Namora

Namora
kembali ke sekolah


__ADS_3

Sudah tiga hari setelah Namora siuman dari koma yang dia alami, kini dia merasa tubuhnya sudah sangat membaik. Ditambah lagi dia meminum ramuan yang diberikan oleh pak Harianto, itu membuat proses pemulihan di tubuhnya berjalan dengan sangat baik.


Kemarin sore, karena merasa bahwa Namora sudah tidak mengkhawatirkan lagi, maka pak Harianto memutuskan untuk kembali ke Mahato untuk mengurus ladang kelapa sawit yang baru dia buka sekitar beberapa hektare.


Setelah kembali dari mengantarkan pak Harianto ke terminal bus, Namora tampak merenung sangat dalam. Di depannya, setumpuk dokumen perusahaan menunggu untuk dipelajari olehnya. Bahkan, pagi inipun, Namora masih setia dengan tumpukan dokumen perusahaan tersebut.


Walaupun wajahnya sama sekali tidak bisa ditebak karena tidak berekspresi, tapi matanya jelas merah dan berair. Dan itu menambah keangkeran pada wajahnya yang sedingin gudang es.


Namora bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah ke lemari pakaian dan mengeluarkan seragam sekolahnya.


Setelah dia selesai berpakaian, dia segera mengeluarkan handphone miliknya, kemudian mengirim pesan suara.


"Menjelang siang, jemput dokumen di rumah, kemudian tunggu aku di kota Kemuning!"


Selesai mengirim pesan suara, Namora memasukkan handphone miliknya ke dalam saku, kemudian melangkah keluar dari kamar, kemudian menemui ibunya.


"Bu,"


"Hmmm. Apakah kau akan sekolah hari ini?" Tanya Mirna menatap putranya itu.


"Benar, Bu. Tapi Mora mungkin tidak akan pulang. Ada banyak urusan yang harus Mora selesaikan," Namora menuntun ibunya untuk duduk di kursi, kemudian dia mengambil baskom berisi air, kemudian meletakkan kaki Mirna di dalam baskom tersebut.


Namora tampak khusuk mencuci kaki ibunya, kemudian berlutut di sana sambil berkata, "mohon doakan dan Restui Mora Bu. Ibu pernah mengatakan bahwa setelah Namora memulai, maka Mora tidak boleh mundur. Sudah sejauh ini, Mora harus menyelesaikannya,"


Mirna mengusap lembut kepala Namora. Dia juga merasa serba salah. Memang dia pernah mengatakan bahwa Namora tidak boleh mundur setelah memulai. Namun, dia juga sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya itu setelah apa yang terjadi belakangan ini.


"Sudah waktunya kepompong menetas. Akan tetapi, kau harus ingat nasehat yang diberikan oleh Pak Harianto," kata Mirna kemudian.


"Mora masih gagal dalam memahaminya. Hanya saja, Kakek mengatakan bahwa Mora harus tau kapan waktunya maju, dan kapan harus mundur. Akan tetapi, Mora hanya pion dalam permainan catur ini. Pion hanya boleh mundur setelah mencapai petak akhir dalam papan. Dan untuk saat ini, Mora hanya bisa maju selangkah demi selangkah. Namun, Mora pastikan bahwa setiap langkah yang Mora ambil, mereka akan mengalami kerugian,"


"Ibu merestui mu nak. Tapi, utamakan keselamatan mu!"


"Andai matipun, Keluarga Habonaran tidak akan punah. Masih ada Rinto Habonaran sepupuku. Lagipula, ibu dan ayah masih sangat muda. Kalau ayah bebas nanti, ayah dan ibu bisa memberikan ku adik,"

__ADS_1


Kletuk!


"Aduh..," Namora meringis sambil menggosok kepalanya yang sakit karena dijitak oleh Mirna.


"Namora minta maaf kalau salah bicara," kata Namora kemudian sambil mengangkat baskom berisi air kemudian membersihkannya.


"Namora berangkat Bu!" Katanya sambil meraih tangan ibunya, kemudian menjunjung tangan itu di atas kepalanya.


Mirna tidak menjawab. Bahkan sampai Namora melangkah meninggalkannya, dia masih membisu. Hanya tatapannya saja yang menyiratkan seribu bahasa. Dia tau hari ini akan tiba. Bahkan, jika tidak ditimpa kemalangan, sudah sejak awal Namora akan meninggalkannya. Dia sudah siap sepenuhnya. Karena dia tau bahwa baik Namora, Ataupun Joe putra majikannya memang harus dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus yang tangguh.


