
Ting.., ting.., ting...! Suara bel berdering menandakan pertarungan akan segera di mulai.
Kini, di dua arena dalam satu panggung, Namora dan Diaz sama-sama menghadapi lawan masing-masing.
Perbedaan antara Diaz dan Namora sangat kentara sekali. Namora terlihat sangat tenang menghadapi lawannya, sementara Diaz begitu agresif.
Karena telah sampai pada babak ini, jelas lawan mereka bukanlah lawan yang mudah. Kalau mudah untuk dikalahkan, berarti mereka tidak layak untuk berada di babak semifinal ini.
Diaz yang tampak sangat agresif berulang kali melancarkan serangan beruntun ke arah lawannya. Akan tetapi, lawan juga bukan kaleng-kaleng. Bahkan, sanggup meladeni permainan agresif dari Diaz.
Kemarahan Diaz tersulut sudah. Seluruh kartu dia keluarkan untuk memenangkan pertandingan ini. Bahkan, beberapa trik kotor juga tidak segan-segan dia tunjukkan. Menurutnya, apa yang perlu dia khawatirkan? Bukankah Ardi sudah mengurus semuanya untuk memuluskannya mencapai final.
Selain para guru dan penonton yang melihat jelas kecurangan Diaz, para dewan juri dan wasit yang memimpin pertandingan pun seolah-olah membutakan mata menyaksikan kecurangan ini. Andai itu adalah lawannya, maka wasit akan langsung memberikan teguran. Akan tetapi, ketika Diaz yang memukul bagian belakang tubuh lawan, serta beberapa kali melayangkan tendangan ke arah bagian ******** lawan, wasit seolah-olah bungkam tidak bersuara.
Namora bukannya tidak melirik dan mengetahui perbuatan Diaz. Akan tetapi dia tidak memiliki hak untuk protes. Apa lagi dia juga sedang menghadapi lawan yang lumayan tangguh juga. Dalam hati dia berpikir, andai lawan Diaz mampu bertahan selama sepuluh menit lagi, stamina Diaz pasti akan terkuras. Dan dia tidak akan punya pilihan selain menggunakan trik kotor selanjutnya untuk melawan dirinya.
Sebenarnya, Namora bisa mengakhiri pertarungan ini lebih cepat. Akan tetapi, dia ingin membiarkan Diaz terlebih dahulu. Dengan begitu, akan banyak kesempatan untuk memprovokasi Diaz dan meruntuhkan mentalnya.
Brugh..! Suara bantingan yang keras terdengar dari ring sebelah.
Seketika pertarungan antara Namora dan lawannya berhenti dan memperhatikan ke arah ring dimana Diaz dan lawannya tadi bertarung.
Kini, mereka berdua menyaksikan kebengisan Diaz yang membanting lawannya hingga pingsan setelah memukul bagian belakang kepala lawan.
Wasit yang melihat ini pun segera menyatakan bahwa kemenangan ini adalah milik Diaz.
Diaz yang bangga segera mengangkat sebelah tangannya yang terkepal. Kemudian dia menatap ke arah Namora, kemudian membuat gesture sembelih ke arahnya.
"Bersiaplah! Aku akan membunuhmu!" Kata Diaz sebelum keluar dari ring.
Namora sama seperti sebelumnya. Sedikitpun wajahnya tidak berekspresi. Wajah itu datar. Tidak ada kesan ketakutan, marah atau mengejek. Dia hanya memalingkan wajahnya ke arah lawan.
"Siap?" Tanya Wasit.
Kedua orang itu mengepalkan tinjunya, yang menandakan bahwa mereka sudah siap untuk bertarung kembali.
Kini Namora tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Begitu lawan merengsek menyerang kearahnya, dia segera berkelit, memeluk pinggang lawan dari belakang, kemudian merenggutnya dengan paksa sehingga tubuh lawannya pun terangkat kemudian membanting ke arah belakang dengan bagian punggung terlebih dahulu menghantam kanvas.
