
...Kota L...
Beberapa unit mobil terlihat terparkir di depan rumah besar bagaikan Manor di pinggiran berbukit kota L.
Manor itu adalah salah satu properti milik Jhonroy yang terkenal sebagai tuan tanah di kota L ini.
Sedangkan di bagian ruang tengah bangunan yang luasnya ribuan meter persegi tersebut, beberapa orang sedang terlibat pembahasan serius.
Jika diperhatikan, ada sekitar sepuluh atau dua belas orang sedang berada di ruangan itu. Dan enam diantaranya adalah lelaki paruh baya yang sebenarnya adalah pemegang saham di Martins Group.
Ada raut licik pada wajah semua orang yang berada di sana, dan tidak sedikit pula diantara mereka memasak riak wajah yang puas.
Jhonroy sendiri, yang duduk di kursi kepala tidak henti-hentinya tersenyum penuh kemenangan.
Baru saja dia mendapat kabar dari para pemegang saham di Martins Group bahwa mereka berhasil menekan Namora yang sangat berambisi untuk mendapatkan dua proyek yang saat ini sedang diperebutkan oleh setiap kekuatan besar dalam dunia bisnis.
Bagi Jhonroy, dia tidak masalah untuk bersaing. Dia cukup percaya diri untuk memenangkan tender proyek tersebut. Namun, jika bisa menyikut salah satu peserta, maka akan memperbesar peluang untuk memenangkan proyek tersebut. Dan satu dari mereka telah dinyatakan mundur dari partisipasi mereka dalam memburu tandatangan dari pemilik proyek. Siapa lagi kalau bukan Martins Group.
"Hahaha. Tidak ku sangka bahwa Martins Group melakukan kesalahan besar dengan membiarkan anak bau kencur untuk mengendalikan perusahaan itu. Tapi jika dipikir-pikir, tidak ada bedanya perusahaan diambang kebangkrutan itu dijalankan oleh siapapun. Toh juga perusahaan itu sebentar lagi akan bangkrut," kata Jhonroy penuh dengan kemenangan.
Mereka kembali tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Jhonroy barusan. Terlebih lagi ketika mereka mengingat bagaimana mereka mempecundangi Namora sehingga dari Harimau yang garang berubah menjadi kucing kurap.
"Hahaha. Andai Tuan Jhonroy berada di sana, Tuan pasti akan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi tertekan anak itu. Bagaimanapun, dia masih anak-anak. Walaupun dia memegang saham mayoritas di perusahaan itu, tapi dia mana mengerti. Kami mampu mengendalikan keadaan plus memberikan tekanan sehingga dia tidak bisa mengambil keputusan. Jujur saja bahwa untuk saat ini keadaan masih berada dalam kendali kami," kata salah seorang dari pemegang saham Martins Group dengan sangat bangga.
"Teruslah untuk menguasai keadaan. Jangan biarkan mereka maju walau satu langkah pun. Apa kalian mengerti?"
__ADS_1
"Tuan Jhonroy tidak perlu khawatir. Andai anak itu melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kami, kami masih memiliki kartu As. Anak itu tidak akan mampu untuk melawan kami. Kecuali jika dia memiliki uang yang sangat banyak. Tapi itu tidak mungkin, mengingat bagaimana keadaan perusahaan saat ini. Jika bukan karena anda yang meminta, kami juga tidak sudi untuk terus bertahan di sana. Aku bahkan khawatir sewaktu-waktu nilai pasar perusahaan itu akan anjlok, maka saham milik kami tidak akan berharga lagi,"
"Hahaha. Kata-kata mu barusan seolah-olah menyiratkan bahwa aku ini adalah orang yang tidak mengingat jasa. Kalian jangan khawatir. Begitu aku memenangkan tender proyek tersebut, maka setiap dari kalian akan mendapatkan 5% saham. Kau tidak tau seberapa besar manfaat yang kalian dapat dari dividen tahunan ketika kalian memiliki 5% saham dari proyek ini. Ini bukan berinvestasi, akan tetapi menanam uang yang akan menumbuhkan banyak tunas-tunas uang yang lain. Itu akan mengalir seperti air bah," kata Jhonroy meyakinkan mereka dengan penuh percaya diri.
"Kami mempercayai anda, Tuan. Anda tidak mungkin tidak akan mengingat kami,"
"Benar Tuan. Kami harus mengucapkan terimakasih kepada anda atas kebaikan anda yang mau berbagi dengan kami para investor kecil ini,"
Jhonroy sangat suka mendengar perkataan dari para penjilat ini. Dia kemudian bertanya, "baiklah. Karena kalian sudah sangat percaya diri, maka kita akan berbagi tugas. Akan tetapi, aku ingin bertanya kepada kalian semua. Sekedar untuk antisipasi. Andai anak itu tetap ngotot untuk memenangkan tender tersebut, apa yang akan kalian lakukan?"
Semua orang saling pandang ketika mendengar pertanyaan dari Jhonroy barusan. Hanya saja, sorot mata mencemooh jelas terlihat dari tatapan mereka.
