
"Tuan muda. Kemana kita selanjutnya?" Tanya Pak Karim.
Namora sudah selesai belanja. Sedangkan semua tugas yang diberikan oleh Namora kepadanya juga telah dia kerjakan. Terlebih lagi, mencoba mobil baru dari Lalah. Oleh karena itu, Pak Karim bertanya apa dan akan kemana majikannya itu selanjutnya akan pergi.
"Pulang!" Jawab Namora singkat. Baginya, tidak ada yang perlu dicari. Semuanya sudah dia dapatkan. Tinggal menunggu besok dia akan mengikuti konvoi bersama dengan paman-pamannya ke kota Batu untuk menjemput ayahnya yang akan bebas.
Namora segera meminta kepada Pak Karim untuk menunggunya di area parkir. Sedangkan dirinya ingin menemui Miss Aline untuk berpamitan. Akan terasa tidak sopan baginya jika tidak berpamitan kepada jenderal manager di Tower Mall ini.
Tok.., tok.., tok..!
"Masuk!" Terdengar suara perintah dari dalam.
Begitu melihat siapa yang masuk, Miss Aline menyunggingkan senyum, kemudian bertanya. "Bagaimana dengan acara belanja mu, Mora. Apakah menyenangkan?"
Namora mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengiyakan. Namun, baru saja Namora hendak membuka mulut untuk mengucapkan rasa terimakasihnya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Miss Aline. Saya mohon maaf. Saya harus menjawab panggilan sebentar. Apakah tidak apa-apa?" Tanya Namora kepada Miss Aline. Dia merasa harus menjawab panggilan itu karena melihat id si penelepon yang tidak lain adalah salah satu staf pribadinya di Martins Group.
Miss Aline memberi isyarat dengan tangannya mempersilahkan Namora untuk segera menjawab panggilan itu.
Namora dengan raut wajah tidak enak segera mengusap layar pada ponselnya, kemudian panggilan pun tersambung dengan mode pengeras suara.
"Halo," sapa Namora singkat.
Tidak sampai dua detik, terdengar suara penuh kekhawatiran dari seberang sana. "Tuan muda, Namora. Ada kabar buruk dari perusahaan,"
__ADS_1
"Ada apa? Katakan dengan perlahan, dan jangan gugup!" Pinta Namora. Alisnya mulai berkerut, dan mulai menebak apa yang sebenarnya terjadi di dalam perusahaan. Sementara itu, Miss Aline yang memperhatikan ekspresi wajah Namora juga mulai memasang wajah serius.
"Tuan muda. Baru saja perwakilan dari enam orang pemegang saham di perusahaan mendatangi Martins Group dengan sejumlah ancaman. Dia mengatakan bahwa keenam orang pemegang saham itu ingin mengajukan tuntutan bahwa anda harus segera mencabut pernyataan anda yang mengatakan bahwa anda, selaku CEO di perusahaan harus menarik kata-kata anda di konferensi pers yang menyatakan permusuhan dengan Agro finansial Group. Jika tidak, besok, mereka akan mengadakan pertemuan dewan direksi dan akan memberikan sejumlah sangsi kepada anda, termasuk sepakat untuk melengserkan jabatan anda sebagai CEO di perusahaan, dan menggantinya dengan orang pilihan mereka. Mereka hanya ingin agar anda melepaskan jabatan tersebut, dan duduk dengan santai menikmati deviden sebagai pemegang saham terbesar dalam perusahaan. Saat itu, biarkan anda sebagai investor, dan bukan bagian dari manajemen. Sehingga, anda tidak dapat mengambil keputusan yang berdampak pada keterpurukan perusahaan,"
"Sejumlah ancaman? Lalu, apa ancaman yang lainnya?" Tanya Namora. Wajahnya masih tetap kaku. Sama sekali tidak ada ekspresi.
"Ancaman kedua adalah..," Staf pribadi Namora itu menghentikan kata-katanya. Dia khawatir jika mengatakannya, Namora akan panik. Tapi, ketika dia menghentikan kata-katanya, Namora justru tidak sabaran, lalu membentak dengan keras. "katakan! Apakah kau mendadak gagu?"
Mendengar bentakan itu, wanita di seberang sana menjadi ketakutan, kemudian dia mengatakan yang sebenarnya tanpa ditambah-tambahi, ataupun di kurang-kurangi.
Mendengar penjelasan dari staf tadi, Namora langsung mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi berkereketan dari ruas-ruas jari jemarinya.
"Jika itu yang mereka inginkan, baiklah. Besok aku akan hadir dalam pertemuan dengan dewan direksi. Kau harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk rapat besok. Kepalang basah, aku pasti akan menarik sikap dan mengajari mereka apa itu intimidasi!" Kata Namora sembari mengakhiri panggilan.
Begitu panggilan berakhir, Namora segera menatap ke arah Miss Aline yang tampak tenang-tenang saja sambil mempermainkan pulpen di tangannya. "Tampaknya pengkhianatan besar sedang terjadi dalam perusahaan mu,"
"Mereka meremehkan mu, Namora. Mereka menganggap bahwa dengan usia mu, kau bisa diintimidasi. Apakah kau berniat untuk memukul pinggang para anjing itu?" Sekali lagi Miss Aline memainkan pena ditangannya.
