
Aula Fighter Club'
Puluhan unit mobil yang beberapa diantaranya adalah mobil jenis Van, tampak terparkir tak tentu arah tepat di depan sebuah bangunan yang dikenal sebagai rumah judi yang melegalkan berbagai jenis judi di kota batu ini.
Dari dalam mobil, tampak keluar puluhan, bahkan ratusan lelaki berbadan tegap. Tapi, sepertinya tidak ada yang berniat memasuki bangunan tersebut, melainkan, seperti sedang menunggu. Dan tidak ada yang tau siapa yang tengah mereka tunggu.
Ketika itu, hanya dalam hitungan menit, satu unit mobil BMW hitam meluncur perlahan kemudian memotong arus untuk mencari jalan pintas dan segera berbelok ke arah bangunan yang sama dimana puluhan mobil-mobil tadi terparkir.
Ketika ini, mobil tadi berhenti tepat di tengah yang langsung memblok jalan di depan bangunan tadi. Beberapa orang yang mengenali siapa pemilik mobil ini langsung bergegas menghampiri mobil tadi, kemudian membukakan pintu.
Begitu seorang lelaki paruh baya dengan cerutu ditangannya keluar, beberapa orang langsung memberi hormat. "Bang Ameng?!"
"Hmmm..." Ameng mendengus pelan. Setelah itu, dia mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Namora.
Melihat Ameng yang langsung bertindak untuk membukakan pintu bagi seorang pemuda yang sangat belia, mata semua orang menatap tak berkedip. Ini karena, mereka tau siapa Ameng, dan apa pengaruh yang dia miliki di beberapa kota. Jadi, dapat dibayangkan seperti apa latar belakang pemuda itu jika sampai Ameng sendiri berinisiatif untuk membukakan pintu mobil untuknya.
"Bang.., ini?" Mereka jadi ingin tau mengapa Ameng begitu menghormati pemuda itu. Karena mereka sebenarnya belum mengenal Namora, jelas saja mereka semua menjadi terheran-heran.
"Terimakasih, Paman. Tapi, untuk apa orang-orang seramai ini?" Namora menjadi sedikit heran. Dia hanya ingin membuat urusan dengan Willi. Tapi dia tidak tau bahwa Ameng akan memanggil begitu banyak anggota hanya untuk menghadapi satu orang yang kurus kering seperti Willi.
"Namora. Kau tidak tau dunia hitam ini seperti apa. Kemampuan bertarung memang perlu. Tapi menjaga gengsi dan wibawa juga penting. Dihadapan manusia, kekuatan otot saja tidak cukup. Gajah yang kuat pun tumbang jika sudah berhadapan dengan manusia yang memiliki seribu cara. Sebelum kau memukul seseorang, yang perlu kau pukul adalah mental dan semangat juangnya. Jika semangatnya runtuh, maka akan lebih mudah untuk melumpuhkan orangnya," Ameng memberikan penjelasan kepada Namora, karena memang Namora ini sama sekali tidak mengetahui di dunia hitam ini sangat kejam. Ada intrik, saling makan, dan penuh dengan pergolakan untuk merebut area dan perluasan kekuasaan. Jika kau lemah, posisi mu tidak lebih baik dari keset kaki.
"Jangan tunjukkan sedikitpun kelemahan, atau kau akan tergilas!"
Namora mengangguk faham, lalu bertanya. "Paman, apakah Willi itu pasti berada di sini?"
"Jika aku sudah mengutus orang-orang ku untuk melacak keberadaan target, jarang ada yang bisa meloloskan diri,"
Sekali lagi Namora merasa takjub dengan Ameng.
"Paman. Jadilah penonton yang baik. Aku hanya ingin mengendorkan otot-otot ku," Namora segera menuju ke arah pintu bangunan Aula Fighter Club' yang saat ini tampak dijaga oleh empat orang lelaki yang juga berbadan kekar.
Setelah Namora pergi, lelaki yang bertanya tadi sekali lagi menanyakan tentang siapa Namora ini kepada Ameng.
__ADS_1
"Apa kau tidak memperhatikan wajah anak itu mirip dengan siapa?" Bukannya menjawab, Ameng malah balik bertanya.
"Aku hanya ingin memastikan. Karena, sejak tadi memang ku lihat wajah anak itu sangat mirip dengan wajah Abang besar kita,"
"Kau sudah tau kan? Maka, mulai dari sekarang, dia adalah Tuan muda kalian,"
"Jadi..?" Lelaki itu seakan tidak percaya bahwa Namora adalah putra dari Tigor. Kini dia mengalihkan pandangannya ke arah Namora yang sudah sejak tadi berjalan ke arah pintu. Namun, baru saja dia memalingkan wajahnya, satu suara keras disertai dengan meraungnya satu suara menggema tepat di depan sana.
