Namora

Namora
Namora tidak lulus SMA favorit


__ADS_3

"Bang. Bagaimana dengan kabarmu? Namora sudah lulus sekolah menengah pertama. Tapi dasar otaknya bebal. Dia tidak bisa masuk ke SMA elite. Nilai yang dia miliki tidak memberikan dia kelayakan untuk masuk ke SMA favorit,"


...Pusat tahanan kota Batu...


Tiga orang lelaki paruh baya tampak berdiri di depan meja yang diduduki oleh seorang lelaki berpakaian tahanan yang usianya sebaya dengan mereka.


Begitu mendengar perkataan salah satu dari ketiga orang tadi, lelaki yang berusia sekitar 35-an berpakaian tahanan itu menatap dengan tajam ke arah mereka. Tidak ada senyum di wajah lelaki itu walaupun tampangnya sangat tampan.


"Apa saja yang kalian kerjakan? Mengapa anak lajang ku sampai tidak memiliki nilai yang bagus? Apakah kalian tidak membantunya?" Tanya lelaki yang duduk di kursi itu. Tenang nada bicaranya. Tapi, jelas nada bicara yang keluar dari mulutnya sangat dingin.


Ketiga orang tadi langsung saling pandang dan serentak menggeleng.


"Bagaimana kami bisa membantunya bang? Kau kan tau kalau kami ini untuk tulis baca pun syukur-syukur bisa. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantunya?"


"Benar kata Ameng itu bang. Kalau berkelahi, mungkin kami bisa membantunya. Tapi kalau urusan pelajaran di sekolah, otak kami tidak sampai ke sana," jawab lelaki yang berada di tengah.


"Dimana Rio?" Teriak lelaki berpakaian tahanan tadi, sehingga gema suaranya mengagetkan semua yang ada di ruangan besuk tersebut.


"Hei. Bisa pelankan suara mu atau tidak? Atau aku akan mengirim mu kembali ke sel?!" Bentak salah satu sipir penjara.


"Aku sudah lama tidak mematahkan kaki orang. Sekarang aku bertanya. Dimana Rio?"


"Aku di sini bang. Ada apa kau berteriak seperti itu?"


Tampak seorang pemuda berseragam lengkap berjalan menghampiri ruangan besuk tersebut. Beberapa pegawai di pusat tahanan tampak memberi hormat kepada pemuda tadi.


"Begini caramu mendidik keponakan hah?" Bentak lelaki yang duduk di kursi tadi seraya bangkit berdiri dan menghampiri pemuda berseragam polisi itu.


"Bang. Namora itu bukan anak pemalas. Dia rajin sekolah. Tidak pernah bolos, dan selalu mengerjakan tugas rumah dengan baik. Tapi ini masalahnya adalah kepasitas otak. Dia itu memang sedikit lamban. Ini diluar kemampuan ku, bang!" Rio terlihat membela diri.


"Bang. Nilainya bukan jelek-jelek amat. Hanya saja, dia tidak bisa masuk ke SMA favorit. Itu saja. Bukan berarti tidak bisa duduk di sekolah menengah atas,"


"Aku heran. Mengapa bisa nilainya tidak tinggi. Padahal kau sekolah dulu bisa dikatakan sangat pintar. Aku juga tidak goblok-goblok amat. Mengapa Namora ini?"

__ADS_1


"Dia terobsesi dengan ilmu beladiri, bang. Mungkin itu salah satu penyebabnya,"


"Memang itu sudah menjadi hukum alam. Anak akan mengikuti jejak ayahnya,"


"Tutup mulutmu Cong!" Bentak lelaki berpakaian tahanan tadi sambil mendelik. Namun hanya sebentar saja. Tidak lama setelah itu, dia malah tertawa terbahak-bahak.


"Rio. Apakah ada sesuatu yang diinginkan oleh Namora?"


"Dia menuntut janji mu bang!" Jawab Rio membuat kening lelaki yang dipanggilnya Abang tadi berkerut.


"Janji?" Katanya seperti tidak mengerti.


"Ya. Dia mengatakan bahwa kau pernah berkata akan keluar dari penjara ini apabila dia nanti sudah menduduki bangku SMA," kata Rio mengingatkan.


"Oh Tuhan. Mati aku," berulang kali lelaki yang mengenakan pakaian tahanan itu menepuk jidatnya.


