
Mercedes-Benz hitam melaju santai membelah jalan raya yang menghubungkan antara kota Batu ke kota Kemuning. Sepertinya pengendara tidak terlalu terburu-buru untuk mencapai tujuan.
Di dalam mobil, terlihat dua orang lelaki beda usia sedang menatap lurus ke arah jalan yang mereka lalui. Tidak tau mengapa pengendara itu sangat santai, dan sepertinya hanya mereka saja yang tau.
Si belakang stir, terlihat seorang lelaki paruh baya mengenakan pakaian formal berwarna hitam. Dan lelaki paruh baya itu tidak lain adalah Ameng. Sedangkan pemuda yang duduk di kursi co-pilot adalah Namora.
Tujuan mereka kali ini adalah kota Kemuning, sesuai dengan yang telah diinstruksikan oleh Tigor.
Ameng tampak sangat khusuk mengendalikan mobilnya, dengan sesekali menatap ke arah kaca spion lalu tersenyum sinis. Sedangkan Namora, seperti biasa. Tidak ada yang bisa menebak wajah anak itu. Begitu tanpa ekspresi, entah sedang marah, takut ataupun bahagia, wajahnya tetap datar.
"Sampah-sampah sialan," gerutu Ameng dengan kesal.
Gumaman Ameng ini membuat Namora menatap ke arah Ameng dengan tatapan tanda tanya. Dia tidak tau siapa yang dikatakan sampah sialan oleh Ameng barusan. Akan tetapi, dia dapat mengetahui dan menebak dari serangkaian peristiwa yang timbul akhir-akhir ini, bahwa perjalanan mereka kali ini tidak akan mulus. Sepertinya ini juga tujuan Ameng mengapa melajukan mobilnya dengan sangat santai.
"Kita dibuntuti, Paman?" Tanya Namora tenang.
"Hmmm," jawab Ameng dengan hidungnya.
"Apakah menurut Paman, mereka ini sangat tak sabar?"
"Lupakan itu. Mereka hanya akan mengantarkan nyawa. Hanya saja, apa rencana mu setelah kita tiba di kota Kemuning?"
"Apa lagi yang bisa aku lakukan? Aku ingin berdarah-darah!" Tegas Namora. "Awalnya kita tidak pernah mengusik siapapun. Ini di mulai setelah aku mengetahui beberapa eksekutif perusahaan menjalin kerjasama dengan Agro chemical dan membuat Martins Group merugi. Ketika aku bertindak merampas perusahaan itu, mereka malah ingin membalas dendam seolah-olah aku dan Martins Group ku yang bersalah. Kali ini, apapun yang terjadi, aku ingin menabuh genderang perang dengan Agro finansial Group. Jika masalah ini aku tunda, tidak tau entah kerugian apa lagi yang akan menimpa pihak ku,"
Ameng mengangguk pelan. Namun, entah anggukan mengiyakan perkataan Namora, atau karena dia menginjak rem untuk menghentikan mobilnya karena di depan ada lampu merah.
"Kita akan segera memasuki kawasan plaza tol. Persiapkan dirimu!" Kata Ameng.
Lampu di depan telah menunjukkan warna hijau.
Ameng bergegas menginjak pedal gas, lalu melaju seperti biasa. Akan tetapi, tiba-tiba dari arah simpang kiri, empat kendaraan membuntuti di belakang mobilnya, dan lima ratus meter di depan, tepatnya dari arah simpang kanan, empat kendaraan lagi melaju dan mengapit mobil yang dikendarai oleh Ameng sehingga mobil tersebut terkurung di tengah-tengah.
"Sial. Secepat ini kah?" Maki Ameng dalam hatinya.
__ADS_1
"Paman. Sebaiknya kita tidak perlu melalui jalan Tol. Mari kita ambil ke kanan. Kita ikuti jalan dari Indra Sakti. Walaupun sedikit lebih jauh, tapi kita bisa menghindari keramaian. Jalan dari Indra Sakti relatif sepi," kata Namora mengusulkan.
Mendengar usulan dari Namora, Ameng segera mengoper gear, lalu menginjak pedal gas sehingga mobil Mercedes Benz itu melesat secara mendadak, kemudian berbelok ke arah kanan, mengabaikan rambu-rambu lalulintas untuk segera menuju kampung Indra Sakti.
Beberapa kendaraan di depan mendadak menginjak rem dengan keterkejutan yang luar biasa. Mereka spontan menjulurkan kepala mereka, lalu memaki ke arah Ameng. Akan tetapi, mana ada waktu bagi Ameng untuk memperhatikan mereka semua.
Begitu mobil yang dikendarai oleh Ameng dan Namora memasuki jalan perkampungan yang biasanya sepi, namun kali ini tebakan Namora sungguh sangat meleset. Karena, sepertinya di sana telah menunggu beberapa kendaraan lagi dan langsung mengikuti mobil yang dikendarai oleh Ameng sehingga jalanan yang sepi tersebut mendadak terasa ramai.
"Siapa lagi ini?" Sekali lagi Ameng menggerutu di dalam hati.
Tepat ketika mobil tersebut melewati perkampungan dan memasuki area perkebunan, mobil yang dibelakang tadi mempercepat laju dan segera menyalib dan menginjak rem secara mendadak.
Begitu jalan di depan sudah diblokir, tiba-tiba dari arah samping kiri dan kanan mobil Ameng juga telah diblokir oleh mobil yang lainnya.
