
Hampir sudah satu bulan Namora berguru kepada Pak Harianto. Kini, baik fisik, watak dan gayanya tidak seperti dulu lagi ketika dia belum berlatih ilmu beladiri.
Namora tampak lebih tenang, tidak muda cengeng dan sama sekali tidak menggubris setiap hinaan dan cacian yang dia terima.
Perubahan pada diri Namora ini bukan hanya dirasakan oleh teman-temannya seperti Jol, Jericho, Juned, Jaiz, James, Jufran dan Julio saja. Bahkan Rendra dan Marcus serta anak-anak yang lainnya pun turut merasakannya. Hal ini membuat mereka semakin berfikir untuk menggangu Namora lagi.
Pernah satu kali mereka akan mengeroyok dirinya seperti sebulan yang lalu. Namun sedikitpun mereka tidak bisa mendaratkan pukulan dengan telak di tubuh Namora. Padahal, sedikitpun Namora tidak melawan. Dia hanya berkelit dan menghindar saja.
Itu baru satu bulan dia belajar. Bagaimana jika sudah tiga tahun? Tak terbayang bagaimana anak ini nantinya.
Sore ini, seperti biasa. Namora yang tidak pernah absen latihan pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah pak Harianto. Dia seperti itu bukan karena rajin, melainkan takut kepada lelaki tua itu. Andai lelaki tua itu sampai menjemput dirinya ke rumah Rio, bisa patah tulangnya dihajar oleh gurunya tersebut.
"Kau akan berangkat, Namora?" Tanya Rio kepada keponakan tersebut.
"Iya, Paman. Namora takut terlambat. Jika terlambat, nanti kakek akan menjemput ku ke rumah. Kalau sampai itu terjadi, tulang Namora pasti akan dia bikin patah," jawab anak itu dengan polosnya.
"Paman juga akan ke rumahnya. Mari ikut dengan Paman sekalian!" Kata Rio menawarkan tumpangan kepada Namora.
Namora segera menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia menolak ajakan dari Pamannya tadi.
"Mengapa?" Tanya Rio heran.
"Kakek guru melarang Namora. Katanya, jangan manja. Sebagai anak lelaki, harus bisa bersikap jantan. Entah apa maunya kakek itu,"
"Ya sudah kalau begitu. Paman akan mendahului mu," kata Rio pula.
"Iya Paman. Namora akan mengejar dari belakang," jawab anak itu.
Setelah dia menyarungkan sepatunya, dia pun segera berlari mengejar Rio di depan yang mengendarai mobil Toyota hardtop antik miliknya.
"Anak ini. Benar-benar pak Harianto telah menanamkan kedisiplinan tinggi kepadanya. Jika tidak, mana mungkin dia bisa se-patuh ini kepada orang tua itu," gumam Rio dalam hati.
Rio terus melirik ke arah kaca spion. Dia kini melihat Namora berbelok ke kanan melewati deretan toko-toko sembari berlindung dari sengatan matahari yang cukup terik walaupun saat ini sudah hampir pukul tiga sore.
Ketika Rio tiba di rumah pak Harianto, tak lama kemudian Namora juga sampai. Tampak keringat membasahi dahinya. Tapi hanya keringat saja. Nafasnya terlihat biasa-biasa saja. Padahal dia tadi berlari dari rumahnya menuju ke rumah pak Harianto yang jaraknya jika berjalan kaki biasa, akan memakan waktu kurang lebih 20 menit.
Begitu dia sampai di depan rumah guru silat nya itu, Namora segera membungkuk sembari menyalami lelaki tua yang tampak sedang asyik memelintir kumis nya.
"Kau sudah sampai, Namora. Sekarang pergi ke belakang. Lakukan pemanasan!"
"Baik Kek!" Jawab Namora yang langsung berjalan mengitari samping rumah pak Harianto menuju ke bagian belakang dimana dia biasa berlatih.
"Kau, Rio. Ada apa kau kemari?" Tanya pak Harianto pula kepada Rio.
"Tidak ada apa-apa pak. Aku hanya kemari untuk memanas-manasi Namora saja supaya dia rajin dan lebih giat lagi dalam berlatih," jawab Rio.
__ADS_1
"Ya. Anak itu memang harus di panas-panasi. Apa lagi jika dibandingkan dengan orang lain. Dia akan marah. Walaupun dia tidak berani menunjukkan rasa marahnya, tapi jelas terlihat dari sorot matanya bahwa dia tidak suka jika ada yang lebih baik dari dirinya. Dan itu adalah sifat alami yang ada dalam diri seorang anak jantan!" Kata Pak Harianto.
"Kalau masalah itu, aku ada solusi. Kita lihat saja nanti!" Kata Rio pula tersenyum penuh arti.
*********
Persis seperti yang diperintahkan oleh Pak Harianto tadi, di bagian halaman belakang rumah miliknya itu, tampak Namora sedang melakukan regangan pemanasan.
