
Namanya adalah Harianto pujakesuma alias, Harianto putra Jawa kelahiran Sumatra.
Dahulu, dia adalah seorang jawara silat yang sempat berguru kepada seorang pendekar yang sangat jago dalam ilmu silat. Gurunya ini bernama Parulian.
Sedangkan Parulian ini, seperti yang dijelaskan oleh Tengku Mahmud kepada Tigor (Baca Black Cat) adalah sahabatnya sekaligus lawan tarung baginya yang kemudian diketahui adalah ayah dari kapten Bonar, yang berarti adalah kakek kandung Tigor dan Rio yang berarti adalah kakek Uyut bagi Namora.
Ketika masa mudanya, berbagai turnamen pencak silat telah diikuti oleh pak Harianto ini dan selalu keluar sebagai juara.
Atas prestasinya ini, setelah dia tidak lagi mengikuti berbagai turnamen kejuaraan pencak silat, pihak kepolisian telah mengangkatnya menjadi pelatih di Akpol yang khusus melatih para polisi muda dengan ilmu beladiri serta menggenjot fisik mereka.
Ketika pak Harianto pujakesuma ini mengetahui bahwa Rio adalah cucu dari mendiang gurunya, bukannya malah meringankan latihan untuk Rio. Dia malah memberikan porsi lebih kepadanya dan hasilnya, Rio sempat muntaber karenanya.
Jika sudah mendengar nama Pak Harianto, para calon polisi akan segera mendadak sakit perut, sakit pinggang, perut kembung, mual-mual, masuk angin. Bahkan ginjal mereka pun ikut-ikutan sakit. Ini karena, metode latihan yang sangat keras dan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. dan itu adalah barometer yang ditetapkan oleh pak Harianto sejak awal mereka mengikuti pelatihan.
Singkat cerita, walaupun mereka kini sudah menduduki jabatan-jabatan penting di dalam kepolisian, tapi itu tidak akan bisa menghalangi pak Harianto untuk menjitak kening mereka. Dan buktinya, Rio pun saat ini masih kecut saat berhadapan dengan lelaki tua itu.
***
"Mengapa kau menangis hah? Kau malah kencing pula. Aduh lemah sekali anak ini," gerutu pak Harianto.
"Namora. Jika kau cengeng begini, paman akan membawamu kembali ke rumah. Setelah itu, paman tidak mau tau lagi. Apakah kau akan dikeroyok oleh anak-anak yang tidak suka padamu atau tidak, itu bukan urusan Paman. Kau ini hanya hangat-hangat tahi ayam. Awalnya saja hangat. Setelah itu cepat dingin!" Jengkel juga Rio melihat Namora yang mendadak jadi anak cengeng seperti itu.
Wah terbakar juga hati Namora mendengar teguran bernada ejekan dari Rio tadi. Dia pun segera menyeka air matanya menggunakan lengan bajunya kemudian berdiri tegap seperti menantang.
"Hmmm. Tulang bagus, urat bagus. Kau kalah bagus dengan dengan anak ini, Rio!" Puji pak Harianto sambil memijit-mijit lengan dan pundak Namora.
Rio hanya nyengir kuda mendengar pujian terhadap keponakannya itu. Bukan pujian itu yang membuat dia nyengir. Melainkan, ada yang diangkat dan dijatuhkan. Itu yang membuat Rio menyeringai.
"Siapa namamu anak muda?"
__ADS_1
"Namora, Kek!" Jawab Namora yang masih tersedu-sedu.
"Namora. Hahaha. Artinya, yang kaya. Kau kaya apa?" Tanya pak Harianto lagi.
Namora bingung menjawab pertanyaan dari orang tua itu. Dia lalu mendongak manatap wajah Rio seolah sedang memohon bantuan.
"Kaya tahi ayam!" Ejek Rio.
Terbakar lagi hati Namora terus-terusan dikatain tahi ayam oleh Pamannya tadi.
"Sebenarnya anak ini bukan penakut. Dia hanya kaget. Hehehe... Mungkin tampang tua ku ini menakutkan," kata pak Herianto terkekeh.
"Kau mau ngapain kemari hah?" Tanya Pak Herianto kepada Namora.
"Mau berlatih ilmu beladiri, Kek!" Jawab Namora. Bibirnya menjawab. Tapi matanya terus menatapi Rio seolah-olah melarang agar Rio jangan pergi meninggalnya berdua dengan pak tua itu.
"Hahaha. Apa kau sanggup?" Tantang pak Harianto sekedar menguji anak itu.
"Namora sanggup!" Tiba-tiba saja Namora berkata sanggup yang membuat Pak Harianto kembali tertawa.
