
Wajah Namora berubah sangat dingin melihat keenam orang yang berada di ruangan tersebut saling bantu membantu menghujat dirinya. Hanya saja, ini masih dalam batas kemampuannya. Karena baginya, biarkan mereka semua mengeluarkan uneg-unegnya terlebih dahulu sebelum melakukan serangan balasan.
Ada kalanya seseorang harus mundur terlebih dahulu sebelum melakukan serangan. Hal ini tentu saja untuk memberikan efek kejut kepada lawan.
Filosofi Namora sangat sederhana. Ketika kau akan meninju, maka kau harus menarik tangan mu kebelakang terlebih dahulu. Barulah daya ledak dari tinju tersebut akan optimal. Hal ini lah yang diterapkan oleh Namora.
Setelah puas menghujat Namora secara verbal, barulah mereka berhenti ketika saat ini pintu ruangan tersebut diketuk.
Namora memberikan isyarat kepada Thea untuk membuka pintu. Dan setelah Thea membuka pintu ruangan tersebut, dari luar tampak seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun memasuki ruangan dengan diikuti hampir dua puluh orang eksekutif perusahaan Martins Group, kemudian ada lima orang lagi yang memasuki ruangan. Dari cara-cara mereka, jelas bahwa orang-orang ini adalah mitra bisnis ataupun orang-orang yang ingin berinvestasi di perusahaan Martins Group.
Lelaki berusia lima puluhan tahun tersebut tidak lain adalah pak Burhan yang tampak berwibawa dengan stelan jas putih. Ditangannya saat ini tampak sedang menenteng koper.
Pak Burhan tersenyum ramah menyapa semua orang yang berada di ruangan itu, kemudian duduk di kursinya. Berhubung dia adalah moderator dalam pertemuan ini, maka saat ini hanya microphone yang berada di depannya saja yang diaktifkan. Sedangkan microphone yang lainnya akan diaktifkan secara bergiliran. Ini karena mereka harus menghindari adanya kekacauan saat orang lain dengan mengemukakan pendapat mereka.
"Test!" Kata pak Burhan mendekatkan bibirnya ke arah mic. Kemudian dia segera mempersilahkan mereka semua untuk duduk.
Yang lain semuanya duduk di kursi mereka kecuali pak Anto. Dia menatap ke arah Namora, lalu berkata, "maaf CEO. Saat ini hanya pemegang saham, pemegang hukum di perusahaan dan eksekutif perusahaan saja yang boleh berada di dalam ruangan ini. Sekretaris anda tidak memiliki kelayakan untuk berada di dalam ruangan ini!"
__ADS_1
Namora mengerutkan keningnya. Dia tau apa yang dimaksud oleh Pak Anto. Dari awal tujuan mereka adalah supaya Namora dapat ditekan sebisa mungkin. Mereka ingin Namora mengalami kesulitan. Jika Thea ada di sini, maka gadis pintar itu akan segera membisikkan sesuatu ke telinga Namora tentang apa saja permasalahan yang membutuhkan jawaban.
"Ada apa dengan sekretaris ku? Aku mempunyai hak untuk membiarkan dia berada di sini. Apakah kehadirannya mengusik kalian?" Tanya Namora.
"CEO. Pertemuan kita kali ini adalah untuk membahas banyak hal yang sangat sensitif di dalam perusahaan. Selain anggota eksekutif, tidak dibenarkan orang yang memiliki jabatan rendah memasuki ruangan ini. Apakah hanya pertemuan seperti ini saja, anda harus membawa sekretaris? Apakah anda tidak memiliki kemampuan?"
Kata-kata ini sangat menyengat hati Namora. Mereka terlalu menyepelekan dirinya. Kali ini Namora harus membela dan mempertahankan harga dirinya. Dari tadi dia sudah direndahkan. Jika sekali ini dia tidak melawan, maka kemana wajahnya akan dia tempatkan?
"Kalian..?!"
Belum lagi Namora sempat menyelesaikan kata-katanya, orang lain sudah memotong. "CEO. Apakah menurut anda, pertemuan kita ini adalah pertemuan makan siang? Jika begitu, maka saya akan menelepon anak dan istri saya untuk menghadiri acara ini. Bagaimana?"
Namora menenangkan perasaannya. Dia berjuang keras berdamai dengan hatinya. Setelah dirasakan tenang, barulah dia mengibaskan tangannya kepada Thea.