Tidak ada pilihan bagi Ameng selain menghentikan mobil dan mulai memperhatikan bahwa lebih dari sepuluh unit kendaraan telah mengepung mereka.
Namora tampak membuka beberapa kancing kemeja yang dia kenakan, kemudian menggulung lengan panjang kemeja yang dia kenakan.
Tidak sampai lima menit, beberapa orang lelaki bertubuh kekar keluar dari dalam mobil yang mengepung dengan berbagai senjata tergenggam di tangan masing-masing.
Seorang pemuda berusia dibawah 30 tahun kemudian menghampiri mobil yang masih belum terbuka pintunya, lalu berseru. "Aku menginginkan Namora!"
Tidak ada respon dari orang ya berada didalam mobil yang mereka kepung. Hal ini tentu saja membuat pemuda tadi kehilangan kesabaran.
"Aku menginginkan Namora untuk keluar. Keluar, atau aku akan membakar mobil ini! Biarkan kalian terpanggang di dalam," kata pemuda itu lagi.
Di belakang pemuda itu kini tidak kurang dari tiga puluh orang lelaki yang sepertinya sangat terlatih telah berdiri. Sikap mereka saat ini jelas seperti sedang menunggu perintah.
"Sepertinya kita harus segera turun, Paman!" Ujar Namora sambil melepaskan sabuk pengaman yang dia kenakan.
Setelah mengucapkan kata-kata tadi, Namora tanpa menunggu jawaban dari Ameng segera mendorong pintu mobil, kemudian keluar dengan sikap yang sangat tenang.
Ketenangan sikap dan kedinginan wajah Namora mau tak mau membuat orang-orang yang mengepungnya sejenak tertegun. Siapa yang menyangka bahwa di usia sebegini muda, temperamen Namora sangat tenang. Terlebih lagi saat ini keadaannya tidak menguntungkan. Jika itu terjadi terhadap pemuda biasa, kemungkinan anak itu sudah sejak tadi kencing di celana. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Namora. Dia yang sejak kemarin memang sudah membara akibat niatnya untuk menyerang kota L digagalkan oleh Ameng, kini merasakan seperti orang yang sedang mengantuk diberi bantal. Mana mungkin dia tidak berniat untuk turun dan menagih hutang nyawa tersebut.
__ADS_1
Pemuda berusia dibawah 30 tahun tadi memperhatikan sosok Namora dari atas sampai kebawah, lalu naik lagi ke atas. Sorot matanya jelas sangat menyepelekan Namora. Memang dia mengetahui bahwa kemampuan Namora untuk berkelahi di atas rata-rata untuk anak yang seusia dengan dirinya. Akan tetapi, Namora hanya berdua saja dengan Ameng. Sedangkan dirinya sedang mengepung pemuda itu bersama lebih dari tiga puluh orang pengikutnya yang jelas-jelas sudah sangat terlatih dan terbiasa dengan tindakan kekerasan.
"Aku sudah di sini. Mau apa?" Tanya Namora dengan nada suara tertahan.
Pemuda itu mencibir, kemudian berjalan dia langkah ke depan sembari tersenyum mengejek.
"Punya nyali," katanya penuh cibiran.
Ameng yang melihat bahwa Namora telah keluar dari mobil segera menyusul dengan cepat. Dia keluar dari mobil, kemudian mendorong pintu mobil dengan tumit sepatunya agar tertutup kembali. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ameng, akan tetapi, tidak ada raut ketakutan pada wajahnya.
"Bang Ameng. Sudah lama kita tidak bertemu," sapa pemuda tadi sembari membuka kacamata hitam yang dia kenakan.
"Teja. Hahaha. Berani sekali," ejek Ameng dengan senyum sinis.
"Hahaha. Abang terlalu berpikir bahwa Abang sangat besar. Tapi Abang lupa bahwa diluar kota kekuasaan Abang, masih ada naga di kota lain. Dan ular lidi ini mengusik ketenangan naga itu," Teja membalas ejekan Ameng sambil menunjuk ke arah Namora.
"Apakah naga itu sangat kuat?" Namora bertanya dengan gaya berpura-pura ketakutan.
"Kuat atau tidaknya, kau akan mengetahui sebentar lagi. Saat ini apa yang akan kau banggakan? Kau sudah terkepung. Mana kekuatan Dragon Empire yang konon katanya sangat mendominasi di lima kota besar?" Kembali Teja mengejek dengan sinis nya.
"Hmmm.., kekuatan akan diakui ketika adanya perbandingan. Kita akan melihat siapa yang lemah dan siapa yang kuat. Tapi aku harus mengatakan kepadamu bahwa domba-domba yang kau bawa ini tidak cukup!" Kata Ameng pula.
"Begitu?" Teja mendengus dan menoleh ke kiri dan ke kanan. "maka Abang akan tau seperti apa orang-orang yang Abang anggap sebagai domba ini,"
"Boss. Mengapa tidak kita bereskan saja mereka? Ini akan menghemat waktu kita," salah satu dari anak buah yang dibawa oleh Teja berseru.
"Benar. Sekarang bereskan!" Kata Teja mundur beberapa langkah untuk memberi jalan kepada para anak buahnya untuk bergerak.
"Hahaha. Pengecut. Majulah!" Kata Namora sambil memberikan gestur memanggil.
Melihat gesture menantang ini, tentu saja semuanya merasa tidak senang. Lalu mereka semua bergerak menyerang dengan berbagai senjata ditangan masing-masing.
Bersambung...
__ADS_1