
Wajah Namora tetap datar tanpa ekspresi melihat orang-orang yang ada di ruangan itu seperti kambing kebakaran jenggot.
Selain Udin, sekretaris, ketua departemen keuangan dan beberapa manager yang sama sekali tidak memiliki saham di perusahaan itu, yang lainnya semua sepakat untuk menentang keputusan yang diambil oleh Namora. Dan yang paling mengherankan adalah Hendro. Sebagai anak Andra, orang dalam sekaligus keluarga bagi Martins Group maupun Tigor, mestinya dia harus mendukung keputusan Namora. Tapi sepertinya harapan Namora bagaikan jauh panggang dari api. Dia bahkan ikut menjadi kompor untuk memanasi para pemegang saham agar menentang keputusan Namora.
"Boss. Ini?!" Tanya sang sekretaris yang melihat Namora terpojok oleh orang-orang licik dihadapan mereka.
Namora mengangkat tangannya agar sang sekretaris diam.
Saat ini, tujuan Namora telah tercapai. Dia sebenarnya ingin mengetahui lebih dalam tentang situasi. Satu umpan sepertinya mendapatkan beberapa hasil tangkapan. Hanya saja, Namora tidak bisa terlalu mencolok. Sandiwara ini harus dilakukan dengan lakonan yang meyakinkan agar semuanya terlihat sealami mungkin.
"Sekarang aku tau apa sebabnya Martins Group terpuruk sedalam ini. Ternyata ular-ular berkepala dua ini lah yang menghalang-halangi perusahaan untuk melangkah lebih jauh," pikir Namora dalam hati.
"Baiklah. Aku di sini memang ingin mendiskusikan bagaimana caranya untuk memenangkan proyek itu. Dan aku semakin bertekad untuk memenangkannya. Bagaimana dengan para staf semua? Apakah kalian siap untuk memenangkan proyek ini?" Tanya Namora kepada para petinggi di perusahaan.
"CEO. Kami sebenarnya selalu siap. Hanya saja.., hanya saja..,"
"Hanya saja apa?" Tanya Namora seperti tidak sabaran.
Petinggi perusahaan itu menatap ke arah para pemegang saham yang saat ini penuh dengan ekspresi ketegangan pada wajah mereka.
Petinggi perusahaan ini jelas tidak berani terhadap mereka. Bagaimanapun, dirinya hanya makan gaji. Sedangkan beberapa orang ini adalah pemegang saham. Walaupun hanya 5% tapi itu sudah cukup untuk dikatakan sebagai majikan mereka. Dan ketika mereka bersatu, jelas suara Namora akan ditutupi oleh suara mereka semua.
"Di sini, aku memiliki keputusan akhir. Aku tidak akan mundur dalam memenangkan proyek itu. Berapapun harganya!" Tegas Namora.
__ADS_1
"Namora. Apakah kau yakin? Keadaan keuangan perusahaan tidak dalam keadaan baik. Setiap perusahaan tentu bekerja untuk untung. Bukan rugi. Apakah kau sudah siap dengan konsekuensinya? Jangan memaksakan perusahaan berhutang hanya untuk memenuhi ambisi mu. Ketika perusahaan tidak mendapatkan keuntungan, dengan apa kau akan membayar hutang itu? Jangan katakan kau sudah siap andai perusahaan dilikuidasi karena tidak mampu membayar hutang!" Kata Hendro kembali melancarkan protesnya.
"Ya. Hendro benar. Ketika perusahaan mengalami kebangkrutan, maka kami juga akan turut terseret," kata pemegang saham yang lainnya.
Prak!
Namora membanting tangannya di atas meja dengan keras. Dia sudah tidak dapat lagi menahan kemarahan yang sejak tadi ditahannya.
"Jangan kasar, CEO. Seorang pemuda yang seusia dengan Anda memang penuh dengan ambisi. Hanya saja, ambisi tanpa perhitungan sama dengan mencari penyakit. Saya pernah seusia anda. Jadi, saya lebih mengetahui apa yang anda rasakan saat ini,"
"Benar. Anda boleh saja berambisi. Dalam usia seperti anda, anda mungkin menuntut diri sendiri untuk membuktikan kemampuan. Hanya saja, kita berada didalam kapal yang sama saat ini. Berada di kapal yang sama, dan sedang berlayar di laut lepas. Jika anda memaksa kapal untuk karam, maka bukan hanya anda sendiri yang tenggelam, melainkan kita-kita ini juga akan turut serta. Dan kami, jelas tidak ingin tenggelam bersama dengan anda,"
"CEO. Jika anda memaksa, maka kami hanya bisa mengatakan bahwa kami semua tidak setuju untuk memburu dua dari tiga proyek itu. Tidak apa-apa kalau perusahaan dalam keadaan baik. Tapi, perusahaan tidak mengalami kebangkrutan pun sudah syukur. Jadi, jangan paksakan keputusan anda, atau kami semua akan menarik diri dari perusahaan ini!"
