
Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa waktu belajar mengajar telah usai.
Seluruh siswa kini sibuk mengemas buku-buku pelajaran mereka dan memasukkannya ke dalam tas.
Tidak ada yang sudi untuk menginap di sekolah ini. Mereka semua saling berebut mendahului agar segera keluar meninggalkan kelas. Bagi mereka, sudah terlalu pengap berada terlalu lama dan mereka ingin menghirup udara segar.
Di salah satu barisan kursi, tampak Namora berdiri menunggu Jol yang saat ini entah apa yang dia lakukan.
Ketika Namora mendekati dirinya, ternyata Jol sedang menyelesaikan lukisan. Jadi, Jol pun segera menyuruh Namora untuk menunggu dirinya di kantin.
"Mora. Tunggu aku di kantin! Sebentar lagi aku selesai,"
Namora mengangguk. "Aku duluan ya. Jangan lama-lama!" Ujar Namora yang segera melangkah menuju ke pintu. Dia juga ingin menemui Merisda. Baginya, dia harus meyakinkan gadis itu. Mungkin saja Merisda sedang menguji sebesar apa rasa sayangnya terhadap terhadap dirinya.
Puas berperang dengan batinnya sendiri, Namora akhirnya mengencangkan tali sandang pada tasnya, lalu melangkah dengan cepat menuruni anak tangga.
Baru saja Namora sampai di bawah, kini dia melihat ada sekitar sepuluh sepeda motor terparkir di bawah pohon mangga. Dan di atas setiap motor, terlihat anak-anak muda yang sebaya dengannya sedang nongkrong berpasang-pasangan.
Merasa penasaran, Namora menyipitkan matanya untuk memperjelas siapa yang nongkrong di sana itu.
Ser...!
Berdesir darah Namora ketika melihat bahwa salah satu dari mereka adalah Merisda, dan Namora juga melihat bahwa empat dari sepuluh anak-anak muda yang sebaya dengannya adalah Diaz, Rudi, Dudul dan Ruben.
Entah apa tujuan anak-anak SMA lain datang ke sekolahnya ini. Tapi yang jelas, sepertinya mereka punya pacar di SMA negeri Tunas Bangsa ini.
__ADS_1
Ketika semakin dekat, jelas lah Namora melihat bahwa Merisda sedang duduk diboncengan. Sedangkan Rudi tampak sedang asyik mengobrol dengan Rendra.
Merah padam wajah Namora saat ini. Dia melupakan segenap rasa sungkannya, lalu menghampiri kerumunan anak-anak remaja itu, kemudian menegur. "Merisda. Kau..?" Namora tidak melanjutkan kata-katanya karena keburu dipotong oleh Rendra.
"Ada apa kau kemari? Mau nyari penyakit?"
"Aku tidak ada urusan sama kamu, Rendra! Aku hanya ingin bicara dengan Merisda," Namora kini berdiri mematung dengan tangan terkepal. Dia sudah siap saat ini dengan segala kemungkinan. Kemungkinan bahwa dia mungkin saja akan mematahkan kaki beberapa dari mereka.
Mendengar Namora menyebut nama Merisda, Rudi yang membelakangi gadis itu segera berpaling ke arahnya, kemudian bertanya. "Kau memiliki hubungan dengan anak malang itu?" Tanya Rudi kepada Merisda.
Mendengar pertanyaan itu, Merisda spontan menggeleng. Dia mencibir ke arah Namora, lalu berteriak lantang. "Ngapain kau di sini? Merusak suasana saja,"
"Mer. Ada apa denganmu?" Namora tidak habis pikir dengan perubahan sikap dari Merisda ini. Dia sama sekali tidak menduga bahwa momen ini akan dia alami. Bahkan, dihadapan orang ramai pula.
Dulunya Namora sangat bangga karena memiliki pacar yang menyandang predikat sebagai salah satu kembang di sekolah ini. Tapi sekarang sepertinya dia telah dipermalukan.
"Heh gembel kere. Pergi gak?!" Merisda mengancam Namora. Wajahnya mulai kesal dan merah padam.