"Sebenarnya kapan kau bisa keluar dari tahanan ini bang?"


"Aku juga bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada anak itu," kata Rio. Ada keluhan dari nada bicaranya.


"Dia sudah mulai besar. Dia pasti akan mengerti. Ceritakan saja apa yang seharusnya kau ceritakan. Yang penting adalah, kau tidak membohongi dirinya,"


"Lalu bang.., menurut mu, apakah kami harus membawanya ke kota Kemuning untuk menunjukkan kepadanya seluruh aset dan perusahaan? Mungkin sudah waktunya dia mengetahui siapa dirinya. Bukan apa bang.., aku hanya kasihan melihat dia terus-menerus dihina karena kesederhanaannya,"


"Jangan dulu Cong. Dia baru saja akan memulai sesuatu yang baru. Tahan dulu setidaknya enam atau delapan bulan lagi. Tunggu kabar dari ku. Namun perlu kau ingat! Tidak ada yang boleh menghina anak Tigor secara berlebihan!" Kata lelaki yang mengenakan pakaian tahanan itu.


"Terus terang bang. Kami ini bukannya Abang tak tau. Apalah yang bisa kami lakukan di perusahaan. Rata-rata kami ini buta huruf yang belajar abjad ketika usia sudah di atas dua puluh tahun. Kami mengharapkan Namora segera membiasakan diri dengan pekerjaan yang kau tinggalkan. Kasihan pak Burhan. Dia itu pengacara, bukan CEO,"


"Perusahaan sudah bertahan selama ini berkat kalian. Dan selama itu, kalian baik-baik saja. Apalah arti menunggu delapan bulan saja. Setelah itu, kalian boleh membawanya ke kota Kemuning,"


"Baiklah bang. Kalau begitu, kami pamit dulu. Waktu besuk juga sudah habis,"


"Ameng, Acong dan kau Timbul. Apakah kalian tau tentang perkembangan dari anak Tuan besar Jerry William?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan ini, Ameng tampak menghela nafas berat.


"Ada apa denganmu Meng?"


"Anak tuan besar itu ya? Haduh. Bukan main kelakuannya. Mobil milikku baru saja kemarin ditabrakkan ke pohon kelapa," jawab Ameng dengan wajah sendu.


Seketika seisi ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa.


"Mengapa bisa begitu Meng?"


"Dia ngotot untuk belajar mengendarai mobil. Dan mobil si Ameng yang jadi korban. Pohon kelapa yang tidak jauh dari depan rumah kakek Tengku Mahmud lah yang menjadi sasarannya," jawab Acong sambil memegangi perutnya karena tidak tahan menahan tawanya yang sudah meledak duluan.


"Hahahaha. Tabahkan hatimu!"


"Jangankan Ameng. Tengku Mahmud saja tiap hari dikerjai oleh anak itu," sela Timbul pula.


"Apakah Namora pernah bertemu dengan Joe itu?"


"Tidak bang. Pak Harianto melarang Namora untuk pergi ke Kuala Nipah. Dia khawatir kalau Namora akan berguru dengan Kakek. Namora tidak akan sanggup," kali ini Rio yang menjawab.


"Jangankan Namora. Aku saja tidak berani berguru dengan Kakek. Tapi aku kagum dengan anak Tuan besar Jerry William. Anak itu kelak pasti bisa diandalkan,"


"Betul bang. Mungkin, andai aku, Acong dan Timbul bersama-sama mengeroyok anak itu, kemungkinan untuk menang pun sangat tipis," jawab Ameng apa adanya.


"Tetap pantau anak itu. Dia di sini dan itu adalah tanggung jawab kita. Semoga saja kelak Namora bisa bersahabat dengan Joe ini,"


"Baiklah bang. Kalau sudah tidak ada lagi, maka kami ingin pamit dulu. Jaga dirimu bang. Ingat! Jangan lagi mematahkan kaki orang. Atau, masa hukuman mu akan bertambah," canda Ameng sambil tertawa.


"Sialan kalian ini. Oh ya.., langsung saja kembali ke kota Kemuning! Kasihan Andra sendirian di sana,"


"Baik bang. Kami pergi dulu," kata ketiga lelaki itu. Mereka pun berpelukan sejenak sebelum berpisah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2