
Ekspresi keterkejutan muncul di wajah Tigor mendengar bahwa Tanta telah terbunuh di tangan Jhonroy.
Dia memang tidak mengenal Tanta ini. Akan tetapi, jika beritanya sudah seperti ini, pasti Jhonroy sudah tidak main-main lagi.
Namora terlalu muda untuk berhadapan dengan orang tua yang sudah kenyang dengan asam garam di dunia hitam.
Tidak kalah dengan Tigor, wajah Ameng saat ini juga sangat muram. Setelah ini, dia harus memutar otak bagaimana caranya untuk melindungi Namora dari incaran Jhonroy.
"Pikirkan cara bang!" Kata Ameng meminta kepada Tigor untuk memikirkan cara bagaimana menangani masalah ini.
"Tidak ada cara tanpa aku diluar sana. Tapi yang jelas, Jhonroy akan membayar dengan harga yang sangat mahal jika dia berani mengusik anak lajang ku. Sedikit saya kulitnya lecet, aku pastikan kepala Jhonroy akan terpisah dari tubuhnya,"
"Rio. Apa kau punya cara?" Tanya Ameng dengan nada putus asa.
"Aku adalah seorang polisi. Aku bertindak selalu berdasarkan hukum. Sedangkan anak angkat Jhonroy banyak mengisi posisi penting di pemerintahan. Jika mereka mempersulit pekerjaan polisi, akan sangat sulit bagiku untuk melindungi Namora,"
Ketiga lelaki itu benar-benar merasa pusing memikirkan keselamatan Namora. Bagaimanapun, mereka tau bahwa Jhonroy ini bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng. Hanya saja, ketiga orang ini tidak tau bahwa urat takut didalam diri Namora sudah lama putus. Jangankan Jhonroy, bahkan jika nenek moyang Jhonroy bangkit dari kubur pun, Namora tidak akan takut.
***
Di hari yang sama, setelah mengurus segala sesuatunya terkait dengan turnamen kejuaraan pencak silat antar sekolah, Ardi yang telah menyuap seluruh perangkat turnamen mengulas senyum licik di bibirnya. Tapi, baru saja dia tersenyum, tiba-tiba teleponnya berdering.
Ardi, yang melihat bahwa orang yang meneleponnya adalah Arda segera menjawab panggilan itu.
Senyum yang tadi menghiasi bibirnya segera memudar seketika setelah dia mengetahui kabar dari Arda bahwa Tanta telah terbunuh. Bahkan, yang membuat dia ketakutan adalah, adiknya, yaitu Merisda menjadi incaran Jhonroy untuk menjadi pelampiasan nafsu bejat lelaki tua itu.
"Bang. Apakah Abang menyetujui mengirim adik perempuan kita satu-satunya untuk memuaskan hasrat lelaki tua itu?"
"Tidak. Aku terpaksa mengatakan setuju. Karena, jika aku mengatakan tidak, maka Jhonroy akan membunuhku. Oleh sebab itu, aku terpaksa menyetujuinya. Kau segeralah pulang. Malam ini, kita harus mengirim adik kita sejauh mungkin untuk menghindari kejaran dari Jhonroy,"
"Sepertinya itu percuma bang. Jhonroy pasti sudah memata-matai pergerakan mu,"
"Kita tidak punya pilihan. Jika tidak, masa depan adik kita akan hancur. Aku hanya bisa mengambil resiko ini. Seandainya mati pun, biarlah mati secara terhormat karena melindungi keluarga. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Dan kau jangan lagi mengatakan keraguan yang tidak membawa perubahan apa-apa. Pulang, dan kita akan segera mengirim adik kita jauh-jauh dari kota Batu ini. Bila perlu, keluar negeri sekalian!"
"Baik bang. Aku akan segera pulang. Abang urus lah segala sesuatunya! Malam ini kita akan berangkat bersama untuk melarikan Merisda agar tidak jatuh ke tangan bandot tua itu!"
Ardi segera mengakhiri panggilan, kemudian bergegas meninggalkan tempat dimana dia bertemu dengan beberapa panitia turnamen tadi.
__ADS_1
Setelah tiba di mobilnya, dia segera melaju menuju ke perumahan dinas guru di kota batu dengan pikiran yang sangat berantakan.
"Sial. Ini semua gara-gara Namora!" Pikirannya dalam hati.
*********
Bruuuuum..! Bruuuuum..! Bruuuuuuuuum....!
Suara mesin sepeda motor menderu memekakkan telinga di bawah rumpun bambu yang terdapat di sebuah bangunan yang dikenal oleh orang-orang di kampung baru ini sebagai Dojo karate satu-satunya di kampung baru.
Suara bising yang memekakkan telinga itu menarik perhatian beberapa murid yang sedang berlatih.
Selama ini, belum ada orang yang datang ke Dojo ini dengan cara seperti itu. Seolah-olah ingin mencari lawan.
Tidak senang atas tindakan pengendara motor tersebut, beberapa orang langsung menghampiri dua orang penunggang sepeda motor tadi, kemudian membentak.
