Namora

Namora
Kena batunya


__ADS_3

"Hahahaha..!"


Mendengar perkataan Namora tadi, ke-enam orang itu tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa bahwa Namora sudah lelah dan berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya dengan mengatakan perkataan bernada ancaman.


"Namora. Berhenti berpura-pura! Aku tau kau sedang menyembunyikan ketakutan mu dan putus asa mengatakan perkataan seperti itu. Aku bisa menarik niatku untuk menyakitimu. Tapi ada syaratnya," kata Rendra penuh nada kesombongan. Dia menatap Marcus dan yang lainnya, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


Tawa dari Rendra dan yang lainnya ini benar-benar membuat Namora ingin menelan orang hidup-hidup. Tangannya terkepal erat dan siap untuk memuntahkan kekesalannya.


"Namora. Lihatlah diri mu. Kau berlagak sangat sombong dan menyangka bahwa setelah memukul kepalaku, kau mampu melakukan apapun yang kau mau. Kau bahkan nekat untuk mengikuti turnamen beladiri. Apakah kau mengira setelah memukul kepala seseorang yang tidak siap, maka kau akan menjadi orang yang mendadak kuat? Mimpi kau Namora!"


Rendra mengepalkan tinjunya dan mengusap-usap tinju tersebut. Hal ini dia lakukan untuk menggertak Namora.


"Aku akan membiarkan kau selamat hari ini, asalkan kau mau berlutut, lalu aku akan menelanjangi dirimu. Kau boleh pulang dengan keadaan seperti itu. Bagaimana?" Tanya Rendra masih dengan senyum mengejeknya.


Namora tidak berkata iya atau tidak. Tapi kini tatapan matanya sangat tajam.


"Aku beri waktu sampai hitungan ke tiga. Jika kau tidak menurut, maka jangan salahkan aku kalau kau masuk rumah sakit!"


"Apa kau mengira bahwa aku ini lemah seperti sirsak? Aku tau kau sangat akrab dengan Diaz, dan teman-temannya. Sebenarnya aku ingin mengirim pesan tegas kepada mereka. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya. Mungkin dengan menghajar kalian, maka pesan ini akan sampai kepada mereka bahwa aku adalah penantang serius dalam turnamen yang akan datang," Namora merapatkan dirinya ke arah tembok, lalu melanjutkan. "Kalian sudah sangat membuat aku kesal. Seribu kesalahan bisa aku maafkan. Tapi kau telah mengusik orang tua ku. Aku tidak akan melepaskan kalian hari ini!"


"Kurang ajar. Tidak bisa dikasih hati," Rendra memberi aba-aba kepada kelima orang yang dadi tadi sudah bersiap-siap melakukan serangan. Begitu mendapat aba-aba, keempat orang yang membuntuti Namora tadi langsung menyerang.


Plak!


Bam!


Suara benturan terdengar dan sangat mengejutkan Rendra.


Entah kapan tepatnya, tiba-tiba satu sosok melayang, lalu menghantam tembok seberang sana, kemudian jatuh melorot dengan mulut menyemburkan darah. Jelas nafasnya megap-megap.


Baru saja Namora mengirim tendangan yang tepat menghantam dada lelaki itu membuat dirinya terbang seperti layang-layang putus tali.

__ADS_1


Tidak berhenti sampai di situ, Namora yang memanfaatkan keterkejutan dari mereka segera meninju tepat di bagian tulang rusuk salah satu dari tiga orang yang tersisa.


Krek! Terdengar suara tulang yang patah diikuti ambruknya lelaki tadi.


Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Namora menginjak tubuh orang itu, memanfaatkan momentum, kemudian melompat mengirim sekali lagi tinju. Tapi kali ini yang ditinju sempat mengelak sehingga pukulan tinju Namora lepas, kemudian menghantam tembok.


Suara menggelegar terdengar diikuti retakan pada beton dimana tinju Namora tadi hinggap.


Dapat dibayangkan andai orang tadi tidak menghindar, maka sudah jelas kepalanya akan retak.


Pertama kali dalam hidup Namora melakukan perkelahian. Selama ini dia hanya berlatih tanpa pernah mencoba bertarung dengan orang. Tapi efeknya benar-benar sangat menakutkan. Di sini Namora berpikir, pantas saja Pak Harianto tidak mengizinkan dirinya untuk berkelahi.