"Saya benar-benar marah untuk saat ini. Mereka tau bahwa esok adalah hari besar dalam hidupku. Ayah akan bebas dan kami sedang bersiap untuk menyambutnya. Momen ini mereka gunakan untuk membuat onar. Mereka pasti akan membayarnya dua kali lipat. Walaupun perusahaan sedang mengalami krisis dan terancam mandek, tapi tantangan sudah didepan mata. Seorang lelaki tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak. Saya rela melepaskan beberapa saham di perusahaan untuk membungkam gonggongan anjing-anjing yang lupa pada tuannya itu. Besok, mereka pasti akan meninggalkan Martins Group dengan cara merangkak," tekad Namora. Sedangkan Miss Aline masih tetap tersenyum.
"Sepertinya, sudah saatnya Future of Company membantu mu. Aku akan membuat pengaturan untuk membantu Martins Group. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan tanpa ragu, dan Future of Company akan berada dibelakang mu," kata Miss Aline.
Entah karena terlalu marah, atau memang sudah bawaan sejak lahir, Namora hanya mendengus mendengar perkataan Miss Aline.
Bukannya tersinggung, Miss Aline malah tampak mengagumi sikap Namora ini. Baginya, sikap angkuh seperti ini harus ada pada diri setiap Boss. Jika tidak, maka anak buahnya tidak akan menghormatinya.
__ADS_1
"Saya izin pamit," kata Namora sembari membalikkan badannya. Namun, ketika mencapai pintu, langkahnya dihentikan oleh suara Miss Aline. "Kau tunggu besok. Perwakilan dari Future of Company akan datang mengetuk pintu untuk menawarkan sebuah kerjasama yang akan mampu menopang perusahaan mu untuk tetap bersaing di dunia bisnis ini. Bagi Future of Company, Agro finansial Group hanyalah sebutir debu yang tidak berarti,"
Namora hanya menganggukkan kepalanya, lalu membuka pintu, kemudian menghilang dari pandangan Miss Aline.
Begitu sosok tubuh Namora menghilang, Miss Aline segera mengeluarkan handphone miliknya, kemudian melakukan panggilan.
"Aline. Ada apa kau menelepon ku?" Tanya satu suara lembut, namun penuh wibawa dari seberang sana.
"Tuan besar Jerry William.."
"Bisakah kau jangan mengatakan omong kosong seperti itu? Aku tidak butuh gelar palsu darimu. Bagimu, aku tetap Jerry kan? Jadi, buang semua ocehan busuk itu! Panggil saja aku dengan namaku, Jerry. Tidak perlu terlalu formal," tegur orang di seberang sana yang tidak lain adalah Jerry William.
"Baiklah. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Semua ini tentang Namora dan perusahaannya," kata Aline, kemudian dia menceritakan semuanya kepada Jerry William.
Setelah Miss Aline selesai dengan penuturannya, terdengar suara tawa dari ujung telepon disusul dengan ucapan, "bagus. Anak itu ternyata mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik. Tanpa dikomandoi, dia bisa membuat air kolam yang tadinya tenang menjadi bergejolak. Ikan besar akan masuk perangkap. Mengira kolam itu adalah lautan berair dalam. Padahal hanya riaknya saja yang besar, nyatanya dangkal. Besok, suntikkan dana besar ke perusahaan Martins Group. Buat kesepakatan kerjasama agar tidak menimbulkan kecurigaan. Setelah itu, perhatikan apa yang akan terjadi. Agro Finansial Group hanyalah sampah bau. Menghancurkan perusahaan ini akan membuat Arold Holding company hanya memiliki satu opsi yaitu Martins Group kota Tasik Putri. Segera hancurkan perusahaan ini secepatnya!"
"Pesanan anda akan saya jalankan!" Jawab Miss Aline.
"Aline. Besok putra ku akan datang ke kota Kemuning. Ingat! Biarkan dia melakukan apa saja yang dia sukai. Walaupun dia membakar tower mall sekalipun, biarkan dan jangan dilarang. Anak itu sudah sangat menderita,"
"Tapi Jerry..,"
"Tidak ada tapi-tapian. Dia akan membuat onar dimana-mana. Itu adalah tujuan ku. Semakin kacau suasananya, semakin bagus. Orang-orang hanya perlu tau bahwa dia adalah Joe William putra ku, tanpa tau seperti apa wajah aslinya. Ingat! Anak itu punya bakat menyakiti orang. Jika kau tidak membuatnya senang, aku khawatir kelak kehidupan mu akan seperti di neraka. Jangan lihat tingkah lucunya. Kelucuannya hanyalah kedok untuk menutupi semua keahlian yang dia miliki. Dia tampan, lucu, menggemaskan, namun, dia berbahaya. Dia adalah mesin yang ditempa oleh dua orang ahli. Perlakuan dia dengan baik!"
Bergidik bulu kuduk Miss Aline mendengar kata-kata dari Jerry ini tentang putranya. Dia dapat menafsirkan bahwa semua yang dikatakan oleh Jerry ini adalah kebenaran jika mengacu kepada siapa ayah dari Joe ini.
__ADS_1
Miss Aline bukan tidak mengenal siapa Jerry dan seperti apa kelakuannya. Jerry muda adalah Jerry yang cukup gila. Ayahnya saja begitu, apa lagi putranya. Terlebih lagi, dalam diri Joe ini, mengalir darah Jerry yang gila, Drako yang kejam, William King yang licik, serta Leon Smith yang cermat. Belum lagi gurunya yaitu Malik Arvan dan Tengku Mahmud Badaruddin yang ketika mendengar namanya saja, cukup untuk membuat orang kencing di celana.
Bersambung...