
Mendengar jawaban yang tak mau mengalah dari Angga, Teja langsung ingin memuntahkan ginjalnya. Dia ingin marah, tapi tidak berani di depan ayahnya. Karena terlalu jengkel, dia pun segera menghempaskan tubuhnya di sofa, kemudian menatap ke arah Jhonroy.
"Ayah. Lalu bagaimana?"
Jhonroy memperlihatkan ketenangannya, lalu menggamit kan tangannya ke arah beberapa orang anak buahnya yang berdiri sejak tadi di ruangan itu.
Mengerti apa yang diinginkan oleh Boss mereka, beberapa orang lelaki itu langsung maju beberapa langkah, kemudian membungkuk hormat.
"Katakan kepada ku tentang apa saja yang kalian ketahui!"
"Sesuai keinginan anda, Tuan!" Jawab mereka, kemudian salah satu dari mereka melanjutkan. "Tuan, nama saya adalah Bejo. Saya yang anda tugaskan untuk mengikuti Namora kemanapun dia pergi, dan apa saja yang dia lakukan. Hanya hari ini saja saya tidak mengikutinya karena saya sudah tahu pasti kemana dia pergi!" Selesai dengan kata-katanya, Bejo langsung menatap ke arah lelaki yang berada di sampingnya.
"Tuan Jhonroy yang agung. Saya adalah orang yang ditugaskan untuk memata-matai keadaan di kota Kemuning. Untuk saat ini, Kota Kemuning bisa dikatakan biasa-biasa saja. Tidak ada pergerakan dari orang-orang Martins Group. Semuanya tenang dan tidak ada pergerakan yang mencurigakan," kata lelaki yang berdiri di samping Bejo tadi.
"Hmmm. Jika di kota Kemuning sendiri tidak ada pergerakan, berarti pergerakan mereka saat ini berada di kota batu," kata Jhonroy sambil mengurut dagunya.
"Tuan. Kabar yang saya dapat dari beberapa hari ini adalah, bahwa Namora yang tidak kenal rasa takut itu memang sesuai dengan gelar yang anda sematkan kepadanya. Maksud saya adalah, Namora ini kemarin baru saja membuat kekacauan dengan menyerang perguruan karate di kampung baru kota Batu. Dia bahkan mencederai beberapa orang murid di sana, dan telah memprovokasi Ganjang. Diketahui bahwa salah satu dari murid di perguruan karate itu adalah putra dari Ganjang bernama Rudi. Hal ini tentu membuat Ganjang sangat marah, lalu datang langsung untuk menghukum Namora," Bejo berhenti sejenak. Dia seperti menggantung penjelasannya.
__ADS_1
"Hmmm. Sepertinya menarik. Anak ini tidak tau sedang menggali kuburannya sendiri. Teruskan!" Pinta Jhonroy.
"Memang benar bahwa Ganjang datang sendiri ke perguruan karate tersebut. Akan tetapi, Ameng juga datang ke sana dan langsung menghajar Ganjang. Dengan begitu, Namora sama sekali tidak tersentuh apapun selama di perguruan karate itu. Tapi, Tuan.., guru besar di perguruan karate tersebut tidak senang dengan hal ini. Dia merasa bahwa harga diri perguruan telah diinjak-injak oleh Namora. Menurut saya, jika kita bisa mendekati guru besar ini, kemungkinan untuk mengakhiri sepak terjang Namora akan sedikit lebih ringan. Mengapa saya katakan begitu? Menurut apa yang saya selidiki, ketika Tigor masih berada di dalam penjara, kekuatan dari Dragon Empire tidak akan bisa dimobilisasi. Selain beberapa orang yang memang bisa untuk melindungi Namora, kekuatan orang-orang ini tidaklah begitu besar jika dibandingkan dengan kekuatan yang kita miliki. Belum lagi rasa sakit hati Ganjang. Kita sama-sama sudah tau bagaimana konflik antara mereka sejak dulu. Akan lebih baik lagi jika Ganjang bisa ditarik ke pihak kita. Kita bisa menjadi dalang di balik layar, kemudian menggunakan tangan orang lain untuk melakukan tindakan,"
"Saya setuju dengan usulan Bejo, Ayah. Masalah ini tidak boleh berlarut-larut. Jika dibiarkan, reputasi yang kita miliki akan rusak," sela Teja pula. Dia ingin membuat prestasi untuk mengukir namanya sendiri. Baginya, walaupun dia adalah anak dari istri yang sah, namun itu bukan jaminan bahwa suatu saat posisinya sebagai calon pewaris tidak akan goyah. Bagaimanapun, Angga juga adalah anak lelaki. Didalam tubuhnya, mengalir darah Jhonroy.
