
Setelah pergi meninggalkan pusat tahanan kota Batu, Ameng yang tersenyum lebar karena telah berhasil menguras uang milik Tigor pun ingin bergegas menemui Namora. Sore ini dia ada janji bahwa dirinya akan menyerahkan Zack kepada Namora sebagai asisten pribadi anak nakal itu.
Sambil mencium lembaran cek, dia pun memasuki mobilnya, kemudian segera berangkat ke markas mereka di bukit Batu.
"Zack. Sebentar lagi Namora akan datang untuk menjemput mu. Kau sudah bukan orang ku lagi. Mulai sekarang, kita sudah bukan siapa-siapa lagi! Kemasi barang-barang mu, lalu pergi! Aku tidak sudi lagi menatap muka mu!" Ameng mengirim pesan kepada Zack. Walaupun kata-katanya terkesan kasar, tapi nada bicaranya sangat lucu. Dan ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Zack. Makanya dia tidak pernah tersinggung dengan kata-kata Ameng barisan.
"Siap Meng!" Jawab Zack yang juga melalui pesan suara.
Begitu memutar pesan balasan dari Zack. Ekspresi wajah Ameng sungguh sangat jelek. Dia segera memaki Zack melalui pesan suara. "Kurang ajar kau ya Zack. Berani kau menyebut namaku seperti itu. Ku kebiri biar sekalian kau jadi Kasim!"
Kemudian terdengar lagi jawaban dari Zack dengan nada ketakutan. "ampun bang. Harap dipersorry ya!. Saya tidak sengaja. Katanya bukan siapa-siapa lagi. Berarti saya sudah tidak ada ikatan sama Abang. Makanya saya sebut Meng saja,"
Setengah mati Zack menahan tawa. Sebenarnya dia juga ketakutan. Tapi kini dibelakangnya ada Namora. Namora adalah tuan muda. Mana berani Ameng berbuat apa-apa kepadanya. Seperti kata pepatah, Onta yang kurus lebih tinggi daripada kuda yang gemuk. Perbandingan antara Ameng dan Namora jelas nyata bedanya. Zack naik pangkat sekarang.
"Kau segera datang ke bukit Batu! Aku dan Namora akan tiba sebentar lagi!"
"Baiklah bang! Saya berangkat sekarang!" Jawab Zack terburu-buru.
Ameng meletakkan ponselnya di dashboard lalu bersiul-siul dengan nada entah apa namanya. Untung Namora tidak berada di situ. Andai Namora mendengar siulan dari Ameng ini, sudah pasti kupingnya akan berdarah-darah. Hal yang paling tidak disukai oleh Namora adalah ketika Ameng bersiul. Itu sangat menyiksa kupingnya dari dunia sampai akhirat.
Kini, mobil yang dikendarai oleh Ameng telah memasuki salah satu kompleks di bukit batu.
Bangunan di sini adalah bangunan yang hanya ditempati oleh orang-orang berduit. Bahkan, untuk kelas paling rendah pun setidaknya harus memiliki aset miliaran.
Di bukit Batu ini memiliki beberapa komunitas kompleks antara lain, Rumah tiga lantai, apartemen, flat, serta beberapa bangunan Villa yang mana hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki dan menempatinya. Salah satu Villa besar dan yang paling terkenal adalah milik mantan mafia besar di kota Batu ini. Tapi orang tersebut sudah lama mati sehingga Villa tersebut kini layaknya seperti istana hantu. Dia lah Birong. Orang yang dimasa jayanya sangat ditakuti oleh siapa saja yang mendengar namanya. Dan orang ini beserta dengan kelompoknya telah dihancurkan oleh Dragon Empire pimpinan Tigor. Adapun yang masih selamat, mereka memilih melarikan diri dan membuka usaha kecil-kecilan dan tidak berani menampakkan diri. Hanya ada beberapa saja yang berani tampil di permukaan. Salah satunya adalah Panjul, ayah Dhani.
