
Ketika bus yang membawa Namora bersama dengan rombongan dari SMA negeri Tunas Bangsa menuju ke kota Dolok ginjang untuk mengikuti turnamen yang diselenggarakan di sana, di pusat tahanan kota batu, satu unit mobil BMW hitam seven series berhenti di area parkir, dan dari dalam mobil tersebut keluar seorang lelaki yang tidak lain adalah Ameng.
Tidak lama setelah mobil BMW hitam itu terparkir, dari arah belakang, datang pula satu unit mobil Toyota Hardtop tua yang tampak sangat antik, lalu berhenti tepat di belakang mobil BMW tadi.
Dari dalam, keluarlah seorang lelaki yang masih cukup muda dan tampan, mengenakan seragam kepolisian dengan dua bunga melati berwarna emas tampak tersemat di seragam yang dia kenakan. Penampilan lelaki yang berumur di atas 35 tahun tersebut cukup gagah baik dari penampilan, temperamen yang tenang, serta wajahnya yang rupawan.
Petugas polisi ini sepertinya tidak pantas menyandang pangkat kepala kepolisian resor. Dia lebih terlihat seperti artis dari Korea. Walaupun Korea nya Korea pinggiran. Dan lelaki yang mengenakan seragam itu tidak lain adalah AKBP Rio Habonaran.
Begitu Rio menghampiri Ameng, dia langsung mengajak Ameng untuk memasuki ruang besuk dimana di sana telah ada Tigor yang menunggu mereka dengan tampang seperti biasa. Tenang, cool, namun mengintimidasi.
"Ada apa lagi kalian mengganggu pertapaan ku?" Tanya Tigor dengan tenang. Nada bicaranya tenang mengandung candaan. Tapi Ameng dan Rio sama sekali tidak merasa lucu. Terlebih lagi, di tangan Rio kini tergenggam handphone Nokia antik berbentuk sabun. Itu adalah handphone terkeren milik Tigor pada masanya dengan tipe Nokia 6600.
Tigor mengernyitkan dahinya begitu melihat handphone miliknya berada di tangan Rio, kemudian bertanya. "Apa lagi ini? Jangan sembarangan mengeluarkan handphone ku. Jika itu rusak, sudah tidak ada lagi sparepart nya!"
"Ini semua karena anak lajang mu bang! Aku sudah sangat buntu. Kemarin malam, dia dan dua puluh orang bawahan Zack, membantai anak buah Jhonroy di perbatasan gang Kumuh. Aku bingung mencari solusi dimana aku harus melindungi anak mu itu, sedangkan di satu sisi aku juga harus membendung pergerakan dari orang-orang kota L. Pusing kepala ku. Mengapa dulu kau tidak menitipkan saja seribu ekor sapi kepadaku untuk ku gembalai. Mengapa harus anak mu yang macam setan itu yang kau titipkan kepadaku?!" Rupanya Ameng masih sangat kesal. Sampai-sampai dihadapan Tigor pun dia masih gagal membendung emosinya.
__ADS_1
Rio menutup mulutnya menahan tawa. Sedangkan Tigor melotot menatap Ameng yang saat ini wajahnya sudah tidak lagi merah, melainkan biru. Dia sudah sangat dirasuki rasa jengkel level tertinggi.
"Duduk, kemudian ceritakan kepadaku apa yang terjadi!" Pinta Tigor kepada Ameng. Sedangkan Rio, ketika dia meletakkan handphone Nokia milik Tigor di atas meja, dia segera meninggalkan tempat itu. Bagaimanapun, tidak lantas baginya yang seorang kepala kepolisian resor, berada diantara Tigor yang notabene adalah seorang narapidana. Walaupun itu adalah abangnya, tapi di mata hukum tidak ada istilah Abang, adik atau saudara.
Sepeninggalan Rio, Ameng pun mulai membeberkan kelakuan Namora. Dimulai dari membuat keributan di Dojo kampung baru, kemudian beralih ke perkelahiannya di perbatasan gang Kumuh.