Ketika dia melihat dua orang beda usia sedang menuju ke arahnya, dia segera bangkit berdiri dan menegakkan badannya dengan sikap siap sedia.
"Aku ingin melihat seperti apa daya kekuatan kuda-kuda mu," kata Pak Harianto. Dia segera menarik sebatang rotan panjang tiga jengkal yang terselip di bawah atap dapur rumahnya.
Mendadak Namora merasakan tenggorokannya kering. Dia tau bahwa dia pasti akan mendapatkan sesuatu yang tidak enak ketika melihat lelaki tua itu menggenggam rotan ditangannya.
"Modar aku," rungut Namora dalam hati.
"Kau sudah siap?" Tanya pak Harianto.
"Siap!" Jawab Namora tegas.
Bugh!
Belum hilang suara jawaban Namora tadi, satu sepakan pelan telah mendarat di betisnya membuat Namora yang belum siap segera jatuh terduduk sambil meringis.
Namora segera bangkit berdiri. Tidak ada waktu baginya untuk mengeluh. Atau, dia akan semakin sengsara oleh gurunya itu.
"Apa mu yang siap?"
Mendadak lidah Namora terasa pendek dan tidak mampu menjawab pertanyaan dari lelaki tua itu. Apa mau dikata, dia yang salah mengatakan siap. Padahal dia sama sekali belum bersiap sedia.
"Kuda-kuda!" Kata lelaki tua itu memberikan aba-aba.
"Hait..!" Namora segera menekuk kedua kakinya.
Bugh!
"Aw...!"
Sekali lagi Namora terjatuh dan kali ini lebih keras lagi dari yang tadi.
"Bangun, atau akan kakek libas!"
Namora menggeliat bangkit dan kembali dalam posisi kuda-kuda.
"Baru saja kemarin kau melakukannya dengan benar. Sekarang sudah amburadul lagi. Lupa ya?"
__ADS_1
"Ampun kek. Namora salah," jawab Namora tidak berani menatap ke arah lelaki tua itu. Dia hanya bisa tertunduk menatapi pasir di ujung kakinya.
"Hanya itu yang bisa kau lakukan, Namora? Apa kau mau kalah dengan anak majikan ayah mu bernama Joe William itu hah?" Ejek Rio yang sukses membuat Namora segera mengangkat kepalanya.
Mata anak itu kini berkilat-kilat menahan luapan antara kemarahan dan kekecewaan.
Rio dan Pak Harianto merasa bahwa metode memanas-manasi itu telah berhasil, walaupun ada terbersit pertanyaan dihatinya tentang siapa Joe William yang baru saja disebut oleh Rio tadi.
"Siapa Joe William itu?" Tanya Pak Harianto penasaran.
"Joe William itu adalah anak dari majikan Abang ku, pak. Saat ini anak itu sedang di godok oleh Kakek Tengku Mahmud di Kuala Nipah," jawab Rio apa adanya.
"Apa katamu? Maha guru Tengku Mahmud? Mati anak itu jika sampai jatuh ke tangan maha guru sedeng dan senget itu. Aku saja dulu sampai lari tengah malam gara-gara tidak sanggup dilatih olehnya. Padahal hanya dititipkan oleh Kakek mu dua hari di Kuala Nipah," kata pak Harianto. Dia merasa kasihan mendengar bahwa ada seorang anak yang di didik oleh Tengku Mahmud.
"Pak. Anak itu berbeda. Sangat banyak keistimewaan pada diri anak bernama Joe itu. Tapi, jangan sampai Namora tau," bisik Rio. Dia tidak ingin hati Namora semakin panas mendengar dirinya dan pak Harianto memuji Joe William di depan batang hidungnya.
"Siapa bilang aku akan kalah dengan Joe itu?" Tiba-tiba Namora bersuara dan suara itu sangat sarat dengan ketidaksenangan.
"Kakek. Sekali lagi!" Kata Namora pula yang langsung pada posisi kuda-kuda.
"Metode kita berhasil, Pak." Kata Rio tersenyum geli.
"Hmmm. Kita lihat saja!" Kata pak Harianto yang langsung melangkah ke arah Namora.
"Kau yakin?" Tanya Pak Harianto seolah-olah dia sangat menyepelekan kemampuan anak itu.
"Insha-Allah yakin!"
"Hmmm. Baiklah!" Kata pak Harianto pula.
"Kuda-kuda!" Bentak lelaki tua itu.
"Hait...!"
Bugh..!
Bugh..!
Plak...!
"Heh. Kau mampu menahan tiga kali sepakan ku. Hebat!" Puji pak Harianto. Dia langsung menatap ke arah Rio yang langsung mengedipkan mata kepadanya.
Sedangkan Namora sendiri tampak sangat puas dan mulai mendabik dada karena terlalu bangga bisa menahan sepakan dari gurunya. Walaupun dia harus merasakan betisnya seperti pindah ke paha, yang penting dia tidak diremehkan dan itu lebih dari cukup. Baginya, lebih baik sekarat daripada harus malu.
Bersambung...
__ADS_1