Semua mata kini menatap ke arah dimana Namora sedang berdiri tegak. Sementara itu, di depannya sudah tergeletak dua orang lelaki yang tampak sedang sekarat meringkuk.
"Aku bertanya dengan cara baik. Tapi kau menjawab pertanyaan ku dengan cara yang sangat kasar. Sekarang sekali lagi aku bertanya, dimana Willi?"
Dua orang pengawal yang tersisa di depan pintu itu tampak tidak bisa menguasai keterkejutannya dalam waktu dekat. Bagaimana mungkin seorang anak muda yang sangat belia bisa menjatuhkan dia orang rekannya dalam dua gerakan. Satu gerakan saja bisa menjatuhkan seorang yang berpostur tinggi tegap. Bukankah ini sangat bangsat sekali. Terlebih lagi, ekspresi wajah anak itu sangat datar seolah-olah wajahnya seperti mayat yang tanpa ekspresi.
Tidak mendapatkan jawaban, Namora melirik ke arah tong besar, mungkin adalah tempat membuang sampah. Kemudian dia mengangkat tong tadi, lalu melemparkannya ke arah lelaki yang paling dekat dengan dirinya.
"Aku bertanya. Mengapa tidak dijawab?"
Setelah puas membentak, lelaki penjaga itu segera melangkah menuju ke arah Namora. Niatnya adalah, ingin menarik kerah baju Namora. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa dia telah melakukan kesalahan.
Namora bukanlah seorang yang suka digertak. Dia sudah kenyang makan gertakan orang setiap hari. Dia tidak ingin lagi digertak.
Dengan cekatan, Namora mencengkeram erat tangan lelaki itu, kemudian mengirim tendangan yang tepat mengarah ke rusuk kiri lelaki tadi.
Krek..!
Jelas tulang lelaki itu patah diiringi dengan sosoknya yang terus ambruk.
Mungkin karena terlalu sakit, sampai-sampai lelaki itu berteriak sambil berguling-guling hingga ke kaki lima.
"Kau?!" Seorang lagi yang tersisa tidak bisa menahan kemarahan. Dia segera mengambil tongkat rotan dan ingin memukulkan tongkat rotan sepanjang tiga jengkal orang dewasa itu ke arah Namora.
Sedikitpun Namora tidak menghindar. Tapi tiba-tiba tongkat di tangan lelaki itu segera terjatuh. Kini dia melihat dari arah depan, ratusan orang melangkah menuju ke arah pintu masuk Aula Fighter Club'. Dan dia jelas mengenal orang yang paling depan itu adalah Ameng.
__ADS_1
"Berani sekali kau berniat menyerang tuan muda kami?" Ameng melemparkan puntung cerutu nya ke arah wajah lelaki itu.
"Bang Ameng... Ampuni aku. Apa salahku bang?"
"Salah mu adalah, mengapa kau tidak menjawab pertanyaan tuan kami? Apakah karena kau terlalu memandang sebelah mata kepadanya?" Tatapan Ameng sungguh sangat mengintimidasi.
Lelaki itu gemetaran seluruh tubuhnya. Cairan hangat beraroma yang sangat khas mengalir dari sela antara kedua pahanya. Jelas lelaki ini ngompol di celana.
"Ampun bang! Tuan Willi ada di dalam," lelaki penjaga itu segera berlutut mengharapkan pengampunan.
"Kau jaga pintu masuk. Berani melarikan diri, aku bunuh kau!" Ancam Ameng.
"Saya tidak berani bang. Tidak berani," lelaki itu lekas mengangguk dengan dua belah tangannya mengatup di depan dada.
Melihat bahwa tidak ada gunanya mengancam penjaga itu terus menerus, Namora segera melangkah menuju aula utama di dalam bangunan itu. Kini, dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Begitu panggilan terhubung, terdengar suara tergesa-gesa dari seberang sana.
"Tuan muda. Apakah ada yang perlu saya lakukan?"
"Zack. Apakah dua orang lelaki yang aku titipkan masih berada bersama mu?"
"Masih. Apakah tuan muda akan memerintahkan kepada saya untuk membunuhnya?"
"Jangan! Kalian berempat datang ke Aula Fighter Club' kota Batu. Bawa kedua orang itu sekalian!"
"Baik, Tuan muda!"
Setelah selesai melakukan panggilan telepon tadi, Namora segera menatap ke arah Ameng.
"Jalan!" Kata Ameng memimpin di depan menuju ke arah tangga yang akan mengantarkan mereka ke ruang bawah tanah dimana di sana terdapat arena tarung bebas.
Bersambung...
__ADS_1