Di sisi lain, Rendra dan Marcus tampak pucat. Dia tadi mengira bahwa Namora akan menjadi samsak pasir dihajar oleh orang-orang yang dia bayar. Tapi apa? Justru orang-orang suruhannya yang dijadikan ayam sayur oleh Namora.


"Bawa kawan mu, atau kalian akan menjadi korban selanjutnya!" Namora menunjuk ke arah dua orang yang tersisa. Tatapannya dingin menusuk membuat dua orang dari empat orang suruhan Rendra menggigil ketakutan.


Tanpa pikir panjang lagi, kedua orang itu langsung memapah temannya yang sudah tergeletak. Mereka tidak menghiraukan teriakan Rendra. Baginya, mencari keberadaan pak selamat adalah hal yang paling penting, daripada bonyok.


Namora segera menjambak rambut Marcus, lalu mencengkeram dengan erat, sehingga sejumput rambut tergenggam ditangannya.


Marcus meraung kesakitan. Dia tidak tau akan begini jadinya. Andai dia tau, maka sumpah demi apapun dia tidak akan mau ikut dengan Rendra. Tapi dimana ada toko yang menjual obat penyesalan?


"Berdiri dengan benar!" Bentak Namora kepada Marcus.


Marcus yang sudah dikuasai oleh perasaan takut segera berdiri tegak. Dia pasrah saja ketika Namora membetulkan kerah bajunya.


"Aku pernah menerima kebaikan darimu. Ketika dulu aku dikeroyok oleh kalian, kau adalah satu-satunya orang yang membantu aku untuk berdiri. Aku mengingat itu dan aku menghargainya. Kau tunggu di samping sana! Cepat, sebelum aku berubah pikiran!" Namora menunjuk ke arah ujung gang.


Karena ketakutan, Marcus lari terbirit-birit menuju ke ujung gang. Kemudian dia memperhatikan saja ke arah Namora yang sudah berjalan ke arah Rendra yang saat ini sudah meringkuk bersandar di tembok. Tubuhnya menggigil ketakutan dengan keringat dingin mulai menetes di dahinya.


"Mau apa kau? Jangan dekat! Kau mau apa hah?" Rendra seperti hilang akal. Dia ingin meminta ampun, tapi keangkuhannya tidak mengizinkan dirinya melakukan hal itu.

__ADS_1


"Kau tinggal pilih. Hukuman apa yang pantas untukmu!" Namora menarik kerah baju Rendra. Dia memaksa pemuda itu untuk bangkit.


Sekuat apapun Rendra menahan, tapi tubuhnya tetap terangkat. Lalu...,


Plak..! Plak..! Plak...!


Tiga tamparan beruntun membuat wajahnya membengkak. Ada darah menetes dari sudut bibirnya.


Plak!


Brugh...!


Satu lagi tamparan keras membuat Rendra jatuh terduduk. Pandangannya mendadak gelap dan darah semakin banyak keluar dari sudut bibirnya.


"Menurutmu, apakah aku pantas mengikuti turnamen itu?"


"Pantas. Sangat pantas!" Rendra cepat-cepat mengiyakan. Dia tidak mau ditampar lagi oleh Namora.


"Pergi!" Dingin suara Namora seolah-olah menusuk kedalam gendang telinga Rendra.


Rendra tergagap ketakutan. Dia berusaha bangkit, lalu lari terbirit-birit menghampiri Marcus yang sejak tadi menunggu di ujung sana.


"Aku menunggu respon dari kalian!"


Setelah Marcus membawa Rendra dengan terburu-buru, Namora pun segera berpaling, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kembali ke arah pusat kota.


Dia takut boneka dolphin yang diinginkan oleh Merisda keburu dibeli oleh orang.


"Sialan. Membuang waktuku saja,"


Sambil melangkah, Namora merapikan kemeja yang dia kenakan. Dia harus buru-buru. Andai nanti kemalaman, dia bakal dimarahi oleh Mirna. Dan kemarahan ibunya ini lebih menakutkan dari apapun yang ada di dunia ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2