"Abang bayangkan saja! Tidak sampai dalam kurun waktu lima jam, anak itu kembali membuat onar. Suka betul membuat masalah. Bahkan, hari ini dia pergi ke Dolok ginjang untuk mengikuti turnamen beladiri antar kabupaten. Aku malah khawatir kalau-kalau acara itu nantinya akan hancur oleh anak mu itu," berbusa mulut Ameng menjelaskan kepada Tigor, tapi dia bertambah jengkel karena Tigor seperti tenang-tenang saja.
"Apa yang kau ketahui tentang Jhonroy? Apakah ada pergerakan?"
"Oh. Jadi, kau sengaja membawa handphone ku ke sini dengan tujuan ya?" Tigor meraih handphone miliknya, kemudian menekan tombol power.
"Aku tidak bisa menggerakkan kekuatan Dragon Empire. Saat ini, tanpa dirimu, kekuatan yang kita miliki seperti besi berkarat karena terus terpendam. Bahkan, sebagian dari mereka telah memulai kehidupan sebagai petani, walaupun kesetiaan mereka tidak diragukan. Kau tau apa maksud ku kan? Hubungi Tuan besar Jerry William! Dia pasti punya rencana untuk membantu memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh anak mu,"
Tigor merenung sejenak. Dia tahu jelas yang dikhawatirkan oleh Ameng. Dia sangat lega karena Ameng sangat menyayangi putranya. Adapun Ameng suka memarahi Namora sesuka hatinya, itu tidak masalah. Bahkan, jika lengan Namora dipatahkan oleh Ameng pun, dia tidak akan mempermasalahkannya. Statusnya memang ayah dari Namora. Akan tetapi, seluruh kebutuhan Namora, Ameng lah yang mengurus semuanya. Andai tidak ada Ameng, dapat dipastikan jika melihat dari temperamen Namora, kemungkinan anak itu akan melanggar siapa saja yang ingin dia langgar.
__ADS_1
"Apa lagi yang kau pikirkan bang? Ini adalah kartu terakhir kita," Ameng mendesak Tigor untuk segera menghubungi Jerry William untuk meminta petunjuk.
"Sangat memalukan menghubungi Tuan besar hanya karena masalah seperti ini. Terlalu sepele masalah ini. Yang aku khawatirkan adalah, harga diri kita akan turun sebagai cabang di negara ini,"
Ameng merenungi apa yang dikatakan oleh Tigor. Dia sepenuhnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Tigor. Karena, maslah seperti ini saja harus mengadukan kepada tuan besar. Kelak, mereka pasti tidak akan punya wajah lagi untuk berhadapan dengan Dragon Empire pusat.
Ameng berdiri, mengurut dagunya seperti sedang berpikir keras.
Memang harus punya wajah yang cukup tebal untuk menelepon Jerry William. Kini dirinya sudah seperti setrika rongsok yang mondar-mandir di ruangan besuk itu.
Tiba-tiba, Ameng seperti memiliki alasan yang tepat, kemudian berbalik ke arah Tigor, lalu berseru. "Bang. Jangan keburu merasa rendah karena meminta bantuan dari tuan besar Jerry William. Bukankah dia sendiri pernah mengatakan ingin merintis perusahaan di sini. Sementara itu, perusahaan yang dia dirikan saat ini hanya sebatas lima kabupaten saja. Dengan masalah ini, bukankah Namora sendiri telah merintis jalan untuk Future of Company? Ayo bang. Telepon saja tuan besar!" Pinta Ameng dengan sangat antusias setelah menemukan alasan yang tepat.
Mendengar perkataan dari Ameng, Tigor pun mengangguk setuju. Ayah yang mana yang tidak mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Walaupun ayah selalu dingin dan sangat sulit untuk memberikan pujian kepada anaknya secara terang-terangan, akan tetapi, hanya ketika orang itu pernah menjadi seorang ayah lah baru dia tau perasaan yang dimiliki oleh seorang ayah terhadap anaknya.
Melihat Tigor sudah mencari informasi kontak di handphone miliknya, Ameng dengan sangat bersemangat langsung kembali duduk, dan segera memasang kuping untuk mendengarkan apa yang akan diperbincangkan oleh Tigor dengan Jerry William.
__ADS_1
Bersambung...