
Pertengkaran pagi itu antara Rendra dan Jol serta yang lainnya yang di picu oleh Namora ternyata tidak berakhir sampai di situ saja.
Ternyata Rendra menyimpan dendam kepada Namora yang akan dia lampiaskan setelah nantinya Namora berpisah dengan Jol dan yang lainnya. Dan waktu yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba juga ketika pulang dari sekolah, Jol yang ingin bermain-main terlebih dahulu, mengajak Namora untuk bermain sekalian. Namun, Namora menolak dengan alasan bahwa dia sudah berjanji kepada ibunya untuk pulang lebih awal ke rumah.
Kini, Namora harus pulang sendirian dengan berjalan kaki. Dan kesempatan seperti ini lah yang ditunggu oleh Rendra.
Namora terus berjalan melewati pagar seng sebuah perusahaan penampungan hasil panen buah kelapa sawit.
Ketika dia melewati satu tikungan dimana di depan sana adalah jalan menuju ke rumahnya, tiba-tiba dari balik pohon rambutan sudah ada lima orang anak-anak yang seusia dengannya keluar dari persembunyian mereka, lalu mencegat Namora.
Namora dapat mengerti bahwa hal ini pasti akan mempersulit dirinya. Dan itu benar saja ketika Rendra mulai menghampiri dirinya, lalu menarik tali tasnya hingga Namora nyaris tersungkur.
"Ada apa ini, Rendra?" Tanya Namora sambil bertahan agar tidak jatuh. Dia tau bahwa pencegatan ini ada hubungannya dengan pertengkaran mereka tadi pagi.
"Kau ini, Namora. Tadi pagi kau begitu menjilat di depan guru. Kau juga dekat dengan ketua kelas. Sekarang, mana ketua kelas yang biasanya membantu mu?" Tanya Rendra berlagak angkuh.
"Aku mau berteman dengan siapa saja. Tapi kalian yang tidak mau berteman dengan ku. Apa salah ku berteman dengan Jol dan Jericho?" Namora bertanya balik. Memang Namora ini sangat ingin berteman dengan geng Rendra ini. Tapi Rendra dan teman-temannya terlalu sombong untuk didekati. Berulang kali Namora mendapatkan perlakuan kasar dari Rendra dan teman-temannya. Hal ini lah yang membuat Namora kapok dan tidak lagi berharap bisa menjadi sahabat anak-anak yang sombong ini.
"Kalian dengar itu, teman-teman? Hahaha... Dia mau bersahabat dengan kita. Kalian mau?" Tanya Rendra kepada sahabat-sahabatnya yang spontan dibalas dengan gelengan dan ejekan dari mereka. Hanya ada satu orang saja yang diam. Dia tidak menggeleng juga tidak mengangguk.
"Siapa yang sudi berteman dengan keponakan dari seorang polisi yang miskin," ejek mereka beramai-ramai.
Namora yang mendapat hinaan ini, sekuat tenaga menahan geram. Namun dia gagal mengontrol emosinya. Sebagai seorang anak jantan, dia bisa bersikap merendahkan diri. Tapi, bukan untuk direndahkan.
Plak..!
Satu bogem mentah mendarat telak di pipi Rendra membuat semua yang ada di bawah pohon rambutan rindang itu terkejut bukan main.
Niat awal mereka untuk menghajar Namora ternyata tidak kesampaian. Kini, Namora lah yang terlebih dahulu mendaratkan bogem mentah nya yang sukses membuat pipi Rendra lebam memar.
__ADS_1
"Aaaakh...!" Bukan main terkejutnya Rendra. Berulang kali dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing akibat tinjuan Namora tadi.
"Kau.., kau berani memukul ku?" Seperti tidak percaya bahwa Namora yang selama ini dia anggap sebagai anak penakut berani mendaratkan pukulan tepat diwajahnya.
"Kau terlalu menghina, Rendra! Apa yang akan terjadi ya terjadilah! Aku sudah tidak perduli!"
Bugh!
Tidak memberi kesempatan untuk lawannya berfikir, Namora segera mengirimkan tendangan si madun ke arah paha Rendra membuat anak itu meraung kesakitan.
