Namora

Namora
Bertemu dengan Joe William


__ADS_3

Namora, dengan wajah kelelahan berdiri di tingkat paling atas bangunan tujuh tingkat perkantoran Martins Group. Dia menatap ke bawah bagaikan seorang raja memandangi negri kekuasaannya. Kedua tangannya memasuki saku celananya, sedangkan gaya berdirinya sungguh sangat dingin.


Beberapa orang berdiri di belakangnya tanpa berani bersuara. Mereka seperti bawahan yang patuh terhadap junjungannya.


Kreeeek...,


Namora sontak mengeluarkan tangan dari saku celananya, kemudian mengusap bagian perutnya. Dia kelaparan. Sejak pagi, belum ada sebutir makanan pun yang masuk ke dalam perutnya.


Beberapa orang yang tadi berdiri dibelakangnya mengulum senyum, kemudian menoleh ke arah lain.


Perlahan Namora melirik ke arah mereka, Namum dia segera mengalihkan tatapannya. Sedikit rasa malu hinggap dihatinya.


Bos besar, otoriter, pengambil keputusan, orang yang baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan nilai delapan ratus juta Dollar. Tapi cacing dalam perutnya berbunyi. Sungguh bukan lelucon yang lucu.


Namora kembali melirik ke arah orang-orang yang berada di belakangnya dengan cara memiringkan kepalanya. Kali ini tawa mereka sudah tak terbendung lagi. Baik itu Thea, Direktur departemen keuangan, direktur departemen pemasaran, pak Karim dan beberapa orang lagi sudah tidak mampu menahan tawa.


Akhirnya Namora mendengus kesal, lalu melangkah mendekati mereka.


Begitu dia mendekat, sontak tawa mereka sirna tanpa bekas.


"Aku lapar," ucap Namora dengan jujur.


"Tuan muda. Kalau lapar, jangan gengsi," kali ini Pak Karim memberikan ejekan yang telak tepat di batang hidung Namora. Dan memang hanya pak Karim saja yang berani bersuara. Mungkin karena mereka sudah terbiasa bersama dan Namora juga adalah murid pak Karim dalam hal mengemudikan mobil, jadi, sedikit banyaknya pak Karim berani bercanda dengannya.


"Huh. Kalian memang tidak pengertian," balas Namora merengut. Kemudian dia melangkah hendak meninggalkan mereka. Namun, baru tiga langkah, handphone miliknya berdering.


Namora segera mengeluarkan handphone miliknya, lalu melihat nama di Penelepon adalah ibunya.


"Ibu," kata Namora dengan nada lembut bagaikan agar-agar yang baru jadi.


"Hasian. Di mana kau nak?" Tanya sang ibu yang tidak tau bahwa anaknya baru saja memenangkan peperangan di perusahaan.

__ADS_1


"Masih di Martins Group, Bu!" Jawab Namora.


"Jam berapa sekarang, mengapa lama sekali kau di kantor?"


Namora menarik tangan pak Karim. Dia melirik jam pada lengan lelaki tua itu, kemudian menjawab. "Jam empat sore, Bu,"


"Namora. Ayah mu meminta agar kau segera datang ke Martins hotel. Cepat datang! Karena ketua kita ada di sini. Ayah mu memintamu untuk menemaninya berbelanja," kata Mirna di seberang sana.


"Ketua? Ketua apa, Bu? Mora tidak mengerti. Bukankah Mora adalah ketua?"


"Mora kesayangan. Kau ketua apa? Yang berada di Martins Group saat ini adalah ketua besar organisasi Dragon Empire. Bahkan ayah mu harus berlutut dihadapannya. Cepat datang dan lindungi ketua. Jika tidak, kota Kemuning akan dalam masalah!" Perintah Mirna dengan tegas dari ujung sana.


Berdebar jantung Namora mendengar kata-kata perintah dari ibunya. Entah mengapa hatinya menjadi tidak tenang. Bahkan Nalurinya mengatakan bahwa kedepannya akan banyak musibah yang menimpa dirinya ketika harus menghadapi orang yang belum dia kenal ini.


"Mora!"


"Eh. Iy.., iya Ibu. Mora akan segera berangkat ke sana!" Jawab Namora tergagap.


"Hah? Baik..," Namora segera mengakhiri panggilan. Setelah itu, dia setengah berlari menuju lift. Lalu menghilang memasuki kamar lift tersebut. Sedangkan yang lain hanya saling pandang tidak mengerti melihat tingkah Namora yang tiba-tiba ketakutan seperti itu.


*********


Martins Hotel


Mobil Toyota Hardtop biru tua yang terlihat sangat gagah itu berhenti di barisan paling pinggir di area parkir Martins Hotel.