Walaupun tanya tidak se-sinis tadi, tapi tetap saja ada aura mengerikan di balik suara tawanya itu.
"Kau tidak tau seperti apa kakek Uyut mu dulu menyiksa aku. Sepertinya, bagaikan sirih pulang ke gagang. Dulu aku mati-matian menuntut ilmu kepada kakek Uyut mu. Kini seperti sudah ditakdirkan bahwa aku harus mengembalikan ilmu itu kepada keturunannya. Tidak ada yang menyangka bahwa inilah kehendak alam. Anak ini bagus. Sangat bagus! Apa kau tau bahwa yang aku ajarkan di Akpol itu hanyalah kulit nya saja? Itupun kalian mendadak diare. Kali ini aku akan menuntaskan semuanya. Jika Namora tidak sanggup, maka dia akan mati. Atau paling tidak, dia akan gila!" Kata Pak Harianto menatap ke arah Rio.
Berdiri bulu roma Rio mendengar perkataan dari pak Harianto barusan. Jika yang selama ini dia dapat hanya kulit saja, lalu seperti apa isinya? Apakah Namora akan sanggup? Itulah yang bermain dalam pikiran Rio saat ini.
"Pak. Janganlah terlalu keras mendidiknya. Tulangnya masih lembut," kata Rio memelas.
"Kau tau apa? Diam saja kau!" Bentak Pak Harianto.
__ADS_1
Rio menelan ludahnya. Dia tidak berani lagi membantah apa lagi merayu kepada orang tua itu. Bagaimanapun, menurutnya, orang tua itu pasti lebih tau seperti apa kemampuan Namora dalam menyerap ilmu yang akan dia ajarkan.
"Rio. Besok anak ini harus dibuatkan syarat. Ingat untuk membuat pulut kuning, tujuh lembar daun sirih bertemu urat, kapur sirih, Gambir, buah pinang dibelah empat, ayam putih Kinantan, dan ayam hitam. Setelah anak ini disyarati, lepaskan ayam itu ke seberang kota Batu ini. Setelah itu, semua yang aku sebutkan tadi ditambah bunga tujuh rupa dan bertih, masukkan ke dalam upih pinang yang dibentuk seperti perahu. Hanyutkan ke sungai. Jika tidak, ilmu yang akan aku ajarkan tidak akan menjadi, atau akan memakan diri anak ini!" Kata pak Harianto memberi peringatan kepada Rio.
...PENJELASAN!...
(Upih pinang adalah pelepah pada daun pinang berbentuk lebar dan bisa di bentuk seperti perahu. Sedangkan bertih adalah padi yang digongseng. Hampir sama seperti jagung popcorn)
"Berat juga syaratnya pak. Jika ayam putih Kinantan, mudah untuk didapat. Tapi ayam hitam keseluruhan itu sangat sulit. Kemana akan ku cari?" Kata Rio menggaru kepalanya.
"Sebenarnya masih banyak lagi yang harus kau sediakan. Tapi itu tidaklah wajib. Apa yang aku katakan tadi adalah syarat mutlak. Jika tidak bisa kau sediakan, maka lupakan saja!"
"Saya akan berusaha pak!" Janji Rio kepada pak Harianto.
"Bagus. Paling tidak, hari Kamis sore semua syarat itu sudah ada. Memang ini seperti khurafat. Namun, kau taulah orang-orang dulu. Jika ingin berlatih, mereka bukan hanya melatih luarannya saja. Tapi juga melatih bagian dalam. Makanya kebanyakan orang-orang dulu selalu berdampingan dengan perewangan. Jika tidak, semua yang dipelajari hanya bersifat luaran saja. Tapi dalamnya kosong,"
"Baik pak. Kalau begitu, saya akan pulang dulu. Ayo Namora!" Ajak Rio.
Setelah menyalami pak Harianto tadi, kedua orang itu pun segera keluar dari ruangan kerja Rio menuju mobil Toyota hardtop untuk mengantar Namora kembali ke rumah.
"Namora. Apa yang kau dengar tadi, jangan sampai kau ceritakan kepada siapapun. Mengerti?" Kata Rio memperingatkan.
"Mengapa Paman?" Dasar Namora. Selalu ingin tau.
"Tidak boleh diceritakan kepada siapapun. Cukup menjadi rahasia kita bertiga saja. Jika kakek Harianto tau, kau tau sendirilah akibatnya,"
"Iya Paman. Namora berjanji tidak akan menceritakan kepada siapapun!" Tegas anak itu mematuhi peringatan dari Rio tadi.
"Anak baik!" Puji Rio membelai rambut kemerahan milik Namora.
__ADS_1
Bersambung...