"Keluar! Tapi jangan jauh-jauh! Karena, aku akan segera memanggil mu kembali. Suruh juga direktur kepala di departemen keuangan untuk selalu bersiap sedia di depan pintu ruang rapat ini!"
Thea mengangguk hormat, kemudian dia berbalik badan, lalu segera meninggalkan ruangan itu diikuti tatapan penuh cemoohan dari mereka yang tidak menghendaki dirinya berada di ruangan rapat itu.
__ADS_1
"Harap semuanya tenang. Dan Pak Anto, silahkan duduk! Saya tau bahwa waktu setiap orang sangat berharga. Jadi, jangan membuang-buang waktu terlalu berlebihan dalam pertemuan ini," kata Pak Burhan. Pelan dan tenang nada suaranya. Tapi sungguh sangat mengintimidasi. Dia sudah sangat kesal dengan pertemuan yang tidak tepat waktu ini. Seharusnya dia akan hadir dan menjadi salah satu dari mereka yang menjemput Tigor ke kota Batu dalam rangka kebebasannya. Tapi karena dirinya diminta untuk menjadi penengah dalam pertemuan yang dianggapnya sebagai pertemuan sialan ini, maka mau tidak mau dirinya harus mengalah. Apa lagi ini menyangkut tentang perusahaan Martins Group. Perusahaan yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri diperjuangkan oleh mendiang Martin dari kota Tasik Putri. Mana mungkin dia berpangku tangan ketika nasib perusahaan sedang dipertaruhkan.
Lelaki di sebelah pak Anto segera menarik lengan jas lelaki itu agar segera duduk. Pak Anto tidak menolak. Dia duduk dengan raut wajah penuh kemenangan.
"Baiklah. Kini, mari kita memulai pertemuan ini.
Selamat pagi untuk pemangku CEO, yaitu Namora Habonaran. Yang juga memegang hampir 70% saham di perusahaan ini.
Selamat pagi juga untuk Pak Anto, Pak Bernard, Pak Bent, Pak Mario, Pak Roland, dan Pak Teguh.
Dewasa ini, selama lebih dari tujuh belas tahun semenjak ketua kita yaitu Tigor dipenjara, belum pernah Martins Group mengadakan pertemuan sebesar ini yang melibatkan seluruh pemegang saham, baik itu pemegang saham mayoritas, ataupun minoritas. Ini juga ditambah lagi dengan beberapa mitra bisnis di perusahaan, para eksekutif dan juga beberapa calon investor. Saya ingin tau, siapa yang berinisiatif dan memprakarsai pertemuan ini, dan apa keinginan semua orang dalam mengadakan pertemuan ini. Waktu dan tempat saya persilahkan!" Kata Pak Burhan mengawali kata-kata sambutannya dalam rapat dewan direksi kali ini.
"Terimakasih kepada Pak Burhan yang sudi untuk meluangkan waktunya menghadiri pertemuan ini sebagai penengah. Saya ucapkan terima.
Adapun pertemuan kali ini adalah atas inisiatif dari saya sendiri selaku salah satu dari pemegang saham di Martins Group ini. Adapun tujuan saya memprakarsai pertemuan ini adalah untuk bertukar pikiran dan membahas tentang isu yang baru-baru ini terjadi di dunia bisnis di mana, CEO kita, yaitu Namora Habonaran beberapa waktu lalu melakukan sidang media secara sepihak, kemudian mengatakan kepada publik bahwa dirinya, selaku CEO dan pemegang saham terbesar dalam perusahaan ini, menarik batas bahwa Martins Group, menganggap Agro Finansial Group sebagai musuh dan mengisyaratkan kepada semua orang yang berhubungan dengan Martins Group untuk melakukan hal yang sama. Yaitu, memusuhi Agro Finansial Group," kata Pak Anto dengan lancar. Dia sudah memikirkan kata-kata yang sangat masuk akal jauh-jauh hari. Dan tidak lupa, dari sekian kata-kata yang dia sampaikan, dia tidak lupa memberikan sedikit bumbu yang memojokkan Namora.
Bersambung...
__ADS_1
Yang mau berdonasi untuk Author, bisa ke D A N A 0822 7275 6148. lumayan buat nambah semangat update. Terimakasih