
Sekelompok orang-orang yang memasuki ruangan bawah tanah di Aula Fighter Club' kota Batu sungguh mengagetkan beberapa orang yang tampak sedang asyik bertaruh.
Mereka mengira bahwa ada penggerebekan dari pihak berwajib. Padahal, yang mereka tau bahwa mereka baru saja menyetor uang pajak kepada pak Ferdy, anggota senior di kepolisian kota Batu. Diketahui, walaupun pak Ferdy ini adalah bawahan dari Rio, akan tetapi karena dia adalah yang paling senior, maka Rio sangat menghormati pak Ferdy ini.
Entah karena memang pencahayaan di tepat itu remang dan hanya terfokus kepada gelanggang saja yang memiliki cahaya terang, sehingga mereka tidak dapat memastikan siapa yang memasuki ruang bawah tanah tersebut.
Diketahui bahwa setiap orang yang berpartisipasi di sana adalah orang-orang yang sudah memiliki janji dan yang tidak memiliki perjanjian sebelumnya, maka tidak boleh memasuki ruangan ini. Ini demi menjaga keamanan serta kerahasiaan tempat ini dari pihak kepolisian yang jujur. Tapi kini mereka dikejutkan dengan kedatangan sekelompok orang-orang yang memang tidak memiliki janji sebelumnya. Ini menandakan bahwa mereka telah memasuki ruang bawah tanah ini secara paksa.
Mengetahui bahwa yang datang bukanlah dari anggota kepolisian, maka sumpah serapah dan umpatan bernada makian mulai berhamburan dari mulut orang-orang yang berada di tempat ini. Dan Willi adalah salah satu orang yang paling marah.
"Siapa yang bosan makan nasi, sehingga berani menerobos masuk ke tempat ini hah? Kemana pengawal?" Teriak Willi dengan suara bergema. Orang ini tubuhnya saja yang kurus kering. Tapi suara yang dia miliki sangat nyaring.
Karena tidak mendapat jawaban, Willi segera melangkah menghampiri orang-orang yang baru masuk tadi. Dia berniat untuk menghajar mereka.
Perlu diketahui bahwa Willi ini adalah orang lokal, alias putra daerah. Dia juga lumayan memiliki kekuasaan di kota batu ini. Tidak ada orang-orang dari kota lain yang berani memprovokasi dirinya. Bahkan, Robert saja tidak berani berhadapan dengannya ketika berada di kota batu ini. Dan, satu-satunya orang yang tidak berani dia usik adalah orang-orang dari Dragon Empire. Dan kali ini sepertinya Willi benar-benar apes.
"Sialan. Kalian tidak menjawab pertanyaan ku? Bosan hid...,"
Plak!
Belum sempat Willi menyelesaikan kalimatnya, satu tamparan melesat menghantam tepat di bagian rahangnya.
Willi terkejut mendapat tamparan yang membuat kepalanya mendadak pusing sembilan keliling. Dengan tatapan berapi-api, dia segera meluruskan tubuhnya dengan niat hendak kembali melabrak. Tapi kali ini lidahnya terasa kelu ketika melihat satu sosok berdiri di depannya dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
"Mengapa berhenti berteriak? Bukankah tadi kau terus berteriak seperti anjing jalanan yang tak bertuan?" Tegur lelaki tadi. Dan lelaki itulah yang mengirimkan tamparan gratis kearah wajahnya.
"Bang.., bang Ameng," Willi terkejut ketika melihat lelaki yang berdiri itu ternyata adalah Ameng. Dia segera menguasai keterkejutannya, kemudian berkata dengan nada menjilat. "ah. Maafkan aku yang buta ini bang. Aku tidak menyangka kalau itu adalah, Abang Ameng. Harap dimaafkan bang!" Willi terbungkuk-bungkuk ketakutan dihadapan Ameng.
"Teruskan gonggongan mu! Aku menikmatinya," Ameng berkata dengan wajah tetap kelihatan galak.
"Tidak berani bang. Saya tidak berani,"
Plak!
"Tadi aku. Sekarang saya. Ucapan mu ini seperti kentut," Ameng kembali menampar pipi Willi.
Merasakan kesakitan di pipinya, mau tak mau membuat Willi marah juga. Dia segera berteriak melawan.
"Bang. Kau datang ketempat ku dan menampar ku tanpa alasan yang jelas. Jika tidak memandang wajahmu, ingin rasanya aku membunuhmu di sini!"