Ketika Ameng memasuki halaman rumahnya, dia telah melihat satu unit sepeda motor terparkir di sana. Dalam hatinya berkata, "alangkah cepatnya Namora ini sampai. Apakah Zack ini terlalu istimewa baginya?"
Ameng tidak terlalu memperdulikan. Baginya, Zack hanyalah salah satu dari empat orang kepercayaannya. Tapi ada juga rasa enggan dihatinya untuk melepaskan Zack ini. Jika bukan Namora yang meminta, dia pasti tidak akan membiarkan Zack ini pergi.
Sementara itu, mendengar suara mesin mobil memasuki kawasan halaman rumah, Namora yang sedang duduk sambil menikmati minuman susu coklat kesukaannya segera melangkah menuju ke pintu, lalu berdiri di sana menunggu siapa yang datang.
Begitu dia melihat Ameng, Namora hanya menatap saja. Lalu, dia berniat untuk kembali memasuki rumah. Tapi dari arah jalan yang berlawanan, satu unit lagi mobil memasuki halaman rumah. Dan Namora yang segera mengetahui bahwa itu adalah Zack, berinisiatif untuk menunggu.
__ADS_1
Benar saja. Ketika Zack keluar dari mobil, Namora langsung menghampiri, kemudian berkata. "Hanya kau sendirian Zack?"
Zack mengangguk. Tapi ketika dia hendak menjawab pertanyaan dari Namora tadi, Ameng segera menyela.
"Oh. Kau sudah mulai kurang ajar sama Paman mu ini ya? Mengapa aku tidak kau sapa, lalu kau menyapa Zack. Kemudian, apa maksudmu bertanya kepada Zack yang datang sendirian. Apa maksud mu?" Ameng tampak tidak senang dengan Namora yang berdiri seperti patung tanpa ekspresi.
"Paman. Mengapa hanya Zack sendiri. Kemana ketiga orang yang lainnya?"
"Apa maksud mu hah? Kau mau serakah ya? Zack inipun aku sudah berat hati memberikannya kepadamu. Kau mau mengambil tiga orang lainnya. Ku hajar tak jadi orang kau!" Gusar betul hati Ameng melihat Namora yang menginginkan keempat orang bawahannya sekaligus.
"Zack. Ayo kita pulang. Payah di sini. Harimau nya terlalu galak!" Kata Namora. Walaupun bicaranya tanpa notasi dan wajahnya tanpa ekspresi, namun Zack setengah mati menahan tawa mendengar perdebatan kedua orang berbeda generasi tersebut.
"Berani pulang, maka jangan injakkan lagi kakimu ke rumah ini!" Ameng membanting pintu mobilnya, kemudian melangkah memasuki rumah tanpa menoleh lagi.
"Masuk Zack! Bisa kena bantai kita kalau melawan orang tua sekarat itu!" Namora melangkah mendahului di depan, lalu Zack pun segera menyusul sambil menahan tawa.
"Sudah besar kau sekarang ya! Sudah pandai mendominasi kau?!"
"Ampun, Paman!"
"Namora. Mengapa Paman perhatikan, kau seperti berubah banyak. Kau tidak pernah lagi tertawa. Apa ada yang salah dengan urat tawa mu? Sini Paman periksa!" Kata Ameng sambil mengulurkan tangannya berniat memeriksa bagian belakang kepala Namora.
Melihat ini, Namora segera menghindar dan berniat akan melarikan diri. Tapi Ameng segera mecopot sepatunya, kemudian...,
Bugh!
"Aduh, Paman!"
"Selangkah lagi kau melarikan diri, satu lagi sepatu ini akan menghajar kepalamu!" Gertak Ameng.
"Menyesal Namora datang ke sini," kata anak itu memutar badannya. Dia kemudian berjalan kembali ke arah kursi, lalu duduk.