"Andai aku menyerahkan urusan ini kepadamu, apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan pancingan segera diutarakan oleh Jhonroy.
"Bejo. Tadi kau mengatakan bahwa kau mengetahui di mana Namora saat ini kan?"
Bejo mengangguk dengan hormat sebagai jawaban atas pertanyaan Teja.
"Ayah. Tindakan bang Teja sangat kasar. Ini bisa memancing bentrokan antara kita dengan Dragon Empire," sela Angga yang tidak setuju dengan ide yang dikemukakan oleh Teja.
"Diam kau! Aku tidak memintamu untuk bicara!" Bentak Teja dengan gusar.
"Mengapa aku harus diam? Aku juga punya hak untuk mengemukakan pendapat," tegas Angga.
__ADS_1
Jhonroy tertarik dengan ucapan Angga tadi. Dia kemudian menyuruh Teja untuk tenang, kemudian mempersilahkan kepada Angga untuk mengemukakan argumen nya.
Mengetahui bahwa Jhonroy tertarik dengan apa yang dia katakan tadi, Angga pun langsung merasa bersemangat.
Sambil mencibir ke arah Teja, dia kembali berkata. "Menurut apa yang dikatakan oleh Bejo tadi, ada beberapa kelompok yang saat ini tidak senang dengan Namora. Yang pertama adalah pemilik Dojo di kampung baru. Yang ke dua adalah Ganjang. Kemudian, Bang Teja mengatakan inginkan meringkus Namora, kemudian mengakhiri anak itu. Bukankah pemikiran seperti itu sangat sederhana. Sama sekali bukan gagasan yang dikemukakan oleh orang yang selama ini mengaku pintar,"
"Kau..!" Teja benar-benar merasa tersindir tepat di depan batang hidungnya sendiri. Dia tanpa sadar terlonjak bangkit dari tempat duduknya, kemudian menunjuk lurus ke arah wajah Angga.
Angga menyembunyikan senyumnya melihat reaksi dari Teja. Hal inilah yang dia kehendaki. Bagaimanapun, Teja tidak suka di provokasi. Dia telah lama merasa paling tinggi dan menganggap orang lain sangat rendah, bahkan lebih rendah dari keset kaki. "Jika kau menginginkan kematian dengan mengusik anak Tigor, maka aku dengan sangat senang hati akan mendorong mu ke arah jalan itu," kata Angga dalam hati. Dia akan mengacaukan pertemuan ini dengan bertentangan dengan Teja. Dia tau jelas bahwa Teja ingin selalu berseberangan dengan dirinya. Ketika dia mengatakan kanan, Teja tanpa berpikir akan memilih kiri.
Angga telah lama menunggu momentum ini. Dan kini, lawan sepadan bagi Jhonroy telah hadir. Kesempatan seperti ini lah yang dia tunggu selama ini.
Bagaimana dia bisa melupakan perlakuan yang tidak adil terhadap ibunya dan dirinya.
Hanya karena dia dilahirkan dari istri ke dua, enak saja mereka diusir dari rumah dengan alasan kesannya seperti mengada-ada. Dan sejak itu lah Angga bertekad dalam hati akan membalas dendam kepada Teja dan ibunya karena memaksa Jhonroy untuk membuang mereka dari keluarga. Dia akan dipanggil ketika sedang dibutuhkan, kemudian di buang ketika sudah tidak diperlukan lagi.
Apapun prestasi yang dia raih, selalu Teja yang mendapatkan kredit atas usaha kerasnya. Dia bahkan tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan sebagai anak dari seorang pemilik perusahaan sebesar Agro finansial Group. Sangat memalukan sekaligus memilukan.
__ADS_1
Bersambung...