Namora

Namora
Memaksa Namora


__ADS_3

Sejak dari pagi, salah satu dari rumah dua lantai di area perumnas pegawai kota Batu tampak dihiasi dengan pernak-pernik yang terlihat agak berlebihan.


Ramai diantara kaula muda sudah mengetahui bahwa hari ini adalah hari dimana Merisda, putri satu-satunya pak Eliot akan berulang tahun. Dan seperti biasa, mungkin karena dia adalah putri satu-satunya, maka baik itu kedua orang tua dan saudara laki-lakinya akan sangat memanjakan Merisda ini bak putri salju. Tidak heran mengapa Merisda ini begitu manja, keras kepala dan tidak mau kalah.


Dia sudah terbiasa dimanjakan. Apapun keinginannya, harus dituruti. Mungkin karena terlalu merasa bahwa tidak ada yang tidak menyayangi dirinya, akhirnya sifat mendominasi ini terbawa sampai ke pergaulan.


Keluarga pak Eliot ini bisa dikatakan sebagai keluarga yang sudah mapan. Walaupun pak Eliot ini hanya seorang guru fisika, akan tetapi kedua anak laki-lakinya telah sukses di bidang masing-masing.


Arda. Anak lelaki tertua pak Eliot ini adalah wakil presiden di perusahaan Agro chemical dan satu-satunya orang yang dipercayakan oleh Tuan Tanta untuk mengepalai cabang perusahaan Agro chemical cabang kota Batu ini. Sedangkan anak ke dua bernama Ardi. Dia juga seorang yang sukses di bidangnya yang dengan bantuan keluarga, sukses mendirikan perusahaan rental alat berat bernama Pilar Mandiri.


Karena Arda dan Ardi adalah dia kakak beradik yang bisa dikatakan saling terkait, maka setiap proyek yang didapat oleh Agro chemical, akan menggunakan jasa Pilar Mandiri untuk menyewa alat berat seperti excavator, armada pengangkatan dan lain-lain. Maka tidak heran kedua perusahaan ini seperti kaki dan sendal yang melangkah bersama-sama, dan saling menguntungkan.


Kabar yang mengatakan bahwa Martins Group telah memenangkan tender proyek konstruksi di kota Kemuning turut menjadi perhatian Ardi. Dia tau bahwa Agro chemical ingin mengajukan diri guna menangani salah satu dari sekian banyak proyek di kota tersebut. Dan, andai Agro chemical berhasil mendapatkan kepercayaan dari Martins Group, maka tidak mungkin Pilar Mandiri tidak akan kecipratan berkah. Sudah jelas perusahaan Agro chemical akan menggunakan jasa perusahaan rentalnya guna memenuhi kebutuhan pengangkutan dan jasa operator. Inilah yang membuat hati Ardi membengkak dengan cita-cita segunung. Dia selalu berdoa agar tender proyek tersebut dimenangkan dan tidak jatuh ke tangan perusahaan Corp enterprise yang dipimpin oleh Tuan Jhonny. Karena, jika Corp enterprise yang mendapatkan kepercayaan dari Martins Group selaku pemilik proyek, sudah dipastikan bahwa peluang keuntungan ratusan miliar rupiah akan lenyap.


Karena mengetahui bahwa adik perempuan kesayangannya akan berulangtahun hari ini, maka Arda dan Ardi menyempatkan diri untuk pulang dan akan bersama-sama guna merayakannya. Dia ingin menimbulkan kesan bahwa adiknya adalah satu-satunya gadis di area perumnas ini memiliki level yang tinggi diantara gadis lainnya. Dan itu wajar saja mengingat Arda dan Ardi memang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Tidak ada yang menyangkal bahwa kedua anak lelaki dari kak Eliot ini berada pada level yang tinggi diantara generasi muda lainnya. Sehingga secara otomatis, level keluarga pun meningkat pesat.


Berulang kali baik Arda maupun Ardi mengajak orangtuanya untuk pindah ke kompleks elit. Tapi pak Eliot selalu menolak dengan alasan, bahwa rumah mereka adalah rumah kenang-kenangan dari almarhum istrinya dan tidak berniat untuk meninggalkan rumah tersebut walau rumah yang ditawarkan oleh kedua anak lelakinya jauh lebih besar dan mewah. Hanya ada dia dan Merisda yang tinggal. Rumah besar pun tidak berguna baginya.


*********


Sore itu, Namora masih tertidur pulas. Sejak tadi pikirannya terus bercabang dua antara menghadiri acara ulang tahun Merisda, atau dia hanya menitipkan saja kado tersebut kepada Jol.