"Kau jangan keterlaluan bang. Kesabaran orang ada batasnya. Jika kau tidak percaya, aku bisa memanggil anak buah ku. Aku pastikan kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini!" Willi mengancam sambil mengeluarkan ponselnya. Dia berharap agar Ameng ketakutan. Tapi dia lupa bahwa ketika dia belum bisa cebok sendiri, Ameng sudah malang melintang mulai dari Dolok ginjang sampai ke Tanjung Karang dengan aksi-aksinya yang menggemparkan dunia hitam. Bahkan Mr Ming kang Khang dari Hongkong pun menaruh hormat kepadanya. Hanya Tigor yang bisa membuatnya takut. Willi, sama sekali tidak berarti baginya. Bahkan dia tidak pernah menghitung lelaki kurus kering ini.
Mendengar ancaman dari Willi, Ameng tersenyum kecut. Ada pancaran dingin dimatanya. "Kau mau menelepon anak buah mu? Ayo telpon lah!" Pinta Ameng mempersilahkan dengan merentangkan tangannya.
"Kau jangan maksa ku bang! Aku akan benar-benar melakukannya!"
Plak!
__ADS_1
"Banyak bacot. Apa kau kira aku ini anak kemarin sore?. Kau masih kencing di popok, aku sudah membunuh puluhan orang. Aku beri kau waktu 10 menit untuk menelepon orang-orang mu. Manfaatkan waktu yang aku beri. Jika tidak, kau akan menyesalinya,"
Selesai bicara, Ameng segera duduk di kursi, kemudian meminta agar pertarungan diantara jagoan yang sempat terhenti tadi, dilanjutkan.
"Baik. Aku akan memanggil orang-orang ku!"
Ketika ini, Willi langsung menelepon orang-orang yang berada dibawahnya. Dia berniat untuk melakukan perlawanan terhadap Ameng ini. Tidak mengapa dia akan diburu oleh Dragon Empire. Asalkan Ameng ini bisa mati, maka tidak akan ada yang akan membawa kabar ke kota Kemuning untuk melaporkan bahwa Ameng terbunuh ditangannya.
Sementara itu, Ameng tetap santai sambil menyalakan sebatang cerutu. Sesekali dia melirik ke arah Namora yang berada di tengah-tengah orang-orang yang dia bawa masuk.
Namora sendiri terlihat sangat tenang. Dia tau bahwa Willi tidak akan melihat dan menyadari keberadaannya. Dia menunggu jika sudah waktunya, maka dia akan segera keluar dan menyelesaikan hutang piutangnya dengan Willi yang telah berani menargetkan dirinya.
Setelah waktu yang diberikan oleh Ameng habis, kini Ameng menatap ke arah Willi dengan alis mata terangkat.
"Sudah?" Tanya Ameng dengan senyum mengejek. Senyuman ini membuat Willi nyaris memuntahkan ginjalnya keluar.
"Jangan menatap ku seperti itu! Kau tinggal jawab. Apakah waktu yang aku berikan sudah kau manfaatkan untuk mencari bantuan? Aku tidak ingin dikatakan telah mengintimidasi orang yang tidak memiliki kekuatan. Reputasi ku bisa rusak. Aku memberikan mu kesempatan untuk melakukan perlawanan dengan memanggil orang-orang mu,"
"Huh. Sombong sekali orang kota Kemuning ini. Kau jangan lupa bahwa ini adalah kota Batu. Orang kota Kemuning bisa apa di sini. Kau tunggulah! Sebentar lagi kau akan menyesali karena telah memberikan waktu kepadaku,"
"Hahahaha." Mendengar ini, Ameng merasa sangat lucu di dalam hatinya. Willi ini jelas lupa siapa dirinya.
Ameng mendekatkan wajahnya ke arah Willi lalu berkata, "kau mengatakan apa tadi? Apa kau lupa siapa aku, dan peristiwa apa yang pernah terjadi di bukit batu sekitar 17 tahun yang lalu? Jangan katakan orang kota Kemuning. Bahkan jika ayah mu masih hidup, dia akan berlutut di depanku saat ini!"
__ADS_1
"Aku memberikan waktu lima menit lagi. Setelah itu, aku pastikan bahwa kau akan menjadi pasta daging di sini!" Tatapan Ameng sudah mulai menusuk. Willi tau bahwa ini bukanlah gertak sambal belaka. Ameng pasti akan melakukanya. Dan ini membuat Willi merasa nyawanya sudah sampai di ubun-ubun.
Bersambung...