"Hei kalian berdua. Apa kalian tidak tau bahwa ini adalah Dojo tempat latihan? Mengapa kalian menarik gas motor kalian seperti itu hah? Hentikan dan segera pergi!" Bentak murid itu dengan gaya yang sangat sombong. Mungkin dia mengira bahwa ilmu beladiri yang dia miliki sudah berada pada tingkat yang tinggi, makanya dia terlihat sombong. Namun...,
Prak..!
Sebagai jawaban, salah satu dari dua orang penunggang sepeda motor tadi melepaskan helm yang dia kenakan, kemudian membantingnya tepat di atas kepala murid yang menegur. Akibatnya, darah mengucur membasahi pakaian putih pemuda itu disertai dengan jeritan melengking tinggi.
Pemuda itu terhuyung sambil memegangi kepalanya yang telah bercucuran darah. Tampak jelas darah merembes dari sela-sela jari tangannya yang membekap luka di kepalanya.
"Jika ilmu masih dangkal, jangan berani-berani menegur ku!" Kata pemuda yang memukul tadi.
Tindakan dari pemuda itu bukan saja mengejutkan murid-murid di Dojo tersebut. Bahkan, temannya pun ikut terkejut.
"Jol. Nekat sekali kau!" Tegur temannya tadi.
Ternyata kedua orang ini tidak lain adalah Namora dan Jol, yang memang sengaja datang ke Dojo ini untuk mencari Diaz dan Rudi.
Baru saja mereka saling tegur, tetapi ketika mereka menoleh, kini mereka jelas telah dikelilingi lebih dari dua puluh orang murid di Dojo tersebut dengan rata-rata diantaranya memiliki ikat pinggang berwarna hijau.
"Rokkyu sialan! Ramai juga mereka," kata Jol mencibir. Sama sekali tidak ada gurat ketakutan pada wajahnya.
"Hajar Jol!" Bisik Namora memberi semangat.
__ADS_1
"Hajar gigi mu itu. Kalaupun aku mampu, aku keburu kehabisan nafas, setan!" Maki Jol dengan geram. Memang dia yang mengajak Namora untuk mencari gara-gara di Dojo ini. Tapi, bukan berarti Namora hanya diam saja kan?
Namora tertawa mendengar perkataan Jol tadi. Tapi tawanya sangat jelek, bahkan terkesan seperti tawa haus darah. Padahal, tawa itu adalah tawa termanis yang dimiliki oleh Namora.
Namora melepaskan helm yang dia kenakan, kemudian beradu punggung dengan Jol.
"Kalian para rumput-rumput liar, sebaiknya menyingkir saja! Kami berdua tidak ada urusan dengan kalian. Kedatangan kami ke sini hanya ingin bertemu dengan orang yang bernama Rudi, serta Diaz!" Namora masih berusaha lembut berhadapan dengan rumput hijau ini. Baginya, dia tidak ingin menyakiti mereka. Apa lagi mereka ini kan tidak tau apa-apa urusan antara dirinya dengan kedua orang yang mereka cari.
"Bodoh. Teman mu telah melukai teman kami. Enak saja congor mu itu mengatakan tidak ada urusan. Sahabat kami hanya bertanya, tapi mengapa teman mu memukuli kepalanya dengan helm?" Jawab salah satu dari pengepung dengan marah.
"Kau dengar itu Jol? Kau lah itu. Main pukul aja," ejek Namora.
Mendengar ini, Jol segera menyikut rusuk Namora, kemudian berkata. "Tidak ada yang boleh berlaku sombong dihadapan ketua J7. Apa lagi rumput kering seperti mereka,"
Jol kemudian maju dua langkah, lalu kembali berkata. "Aku menginginkan Rudi dan Diaz. Jika kalian menghalangi, jangan salahkan aku jika kalian terbantai di sini sampai letoi!"
"Wah. Sombong sekali. Ayo teman-teman! Kita hajar kedua orang yang tak tau diri ini. Kita akan mendapatkan pahala karena menyingkirkan orang yang berbuat onar!"
"Maju lah!" Pancing Jol dengan seringai mengejek.
"Serang...!"
Perkelahian dua orang lawan dua puluh orang pun pecah juga akhirnya.
Bagi Jol yang sudah berada di tingkat master sabuk hitam di taekwondo, mengalahkan orang-orang dengan sabuk hijau ini bukanlah sesuatu yang sulit.
Tinju dan tendangan kaki Jol mendarat dengan mulus di tubuh pengeroyok. Setiap tendangan yang dia lepaskan, akan membuat satu orang langsung terjatuh mencium tanah.
Keadaan Namora juga bisa dikatakan sama. Beberapa serangan keplakan tangan, serta kuncian membuat lawan-lawannya seperti tidak berkutik. Dan yang paling berbahaya adalah dua jari tangan nya. Telunjuk dan jari tengah itu sangat sulit untuk dibendung. Ketika mencapai titik nadi, itu jelas sangat menyakitkan bagi mereka yang terkena.
Tidak sampai lima menit, perkelahian itu tuntas dan semuanya tersungkur mencium tanah.
"Kau menghajar berapa orang?" Tanya Jol mengejek.
"Delapan!" Jawab Namora jujur.
"Aku dua belas!" Tanpa ditanya, Jol dengan bangganya mengatakan bahwa dia telah menjatuhkan sebanyak dua belas orang lawannya.
__ADS_1
Bersambung...