Ketika mereka berdua sama-sama jatuh, Namora buru-buru bangkit dan akan melayangkan tinju. Akan tetapi itu batal dia lakukan setelah wasit melerai.
__ADS_1
Setelah Namora dinyatakan sebagai pemenang, dia segera keluar dari ring dan turun meninggalkan panggung menuju ke arah kursinya. Tapi, sebelum dia tiba di kursi miliknya, dia berhenti di depan Diaz yang sedang duduk, kemudian membuat gesture sembelih ke arah Diaz, dan berkata. "Aku juga akan membunuh mu. Jika kau tidak kuat, kau boleh menyerah dan berlutut. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menyelamatkan nyawamu,"
Diaz merasa sangat marah. Dia sontak berdiri, kemudian akan menyerang Namora. Namun Jol segera menangkap pergelangan tangannya, seraya berkata. "Selesaikan di atas ring. Jika kau merasa mampu, kau harus sedikit bersabar. Akan ada waktunya!" Kata Jol sambil menghempaskan tangan Diaz dari genggaman tangannya.
Diaz menggeram marah, kemudian menatap Jol dengan dingin. "Setelah aku membereskan Namora, kau juga akan menjadi targetku yang selanjutnya," ancam Diaz kepada Jol.
"Dengan senang hati," jawab Jol sambil tersenyum mengejek.
*********
Kampung baru.
Satu unit mobil Maserati clasik 1942 memasuki area pekarangan di sebuah bangunan yang dikenal sebagai bangunan Dojo.
Saat ini, beberapa murid yang sedang berlatih tampak menghentikan aktivitas mereka dan sama-sama memperhatikan ke arah datangnya mobil clasik tersebut.
Setelah berhenti tepat di depan Dojo tersebut, seorang lelaki berusia 30an tampak turun tergopoh-gopoh, kemudian membukakan pintu di bagian penumpang.
Kini, dari dalam mobil, terlihat seorang lelaki berusia di atas lima puluh tahun keluar dengan lagak angkuhnya sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Sambil membuang puntung cerutu nya, lelaki tua itu melambaikan tangannya ke arah salah satu murid yang tadinya sedang berlatih.
Murid yang mendapat pesan tersebut langsung berlari memasuki Dojo, kemudian mengetuk kamar khusus dalam bangunan itu, mengetuknya, sembari berkata, "Sensei..!"
Terdengar suara teguran bernada tidak senang dari arah dalam. "ada apa kau mengganggu ku?"
"Mohon dimaafkan. Ada seseorang dari kota L yang ingin bertemu dengan Sensei. Dia mengaku namanya adalah Jhonroy," jawab murid tadi yang tampak ketakutan.
"Hmmm..," terdengar suara bergumam dari dalam. "Suruh orang itu masuk, ingat! Kalian harus sopan kepadanya! Kemudian, bawa dia ke ruangan belakang!" mendengar nama Jhonroy, dia selaku angkatan tua pasti mengetahui latar belakang Jhonroy ini. Walaupun dia adalah guru besar, kekuatan Jhonroy bisa meratakan Dojo miliknya ini hanya dengan satu perintah. Oleh sebab itu, dia tidak berani gegabah menghadapi serigala tua itu.
"Saya mengerti, Sensei!" Jawab murid tadi, kemudian kembali berlari ke luar.
"Silahkan, Tuan!" Kata murid tadi mempersilahkan setelah dia tiba dihadapan Jhonroy.
Jhonroy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah masuk ke dalam Dojo dengan didampingi oleh murid tadi.
"Ikut sini, Tuan!" Kata murid itu lagi memandu Jhonroy.
Jhonroy pun mengikuti saja arah yang ditunjukkan oleh murid tersebut.
__ADS_1
Kini, Jhonroy sudah tiba di pintu ruangan yang tidak terlalu luas. Ruangan itu dihiasi dengan berbagai lukisan yang menggambarkan tentang serangkaian jurus-jurus karate. Ada juga kaligrafi aksara Jepang yang sama sekali tidak dimengerti oleh Jhonroy.