"Mora. Paman sudah mengatur agenda untuk mu. Pada tanggal 15 bulan depan, kita akan mengadakan pertemuan. Paman akan memperkenalkan kau kepada orang-orang yang ingin bekerjasama dengan perusahaan. Setelah itu, kita akan mengadakan pertemuan dengan orang-orang dari organisasi. Sebagai anak dari ketua cabang, kau harus menghadiri pertemuan ini. Sekalian kau harus tau seluk-beluk dan bisnis apa saja yang berada di bawah naungan organisasi. Mengerti?"
__ADS_1
Namora berpikir sejenak, kemudian menghitung-hitung dengan jarinya. Mulut anak itu juga berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra.
"Apa yang kau pikirkan, Namora?" Tanya Ameng yang merasa heran dengan tingkah Namora ini.
"Aku tidak bisa, Paman. Apakah Paman bisa memajukan atau mengundurkan hari pertemuan?" Tanya Namora. Dalam perhitungannya, dia tidak bisa berada di kota Kemuning di tanggal 15. Sedangkan turnamen kejuaraan pencak silat akan diadakan pada tanggal 20. Tentu akan sangat melelahkan baginya untuk bolak balik dari kota Kemuning ke kota Batu. Selain itu, dia juga harus melakukan persiapan. Dan partner sparing nya adalah Jol.
"Katakan satu alasan mengapa aku harus merubah tanggal pertemuan?" Tanya Ameng dengan dahi berkerut.
Namora hanya bisa berterus terang dan menceritakan bahwa dia pada tanggal 20 akan mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat antar sekolah se-kabupaten. Jadi, dia harus melakukan persiapan. Andai dia harus membagi waktu antara ke kota Kemuning, kemudian kembali lagi ke kota Batu, maka energinya akan sangat terkuras dan pasti bisa berdampak terhadap penampilannya nanti di atas arena.
"Kau mengikuti turnamen pencak silat? Wah. Ternyata kau bisa silat rupanya ya. Siapa guru mu?" Ameng terlihat sangat antusias sekali begitu mengetahui bahwa Namora akan ambil bagian dalam turnamen tahunan tersebut. Hanya saja, dia ingin tau apakah Namora ini bisa silat atau tidak. Karena, selama ini dia memang tidak pernah tau bahwa sebenarnya Namora sudah digembleng dan disiksa oleh pak Harianto.
"Siapa guru ku? Ya Paman lah. Kan Paman ingat ketika Paman dulu mengajariku tentang ilmu bela diri akhirat? Itu bisa dikombinasikan dengan jurus cakar elang ku. Eh bukan. Jurus cakar ayam!" Namora segera meralat kata-katanya.
Membeku wajah Ameng mendengar jawaban dari Namora barusan.
"Sialan anak ini. Pulang kau!" Ameng mengusir Namora ketika mendengar jawaban dari anak itu. Tapi sebelum Namora benar-benar pergi, Ameng kembali berkata..,
"Mora. Ingat! Paman akan memundurkan waktu pertemuan kita di tanggal 10. Dengan begitu, kau punya waktu 20 hari dari sekarang, dan sebulan dari waktu turnamen. Pergunakan waktu ini sebaik-baiknya. Dan kau Zack. Ajari Namora semampu mu,"
Namora dan Zack mengangguk. Lalu segera melangkah menuju ke kendaraan masing-masing. Tapi begitu melihat Zack akan memasuki mobil, Ameng segera mengejar dan berteriak. "Hei. Itu mobil ku. Kembalikan! Sekarang Tuan mu bukan lagi aku. Minta saja kepada Namora!"
Zack terlihat celingak-celinguk seperti orang linglung.
Setelah dia tersadar, dia segera melangkah ke arah Ameng, kemudian menyerahkan kunci mobil yang biasa dia gunakan kepada lelaki itu.
"Naik Zack!" Ajak Namora. Dia sudah makan hati berlama-lama di rumah Ameng ini.
Begitu dia akan melajukan motornya, dia segera mengumpat kepada Ameng.
"Dasar orang tua kikir!"
"Apa katamu?" Ameng tampak berang. Tapi Namora dan Zack sudah kabur duluan sebelum Ameng sempat bertindak.
__ADS_1
Bersambung...