
Area parkir SMA negeri Tunas Bangsa
Namora saat ini sedang duduk di balkon tingkat dua dengan wajah tak berdaya. Kelihatannya dia sedang memperhatikan ke bawah, tepatnya area parkir.
Sementara itu, di area parkir, sekumpulan anak-anak SMA negeri Tunas Bangsa baik itu laki-laki ataupun perempuan sedang sibuk membahas tentang satu unit sepeda motor yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di area parkir sekolah tersebut.
Beberapa diantaranya ada yang berselfie ria dan ada pula yang sekedar mengunggah instastory di akun media sosial masing-masing. Kapan lagi bisa memamerkan sepeda motor yang harganya di luar jangkauan mereka. Mereka harus tau bahwa tidak ada ramai dikalangan anak muda di kota batu ini yang punya sepeda motor seperti ini yang harganya tidak di bawah 800 juta rupiah. Apa lagi mereka adalah berstatus siswa. Andaipun mampu, mungkin mereka akan lebih memilih membeli mobil daripada sepeda motor.
Tingkah mereka ini tidak luput dari perhatian Namora yang tampak pasrah saja. Beruntung dia berangkat pagi-pagi sekali. jika dia sedikit telat, maka dia pasti akan dikerumuni oleh orang-orang dan ini akan membuatnya merasa tidak nyaman. Apa lagi selama ini semua orang memandangnya hanya dengan sebelah mata. Pasti akan sangat sulit untuk menjelaskannya.
Sambil menghela nafas, Namora bergegas turun dari duduknya, kemudian melangkah dengan niat untuk pergi ke kantin. Sekarang dia tidak perlu khawatir lagi. Uangnya ada banyak. Dia bahkan mampu membeli kantin di sekolah ini sekaligus.
Ketika Namora tiba di bawah, dia sempat berselisih jalan dengan Merisda, Ernita dan Dosma. Namun, Namora sepertinya tidak memperhatikan. Dia tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.
Melihat tindakan yang tidak biasa dari Namora ini, mau tidak mau memaksa Ernita dan Dosma melirik ke arah Merisda. Karena, bagi mereka ini adalah pemandangan yang langka. Karena, ketika bertemu, Namora pasti akan menegur dan dengan tidak tau malu akan menawarkan sesuatu kepada Merisda. Tapi pagi ini sungguh aneh sekali. Namora bahkan tidak menoleh. Ini lah yang membuat mereka menjadi heran.
Sama seperti kedua sahabatnya. Merisda juga seperti tidak percaya dengan sikap dingin Namora. Walaupun selama tiga hari ini dia selalu mencari Namora, tapi ketika bertemu, dia ingin menahan dan akan melihat seperti apa reaksi dari Namora ketika bertemu dengannya. Tapi dia segera kecewa karena Namora sangat acuh terhadap dirinya. Wanita memang begitu. Ketika di kejar, dia akan menghindar dan berusaha untuk menjauh. Tapi setelah yang mengejar berhenti, dia akan merasa heran dan menginginkan untuk kembali dikejar. Aneh kan?
__ADS_1
"Mer. Sepertinya Namora sudah tidak melihatmu lagi," tegur Dosma. Gadis ini juga sangat matre sekali. Awalnya dia sangat membenci Namora. Tapi setelah mengetahui berapa harga boneka dolphin yang dihadiahkan oleh Namora kepada Merisda, hal ini langsung mengubah sudut pandangnya terhadap pemuda itu.
"Benar Mer. Apakah dia benar-benar marah kepadamu?" Giliran Ernita pula yang bersuara.
"Aku tidak tau. Jangan bertanya kepadaku tentang apapun," jawab Merisda. Dia juga tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya itu. Perubahan Namora begitu mendadak. Sepertinya dia tidak siap.
Di waktu yang sama, ketika berada di kantin, Namora lebih memilih untuk sendiri. Dia memilih untuk duduk paling pojok dan mulai menyantap makanan yang dia pesan. Dia cukup aman karena Rendra, orang yang selalu menggangunya tidak akan masuk dalam waktu dekat ini ke sekolah. Entah bagaimana nasib Rendra saat ini, dia tidak mengetahuinya.