*********


Bruum...,


Suara auman mesin sepeda motor sport menggema melewati beberapa pejalan kaki di gerbang menuju ke sekolah SMA negeri Tunas Bangsa.


Ketika tiba di area parkir, tampak Namora membuka helm yang dia kenakan dengan diikuti tatapan antusias dari murid-murid khususnya murid wanita.


"Woy Mora. Kau sudah kembali," sapa Jol dengan sangat gembira melihat sahabatnya itu sudah kembali bersekolah. Dia hendak menghampiri Namora. Akan tetapi, niatnya terpaksa batal ketika beberapa siswi telah mengerubungi Namora seperti segerombolan semut mengerumuni sebutir gula.


"Hei Mora. Kemana saja kau selama seminggu ini?"


"Aku merindukan mu, Namora,"


Berbagai kata-kata lebay mulai berhamburan dari bibir gadis-gadis remaja yang mendadak mengidolakan Namora.


Mereka seperti lupakan betapa mereka dulunya sangat memandang rendah terhadap Namora. Tidak ada yang benar-benar menganggap dirinya ada. Hanya baru ketika dirinya mengendarai sepeda motor di atas rata-rata, lalu di susul dengan dirinya menjadi Champion dalam turnamen pencak silat, barulah dirinya mendadak menjadi idola baru di sekolah ini.


Namora mendadak merasakan suhu tubuhnya tak stabil. Sebentar panas, sebentar dingin.


Memang, dia sudah tau dari Jol yang mengunjungi dirinya tiga hari yang lalu bahwa dirinya sudah menjadi selebriti di sekolah ini. Namun tetap saja dia masih belum dapat menerima perlakuan seperti ini. Maklumlah, Namora yang dari tidak pernah dianggap tiba-tiba menjadi selebriti, dan ini menurutnya sangat tidak masuk akal dan sulit menerimanya.


"Namora. Aku ingin berselfie dengan mu," celetuk seorang gadis. Kemudian dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Namora. Lalu..,

__ADS_1


Ckrek... Ckrek... Ckrek..!


Namora nyaris tidak memiliki kesempatan untuk menarik nafas ketika para gadis itu saling silih berganti mendatanginya. Andai Merisda ada di sini, melihat Namora dikerubungi oleh para siswi cantik, sudah pasti dia akan muntah bercampur kentut menahan kecemburuan. Mana mungkin lelaki yang dia buang tiba-tiba menjadi selebriti di sekolahnya.


Jangankan Merisda, Rendra dan Marcus yang saat ini melihat Namora dari kejauhan menahan rasa iri bercampur dengki di dalam hatinya.


Dia jelas tidak dapat menerima perlakuan khusus yang diberikan oleh para kembang sekolah ini kepada Namora.


"Aku sangat geram dengan Namora ini," kata Rendra kepada Marcus.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Marcus buru-buru.


"Apa lagi? Mempermalukannya agar dia tidak mencuri panggung dariku," jawab Rendra sambil melangkah mendekat ke arah kerumunan.


Marcus hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kenekatan pada Rendra. "Rendra ini benar-benar tidak jera. Sudah berkali-kali dia dihajar oleh Namora, tapi masih saja kekurangan," kata Marcus dalam hatinya.


Baru saja dia kembali menoleh, dia melihat bahwa Rendra sudah menghampiri Namora, kemudian melontarkan kata-kata penghinaan.


Awalnya Namora tidak perduli dengannya. Namun, tepat ketika Rendra mengungkit tentang dirinya anak narapidana, Namora sudah tidak bisa lagi menahan kesabaran.


Namora segera meletakkan tasnya di atas tempat duduk motornya, kemudian mengeluarkan buku pelajaran kamus bahasa Melayu, lalu berjalan menghampiri Rendra.


Plak..!


"Adaw..!" Rendra memekik sambil terduduk di tanah memegangi kepalanya.


Baru saja Namora memukul kepalanya dengan buku setebal itu. Dan itu cukup membuat Rendra merasakan pemandangannya menjadi berkunang-kunang.


"Kau tidak pernah merasa kapok. Apa aku harus mematahkan leher mu?" Gerutu Namora sembari menginjakkan satu kakinya di atas pundak Rendra.


"Ampun. Jangan pukul lagi," Rendra mulai memelas.


"Rendra. Aku tidak pernah menganggap cecunguk sepertimu. Lawan ku terlalu besar. Aku tidak memandang tai hanyut seperti mu," Namora mengangkat kakinya dari pundak Rendra, kemudian melangkah meninggalkan area parkir, lalu berjalan bersama Jol menuju ke kelas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2