
Namora seperti orang yang benar-benar bimbang. Semenjak dia siuman, sampai hari ini dirinya terus memaksa otaknya untuk berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mencari gara-gara dengan Jhonroy melalui jalur bisnis.
"Kek. Namora akan memikirkannya lagi. Tapi, apapun yang terjadi, Aku akan memastikan bahwa selagi ada peluang proyek, dan nama perusahaan Agro finansial ada di sana, di situ akan ada Martins Group merecoki usaha mereka. Intinya adalah, salah satu dari kami harus binasa,"
"Bagus. Kakek suka kepada seorang lelaki jantan yang memiliki pendirian. Percayakan kepada kakek, dan kakek akan mengusahakan yang terbaik. Hanya saja, tidak ada garansi bahwa usaha ini akan berhasil seratus persen," jawab Lalah yang memang tidak berani memberikan kepastian bahwa usahanya akan berhasil walaupun dia memang memiliki ramai kenalan orang-orang penting.
"Tidak apa-apa kek. Apapun hasilnya, yang penting sudah berusaha," jawab Namora berusaha untuk tidak terlalu membebani orang tua itu.
Tak lama kemudian, panggilan itupun diakhiri.
Namora masih belum menyalakan mesin kendaraannya. Dia tampak memutar-mutar handphone ditangannya. "Hmmm. Pertemuan memang harus segera dilakukan. Jika tidak, aku masih belum bisa mengetahui seperti apa sikap mereka. Walaupun penuh resiko, itu seribu kali lebih baik daripada tidak melakukan apapun dan tetap buta tentang siapa teman dan siapa lawan,"
Namora kembali melakukan panggilan. Kali ini, dia menelepon Ameng.
Tut.., tut.., tut...
"Halo Namora. Bagaimana dengan keadaanmu?" Tanya Ameng begitu panggilan itu tersambung.
"Sudah lumayan baik, Paman," jawab Namora.
"Dimana kau sekarang? Jangan terlalu berkeliaran! Saat ini, orang-orang dari kota L sudah mengetahui bahwa kau sudah sembuh. Jadi, kemungkinan kau akan menjadi sasaran pembunuhan akan terulang kembali," kata Ameng memperingatkan.
__ADS_1
Tanpa diperingatkan pun, Namora sudah tau. Orang buta saja pasti tidak mau jatuh kedalam lubang yang sama sebanyak dua kali. Apa lagi dirinya yang melek. Hanya saja, dia tidak takut. Bahkan, dia sengaja berkeliaran agar pembunuh itu kembali mengincar dirinya. Dengan begitu, dia bisa melakukan perlawanan. Karena, saat ini dia jauh lebih siap untuk menghadapi segala kemungkinan berdasarkan pengalaman yang telah lalu.
"Paman. Mora menelepon Paman ada dua tujuan. Yang pertama, Mora menginginkan 4 orang tangguh. Mora memiliki misi buat mereka. Yang kedua, Besok, Mora akan berangkat ke kota Kemuning. Mora ingin melakukan rapat dengan para pemegang saham di Martins Group. Tolong lakukan pemberitahuan dengan segera. Mora akan berangkat dari kota Batu sepulang dari sekolah dan kemungkinan akan tiba di sana sekitar pukul 5 sore. Kita akan melakukan rapat pukul 6. Jangan sampai ada yang tidak menghadiri rapat itu. Atau.., dividen mereka akan dipangkas!" Kata Namora penuh ancaman. Sikap otoriter nya mulai kambuh.
"Kau akan ke kota Kemuning? Siapa yang akan menemani mu?" Tanya Ameng merasa khawatir.
"Tidak perlu ada yang menemani ku. Mora tidak lemah lagi seperti seminggu yang lalu. Bila perlu, sebarluaskan berita bahwa Mora akan berangkat ke kota Kemuning pukul dua sore besok. Yang ingin istrinya menjadi janda, atau anak-anaknya menjadi yatim, bisa menghalangi jalanku!" Tegas Namora.
"Gila. Benar-benar gila," gerutu Ameng jelas terdengar di seberang sana.
"Terkadang perlu sedikit gila, kejam dan tidak manusiawi untuk menghadapi iblis berkedok manusia seperti Jhonroy. Paman tenang saja. Ingat, Paman! Segera kirim 4 orang ke kota Batu!"
Tut.., tut.., tut...
