameng pun menyerah dan berniat untuk mengantar Namora pulang kerumahnya. Tapi dia tidak menyangka bahwa Namora malah bertanya. "Bagaimana dengan Willi itu? Apakah Paman sudah menemukannya?"
Ameng mengangguk perlahan, lalu berkata. "hanya ada satu Willi di kota Baru ini. Kau juga sudah pernah melihat orang ini,"
Namora segera menatap ke arah Ameng. "Pernah melihatnya?"
"Ya. Apa kau ingat lelaki kurus yang mencoba untuk melakukan tindakan curang terhadap Robert dan kakak kelas mu itu?"
"Oh. Itu orangnya. Ya, aku tau itu Paman!" Jawab Namora. Tatapan matanya kini menjadi sedingin es.
Ameng melihat gelagat Namora ini. Dia sudah tau apa yang ada di dalam pikiran anak ini. Tapi, dia ingin memastikan apa sebenarnya yang ingin dilakukan oleh Namora kepada Willi ini.
"Cari Willi ini! Aku ingin membuat perhitungan dengannya!" Pinta Namora. Dia ingin membuat urusan dengan Willi ini. Mana mungkin dia bisa melepaskan orang yang sudah menargetkan dirinya. Kini, dia ingin melihat seperti apa ekspresi wajah Willi ketika dia tau bahwa kini dialah yang ditargetkan olehnya.
Mendengar ini, Ameng segera menepuk pundak sopir, dan berkata. "Kita ke Aula Fighter Club'!"
Sopir mengangguk, kemudian segera membanting setir menuju ke Aula Fighter Club' untuk mencari keberadaan Willi.
__ADS_1
Sementara mereka melaju menuju ke Aula Fighter Club', Ameng telah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi adik-adiknya yang lain. Kali ini sepertinya kekacauan akan terjadi. Dan ini adalah kekacauan pertama yang ditimbulkan oleh Namora.
Bersambung...