
Namora terengah-engah dengan nafas memburu. Dia terus berlari melalui jalan pintas. Entah sudah berapa lama dia berlari, sampai pada batas kemampuannya, diapun jatuh terduduk di dekat perkebunan tebu milik warga.
Lengan, leher bahkan wajahnya kini sudah tidak karuan bentuk lagi. Semuanya calar tergores oleh daun tebu tersebut.
Dadanya turun naik saat ini. Entah sadar atau tidak, dia kini terbaring di tumpukan daun tebu kering yang pastinya akan mengakibatkan kulitnya gatal-gatal.
Jika dalam keadaan biasa, sudah pasti Namora tidak akan mau berbaring diperkebunan tebu tersebut. Tapi saat ini suasana hatinya benar-benar gundah. Anatar percaya dan tidak, dan juga masih belum mampu mencerna semua yang baru saja terjadi. Rasanya dia tak percaya bahwa selama ini dia hanya dimanfaatkan, dipermainkan, dan yang lebih mengerikan lagi, dia telah dijadikan sebagai bahan taruhan oleh Merisda bersama dua sahabatnya, dan juga Rendra.
Ego kejantanannya saat ini benar-benar tertantang. Bagaimana dia bisa menghadapi orang lain itu jika mereka tau bahwa dirinya telah dipermainkan sedemikian rupa.
"Ya Tuhan.., mengapa bisa begini?" Rintih Namora dalam hati.
Namora mulai berpikir bahwa dia tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Dia ingin berhenti saja.
Dendamnya saat ini nyaris berkarat. Dia ingin membuktikan diri. Tapi bagaimana caranya. Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan kecuali ilmu silatnya. Itupun belum pernah dia gunakan untuk berkelahi.
Dia ingin membuat mereka menyesal karena telah mempermainkannya. Tapi dengan apa? Namora benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah orang yang paling tidak berguna saat ini.
Setelah dia merasa sedikit lebih baik, maka Namora pun melanjutkan perjalanannya.
Ketika dia tiba di rumah, saat ini sudah tepat pukul 4 sore.
Tiba di depan pintu, Mirna yang sedikit mengkhawatirkan dirinya, karena tidak biasanya dia terlambat pulang merasa heran. Ibunya itupun langsung menghujani dirinya dengan pertanyaan.
"Darimana saja kau Namora? Mengapa baru pulang jam segini? Lihat bajumu sangat kotor! Tangan dan wajahmu penuh goresan. Apa kau berkelahi?"
Namora menatap wajah ibunya. Dia menggeleng, lalu segera melangkah menuju ke dalam kamarnya, kemudian mengunci pintu dari dalam.
Mirna mengernyitkan dahi melihat kelakuan anak tunggalnya itu.
Mirna langsung berjalan dan berhenti di depan pintu kamar tadi. "Namora. Ada apa dengan mu? Kau belum menjawab pertanyaan ibu?!"
__ADS_1
"Jangan tanya, Bu! Biarkan Namora sendiri!" Hanya itu jawaban dari Namora. Setelah itu, tidak ada lagi suara terdengar.
Mirna tidak ingin memaksa. Sambil menggelengkan kepalanya, sang ibu pun segera meninggalkan kamar Namora untuk menuju ke ruang dapur.
Karena tidak mendengar suara ibunya lagi, Namora pun akhirnya duduk di sisi tempat tidurnya. Dia mencakar kepalanya sendiri sehingga rambutnya yang sedikit kemerahan menjadi acak-acakan.
*********
Keesokan harinya, Namora memutuskan tidak mau berangkat ke sekolah. Dia juga tidak menggubris Jol yang sengaja datang menjemputnya. Dia hanya mengurung diri di kamarnya. Bahkan, sejak sore sampai saat ini, dia sama sekali belum makan.
"Namora. Buka pintu ini!" Teriak Mirna. Dia sudah tidak tahan dengan tingkah Namora ini.
Klek..! Terdengar suara handle pintu di buka. Ternyata Namora tidak mengunci pintu itu lagi. Tapi, hal yang sangat mengejutkan bagi Mirna pun terjadi.
"Namora. Ada apa dengan dirimu nak?" Mirna mematung melihat Namora meringkuk di sudut kamar. Lagaknya persis seperti orang kedinginan. Dan yang paling membuat Mirna terkejut adalah, keadaan Namora sungguh memprihatinkan dengan rambut kusut berantakan.