Seolah-olah mereka sangat percaya diri bahwa mereka dapat mengendalikan Namora, mereka pun menjawab. "Sebenarnya ini adalah rahasia diantara kami. Namun, ketika anda bertanya, maka tidak ada salahnya untuk menjawab. Ini semua bertujuan supaya kerjasama kita ini jujur, adil dan transparan. Sebenarnya untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan, kami pun memiliki beberapa trik di dalam saku kami,"
"Katakan supaya aku dapat menilai trik apa yang kalian miliki. Jika ada kekurangan, kita akan memperbaikinya," pinta Jhonroy tidak sabar.
"Hmmm. Bagus. Aku rasa itu memang ide yang menarik. Bagaimanapun, anak itu masih sangat hijau dalam dunia bisnis. Seharusnya dia masih bermain kelereng bersama dengan anak-anak sebayanya. Beraninya dia ingin bersaing dengan Agro finansial Group dengan perusahaan yang akan bangkrut miliknya itu. Sungguh lelucon yang garing," cibir Jhonroy.
Mereka pun langsung menemukan kata sepakat diantara mereka untuk bersama-sama menekan Namora bersama Martins Group miliknya.
"Kita telah mendapatkan kata sepakat. Namun, di sini kami benar-benar mengandalkan Tuan Jhonroy agar memegang janji. Bagaimanapun, kita telah melakukan kesepakatan kerjasama ini. Ketika nantinya kami melancarkan serangan terhadap Martins Group, anda akan memenuhi janji anda untuk membiarkan masing-masing dari kami memiliki 5% saham di perusahaan Agro finansial Group," kata mereka memperingatkan. Bagaimanapun, mereka tidak sepenuhnya percaya terhadap Jhonroy yang terkenal sangat licik dan tanpa ampun ini. Di saat-saat genting, dia bisa saja berubah pikiran dan mengingkari semua janji yang sebelumnya telah mereka sepakati.
"Hahaha. Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan menepati janji ku," kata Jhonroy berusaha meyakinkan.
"Baiklah, Tuan. Kata sepakat telah kita ambil. Maka, kami mohon diri dulu. Kami akan kembali ke kota Kemuning untuk memantau keadaan dan segera melaporkan perkembangannya kepada anda,"
__ADS_1
"Ya. Kembalilah segera. Aku menunggu informasi dari kalian," kata Jhonroy pula sembari berdiri, kemudian menerima jabat tangan dari mereka.
"Ayah. Apakah ayah percaya kepada mereka itu? Mereka itu adalah ular berkepala dua. Jika mereka bisa mengkhianati perusahaan tempat mereka mengais rezeki, bukan mustahil mereka akan mengkhianati kita juga di masa hadapan," kata Teja bertanya sekaligus memperingatkan kepada ayahnya setelah semua orang pergi.
"Siapa yang menginginkan mereka. Beberapa sampah yang tidak berguna. Memelihara mereka sama seperti memelihara seekor ular kurus. Setelah tumbuh besar, mereka akan melilit kita. Untuk saat ini, biarkan mereka melakukan kerusakan di perusahaan Martins Group. Kemudian kita akan memanen hasil mereka,"
"Saya mengerti," kata Teja penuh anggukan.
"Sekarang kita tidak bisa menunggu terlalu lama. Sebentar lagi Tigor akan bebas dari penjara. Jika sampai dia keburu bebas, maka kita tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mempersulit Namora. Jangankan untuk membunuhnya, menyentuh pun sepertinya akan sangat sulit,"
"Ayah memang yang terbaik," puji Teja bersungguh-sungguh.
"Lalu, apakah kau sudah mendapat kabar dari Dojo kampung baru?" Tanya Jhonroy mengubah topik.
"Sudah. Mungkin dalam dua hari lagi barang-barang mereka akan tiba. Sedangkan Takimura, dia masih dalam pemulihan,"
"Huhf. Dasar sampah. Sampah buangan dari sekte, malah mereka kirim ke sini. Apa mereka kira kita ini seperti tong tempat pembuangan sampah?" Maki Jhonroy atas ketidak efisien nya Takimura dalam melakukan tugasnya.
"Ayah tinggal memberi mereka perintah saja. Bagaimanapun, Namora tidak boleh terus hidup. Atau kita akan menyesalinya. Anak itu sepertinya sangat sulit ditebak,"
Jhonroy mendengus mendengar perkataan Teja. Baginya, sekali sampah, tetap sampah. Apa bedanya.
"Baiklah. Kau terus lakukan pekerjaan mu. Terus selidiki mereka. Aku akan melakukan panggilan dulu. Bagaimanapun, dua proyek itu harus kita menangkan agar terus melonjakkan popularitas perusahaan.
"Baik, Ayah!" Kata Teja menurut. Dia membungkukkan badannya, kemudian berbalik pergi meninggalkan bagian kiri dari bangunan Manor tersebut
__ADS_1
Bersambung...