
"aku tidak tau apa tujuan anda datang jauh-jauh dari kota L untuk bertemu denganku,"
Angga menggeser kursinya agar lebih dekat ke meja, lalu mengatakan maksudnya menemui dengan Namora. "Begini, saudara ku, Namora. Kedatangan saya ke sini tidak lain adalah untuk mengajukan kerjasama antara saya dengan anda. Sebaiknya saya tidak perlu berbelit-belit. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa di kota L, saya ini hanyalah anak yang tidak dianggap sah oleh keluarga, berbeda dengan Teja. Itu karena saya ini terlahir dari rahim seorang wanita biasa. Sedangkan Teja terlahir dari seorang wanita dari keluarga terhormat. Hingga, dari kecil sampai sekarang, saya mendapat perlakuan yang tidak adil. Di sini, saya ingin mengajak anda bekerjasama untuk menjatuhkan kota L agar saya bisa menuntut keadilan. Karena, walau bagaimanapun, saya ini juga anak dari Jhonroy. Mengapa harus ada perbedaan kasta diantara kami?"
Namora mendengar dengan seksama apa yang disampaikan oleh Angga dengan sesekali melirik ke arah wajahnya. Ada kilatan kelicikan pada sorot mata nya.
Namora mendengus dalam hatinya. Baginya, dia sudah memegang kelemahan Jhonroy. Buat apa ingin bekerjasama dengan sampah seperti Angga ini?
"Lalu, menurut mu, mengapa aku harus membantumu?" Tanya Namora. Mana mungkin dia akan dengan sangat mudah terpancing dengan kelicikan Angga. Ingin menggunakan tangannya, berani berapa Angga untuk itu?
"Namora, saya mengetahui seluk beluk perusahaan milik ayah saya. Seperti apa strategi bisnis dan siapa saja yang mendukungnya. Dengan membocorkan informasi ini, saya merasa pasti akan dengan sangat mudah bagi anda untuk menghalangi setiap langkahnya, kemudian membuatnya bangkrut. Hanya dengan..,"
"Sebentar!" Potong Namora sambil mengangkat tangannya yang membuat Angga segera menghentikan kata-katanya. "Kau mengatakan bahwa kau akan membocorkan rahasia perusahaan kepada ku. Aku merasa ada yang aneh. Jika aku menghancurkan perusahaan milik ayah mu, sudah pasti perusahaan itu akan bangkrut, lalu apa yang tinggal untukmu? Ini benar-benar aneh. Apakah menurutmu aku tidak tau apa maksudmu?!"
__ADS_1
"Bukan begitu maksud saya,"
"Lalu, jika bukan begitu, apakah begini? Kau menganggap bahwa aku ini sangat bodoh. Kau ingin menggunakan tangan ku untuk menghancurkan kota L, kemudian kau akan muncul sebagai pahlawan yang akan memulihkan keadaan, kemudian aku, Namora akan dicap sebagai penjahat yang tidak bermoral dengan memanfaatkan kelemahan Jhonroy untuk menghancurkan perusahaan miliknya. Ada dua jenis lelaki yang paling aku hargai dan paling aku benci. Yaitu, lelaki jantan yang memiliki pendirian. Dia akan tetap berjuang secara ksatria tanpa memikirkan hasil menang ataupun kalah. Sedangkan jenis lelaki yang paling aku benci adalah penjilat yang bermuka dua. Sanggup menghalalkan segala cara demi tujuannya. Bahkan, rasa malu pun tiada dalam dirinya. Manusia jenis ini jauh dari kata bermoral dan martabat, dan anda jelas tau jenis-jenis orang yang seperti ini kan, dan apa yang pantas untuknya? Manusia seperti ini seharusnya dimutilasi setiap anggota tubuhnya, kemudian buang ke laut untuk umpan hiu"
"Kau..," tangan Angga bergetar hebat menunjuk ke arah Namora. Dia sangat marah saat ini. Akan tetapi, dia sendiri tau bahwa pukulan itu akan dia dapatkan. Tapi, rencananya seperti gergaji yang sama-sama bisa makan dalam keadaan maju, ataupun mundur.