Ketika sedang sarapan, Namora dengan sudut matanya menangkap beberapa sosok yang berjalan dan mulai memasuki bagian dalam kantin. Melihat ini, Namora segera menyudahi makannya, kemudian membayar dan segera akan berlalu pergi. Tapi langkahnya segera berhenti ketika salah satu dari kelompok orang-orang tadi menegur dirinya.
"Namora. Mengapa buru-buru. Kami baru saja tiba. Apa kau sudah selesai sarapan?"
Tidak ada jawaban dari Namora. Sebaliknya, dia berpaling dan melanjutkan langkahnya.
Keenam anak-anak J7 itu saling pandang dan masing-masing mengangkat pundaknya. Mereka tidak perlu jawaban atas sikap dari Namora ini. Sudah jelas. Pasti Namora tidak akan memaafkan mereka atas kejadian dimalam perayaan ulang tahun Merisda.
"Sepertinya Namora benar-benar sakit hati kepada kita," Jufran duduk sambil mengucapkan kata-kata barusan kepada kelima sahabatnya.
__ADS_1
"Ayo pesan saja sarapan mu. Biarkan dia seperti itu. Mungkin dia butuh waktu untuk menyendiri. Nanti juga akan baikan. Selain kita, siapa lagi yang akan berteman dengannya?" Jericho tidak mau terlalu memusingkan tentang Namora. Karena menurutnya, Namora akan membaik seiring berjalannya waktu.
"Tapi kalau dipikir-pikir, memang Namora berhak untuk kecewa kepada kita. Aku sampai sekarang masih tetap kepikiran seperti apa kita ketika dia di hina. Padahal, aku juga akan merasakan apa yang dirasakan oleh Namora ketika aku diperlakukan seperti itu," Kata Jufran yang merasa ada sedikit ganjalan dihatinya. Dulu, ketika mereka diserang oleh orang-orang Dhani ketika memancing di bendungan kampung baru, Namora lah yang bersedia menemaninya untuk menjemput sepeda Jol yang tertinggal. Walaupun sepeda itu memang sudah rusak, tapi jiwa persahabatan Namora tidak dapat dipertikaikan lagi. Hal ini lah yang semakin membuat hati Jufran semakin tidak enak.
Jericho tidak terlalu memperhatikan. Dia segera memusatkan perhatiannya ketika makanan yang mereka pesan sudah berada di atas meja. Dan ketika ditangannya sudah ada sendok dan garpu, maka dia segera menyantap makanannya tanpa menghiraukan omongan diantara sahabat-sahabatnya.
Namora yang kini sudah tiba di depan lorong menuju tangga untuk naik, terpaksa melirik ke arah area parkir. Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya tanda tidak berdaya. Saat itu dia tetap melihat ke arah orang-orang yang masih mengerumuni sepeda motor miliknya.
"Jika begini terus, sepeda motor ku bisa rusak," gumam Namora dalam hati. Tapi tetap saja dia tidak berdaya untuk melarang orang-orang dari tetap mengerumuni sepeda motornya.
Apa lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah dan mulai menaiki tangga selangkah demi selangkah. Dia juga sepertinya sedang mencari sosok Jol. Tapi entah kemana sahabatnya itu.
Tepat ketika dia kembali menoleh, dia melihat Merisda dan dia orang sahabatnya memperhatikan dirinya. Hal ini membuat Namora mendadak muak dan bergegas menaiki tangga dengan langkah lebih cepat.
"Sialan. Mengapa aku harus melihat wajah Merisda ini,"
Sementara itu, Merisda dan kedua sahabatnya tetap memperhatikan Namora yang terus melangkah dengan cepat. Dalam hatinya dia tidak habis pikir dengan perubahan mendadak dari Namora ini. Hatinya meronta-ronta ingin menghampiri pemuda itu. Tapi di sisi lain dia juga memikirkan image nya. Bagaimana bisa dia yang menyandang predikat kembang sekolah bisa mengambil inisiatif untuk terlebih dahulu menghampiri Namora. Bukankah dia akan terkesan seperti menjilat ludahnya sendiri. Sungguh memalukan. Oleh karena itu lah mengapa Merisda tetap bertahan dan menunggu agar Namora yang terlebih dahulu menghampirinya. Tapi sepertinya itu tidak akan mungkin. Namora sudah tidak sudi lagi melihat Merisda.
__ADS_1
Bersambung...