Kali ini ancaman mereka sudah sampai pada puncaknya. Di sini, jelas mereka sedang mengatakan bahwa mereka ingin mengembalikan saham yang mereka pegang ke perusahaan. Jika itu terjadi, jangankan untuk memburu dua proyek, untuk menjalankan roda perusahaan pun akan sangat sulit ketika perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dalam membayar kembali saham yang mereka miliki. Jika itu terjadi, perusahaan pasti seperti pesakitan yang harus bergelut untuk sembuh. Setelah sembuh, perusahaan juga harus bergelut kembali untuk memulihkan performanya ke tingkat yang semestinya. Ini pasti sangat berat. Terkecuali...,
"Aku ingin mengetahui, siapa saja diantara kalian yang setuju untuk mengejar proyek itu, dan siapa saja yang tidak setuju. Yang setuju boleh tetap tinggal di sini bagi membahas apa saja yang perlu kita lakukan, dan yang tidak setuju boleh keluar meninggalkan ruangan rapat ini!"
Tidak menunggu waktu lama, keenam orang itu langsung keluar meninggalkan ruangan rapat. Ini menandakan bahwa jelas mereka tidak menyetujui gagasan Namora untuk bersaing dengan perusahaan lain bagi mengejar dan memenangkan proyek itu.
Walaupun Namora sudah menjangkakan hal ini pasti akan berlaku, namun tetap saja dia mengepalkan tinjunya menahan kemarahan.
Kemudian Namora menatap ke arah Udin dan Hendro yang masih berada di ruangan itu.
__ADS_1
Udin dan Hendro saling tatap, kemudian Udin terlebih dahulu berkata. "Mora. Aku tetap setuju dengan mu. Walaupun karam, setidaknya aku adalah keluarga mu. Aku mendukung keputusan yang kau ambil. Walaupun aku tau bahwa itu tidak berpengaruh besar, setidaknya aku tegas dalam menentukan dimana posisiku!"
"Apa yang kau katakan Din? Apa kau sudah tidak waras? Aku jelas tidak mungkin untuk menyetujui keputusan Namora.
Mora. Jangan kau kira, aku tidak meninggalkan ruangan ini karena aku menyetujui keputusan mu. Aku tinggal karena ingin mengatakan kepadamu bahwa, kau harus tau kapasitas kekuatan yang kau miliki. Jangan karena kau mampu menanggung beban 100kg, kemudian kau ingin memaksakan beban 200kg. Itu berkhayal namanya. Kalau masalah darah muda yang panas, kita ini seumuran. Darah ku juga sama panasnya seperti mu. Hanya saja, aku lebih realistis darimu!" Kata Hendro dengan senyum menghina. Bukan hanya senyumannya saja yang menghina, tapi gesturnya juga sangat merendahkan.
"Lima belas menit lagi, temui aku di ruangan kerja ku!" Kata Namora sepada seluruh staf. Kemudian dia melambaikan tangannya menyuruh mereka untuk keluar meninggalkan ruangan rapat.
Kini tinggallah dirinya, Udin dan Hendro yang masih berada di sana.
Prak...! Brugh!
Namora membalikkan meja sehingga ruangan itu menjadi seperti kapal pecah.
Setelah meja itu terbalik, dia segera menghampiri kursi Hendro, kemudian menaikkan sebelah kakinya di atas kursi tersebut dengan tangan kanannya mencekik leher putra dari Andra tersebut.
"Pantas perusahaan ini hanya bergerak di tempat tanpa sedikitpun ada kemajuan. Ternyata orang-orang yang menduduki jabatan penting di perusahaan ini bermental sialan seperti mu. Apa kau sudah terlalu gemuk sampai-sampai lupa bagaimana cara menggonggong yang baik?"
Hendro dan Udin sama-sama memucat atas apa yang dilakukan oleh Namora.
Pertama mereka berdua terkejut karena Namora membalikkan meja. Dan yang kedua, Hendro sangat kaget ketika lehernya dicengkeram oleh Namora.
"Mo.., Mo.., Mora!" Hendro tergagap sambil berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Namora.
__ADS_1
"Kalian ini adalah Anjing yang makan dari Martins Group, dan minum dari Martins Group. Sebagai anjing yang baik, seharusnya kalian menggonggong ketika ada musuh yang datang mengetuk pintu. Tapi sepertinya kalian sudah terlalu gemuk sampai-sampai lupa cara menggonggong dengan benar. Jadilah anjing yang baik dan jangan menjulurkan lidah mu di sembarang orang. Atau aku akan memotong lidah mu!" Kata Namora sambil menepuk-nepuk pipi Hendro sebelum mengajak Udin untuk meninggalkan ruangan itu.
Bersambung...