Sepulang dari sekolah, Namora sudah meminta kepada empat orang bawahannya untuk menyelidiki dan mencari informasi tentang tuan Willi ini. Dari hasil penyelidikan keempat orang ini, Namora dapat tahu bahwa Willi ini adalah orang yang ikut berpartisipasi dalam pertarungan di Aula Fighter Club' yang sempat dia gebuki beberapa hari yang lalu.


Namora memiliki rencananya sendiri untuk mengurus lelaki kurus kerempeng bernama Willi ini.


Andai pikirannya tidak bercabang, sudah pasti Namora akan melabrak Willi ini. Bagaimana bisa dia melepaskan begitu saja orang yang menargetkan dirinya untuk dicelakai. Akan ada hitung-hitungan yang akan segera dia selesaikan. Mungkin setelah selesai menghadiri acara nanti di perumnas elit.

__ADS_1


Ketika Namora masih tertidur, tujuh unit sepeda motor telah mengaum memekakkan telinga dan berhenti di depan rumahnya. Tau sendirilah yang namanya sepeda motor milik anak muda. Jika kenalpot tidak blong, mana keren. Setidaknya begitulah kata mereka.


Saat ini sudah menunjukkan jam delapan malam.


Beberapa orang langsung keluar dari dalam rumah, kemudian menegur kearah segerombolan pemuda yang membuat keributan tadi.


Spontan mereka mematikan mesin sepeda motor mereka masing-masing, kemudian meminta maaf karena telah mengganggu ketenangan.


"Mora..!"


"Woy Moraaaa...!" Salah satu dari ketujuh pemuda itu berteriak memanggil Namora.


"Kemana anak ini. Apakah dia sudah pergi duluan?"


"Moraaaa...!"


"Kalian masuk dulu. Namora sepertinya masih tertidur,"


"Pak komandan. Kami datang untuk menjemput Namora. Kami akan menghadiri acara ulang tahun salah satu teman kami di sekolah," kali ini Jol menghampiri Rio, kemudian menyalami tangan komandan kepolisian kota Batu tersebut.


"Masuklah dulu!" Ajak Rio sembari membuka pintu lebar-lebar.


"Mau minum apa kalian?" Rio tampak sangat ramah menawarkan kepada mereka.


"Kami tidak minum, Paman. Kalau bisa ditukar, minumannya ganti uang saja,"


"Hahaha..." Tawa mereka meledak ketika Juned mengatakan bahwa biaya untuk minum yang ditawarkan diuangkan saja.

__ADS_1


"Becanda dengan orang tua. Tidak baik itu!" Jericho berpura-pura menegur Juned.


Di sela-sela tawa mereka, Namora pun tampak keluar dari kamar. Ditangannya kini ada sebuah kotak cantik yang telah dibungkus sedemikian rupa. Tampak juga di sana ada pita emas dan secarik kertas diatasnya.


"Kau baru Bagun tidur ya? Aku sering melihat orang-orang yang pemalas. Tapi tidak pernah melihat orang yang terlalu pemalas seperti kau ini!"


Namora hanya bisa nyengir mendengar teguran dari Jol barusan.


"Gimana? Jadi pergi ga? Kita udah nungguin nih!" Jericho berdiri kemudian bertanya kepada Namora.


"Baru jam berapa?" Namora mengusap matanya, lalu duduk di sebelah Rio.


"Malah duduk. Mandi woooooyyyy!" Jaiz menyepak kaki Namora perlahan.


"Aku tidak pergi. Jol, aku titip hadiah ku ya! Berikan saja kepada Merisda!" Kata Namora sembari menyodorkan kotak kado untuk diberikan kepada Merisda melalui perantara Jol.


"Ah. Bodat juga anak ini. Janjimu kemarin kan kita berangkat sama-sama?!" Jericho tampak tidak senang melihat keengganan pada Namora.


"Terserah kau saja lah Mora. Mau pergi, ayo. Gak jadi ikut, ya nggak apa-apa juga. Tapi aku gak lama loh. Setelah ngasih kado ke Merisda, aku akan balik. Soalnya aku juga akan berangkat pukul sepuluh malam ini," kata Jol pula. Dia memang telah mengatakannya beberapa hari yang lalu kepada Namora bahwa dia tidak bisa lama-lama.


"Cepatlah mandi, Mora! Waktu Jol tidak banyak nih!" Jericho tampak sangat memaksa.


"Ya deh. Tunggu aku!" Dengan malas Namora bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju ke kamar mandi.


Dia merasa sangat berat hati untuk datang ke acara tersebut. Entah mengapa dia merasakan bahwa dirinya akan mendapatkan perlakuan yang buruk ketika nanti tiba di sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2