"Adooooi Amang!" Pekik Rendra jatuh terduduk sambil memegangi pahanya yang terasa sengal akibat tendangan tadi.
"Woi. Mengapa kalian diam saja. Keroyok Namora itu!" Teriak Rendra kepada teman-temannya.
Mendengar perintah dari ketua mereka, empat orang anak yang lainnya segera mengepung Namora dan mulai menyerang.
"Aku tidak takut. Ayo lawan jurus ksatria baja Hitam ku!" Kata Namora yang langsung mengeluarkan jurus ceker ayam nya. Namun, tidak satupun yang mengenai sasaran. Dia hanya mencak-mencak di tempat tanpa melakukan serangan. Hal ini tentu saja membuat mereka sedikit ketakutan dan mengira bahwa Namora memiliki jurus silat sungguhan.
Bet...
"Aw...!" Pekik Namora ketika dia merasakan rasa sakit pada betisnya.
"Apa lagi yang kalian tunggu?" Tanya Rendra.
Begitu Namora sedang asyik meraba-raba ke arah betisnya yang terasa perih akibat libasan dari Rendra tadi, kini dari arah belakang dia merasakan seseorang telah mendaratkan tinju di bagian belakang kepalanya. Hal ini tentu saja membuat Namora jatuh tersungkur.
Bugh!!!
Plak!!!
__ADS_1
"Mampus kau!"
"Aduuuh...!"
Setelah Namora tadi jatuh, kini masing-masing mereka mulai mendaratkan tendangan ke arah tubuh anak itu.
Namora tidak bisa lagi memberikan perlawanan. Dia hanya melindungi kepalanya dengan kedua tangannya agar tidak cedera akibat tendangan dari lawan-lawannya.
"Bagaimana rasanya hah?" Bentak Rendra setelah puas memukuli tubuh Namora.
Tidak ada jawaban dari anak itu. Dia hanya meringis menahan rasa sakit pada bagian tubuhnya yang dipukuli tadi.
"Awas kalau kau berani mengadukan hal ini kepada Jol. Lihat saja kalau kau berani. Aku akan mencegat mu lagi di jalan!" Ancam Rendra kepada Namora yang masih terbaring di tanah.
"Ayo kita pulang!" Ajak Rendra kepada teman-temannya. Namun, ada satu orang yang membantu Namora bangkit berdiri.
"Marcus!" Bentak Rendra kepada salah satu dari teman-temannya yang membantu Namora tadi untuk bangkit.
Anak bernama Marcus tadi langsung meninggalkan Namora menyusul keempat temannya.
Kini tinggallah Namora sendirian dengan keadaan compang camping setelah habis di keroyok. Dia ingin menangis. Tapi naluri kelelakiannya melarangnya untuk berbuat demikian.
Kini, semakin tebal lah tekad Namora untuk berubah. Berubah dari seorang pecundang menjadi seorang jagoan yang ditakuti. Tapi itu pasti akan bertentangan dengan kemauan dari ibunya.
Sambil berjalan pelan, Namora berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa menjadi anak yang jago berkelahi. Dia pernah akan belajar beladiri di Dojo ketika di kampung baru. Tapi, hal itu tidak kesampaian gara-gara ulah Diaz dan teman-temannya. Dia juga pernah mendaftarkan diri di salah satu sasana kick boxing. Tapi dia menerima perlakuan yang kurang lebih sama dengan yang dia terima di kampung baru. Hal ini memaksa Namora untuk tidak lagi datang ke sasana tersebut.
Kini, Namora pusing sendiri harus berlatih kepada siapa. Sementara ilmu ceker ayam miliknya sama sekali tidak berguna. Buktinya dia babak belur juga.
Berfikir sampai di situ, Namora memutuskan tidak mau lagi menonton film kungfu. Menurutnya, itu bohong. Buktinya dia babak belur hari ini.
__ADS_1
Semakin besar seiring bertambahnya usia, Namora sadar bahwa mana ada manusia bisa terbang tanpa sayap seperti yang ada di dalam film yang dia tonton.
Bersambung...