*********
Dojo kampung baru
Lelaki tua yang tidak lain adalah Sensei di Dojo kampung baru itu baru saja membuka matanya dari sikap bersemedi. Di hadapannya, tampak lelaki bertubuh sedikit gemuk, pendek dan bermata sipit sedang duduk berlutut dengan wajah kelihatan memucat.
Sejenak lelaki tua itu menghela nafas, sebelum dia bertanya. "Takimura. Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?"
__ADS_1
Lelaki sedikit gemuk berperawakan pendek itu perlahan mengangkat wajahnya, lalu mendesah berat.
Dia menggelengkan kepalanya seperti orang yang sedang putus asa sebelum menjawab, "racun dari senjata orang-orang dari organisasi Tiger Syam itu benar-benar jahat. Jika bukan aku, kemungkinan sudah mati di tempat," jawabnya sambil kembali tertunduk.
"Takimura. Kepala sekte sudah mengetahui keadaan mu. Mereka sangat marah dengan kegagalan mu melakukan tugas. Mereka memberimu waktu seminggu untuk mu memulihkan diri, kemudian tiga hari untuk menyelesaikan misi mu. Setelah itu, kau harus segera kembali ke Jepang untuk menghadap ketua,"
"Aku tau. Memang ini adalah kesalahan ku. Dalam sepuluh hari, aku pasti akan memenggal kepala anak itu. Tentu saja hanya dengan begitu, nama baik ku akan kembali. Aku hanya berharap agar Sensei dapat mencarikan penawar racun untuk ku,"
Sensei mendesah pelan. "Sangat mudah meracik racun. Akan tetapi, meramu obat penawar untuk racun tidaklah mudah. Di sekte kita, kita hanya ditempa menjadi pembunuh, bukan tabib,"
"Jika demikian, akan sangat sulit bagiku untuk memenuhi tuntutan ketua sekte. Dengan tenaga dalam yang aku miliki, aku mampu mengeluarkan racun ini. Tapi tidak sepenuhnya. Pada akhirnya, sisa racun yang tidak keluar dengan tuntas ini akan membunuhku secara perlahan," Takimura tampak sangat putus asa. Selama dia menjadi pembunuh bayaran, dia tidak pernah mengira akan berada pada posisi ini. Selama ini dia terbiasa membunuh dan melukai orang dengan senjata beracun nya. Tidak disangka dia akhirnya mengalami bagaimana rasanya keracunan.
"Jangan terlalu putus asa. Barang-barang kita dari Jepang dan Hongkong akan segera tiba dalam dua hari. Jika selamat sampai ditujuan, seharusnya dalam salah satu kotak, terdapat obat untuk mu yang dikirimkan langsung oleh ketua," kata Sensei membujuk agar Takimura tidak terlalu depresi.
"Barang-barang?" Takimura mengernyitkan dahinya. Dia tidak tau apa sebenarnya yang dimaksud dengan barang-barang yang dikatakan oleh Sensei barusan.
Sensei hanya tersenyum sambil meraih cangkir teh, kemudian menyesap sedikit.
Dia meletakkan kembali teh itu di atas meja, kemudian menatap ke arah Takimura. "Sebenarnya ini sangat rahasia. Terlalu rahasia sampai-sampai tidak banyak orang dari sekte yang mengetahui. Tapi tidak apa. Aku mempercayai mu.
Ketahuilah! Apakah menurutmu aku sangat tulus untuk mengajarkan seni beladiri karate kepada orang-orang di kampung ini? Tujuanku mendirikan Dojo ini hanyalah kedok untuk memuluskan sekaligus membuka jalan bagi memasukkan barang-barang dari Jepang. Dojo ini adalah pintu masuk sebelum didistribusikan ke beberapa kota termasuk kota L. Dan Jhonroy adalah mitra bisnis terbesar kita di Sumatra ini. Jika tidak, mana mungkin aku mau repot-repot menganggap bahwa musuhnya adalah musuhku juga. Kematian salah satu murid ku hanyalah alasan yang disengaja untuk membuka silang sengketa dengan Namora. Kebetulan ada sekelompok orang-orang bodoh yang menambah seolah-olah ini nyata dan Namora bersalah karena telah membuat keributan di Dojo ini. Sebenarnya, Namora hanya alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Kali ini, musuh utama yang harus disingkirkan adalah Martins Group. Jika perusahaan itu runtuh, kota Kemuning akan kehilangan banyak kekuatan. Saatnya kita menguasai kota itu sebagai langkah untuk membuka banyak pintu bagi barang-barang dari Jepang,"
__ADS_1