"Mer. Bukankah kita mempunyai hubungan. Apakah hubungan kita yang sudah beberapa bulan ini akan berakhir begitu saja tanpa aku tau apa kesalahan ku? Apa aku ini bukan pacarmu?"
Mendengar pertanyaan bernada pengakuan dari Namora ini, semua orang yang ada di tempat itu langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan, Merisda, Rendra, Ernita dan Dosma lah yang paling keras suara tawanya.
"Namora oh Namora. Sebelum kau bicara, mengapa kau tidak bercermin. Apa kau selalu bercermin di air yang butek? Coba kau perhatikan dirimu! Apa kau merasa pantas? Jika kau merasa pantas, berarti kau tidak tau diri!" Kini giliran Ernita yang bersuara.
"Er. Apa maksud dari perkataan mu ini? Bukankah selama ini kau yang mendukung hubungan ku dengan Merisda?"
__ADS_1
"Malang sekali kau, Namora. Kau itu tidak lebih dari boneka bagi kami. Memang sejujurnya jika aku katakan, kehilangan mu tentu sangat merugikan buat kami. Selama ini kau sangat penurut. Bahkan lebih penurut daripada babu. Setelah ini, tidak ada lagi yang bisa disuruh-suruh," Dosma menarik nafas berat. Seolah-olah dia sedang menyesal. Tapi itu hanya sesaat. Setelahnya, dia tertawa diikuti oleh yang lainnya.
Namora mengepalkan tinjunya. Matanya berair saat ini. Dadanya terasa ingin meledak. Tapi, sekuat tenaga dia menahan agar jangan sampai dia tidak mampu mengontrol emosinya.
"Begini, Namora. Aku akan mengatakan kepadamu bahwa aku tidak benar-benar menyukaimu. Aku hanya bertaruh dengan mereka bahwa aku pasti bisa meluluhkan murid lelaki yang mana saja di sekolah ini. Kebetulan kau yang terpilih. Seharusnya kau bersyukur bisa menjadi kacung ku. Itu berkah bagimu!" Kata Merisda sembari menadahkan tangannya ke arah Rendra.
Rendra yang melihat ini tersenyum kecut, lalu menyerahkan lembaran uang kepada Merisda. Diperkirakan dalam jumlah di atas satu juta rupiah.
"Sekarang kau boleh pergi. Gembel seperti dirimu harus rajin berkaca. Kau itu sama sekali tidak dianggap!" Seperti mengusir anak ayam, Merisda mengibaskan tangannya ke arah Namora.
Diaz juga ambil bagian dalam penghinaan ini. "Kau dengar itu? Kalau itu aku, aku akan pergi dan akan malu menghadapi orang-orang. Mungkin aku akan menjadi seperti seekor anjing yang mengorek lubang untuk menyembunyikan kepalanya,"
"Pergi atau kami akan menghajar mu!" Ancam Rudi sembari turun dari sepeda motornya. Dia ingin menghajar Namora jika tidak dihalangi oleh Rendra.
"Rudi. Ingat apa janji mu kepada Bang Ken? Bagaimanapun, kalian adalah siswa luar. Jika membuat keributan di sini, aku khawatir bang Kenza akan mencari mu!"
Mendengar ini, Rudi tidak berani. Namun, dia segera berkata, "ayo tinggalkan tempat ini. Aku muak melihat wajah gembel ini. Suatu saat jika bertemu di tempat lain, akan aku jadikan samsak tinju, dia,"
Rudi segera naik kembali ke atas sepeda motornya, lalu menekan tombol start.
Begitu mesin sepeda motornya hidup, dia pun segera meninggalkan tempat itu dengan diikuti oleh yang lainnya.
Kini, tinggallah Namora berdiri mematung di tempatnya tadi berdiri. Dia seperti orang hilang akal untuk saat ini. Matanya memerah dan berkilat. Dadanya turun naik dan terasa sesak.
Tanpa dia sadari, kakinya kini melangkah menuju pintu gerbang. Awalnya dia berjalan biasa-biasa saja. Namun, makin kelamaan, dia memperlebar langkahnya.
__ADS_1
Dari berjalan, kini Namora sudah berlari dan semakin cepat meninggalkan pekarangan sekolah SMA negeri Tunas Bangsa tersebut.
Bersambung...