Suara Mirna tadi sempat menarik perhatian Rio. Dia pun segera menyusul ke kamar Namora. Dan ketika melihat keadaan Namora yang seperti orang gila, dia juga sempat terkejut.
Melihat ibu dan Paman serta istri pamannya berada di depan pintu, Namora pun bangkit. Tapi dia mulai oleng dan jatuh terduduk kembali.
"Kak. Namora demam!" Katanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Mirna juga terkejut dan langsung menghampiri Namora. Dia segera meletakkan punggung tangannya di atas dahi putranya itu.
"Panas!" Gumamnya dengan suara tercekat.
"Ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Rio.
Namora menggeleng. Dia takut dengan jarum suntik. Makanya dia menggelengkan kepalanya.
"Sebentar lagi juga baikan," kata Namora yang berusaha berbaring ditempat tidur.
__ADS_1
Setelah posisinya pas, dia lalu menarik selimut dan tidak mau lagi ditanyai oleh paman dan ibunya.
"Apakah Namora kembali di bully?" Tanya Rio kepada Mirna.
Mirna menggeleng.
"Tadi aku sempat bertanya kepada Jol. Harusnya dia tau jika Namora di bully. Tapi Jol mengatakan dia tidak melihat Namora di bully. Hanya saja, Namora menghilang. Itu yang dia katakan tadi," jawab Mirna.
"Aku menduga bahwa Namora ini pasti di-bully. Hanya saja, Jol tidak melihatnya," Rio tampak sangat marah ketika ini. Tatapannya terasa dingin.
"Biarkan Namora istirahat kak!" Rio berkata, lalu berlalu meninggalkan kamar Namora. Mirna juga pergi sebelum menutup pintu.
Kini, Namora tinggal sendiri di kamar. Bola matanya menerawang jauh menatapi langit-langit kamarnya.
Saat ini, dia mulai teringat dengan nasehat dari pak Harianto.
"Jika kau mencintai, cukup secintanya saja. Jangan berlebihan. Jika kau benci, cukuplah sebencinya saja, dan jangan pula berlebihan. Posisikan cinta kepada Tuhan sebagai yang paling penting dalam hatimu! Karena, hanya Tuhanlah yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya!
Sudah tiga tahun yang lalu kata-kata nasehat ini. Namun, baru kali ini Namora mampu mencernanya. Itupun karena Merisda telah mematahkan hatinya.
"Namora. Tuhan itu pencemburu. Dia tidak ingin hamba-Nya mencintai mahkluk melebihi cinta mu kepada-Nya. Jika kau menempatkan cinta mu kepada mahkluk melebihi cintamu kepada-Nya, maka kau akan kecewa! Kau tentu tidak ingin menduakan cinta Allah, bukan? Tidak ada yang setara dengan-Nya!"
Namora merenung. Dia sedikit demi sedikit mampu menggali sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia pikirkan. dia mulai mengingat-ingat proses perkenalan antara dirinya dan Merisda.
Kesimpulan yang dia dapat saat ini adalah, dia dipermainkan. Jika dia tidak sekolah, maka Rendra dan temen-temennya akan menang, dan dia kalah. Mereka pasti puas karena berhasil menargetkan Namora.
"Tidak! Aku harus tetap tegar seperti biasa. Aku tidak boleh menjadikan diriku seolah-olah orang yang telah habis dan kalah. Jika aku kalah, mereka akan sombong. Sebaiknya aku tetap seperti biasa," Namora mulai bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sebuah lemari kaca. Lalu dia mengambil sisir kemudian menyisir rambutnya. Namun, perubahan pada diri Namora kini jelas terasa. Sorot matanya sudah tidak bening seperti dulu lagi. Wajahnya juga menjadi kaku, urat rahangnya mengeras dan yang lebih mengerikan adalah, pancaran sorot matanya seperti ingin menelan orang dalam keadaan hidup-hidup.
Namora melemparkan sisir rambut di tangannya ke arah cermin. Lemparan penuh tenaga itu membuat kaca cermin tersebut hancur berderai berbentuk serpihan-serpihan kecil.
"Jika kesadisan yang kalian cari, maka aku akan memberikannya!"
__ADS_1
Namora meraih handuk. Tubuhnya terasa mendadak panas. Dia butuh air untuk berendam.
Bersambung...