Namora menepis tangan Angga, kemudian berkata. "kau pulang. Strategi licik mu, semuanya sudah aku ketahui. Satu hal yang ingin aku sampaikan agar bisa kau ingat dengan baik. Apapun rencana mu, aku akan menghancurkannya. Karena, hanya ada satu Raja dalam sebuah kekuasaan. Aku adalah raja itu. Kota L sudah terlalu lama berdiri sombong. Saatnya aku menghancurkan kesombongannya. Aku hanya memperingatkan. Terserah kau mau percaya atau mengabaikannya,"
Namora jelas menunjukkan dominasinya di depan Angga. Sia-sia dia menyebarkan mata-matanya di seluruh kota jika sampai hal seperti mainan anak-anak ini luput dari perhatiannya.
Angga mengertakkan giginya. Dia merasa seperti ditelanjangi oleh Namora, anak yang beberapa tahun dibawahnya. "Baiklah. Jika begitu, kita akan bermusuhan bukan? Ada pepatah mengatakan bahwa menambah teman seorang jauh lebih baik daripada menambah musuh. Apakah kau tidak faham tentang pepatah itu?"
Namora memaksakan dirinya agar bisa tersenyum. Tapi dia gagal melakukannya. Dia kemudian berkata. "jika kau memiliki sebutir peluru, dan kau mempunyai dua pilihan antara menembak musuh atau sahabat yang munafik, maka lebih baik peluru itu ditembakkan kepada sahabat yang munafik tersebut. Karena, musuh mu sudah jelas adalah musuh. Dan kau akan selalu berhati-hati terhadapnya. Akan tetapi, jika sahabat mu yang munafik dibiarkan, kau tidak akan pernah tau kapan dia akan menikam mu dari belakang. Kau tau apa yang sangat menyakitkan dalam bersosial, yaitu, ditikam oleh orang yang kau percaya. Aku tidak mempercayai orang-orang dari kota L. Andai mereka jujur sekalipun, mereka tetap musuh. Ketika mereka jujur, maka aku akan melawan mereka dengan cara ksatria. Begitu caranya menghormati musuh yang bersikap jantan!"
__ADS_1
"Jika begitu, anggap saja aku tidak pernah datang dan menemui mu. Kita akan berhadapan di lain waktu. Ingat itu!" Ancam Angga dengan segala perasaan amarahnya.
"Kita akan melihat siapa yang terlahir sebagai pemenang, dan siapa yang terlahir sebagai pecundang. Kembali lah sebelum aku marah!" Balas Namora yang tak kalah menohok.
Angga mendengus dengan kasar, kemudian berdiri lalu melangkah dengan langkah kaki yang panjang. Dia merasa bukan hanya rencananya diketahui oleh Namora yang tadinya dia anggap bodoh, akan tetapi, Namora malah menelanjanginya hingga tidak ada tempat baginya untuk menyembunyikan rencana liciknya.
Namora memperhatikan saja dengan ekspresi datar. "Aku tidak bodoh," kata Namora dalam hati. Tak lama setelah itu, beberapa tepuk tangan bergemuruh terdengar dari arah pintu lift.
"Hebat. Ini baru Tuan muda Habonaran,"
Namora melirik ke arah datangnya suara tepuk tangan tadi yang ternyata adalah Miss Aline, Joe William dan pak Karim. Sedangkan dua orang pemuda dan dua gadis lainnya hanya memperhatikan saja. Mereka adalah Udin, Hendro, Tiara dan Lestari.
Begitu tiba di samping Namora, Joe langsung menepuk pundaknya, kemudian mengatakan bahwa dia dan segenap kekuatan dari Dragon Empire, Tower sole propier, Future Steel Company akan mendukungnya. Akan tetapi, itu tetap atas usaha Namora sendiri. Karena, jika benar-benar ingin menghancurkan kekuatan Jhonroy di kota L, tidak perlu semuanya, setengah kekuatan acak dari perusahaan yang disebutkan di atas tadi sudah sangat mampu untuk memaksa Jhonroy agar gulung tikar.
__ADS_1
Bersambung...