Sejenak matanya memberhentikan seperti lelaki tua yang saat ini sedang bersimpuh membelakanginya. Di hadapan lelaki tua berjubah itu, terdapat altar kecil yang diatasnya tampak dua bilah pedang dengan ukuran panjang dan pendek. Sementara itu, tidak jauh dari pedang tersebut terdapat tempat pedupaan yang saat ini tengah mengepulkan asap beraroma kayu gaharu.
Setelah puas memperhatikan area sekitarnya, kini Jhonroy mengalihkan perhatiannya ke arah kiri, di mana di sana terdapat sebuah ranjang. Ranjang itu biasa saja. Namun, saat ini ada seorang pemuda yang sedang terbaring sekarat di atas ranjang tersebut. Sesekali, terdengar suara batuk dari mulut pemuda yang terbaring itu.
"Ehem..," Jhonroy berdehem sekali sebagai tanda bahwa dia telah tiba di ruangan itu.
Setelah Jhonroy berdehem, perlahan lelaki tua yang bersimpuh tadi segera membalikkan badannya, kemudian menatap ke arah Jhonroy.
"Lama sekali kita tidak bertemu, Sensei?!" Ujar Jhonroy dengan senyum khasnya yang terkesan sangat meremehkan.
Lelaki tua itu segera bangkit berdiri, memberikan penghormatan ala orang Jepang, kemudian mempersilahkan Jhonroy untuk duduk.
Setelah Jhonroy duduk, barulah lelaki tua itu menjawab perkataan dari Jhonroy tadi. "Ya. Sudah lama sekali. Akan tetapi, ada angin apakah yang membawa Tuan Jhonroy yang agung ke perguruan bututku ini?"
"Hahahaha. Sensei.., Sensei. Kau terlalu merendah. Tapi baiklah, aku juga tidak ingin berbasa-basi, mengingat waktu ku juga sangat terbatas,"
"Silahkan!" Sensei mengambil teko teh yang terjerang di atas tungku api, kemudian menuangkan airnya dan memberikannya kepada Jhonroy.
Jhonroy menerima pemberian itu, kemudian menyesapnya dengan ringan.
"Hmmmm. Teh herbal Jepang. Memang bukan nama kosong belaka. Sungguh sangat nikmat," puji Jhonroy dengan tulus.
"Tuan Jhonroy yang agung. Seperti yang tuan katakan tadi, bahwa waktu tuan sangat berharga. Bagaimana jika kita langsung ke intinya saja?!"
"Ya. Aku juga akan langsung ke intinya," kata Jhonroy sembari melemparkan selembar foto ke arah Sensei tersebut, kemudian lanjut berkata. "apakah anak itu yang menimbulkan kekacauan di Dojo mu ini?"
Wajah lelaki tua yang disebut Sensei itu menghitam begitu melihat foto yang tadi dilemparkan oleh Jhonroy.
Memanfaatkan ekspresi wajah Sensei, Jhonroy kembali berkata. "Jika memang dia adalah orangnya, berarti kita memiliki musuh yang sama,"
Sensei langsung menatap ke arah bola mata Jhonroy, seolah-olah ingin menusuknya dengan tatapan tersebut. "Apa maksudnya, Tuan Jhonroy yang agung?"
"Kau bisa menjawab dengan jujur. Apakah orang yang ada di dalam gambar itu yang menyebabkan Dojo mu ini berantakan, kemudian mencederai beberapa orang murid mu?"
Sensei mengangguk pelan. Lalu mendengus dengan kesal. "Ya. Memang anak inilah orangnya. Hanya saja, saat ini murid ku yang paling berbakat akan mengurus semuanya untukku. Saat ini, murid ku itu sudah memasuki babak final di turnamen kejuaraan pencak silat yang diadakan di kota Dolok ginjang. Sebentar lagi mereka akan berhadapan. Aku tidak perlu dengan kemenangan. Bagiku, anak itu harus mati sebagai tanggung jawabnya atas apa yang sudah dia timbulkan!"
Bersambung...
__ADS_1