Ketika Namora dan Rio baru saja turun, dia melihat lebih seribu kendaraan dengan segala merek terparkir di sana. Bahkan, sejak tadi dia memperhatikan sekeliling bangunan hotel itu dipagari oleh Mobil yang berlapis-lapis. Ini adalah pemandangan yang menakutkan. Kekuatan apa yang sanggup memobilisasi jumlah manusia seramai itu. Dapat dibayangkan andai setiap mobil diisi oleh dua orang, maka mungkin jumlahnya akan mencapai tiga ribu orang. Itu kalau dua orang. Bagaimana jika empat orang?


Namora menghela nafas, kemudian menarik tangan sepupunya, yaitu putra Rio, kemudian melangkah mengikuti Paman dan bibi nya menuju lobby hotel.


Begitu mereka tiba di dalam, Namora mengernyitkan dahinya ketika melihat bagian dalam hotel yang berantakan. Di sana dia juga melihat tiga orang lelaki dan seorang wanita yang dia kenal sebagai manager di Tower Mall dalam keadaan mandi keringat dan kelelahan. Nafas mereka tampak seperti baru saja berlari sejauh ribuan meter. Di sebuah meja, dia melihat tumpukan handphone berbagai jenis terletak begitu saja. Sedangkan di sudut lain, dia melihat Hendro sedang mengenakan pakaian pelayan Hotel. Wajah Hendro tampak sangat menyedihkan. Bahkan, tidak ada sedikitpun kesan angkuh pada wajah yang sejak kecil terbiasa mendongak ke langit tersebut.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Pikir Namora dalam hati. Dia tidak tau bahwa kejadian ini tidak lain adalah ulah dari pemuda yang sebaya dengannya. Dia lah yang dikatakan oleh ibunya tadi sebagai ketua dari Dragon Empire. Barusan pemuda itu menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk menari sambil diiringi dengan lagu Hindustan. Pokoknya, aca-aca nehi-nehi lah!


"Sial. Apakah ini orangnya?" Kata Namora kembali dalam hatinya. Dia melihat seorang pemuda terduduk ditengah-tengah ruangan dengan seorang lelaki paruh baya memegangi kursinya. Kelakuannya persis seperti seekor monyet yang baru lepas dari rantai. Tidak bisa diam.


Begitu pemuda itu berdiri, lelaki paruh baya itu dengan sigap mengangkat kursi yang diduduki oleh pemuda tadi, lalu mengikutinya dari belakang dengan patuh.


"Apa-apaan ini," Kepala Namora mendadak terasa gatal, walaupun dia sering keras pakai jeruk purut.


Namora menatap lurus ke arah depan, dimana dia melihat ayah dan ibunya sedang berdiri sambil menahan tawa.


Begitu Tigor dan Mirna melihat Namora, dia segera menyapa putra mereka dengan teguran. "Namora. Beri hormat mu kepada ketua kita!"


Namora terkejut sedikit, kemudian dia segera membungkukkan badannya memberi hormat. Tapi, walaupun dia membungkuk, tatapannya lurus ke depan memperhatikan pemuda itu. Dia merasa pemuda itu sangat tampan. Bahkan dia merasa kalah tampan dari pemuda itu. Walaupun dia mengakui bahwa di SMA negeri Tunas bangsa, dia lah pemuda tertampan nomor Wahid. Tapi dihadapan pemuda itu, dia merasa kalah pamor.


"Saya, Namora Habonaran memberi hormat kepada ketua!" Kata Namora dengan lancar, walaupun nada bicaranya tetap dingin.


"Ketua, dia adalah putra saya bernama Namora Habonaran. Mungkin anda akan merasa sungkan dan tidak nyaman jika saya yang menemani anda untuk sekadar jalan-jalan di tower mall. Tapi, dengan putra saya, saya rasa tidak demikian. Dan kau Namora, lindungi ketua dengan nyawamu!" Perintah Tigor dengan tegas.


"Namora mengerti, Ayah!" Jawab Namora singkat.


"Paman. Apakah saya bisa membeli apa saja di Tower Mall itu? Mana uang nya?" Tanya pemuda itu tidak mengerti.


Mendengar ini, Tigor tertawa. Dalam hati dia berkata bahwa pemuda yang bernama Joe William ini sangat lugu. Untuk apa dia memusingkan tentang uang, sedangkan Tower Mall itu miliknya. Tapi itulah Joe William yang dididik dan dibesarkan dalam keadaan yang serba susah.


"Ketua. Ikuti Namora! Dia akan mengatur semuanya untuk anda," jawab Tigor dengan memasang wajah kebapakan.


"Baik, Paman!" Jawab Joe William bersemangat.


(Untuk cerita seperti apa Namora dan Joe serta teman-temannya berbelanja ke Tower Mall, tidak perlu lah saya jelaskan secara rinci di sini. Karena itu semua sudah diceritakan dalam buku sebelumnya yang berjudul, Joe William)


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2